
Rombongan itu melintasi perkebunan yang menghijau. Mardo mengamati tumbuhan
yang menghampar di sebelah kiri dan kanan.
"Tumbuhan apa itu?"
Mardo menatapi tumbuhan berdaun besar dan bulat.
"Itu kacang tanah sayang, begitulah rupa tumbuhan kacang tanah."
Kak Kana sudah mirip pemandu wisata ha ha ha.
Kalau yang berbaris di sana namanya pohon tebu, pohon pisang serta singkong.
Yulia menunjuk-nunjuk.
"Itu semua juga sudah tahu Uli!"
Mardo jadi tersenyum-senyum, hingga akhirnya mereka sampai ke sebuah rumah panggung yang halamannya luas dan teduh.
"Kami sudah sampai!"
Abang-abang dari sebrang ternyata sudah berkumpul bersama keluarga. Mereka sengaja memilih
tempat yang luas dan besar, rumah bang Darman.
"Alhamdulillah, selamat datang di gubuk kami, kami pikir kalian tidak akan datang."
Darman tersenyum tipis.
"Kenapa berpikiran seperti itu? kami pasti datang jika di undang."
Ketus kakak Tania.
"Mari masuk!"
Lantas bermunculan ayah, ibu dan adik-adik Darman, tersenyum ramah menyambut
tamu-tamu dari kota di sebrang.
Ruangan tamu yang luas dan besar telah ditutup dengan tikar. Gadis-gadis masuk
dan duduk diatasnya. Tak lama muncul minuman, makanan dan buah-buahan. Juga
ada jagung rebus, kacang tanah yang di rebus.
Mereka mengobrol dan bercengkrama di ruangan tersebut.
Tak begitu lama, bermunculan pula sajian makan siang. Beberapa gadis seusia
Khairrani membawai masakkan dari dapur. Kak Tania dan Kak Kana ikut masuk
kedalam, untuk membantu dan mengakrabkan diri. Gadis-gadis itu berkumpul
untuk membuat masakkan. Mereka ternyata adalah adik-adik dari bang Baringin,
Kamal, Awang, Darman dan satu lagi bang Herman.
"Wah! banyak sekali masakkannya ini, repot tidak adik-adik dan keluarga di sini?"
Kak Tania memperhatikan gadis-gadis yang bekerja dengan gesit dan tangkas.
"Silahkan Nak semua, dicicipi masakkan kampung dari kampung sini."
Ibu dan bapak Darman menyilahkan gadis-gadis itu menikmati makan siang
yang sederhana.
"Sederhana apa Nang? begini banyak yang dimasak."
Gadis-gadis itu mengajak semua menikmati makan siang bersama, termasuk gadis-gadis
adik para anak muda itu.
Agak senja mendadak pasangan-pasangan kekasih itu menghilang entah kemana.Tinggal Mardo dan
Donny. Yulia juga pergi dengan gadis-gadis sebrang, ingin melihat sesuatu.
"Do, jalan-jalan yuk, kata Azhar di balik bukit sana ada lembah biru yang indah."
"Benarkah? mungkin sebab itu makanya dinamankan lembah biru."
"Yuk, mereka semua juga kesana."
Mardo akhirnya berjalan bersisian dengan Donny, menuju ke sebuah tempat.
"Indah sekali dan sejuk,tak kusangka ada tempat seperti ini di kampung sebrang."
Mardo berguman. Selanjutnya Donny dan Mardo duduk di bawah sebatang pohon
sembari menatap lembah yang biru.
"Mardo! a-ada yang ingin kusampaikan padamu."
"Ya, katakanlah."
Mardo merasa santai, dan membiarkan Donny bicara.
"Bahwa aku sudah menyukaimu."
Donny mengatakannya dengan terus terang.
Sementara Mardo terkejut, namun ia masih menatapi pemandangan di sekitar lembah.
"Kenapa kita bisa bertemu di sini, adalah kehendak Allah Swt."
"Sepanjang kehidupanku aku tak pernah tertarik ke kampung ini. Azhar seringkali
mengajakku. Namun baru kali ini aku tiba-tiba merasa harus ikut Azhar. Sesuatu
seperti mendesakku supaya ikut."
"Ternyata untuk bertemu dengan jodohku, kau! Kamu Mardo."
Mardo menolehi Donny. Dia tampan, dengan rambut yang tebal, berpakaian selalu rapi
wangi dan bersih. Tidak ada yang kurang dari pria ini.
Mardo seperti tersambar petir, ia baru beberapa saat saja merasa nyaman dengan persahabatan mereka
yang baru saja terjalin. Kenapa Donny merusaknya? Mardo berdiri dan bergegas meninggalkannya.
Mardo!
__ADS_1
Donny bangkit dan mengejar.
"Mardo, kenapa kau lakukan ini padaku? aku bicara baik-baik denganmu, tapi kau malah
pergi seperti ini! Kau sama sekali tak menganggapku! Mardo!"
"Lepaskan tanganku."
Mardo seketika marah dan meneruskan langkah-langkahnya.
"Hei Mardo!, kau tak ingin bicara denganku?"
Donny yang bertempremen keras kehilangan kesabarannya, selama ini belum ada
perempuan yang memperlakukannya dengan buruk. Semua perempuan mendengarkannya.
Mardo menoleh, wajahnya memerah, "Aku pikir kita bersahabat. Karena aku sudah memiliki
seseorang di hatiku. Jangan berprasangka begini dan begitu, bahwa aku jodohmu! Tidak!
tidak mungkin.
Donny terkejut, "Kau bohong! kau hanya ingin menghindari bukan?"
Pria itu begitu terpukul pada kenyataan yang dia hadapi. Sikap jinak-jinak merpati
yang ditunjukkan oleh Mardo selama ini bertolak belakang dengan yang sekarang.
Gadis itu sedikit pun tidak memiliki rasa terhadapnya.
Kesal, kecewa, emosi menyulut perasaan laki-laki itu.
Mardo!
Donny sekali lagi menarik jemari gadis itu.
Terjadi tarik menarik antara mereka, mendadak Mardo terpeleset dan hilang keseimbangan.
Auuu! tak tercegah lagi Mardo tergelincir dan menggelinding ke dalam lembah, Donny berusaha menariknya tapi ia sendiri terseret menyusul gadis itu.
Buk!
Di bawah sana Mardo tergeletak diam, Donny juga jatuh tak jauh darinya. Ia buru-buru bangun mengawasi keadaan Mardo.
"Mardo kau tidak apa-apa! bangunlah," Donny panik, ia melihat sekitar mereka yang dipenuhi hutan
belantara. Matahari masih cukup terang untuk Donny melihat keadaan gadis. Ada rembesan darah
di tepi keningnya.
"Ya ampun! kau terluka Mardo,"
Donny mendekati tubuh Mardo yang melemas, Mardo tak sadarkan diri.
Lembah cukup dalam dan terjal.
Donny memeriksa, hanya luka kecil.
Kejadian tadi tiba-tiba menyulut Donny, "Aku sudah punya seseorang di hatiku!."
Ia cemburu dan tak mau melepaskan Mardo.
"Kamu harus menjadi milikku Mardo."
Ia mendekat lantas mulai mencumbui tubuh yang diam namun cantik dan menggairahkan.
'Ini adalah satu-satunya cara agar bisa menikahimu Mardo!"
Amat lihai Donny melepas satu-satu kancing kemeja gadis itu, menarik celana jeans yang
dikenakannya, seluruh alam terdiam menyaksikannya.
Ciuman, belaian serta napas yang memburu membuat Mardo merasakannya dan
membuka mata, ia sangat terkejut dan hesteris!
Tidak! tidak! tidak!!!!
Bayangan Donny tampak di atas wajahnya, serta rasa sakit. Oh! gadis itu kembali
pingsan.
Dan senja mulai menggelap serta menghitam. Donny memutuskan menggendong
Mardo ke atas. Ia sudah merapikan kembali baju-baju gadis itu. Sekarang Mardo
tidak akan menolak jika ia melamarnya nanti. Beruntungnya gadis itu sempat bangun
dan tau apa yang telah terjadi antara dia dan Donny.
"Maafkan aku, karena menginginkan seorang istri sepertimu."
Donny bergumam. Bahkan ia merasa dirinya telah menyatu dengan gadis itu
dan bertanggung jawab seluruhnya. Perasaan yang hinggap begitu saja.
Sehingga tanpa perasaan takut, apa lagi rasa bersalah ia memeluk tubuh Mardo
dan mulai menggendongnya di pundak. Ia menatap ke atas.
"Bang Donny! kak Mardo!"
Lamat-lamat terdengar suara yang memanggil-manggil di atas lembah.
Donny menahankan tubuhnya yang membawa beban berat.
"Heiiii! kami di lembah biru!"
Donny berteriak-teriak dan ada yang mendengar suara Donny.
"Sepertinya di sana!"
Mereka semua, berlarian menyusuri tepi lembah.
Donny terus berteriak memanggil.
Hingga beberapa kepala menjenguk ke bawah. Dan melihat bayangan Donny yang tengah
menggendong seseorang.
"Kenapa mereka bisa di bawah sana?"
Laki-laki itu saling berpandangan dan bagai tersadar.
__ADS_1
"Cepat ambil tali!"
Bergegas semua membantu Donny dan Mardo, harus segera karena kabut mulai muncul.
Tak lama tambang segera dijulurkan. Donny segera mengikatkan tali di pinggangnya.
"Tarik!"
Teriak Donny saat ia yang memeluk tubuh Mardo selesai mengikatkan.
Pria-pria disana bersiap dan mulai menarik. Mereka ada enam laki-laki.
Gadis-gadis menunggu dengan cemas, terutama Khairani, ia harap Mardo baik-baik
saja. Ia sudah berjanji menjaga kakak sepupunya itu pada om dan tantenya.
Gadis itu hilir mudia dan meremas-remas jemarinya.
Lalu di sana ia lihat mereka telah berhasil mengangkat Donny dan Mardo. Keduanya
terguling dan mengatur napas.
"Mardo tadi terpeleset, jatuh ke lembah. kami sudah berusaha naik dan mencari
jalan yang tidak terlalu terjal, tapi gagal. Mardo pingsan kelelahan."
"Donny secara ringkas menceritakan kronologinya sembari membuka tali-temali
yang membelit tubuhnya dan Mardo.
"Kak Mardo!, dia tidak apa-apa kan? tidak ada yang terluka."
Khairana dan gadis-gadis mendekat dan mencari tahu.
"Kepalanya membentur batu, tapi aku sudah memeriksanya, hanya luka kecil."
Donny berusaha tidak membuat panik dan ketakutan gadis-gadis itu.
"Cepat-cepat! kita harus membawanya segera ke rumah dan memberi pertolongan
yang dibutuhkan."
"Biar aku menggendongnya."
Donny, tak membiarkan tangan-tangan lelaki sebrang menyentuh Mardo.
Hanya dia dan Azhar saja. Azhar membantu menaikkan tubuh Mardo
ke pundak Donny. Cara itu tidak memberatkan bagi Donny dibanding ia
menggendongnya.
Sebuah kamar yang bersih untuk membaringkan Mardo, Khairani berpikir
untuk memanggil Dokter. Tapi menurut Donny tidak perlu. Mardo sebentar
lagi pasti siuman. Hanya saja tubuhnya perlu dibersihkan dan diganti baju.
Untungnya dalam tas gadis itu ada pakaian dalam dan daster persiapan
menginap. Khairani memang bilang akan menginap sebab akan menengok
kebun peninggalan kakek dan nenek di sebelah kampung tersebut.
"Untunglah kakak membawa baju ganti."
Khairani dan Tania yang mengurus gadis itu. Mereka membersikan tubuh Mardo
dan mengganti bajunya. Kemudian memberi kayu putih pada kaki-kaki gadis itu
memijiti dengan lembut. Ibu pemilik rumah juga membuatkan ramuan minuman
dari rempahan yang bisa mempercepat kesembuhan. Juga handuk hangat untuk
membuat nyaman.
Ohhh!
Mardo menggeliat, semua berpaling.
"Kak! kak! kakak nggak apa-apa ya."
Mardo berusaha bangun dan menolehi tempat yang asing.
"Kita masih di kampung sebrang kak, di rumah bang Darman."
Khairani membantu Mardo duduk.
Ibu Darman menuangkan minuman seperti teh, katanya akan menyegarkan tubuh
yang sakit serta luka. Minuman yang terbuat dari kunyit, sereh, jahe, cengkeh, gula merah
Diminum hangat-hangat.
"Coba minuman ini Nak!"
Ibu Darman memberikan gelas berisi ramuan yang hangat. Mardo menatap sekilas lalu
menghirup sedikit. Ternyata enak, Mardo menghirup lagi dan lagi. Enak! katanya.
Kemudian bayangan itu! bayangan Donny diatas tubuhnya.
"Oh Astaqfirullah!"
Mardo mendekap mulutnya.
Tidak! Mardo lepas dari kejadian itu. Ia menangis terisak-isak.
Kenapa setelah ia mengalami kejadian itu Raka kembali?
Ia sangat mencintai Raka, Cinta dan ciuman pertamanya, yang berarti
adalah suaminya. Janji itu ia tulis di buku Diary ketika ia masih kecil
Namun sebuah impian abadinya.
Tapi Raka terlalu baik untuk terluka. Ia sudah tak pantas lagi untuk Raka.
Ia harus memutuskan untuk berpisah dan menjauh.
Ini sangat menyedihkan, apa yan harus kuperbuat???
Pembaca yang setia? adakah saran dari kalian?
__ADS_1
Bersambung.