
Mardo kembali ke Jakarta sama seperti saat ia pergi. Dengan mengenakan baju dan tas yang sama. Sebuah pemberitahuan masuk ke handphonenya bahwa mobilnya menunggu di depan bandara. Perempuan itu mengercitkan keningnya. Ia sudah tak ingat dengan mobil serta harta bendanya di dalam mobil. Ia hanya ingat suaminya Raka, anak-anaknya dan rumahnya.
Untungnya perempuan itu mau menjelaskan kenapa mereka membawa Mardo, Ia dan putranya meminta maaf telah membuat keluarga panik dan kebingungan. Nanti setelah Mardo sampai di rumah ia akan menghidupkan rekaman tersebut.
Sementara di rumah besar dan berhalaman luas itu, murung dan tak terdengar suara-suara yang bertengkar, suara jerit gemas dan suara tawa. Beberapa polisi baru saja meninggalkan tempat itu untuk menanyakan perkembangan hilangnya salah satu anggota keluarga. Belum ada kabar yang baik. Mardo hilang seperti tertelan bumi. Tidak terlacak sama sekali.
"Ayah, bunda kemana? kenapa belum pulang?"
Rama si bungsu yang terus menanyakan Mardo, ia terbiasa bersama Mardo. Sangat kehilangan hingga tubuhnya demam tadi malam dan hari itu ia tak sekolah. Raka sebenarnya juga sangat merindukan Mardo. Tetapi ia berusaha kuat dan sabar. Ia harus membesarkan hati anak-anaknya, ia mengajak berdoa dan berharap yang terbaik. Bunda adalah perempuan yang baik, penuh kasih sayang, pasti Rabbnya juga akan melindungi. Sebuah keyakinan yang sangat kuat di hatinya.
Tin! Tin! Tin!
Pak satpam yang sedang berjaga tercekat, ia tak salah lihat. Ia hendak masuk ke dalam memberitahu tetapi klakson berbunyi lagi. Segera ia membuka pintu dan tegang, apakah yang pulang adalah nyonya rumah tersebut.
"Ibu Mardo! ya Alloh!"
Laki-laki itu mengucek-ucek matanya, takut ia bermimpi. Saat Mardo masuk ke garasi pak satpam lari ke dalam rumah dan berteriak.
"Pak Raka, ibu Mardo sudah pulang!"
Laki-laki itu tercekat, begitu juga anak kecil yang bersamanya.
"Benarkah pak?"
Sembari bergegas ke depan. Jantungnya serasa copot saat matanya melihat sosok yang sangat dikenalnya tengah berjalan kearahnya.
"Bunda!"
Rama hesteris dan lari menyongsong perempuan yang di ambang pintu.
"Sayangnya Bunda."
Keduanya berpelukkan erat, Mardo mendekap putranya erat, mencium sepenuh rindu. Raka terhenyak ia lihat perempuannya itu tak kurang suatu apa pun. Ia sama seperti dirinya saat hilang. Keduanya bertatapan dan Raka memeluk erat perempuan yang sangat ia cemaskan.
__ADS_1
Tak banyak bicara, mereka masuk ke dalam. Raka berteriak minta dibuatkan teh hangat. Mba wiwik sampai berlinang air mata sebab terharu melihat nyonyanya sudah pulang.
"Selamat datang nyonya Mardo, saya senang sekali nyonya kembali. Kasihan anak-anak menangis terus sejak nyonya pergi."
"Bunda pergi kemana? kenapa nggak bilang Rama?"
Anak kecil itu bergelayutan di leher Mardo. Raka menariknya dan membawa anak kecil itu kepelukkannya.
"Biar bunda istirahat dulu, nanti kalau bunda sudah tenang Rama dan ayah baru nanya bunda ok."
Anak kecil itu mencebikkan bibirnya yang mungil, keningnya juga berkerut.
"Ok, bunda minum dulu."
Suara Rama perlahan dari pelukkan Raka di dada.
"Sudah berakhir Pi, dek Rama. Bunda sudah kembali ke tengah-tengah kalian. Bagaimana Cindy, Tria, Dode Pi? apa mereka baik-baik saja?"
"Oh iya Mi, mereka baik-baik saja, tak putus berdoa agar mimi kembali. Pipi mau nelpon Cindy dan Tria kalau bunda mereka sudah pulang."
"Bunda sudah pulang Yah? alhamdulillah ya Rabb, Engkau telah mengembalikan bunda kedalam keluarga kami."
Cindy melakukan sujud syukur, air matanya berlinang dan memenuhi kelopak matanya. Ia segera menunda meeting dan buru-buru pulang ke rumah.
Malam harinya, ditengah-tengah suami dan anak-anaknya Mardo menceritakan kronologis yang ia alami. Seseorang yang menaruh dendam kepadanya telah merencanakan penculikkan itu dengan matang. Ia dibawa paksa dan dipertemukan dengan seorang perempuan.
"Ya Rabb, untunglah semua sudah berakhir."
Meski ada rasa tak puas sebab tidak mengetahui dalang penculikkan itu, mereka senang Mardo telah berada diantara mereka lagi. Setelah larut malam Raka menyuruh anak-anaknya tidur. Ia sudah empat malam tak tidur bersama istrinya. Ia sangat rindu dan ingin bermanja.
"Ayo tidur Mi, sudah malam."
Tiba-tiba Rama memeluk Mardo dan setengah merajuk kalau ia ingin tidur bersama bundanya. Raka tak bisa menolak, mereka bertiga akhirnya masuk ke kamar. Rama sudah kelas tiga sekolah dasar, tubuhnya juga besar dan tinggi. Tapi merasa sebagai anak bungsu ia bersikap manja dan selalu ingin dituruti kemauannya.
__ADS_1
"Kamu ini sudah menjadi anak bujang masa tidur sama bunda sih?"
Raka yang sebenarnya malam itu ingin bercinta dengan istrinya menegur si anak.
"Ah, ayah juga masih tidur sama Bunda, takut ya tidur sendirian?"
Raka hanya terdiam dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Teringat lagi saat-saat Rama masih kecil ia dan Mardo harus menunggu sampai anak itu tertidur. Terkadang akhirnya tak jadi bercinta sebab ia dan Mardo akhirnya sama-sama tertidur dan baru bangun saat pagi.
Indah dan lucu serta penuh warna hubunganya dengan Mardo, setiap anak memiliki kenangan tersendiri bagi mereka. Sekarang Rama yang sebenarnya sudah tidur sendiri di kamarnya di atas, ingin bernostalgia. Anak itu seperti bayi memeluk Mardo erat. Rama mengalah dengan tidur di pinggir tempat tidur menunggu Raka terlelap.
Mardo mengelusi rambut si bungsu dan bersenandung. Perlahan-lahan Rama memejamkan matanya dan jatuh ke tidur yang lelap. Laki-laki itu mengangkat kepalanya melewati bahu Mardo. Melihat anak laki-lakinya yang sudah besar itu terpejam dengan mulutnya yang terbuka.
"Manja sekali dia, ayahnya saja tidak seperti itu."
Mardo hanya tersenyum, suami dan anak laki-laki saling mencemburui.
"Mi, buat adik lagi yuk buat Rama, biar nggak manja gitu."
Mardo kontan mencubit perut Raka, sembari bergumam bahwa usianya sudah tak muda lagi. Sudah lima puluh tahun lebih, juga sudah menupause, tak mungkin bisa punya anak lagi. Raka hanya terdiam. Ia sudah memejamkan mata sembari bermain benda favoritnya. Perempuan itu berbalik pelan-pelan membelakangi Rama. Keduanya sangat rindu.
"Aku sangat cemas saat itu. Tak bisa tidur memikirkan kau ada di mana Mi? apakah sudah makan, bisa tidur."
Raka menciumi leher Mardo sembari menceritakan perasaannya saat perempuan itu tak ada. Keduanya saling bertatatapan di bawah remang lampu kamar. Laki-laki tampan itu menjatuhkan ciuman di dahi, hidung, pipi dan akhirnya sudut bibir hingga seluruhnya. Mardo juga menyambut sepenuh rindu dan guirat. Ia membalas permainan lidah suaminya hingga napas keduanya saling berlomba.
Bersambung
__ADS_1