Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 208 Dunia Kerja


__ADS_3

Sangat menyenangkan. Prita akhirnya mendapatkan pekerjaan setelah berjuang melamar ke sana ke mari. Sebuah perusahaan multinasional memanggilnya untuk wawancara. Dari segi pendidikan, serta pengetahuan agaknya Priti telah memenuhi persyaratan perusahaan tersebut. Sehingga dua minggu berikutnya ia mendapat pemberitahunan melalui email bahwa mulai bisa bekerja. Prita membesarkan matanya membaca surat pemberitahuan serta beberapa surat tentang penempatan kerja dan posisinya juga uang gaji bulanannya.


"Mama! aku diterima kerja!"


Prita berlari keluar dari kamarnya mencari sang mama.


"Mama! aku diterima kerja Ma, alhamdulillah."


Tapi sang mama tak kelihatan di seantero rumah itu. Agaknya mama Risa sedang pergi berbelanja. Terpaksa Prita kembali ke kamarnya dan memeriksa email. Ia harus memberikan tanda tangan persetujuan di sana. Gadis itu lalu mengerjakan semua yang diminta oleh perusahaan.


Setelah selesai, gadis itu memikirkan baju-baju yang akan ia kenakan bekerja. Segera Prita beranjak ke lemari pakaiannya. Ia garuk-garuk kepala sebab kebanyakan bajunya kemeja dan celana panjang. Ia mencari-cari rok sepan serta baju-baju yang pantas untuk ke kantor. Priti geleng-geleng kepala. Ia belum memiliki baju kerja yang membuatnya bersemangat ke kantor. Mestinya ia juga memiliki tas serta sepatu baru untuk hari senin. Priti melihat dompet dan isi rekningnya. Sebenarnya sayang untuk membelanjakan uang tersebut. Ia sudah berhemat-hemat sepanjang hidupnya. Tetapi kehidupannya berubah mulai senin. Ia bukan lagi sosok mahasiswa dengan pakaian kemeja dan celana jeans. Ia sedang memasuki dunia kerja sekarang.


Tak banyak pikir lagi Prita bersiap pergi ke sebuah mall untuk mencari baju-baju kerja. Ia mengganti bajunya dan tak lama gadis muda itu sudah berada di jalanan dengan motor besarnya. Ia meliuk-liuk mendahului mobil yang ia rasa sangat lambat. Tetapi salah satu mobil yang ingin ia lalui mendadak mempercepat laju mobilnya hingga Prita terpaksa mengalah. Ia berada beberapa waktu di belakang mobil tersebut. Selanjutnya ia buru-buru menyalip begitu terlihat ada kesempatan.


Ia pun meluncur ke mall tujuannya. Ternyata mobil yang tadi juga memasuki parkiran dan sipengendara masih mengenali motor besar yang beberapa kali menyalipnya. Ia memperhatikan Prita yang meletakkan helmnya lantas bergegas memasuki mall. Sipengendara agaknya tertarik sekali dengan sosok seorang gadis yang mengenakan kacamata hitam, dengan rambut diikat. Ia terlihat tomboy namun sisi kefeminimannya sangat jelas. Pria itu melewati tempat parkir motor dan melaju menuju parkir mobil. Tak lama sosok pria muda keluar lantas berjalan tegas ke dalam mall. Ia mencari-cari.


Tapi sekian lama pria itu tak menemukan sosok yang telah mencuri perhatiannya. Ia segera menuju lantai atas mencari keperluannya. Namun ia terus teringat gadis itu. Buru-buru ia mengambil keperluannya dan beranjak ke lantai tiga. Di sanalah berbagai keperluan wanita.


Benar juga, tak lama ia melihat gadis itu yang sedang memilih-milih rok sepan, ada beberapa yang ia sisihkan dan ia membawanya ke kamar pas. Laki-laki itu pura-pura mencari sesuatu sembari mengawasi apa saja yang dilakukan gadis yang menarik perhatiannya itu. Gadis itu terlihat sibuk sekali menukar dan mengembalikan beberapa rok yang tadi menarik hatinya. Lalu menganti dengan yang lain kemudian mengembalikannya lagi.


Prita memang fokus untuk mendapatkan rok kerja, blazar, serta kemeja yang pantas untuk masuk kerja di perusahaan yang besar itu. Gadis itu yakin bahwa perempuan-perempuan yang bekerja di perusahaan itu pastinya berpakaian rapi serta keren. Bagi Prita isi kepala memang penting. Tapi tak kalah penting juga adalah penampilan.


"Mba, rok kerja selain ini ada lagi ya? Jangan terlalu sepan juga jangan terlalu ngembang he he he Yang sedang aja gituh mba, yang kelihatan rapi."


Terdengar suara gadis itu yang bertanya pada penjaga tentang yang ia inginkan. Dan si mba penjaga lantas mengajak Prita melihat koleksi pakaian wanita. Tak jauh dari laki-laki yang tengah mengawasi Prita.


"Nah di sini Mba, model rok dan dressnya macam-macam. Pastilah dari begitu banyak rok, ada beberapa yang cocok."

__ADS_1


"Ok, saya pilih-pilih dulu ya mba."


"Silahkan mba."


Prita kembali asyik memilih dan memperhatikan rok-rok yang tergantung di tempatnya.


"Hem."


Prita mendengar deheman yang tak jauh darinya, Ia sedikit mengerutkan kening sembari melihat ke kiri dan ke kanan. Tidak ada siapa-siapa di sekitar itu. Hanya dia. Berarti laki-laki itu berdehem sendiri. Prita kembali memilih-milih rok dan menjauh dari laki-laki tersebut.


"Hem, dari tadi milih-milih terus tapi nggak beli juga."


Ups, telinga Prita jelas sekali mendengarnya. Sekali lagi ia melihat kiri kanan, depan belakang, tidak ada siapa-siapa kecuali dia. Berarti maksudnya dia.


"Gayanya buru-buru, ngebut. Nyalip sana dan nyalip sini. Tapi kok belum ada yang dibayar ya."


"Siapa ya? kok komen-komen nggak jelas!"


Keduanya saling pandang dan mengingat-ingat. Tapi nihil Prita baru bertemu pria ini.


"Perasaan nggak kenal, ngapain ngurusin orang, suami bukan, apa lagi pacar!"


Prita memasang wajah galak dan kesal. Juga kecurigaan.


"Hem, seorang gadis dengan motor gede nyalip-nyalip mobil bikin orang penasaran dong."


Laki-laki itu membuka kacamatanya dan sedikit tersenyum. Prita mengingat-ingat. Tadi di jalanan ia memang sedikit kumat sifat koboynya. Ia tak sabaran dan menyalip mobil-mobil yang ada di depannya. Salah satu ada yang tak terima dan balik mengejarnya. Melihat hal itu Prita mengencangkan motornya dan meliuk-liuk di jalanan yang menuju ke mall yang agak di luar kota.

__ADS_1


"Oh, kamu salah satu dari mobil lelet itu ya, maaf ya saya buru-buru terpaksa saya libas semua."


"Jangan begitu, bisa membahayakan orang lain."


"Tapi tidak kan?"


Laki-laki itu tak bisa menjawab. Prita itu membuatnya gugup.


"Lain kali hati-hati."


"Huh!"


Prita meninggalkan laki-laki muda itu dan kembali pada kegiatannya mencari rok kerja.


"Nggak usah cari yang murah, mau saya bayarin?"


Prita mendelik, laki-laki itu seperti melecehkannya, apa ia seperti gadis susah yang sedang kepayahan mencari rok yang harganya sesuai uang di dompetnya.


"Nggak usah, saya mampu kok, tapi memang saya belum ketemu yang cocok!"


"Oh."


Terdengar suara yang membuat Priti semakin kesal. Akhirnya ia menjauh dan buru-buru membayar rok yang sempat ia pilih. Priti takut pria itu ada maksud tak baik terhadapnya. Setelah membayar ia buru-buru keluar dan menuju motor gede yang menunggunya.


Prita melihat laki-laki itu berlarian hendak mendekatinya. Tapi ia sudah berada di atas motornya dan bergerak ke pintu keluar. Prita tak habis pikir. Mau apa dia? Tapi wajahnya bukan seorang yang jahat.


 

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2