Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 101. Debut Penerbitan Hubsche Maedchen


__ADS_3

Penerbitan Hubsche Maechen adalah sebuah penerbitan yang memiliki visi misi mendukung penulis membuat buku mereka diterbitkan serta dikenal khalayak.


Selain diterbitkan cetak juga akan dibuat menjadi buku digital atau versi elektronik dari buku.


Jika buku pada umumnya terdiri dari kumpulan kertas yang dapat berisikan teks atau gambar, maka buku elektronik berisikan informasi digital yang juga dapat berwujud teks atau gambar.


Sekarang ini buku elektronik diminati karena sifatnya yang praktis bila dibandingkan dengan buku cetak. Dan juga umumnya memiliki fitur pencarian, sehingga kata-kata dalam buku elektronik dapat dengan cepat dicari dan ditemukan.


Pada meeting perdana yang dipimpin oleh Mardo sebagai pendiri dari Penerbit Hubsche Maedchen, perempuan cantik itu menceritakan awal mulanya ia mendirikan perusahaan yang bernama hubsche maedchen. Nama perusahaannya terdengar aneh dan sulit di ucapkan.


Hubsche Maedchen artinya perempuan Smart, Mardo menyingkatnya menjadi Haem.


Cerita-cerita yang dia cari adalah cerita mengenai kehidupan wanita dan pria yang smart.


Berawal dari grup yang ia buat di facebook. Grup itu bernama Hubsche Maedchen dan para anggotanya yang berjumlah ribuan dari berbagai kota di seluruh tanah air.


Mardo mengisi grup Haem dengan kisah-kisah yang menakjubkan. Tentang kisah yang tak mungkin terjadi, tak masuk di akal di luar pemikiran manusia, tetapi mereka mengalami sendiri kejadian itu secara nyata dan menceritakannya kepada dunia.


Ternyata kisah-kisah tersebut menyentuh beragam pembaca dan akhirnya meminta bergabung dengan grup facebook hubsche Maedchen.


Ia lantas berkenalan dengan banyak penulis senior dan juga pemula. Mereka sangat berharap banyak kepada grup haem. Bahkan mendorongnya mengadakan lomba menulis cerpen nasional.


Ketika itu Mardo sempat bingung sebab ia sendiri sedang sibuk dengan ujian sekolahnya.


Dia tidak mengerti dan tidak tahu apa yang harus ia kerjakan dengan mengadakan lomba menulis cerpen nasional. Karena ia hanya menuangkan pemikirannya membuat kisah-kisah menakjubkan serta menulis cerpen buah pemikirannya. Ia sama sekali tidak berpikir untuk melakukan hal tersebut.


Tetapi beberapa penulis muda yang saat itu juga sedang berusaha untuk menjadikan dirinya eksis di dunia kepenulisan mengirim pesan di inbox.


Mereka adalah admin-admin yang meramaikan grup Haem. Di sana ada Diana Faradiba, seorang penulis yang menyukai hutan belantara, ia berada di Bali. Lalu Eva Riyanti Lubis, dari sebuah kota kecil di Sumatera, Ruri, Jea, Ami, Seli, Dina Lorenza, Indah Ratnauri, Indah Ernawati, Lisda dan Risky Komalasari.


Penulis-penulis muda itu mengirim pesan bahwa mereka akan memandu lomba cerpen haem. Mereka akan berbagi tugas, Eva apa yang akan membuat pengumuman mengenai diadakannya lomba menulis cerpen hm serta persyaratan untuk bisa mengikutinya. Juga membuatkan Email haem.


Admin lainnya bertugas menjadi juri, termasuk Mardo. Ada juga siap yang menjadi editor haem, bahkan siap membuat cover buku yang memikat dan mempesona.










__ADS_1






Berkat kerjasama saling bahu-membahu bergotong-royong ketika itu terkumpul ratusan cerpen yang berasal dari penulis-penulis pemula bahkan penulis senior ikut mengirimkan naskahnya kepada haem. Setiap peserta ketika itu diwajibkan membeli minimal dua buah buku.


Sedangkan bagi pemenang lomba dari juara pertama, ketiga, hingga juara harapan dan juara hiburan semuanya mendapatkan buku gratis dan juga uang tunai.


Debut pertama penerbitan Hubsche Maedchen ternyata mendapat sambutan yang luar biasa, semua sangat puas dan bangga dengan kerjasama yang solid diantara gadis-gadis haem. Mardo menyebut mereka gadis-gadis Haem yang keren dan hebat.


Setiap tahun, penerbit haem mengadakan lomba menulis cerpen dengan berganti-ganti tema. Dan semuanya mendapatkan sambutan hangat dari para penulis dari seluruh kota.


Semuanya merasa puas dan memuji apa yang telah dilakukan oleh gadis-gadis haem di grup Facebook haem dan juga penerbit haem.


Selang beberapa tahun kemudian saat Mardo telah lulus dan di wisuda, Papi memberikan dia hadiah sebuah perusahaan yang dia bebas hendak mendirikan perusahaan apa saja.


Mardo tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Mardo segera mewujudkan impiannya memiliki sebuah penerbitan sendiri. Dan grup haem di facebook adalah cikal bakal berdirinya penerbitan hubsche Maedchen.


Gadis-gadis haem hingga saat ini tetap menjalin hubungan kekeluargaan. Sebagian mereka sudah menikah dan sudah memiliki dua hingga tiga anak.


Saat-saat gadis haem merasa rindu, mereka tetap bisa berkumpul di grup facebook Hubsche Maedchen.


Sekarang, penerbitannya telah berkembang menjadi sebuah perusahaan yang tidak bisa dipandang sebelah mata.


Mereka membuat grup wa untuk mengumpulkan penulis, setiap grup wa diasuh oleh dua orang haem. Dan saat ini ia telah memiliki empat grup yang masing-masing memandu dua ratus hingga dua ratus lima puluh penulis.


Dengan cara tersebut secara teratur, penerbit menerbitkan buku-buku


antologi, kumpulan cerita dari banyak penulis.


 


Mardo senang sekali saat meeting ternyata banyak sekali saran serta ide-ide dari para editornya


devisi kreator dan bagian-bagian lainnya. Mereka semua setuju untuk mencari penulis-penulis dengan


mengadakan lomba membuat novel dan novelet. Jika nanti hasil pertama dari lomba tersebut bagus


maka Mardo akan mengagendakan lomba menulis novel setahun sekali.


Tetapi Mardo juga mengambil keputusan bahwa perusahaannya bukan hanya akan menerbitkan


buku-buku fiksi. Ia tengah berpikir untuk menerbitkan buku-buku untuk anak taman kanak-kanak.


Terutama buku mewarnai gambar untuk melentukkan tangan. Menerbitkan buku-buku kegiatan


untuk play grup.Menurutnya pangsa pasar anak taman kanak-kanak sangat bagus.

__ADS_1


Kebetulan ia mengenal beberapa guru taman kanak-kanak, Mardo berharap ia bisa menerbitkan


buku-buku yang dipergunakan di sekolah-sekolah TK. Ia akan  bertemu dengan teman-teman guru


yang berkompeten, mereka akan membahas buku apa saja  yang diperlukan oleh anak


taman kanak-kanak.


Mardo sudah menyuruh Eka pegawainya  untuk mengundang dua orang  guru taman kanak-kanak


ke kantornya. Agenda itu ingin segera ia realisasikan. Pegawainya berjanji akan segera melaksanakan


keinginan tersebut. Mardo tersenyum. Ia juga punya agenda bertemu dengan kepala sekolah. Ia


memiliki ide untuk memasukkan menulis ke eskul sekolah. Sebab saat ini berprofesi sebagai


penulis sangat bagus. Platfrom-platform menulis bermunculan dan penulis bisa memiliki penghasilan


dengan menulis di platform.


Dua orang guru bersedia bekerjasama untuk memberikan materi-materi tema pembalajaran untuk


Taman kanak-kanak, sehingga terciptalah buku Mewarnai gambar, Maze, Mengunting dan menempel


Mengenal Hurup, Mengenal Angka, Berhitung, Hurup besar, Buku kegiatan seri 1-3 dan beberapa


buku cerita khusus dibuat untuk taman kanak-kanak. Penerbitan Hubsche Maechen mulai merebak


menerbitkan buku-buku khusus Taman Kanak-kanak. Dan mereka membuka lowongan pekerjaan menjadi


perwakilan buku taman kanak-kanak di seluruh Indonesia dengan modal terjangkau.


Dan seorang wanita yang dulu pernah menemuinya bahkan adalah orang yang telah mempertemukan Mardo


dan Raka, telah datang pada Mardo dan bersedia menjadi agen buku taman kanak-kanak di Jakarta.


Tentu saja Mardo dengan senang hati menerima perempuan tersebut menjadi agen buku Hubsche Maedchen.


Mardo menyuruh Eva  membuatkan perjanjian kerjasama  dan mereka menanda tanganinya dengan wajah


berseri-seri. "Selamat semoga sukses untuk kita bersama."


 


 


 


 


 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2