
Beberapa bulan kemudian, suatu pagi saat mengantar Raka bekerja, Mardo berpesan pada suaminya agar mendaftarkan dirinya nanti sore ke dokter kandungan rumah sakit yang menjadi langganan periksa hamil.
"Pi, nanti mampir dulu ya ke Dokter Ideal, daftarin Mimi, nanti sore jadwal Mimi periksa."
Mardo memberikan kartu peserta pemeriksaan ibu hamil. Raka menerimanya dan menyimpannya di dompet. "Ok Mi, nanti Pipi mampir. Pipi pergi dulu, hati-hati jaga anak kita ya Mi."
Raka mencium kening istrinya lantas bergegas ke mobil. Supir membukakan pintu untuknya sekaligus menutup. Raka membuka jendela dan melambaikan tangannya dan meniupkan kiss pada Mardo yang masih berdiri di teras. Mardo membuat gerakkan seolah telah menerima ciuman jauh itu.
"Hati-hati di jalan Pi."
Mardo sekali lagi mendoakan suaminya kemudian dia masuk ke rumah namun tiba-tiba saja merasakan sakit yang teramat sangat pada perutnya. Hampir saja ia jatuh oleh rasa sakit itu tetapi kemudian rasa menghilang. Ia menghembuskan napasnya, dan pergi ke dapur mengambil minuman. Mardo menghirup air hangat tersebut. Sembari jemarinya mengusap-usap perut yang membuncit.
Ia seperti biasa membereskan kamar dan merapikan setiap sudut, tiba-tiba rasa sakit melilit terulang lagi. Oh, Mardo menyentuh perutnya, mengelusi berulang-ulang. Hampir saja ia jatuh oleh rasa sakitnya. Ada rasa ingin buang air besar, meski samar.
Mardo memutuskan berjalan ke ke kamar mandi meski sebenarnya ia tak ingin bab. Saat ia membuka ****** ******** Mardo sangat terkejut karena ada bercak darah di sana, cepat-cepat iya melepaskan ****** ***** tersebut membersihkan dirinya dan buru-buru keluar dari kamar mandi. Selanjutnya iya memanggil Mami mertuanya dan mengatakan yang telah dia alami. Mami terkejut, "Oh itu artinya kamu akan melahirkan Mardo!"
Mami lantas menyuruh Mardo duduk di sofa, Mami dan Papi yang akan menyiapkan perlengkapan bersalin.
Mami buru-buru memanggil Papi dan memberitahu kalau cucu pertama mereka akan lahir. Sedikit panik oleh berita yang tiba-tiba tersebut. Namun keduanya cepat tersadar bahwa mereka harus secepatnya membawa Mardo ke rumah sakit bersalin.
Mami berlari ke kamar anaknya sambil berteriak pada Mardo, "Sayang! Apakah kamu sudah menyiapkan tas untuk keperluan bersalin?"
Mardo menjawab, "Sudah Mi ada di dekat tempat tidur, tinggal bawa saja, tolong bawakan phasminaku ya Mi."
Mami keluar dengan membawa tas besar yang berisi perlengkapan untuk bersalin, kemudian ia dan papi yang membimbing Mardo hingga kedalam mobil.
"Mami!!! Sakitttt!!!"
Mardo menjerit, Ia mengenggam lengan perempuan disebelahnya, oleh rasa sakit tak tertahankan.
"Mulasnya sudah semakin sering ya sayang? kira-kira dua puluh menit atau lima belas menit ya."
"Sepertinya, sudah lima belas menitan Mi, sakit banget Mi, pinggang Mardo sakittt aduhhhhh!!!"
Air mata oleh rasa sakit mengalir di pipi Mardo. Bibirnya cantiknya tak berhenti menghembuskan nafasnya, Uhh, uhhh, uhhh, sakittt Mi!!!
__ADS_1
"Sabar sayang, ini kita sudah sampai, sabar yaa."
Mami terus menerus mengelusi perut Mardo seolah dengan begitu ia ingin rasa sakit itu berhenti, menghilang.
"Berdoa sayang, mohon kemudahan serta kelancaran untuk persalinanmu yang pertama. Semoga tidak ada masalah, semoga Allah Swt mudah dan lancarkan,aamiin yra"
Begitu sampai di rumah sakit bersalin, Mardo segera dibawa ke ruang pemeriksaan. Dan memang tidak lama lagi Mardo akan melahirkan. Saat Mardo tiba di rumah sakit dia sudah melewati pembukaan dua.
Mardo berusaha meyakinkan dan menguatkan dirinya. Rasa sakit itu memang luar biasa. Tapi jutaan perempuan telah mengalami hal seperti yang sekarang dia alami. Jadi ini memang hal yang biasa dilewati oleh semua perempuan.
Tidak perlu takut, harus yakin bisa, harus kuat, kesakitan ini hanya sebentar saja, kemudian menjadi kebahagian.
Mardo merasakan kekuatan dan keberanian menyelimutinya. Ia bisa menahan rasa sakit ini demi menjadi seorang ibu. Mardo hanya menggigit bibirnya saat sakit itu menyerangnya. Masih menunggu delapan pembukaan lagi. Ia pasti bisa! demi menjadi ibu! rasa sakitnya tidak ada apa-apanya.
Raka buru-buru pulang saat mami mengabari Mardo akan melahirkan. Ia langsung menyambar kunci mobilnya dan tak sabar menemui Mardo.
Bibir pria idola terlukis senyum kebahagian, air matanya bersimbah memenuhi kelopak matanya. "Oh, a-aku akan menjadi seorang ayah, ya Allah, terima kasih atas kepercayaanMu, tolong mudahkan istriku Mardo saat persalinannya ini, lancarkan dan jaga keselamatan keduanya."
Mulut Raka si pria idola tak berhenti berkomat-kamit berdoa untuk kelancaran persalinan istrinya Mardo hingga akhirnya ia sampai di rumah sakit.
Raka berlari menemui Papi dan Maminya, dan Mami mengantarkan Raka ke ruang persalinan, dokter yang biasa memeriksa kandungan Mardo sudah siap siaga di tempat.
Mardo mendengar suara yang sangat ia kenal Ia menolehkan kepalanya dan melihat pria yang sangat ia cintai. Seketika hatinya bergejolak, bibirnya berteriak dengan keras.
"Pi,Pipiii! " tangisnya meledak dipelukkan Raka. Keduanya saling berpelukan sangat erat air mata berlinang.
Raka menggenggam erat jemari istrinya, "Pipi disini, Pipi akan menemanimu sayang, kamu pasti bisa! Kamu perempuan paling hebat, paling kuat, tercantik di dunia."
Mardo meletakkan tangan Raka di pipinya. Dia menggenggam erat tangan itu sekuat-kuatnya seolah tak ingin melepaskannya. Mardo terus menggenggam tangan Raka dan memejamkan matanya. mencoba menahankan rasa sakit yang tak terkira. Sakit dan mulasnya semakin sering, kadang membuat Mardo merasa mengantuk.
Dokter dan beberapa perawat mulai bersiaga.
Tiada terasa Mardo sudah melewati pembukaan delapan, punggungnya kian sakit, dan ia sudah ingin mengejan. Punggungnya terasa lembab oleh lendir dan darah. Lalu pembukaan sembilan, Kontraksi sudah semakin sering, Mardo menjerit, rasa sakit itu tak bisa dilukiskan dengan kata-kata, Ia memanggil maminya, papi, mencengkram Raka dengan kuat, hingga kulit Raka terasa perih. Tapi ia tak mengindahkannya.
Dokter menyuruh Mardo mengikuti aba-aba, sebab sudah pembukaan sepuluh. Kepala bayi sudah masuk rongga panggul dan dokter sudah melihat. Mardo merasa puncak rasa sakitnya, ia dihinggapi oleh keputus asaan, dokter tau hal tersebut dan mulai membimbing, ia menyuruh Mardo menarik napas panjang dan kemudian dorong! Mardo melakukannya dengan baik.
__ADS_1
"Tarik nafas lagi! yuhuuuu Bagus, ibunya pintar, anaknya pasti pintar!"
"Dok, ayahnya juga pintar!"
"Oh iya pastinya, ayahnya juga pintar,"
Dokter tersenyum.
"Yuk sama-sama narik napas panjang, lalu dorong yaaaaa!
Aaaaaaaaa!
Aaaaaaaaa!
Oheeee oheeeee
Oheeeee oheeeee
Tadi dokter dengan cekatan menarik tubuh mungil tersebut, meletakkan ditangannya dan menepuk-nepuk lembut di bagian tubuhnya.
"Kenapa nangisnya ohee, bukannya oee hemmm pertanda anak cerdas ini!!!"
Dokter kemudian meletakkan sibayi yang masih merah itu di dada
Mardo, membiarkannya
menangis amat keras.
"Mi, mimi! anak kita, ya Allah alhamdulillah, dia sudah lahir."
Mardo memeluk tubuh mungil itu, sementara dokter melihat kebahagian itu sambil menunggu penyelesain persalinan, ada sedikit jahitan.
Tak lama terdengar azan yang lembut, Raka tengah mengumandangkan asma Allah ditelinga sang bayi yang berkulit putih kemerahan. Rambutnya bergerumbul hitam, keikalan, hidungnya mancung dengan bibir yang imut lucu.
"Selamat datang Rakasiwi Bramantyo, Raka kecil kami!"
__ADS_1
Terima kasih sudah setia membaca pria Idola
Bersambung