
Saat terbangun esok paginya. Perempuan cantik itu menyadari ia tak berada dalam kamarnya. Tak bersama suaminya Raka. Tidak terdengar suara anak-anaknya dan juga mba yang membantu pekerjaan rumah. Hening dan sunyi. Mardo bangun mengigit bibirnya. Ia turun dari ranjang dan membuka tirai jendela. Hamparan perkebunan di depan matanya.
"Siapa mereka? apa yang mereka inginkan dariku."
Ceklek!
Tiba-tiba pintu terbuka, Mardo secepat kilat menoleh dan bersirobok pandang dengan perempuan yang tadi malam. Tapi bukan yang menamparnya. Keduanya berada dalam situasi bingung dan tidak tau mulai dari mana.
"Cepat pergi mandi sana di belakang rumah, ini pakaian ganti."
Kata perempuan itu sambil menyodorkan pakaian di dalam plastik.
"Siapa kalian? apa yang kalian inginkan dariku? a-aku tidak kenal kalian dan aku rasa tidak memiliki masalah dengan kalian?"
Belum selesai Mardo bicara perempuan itu sudah berbalik dan meninggalkannya. Ia mengejar dan melihat perempuan yang menamparnya berdiri ditengah-tengah ruangan dengan melipat tangan dan menatapnya dingin.
Mardo tak surut, ia balik menatap perempuan itu.
"Siapa kalian? kenapa menculikku? apa kalian tidak punya keluarga? anak-anakku! mereka membutuhkan aku, dan aku harus membuatkan mereka sarapan, menyiapkan perlengkapan dan mengantar kesekolah."
"Kalian telah mengacaukan semuanya? dan aku bisa mengadukan kalian ke polisi karena telah menculik dan memisahkan aku dengan keluargaku."
Mardo meluapkan rasa kesalnya yang sudah menggunung. Ia tidak takut sama sekali pada perempuan yang bertubuh besar dan sedang menatapnya sinis.
"Siapa kalian? kenapa tidak menjawab dan memberitahuku tentang apa yang kalian inginkan? kalian ingin uang? katakan saja! suamiku akan mengirim uang untuk kalian. Jangan begini! keluargaku sedang mencariku!"
"Sudah diam! pergi mandi dan ganti bajumu itu!"
"Aku bukan anak kecil, yang terpenting bagiku adalah mengetahui siapa kalian dan untuk apa aku di bawa ke tempat ini?"
Tentu saja, Mardo bukanlah perempuan yang lemah. Ia akan berjuang hingga titik darah penghabisan untuk membela dirinya dan juga kebenaran. Ia tak pernah diajarkan untuk takut dan cengeng, apa lagi membiarkan masalah berlarut-larut tanpa ada upaya menyelesaikannya.
"Kau punya kesalahan di masa lalu, karena itulah kau dibawa kesini!"
__ADS_1
"Oh jadi begitu? apa kesalahanku? biar aku tahu dan kemudian kalian juga mengerti."
"Kau akan tau setelah kau membersihkan dirimu!"
Kata perempuan itu dingin dan agaknya tidak akan merubah keputusannya. Mardo membalikkan tubuhnya dan mengambil tas plastik yang berisi pakaian yang baru dibeli oleh mereka dan bergegas ke belakang. Mardo teringat kampung halaman ibunya. Tidak terlalu jauh berbeda. Mereka punya sumur yang airnya bening dan segar. Sebuah bangunan yang hanya ditutupi papan serta atasnya jerami kering. Tanahnya sudah di semen sehingga tidak kotor dan menjijikkan.
Perempuan itu tak mau memeriksa lebih teliti, ia ingin cepat-cepat selesai dan pergi dari tempat itu. Di dalam tas plastik selain ada baju terusan, juga ada handuk, ****** *****, bra serta sabun, sikat gigi, odol serta shampo. Semuanya baru dan khusus diperuntukkan baginya.
Tak lama ia sudah selesai dan masuk ke kamar tempatnya tidur. Ia mengambil sisir kecil di dalam tasnya dan mengikat rambutnya. Belum selesai menyisir ketika perempuan yang tadi pagi memberikan tas plastik menyodorkan makanan untuknya.
"Ini sarapanmu, makanlah dulu."
Mardo menerimanya dan tak mau berdebat lagi. Ia akan habiskan makanannya kemudian mendatangi kedua perempuan itu untuk bertanya siapa mereka dan kenapa membawanya ke tempat ini. Yang begitu jauh dari anak dan keluarganya. Segera perempuan itu menghabiskan makanannya. Agaknya mereka tidak begitu jahat, buktinya ia menempati kamar yang rapi dan bersih. Memberi makan yang baik. Bahkan juga mengusahakan baju ganti dan lain-lainnya.
Memang ada sesuatu yang ia harus bersabar menunggunya. Ketika ia telah menyelesaikan makanannya ia segera keluar dari kamar tersebut. Ia melihat di ruangan tengah itu telah duduk perempuan yang berbagi makanan dengannya. Perempuan ini tidak sedingin dan sesinis yang satunya.
"Duduklah."
Kata perempuan itu mempersilahkan Mardo. Dia berbeda dengan perempuan yang satunya, perempuan ini terlihat lebih terpelajar dan memiliki tata krama yang baik. Ia agaknya yang membuat rumah itu rapi, bersih serta segar.
"Maafkan aku dan anakku."
Katanya pelan, memulai pembicaraan.
"Namaku Fatma, beberapa tahun yang lalu aku terpaksa kabur dari rumah karena suamiku hampir saja menghabisi nyawa istri dan anaknya. Itu sebenarnya bukan yang pertama. Sepanjang pernikahan kami ia menyiksaku dan anakku yang masih kecil."
Perempuan itu diam, sulit baginya mengenang kepahitan yang menimpanya.
"Sejak menikah ia selalu menyebut-nyebut namamu, dalam tidurnya, igauan bahkan saat ia bersamaku."
"Berkali-kali aku bertanya padanya tentang siapa Mardo, kenapa nama perempuan itu selalu di sebut-sebut. Tapi dia tak menjawab malah marah dan mencaci maki aku. Jika aku terus mendesaknya untuk menghentikan hal itu ia menamparku, mencekik dan mendorongku ke lantai."
"Aku tak tahan dan ingin meninggalkannya tapi saat itu aku sudah hamil, dalam keadaan hamil ia berkali-kali menyakiti hati dan tubuhku, meningalkan luka mendalam di jiwaku. Aku marah pada perempuan yang selalu ia sebut-sebut."
__ADS_1
"Hingga anakku lahir dan terpaksa hidup dalam ketakutan dan tegang. Setiap kali ayahnya pulang atau mendengar suaranya ia ketakutan dan merasa terancam. Dia seperti setan, tak segan membanting anaknya dan melemparnya ke tembok."
Perempuan itu mengalir air mata saat menceritakan deritanya dan anaknya. Hingga ia bilang puncak dari penyiksaan yang luar biasa terjadi pada malam itu, anaknya terus menangis karena tak enak badan. Tiba-tiba ia mengambil anak itu dan hendak membantingnya ke lantai. Ia buru-buru menangkap anaknya. Ia mendorong laki-laki itu dan memukulnya berkali-kali dengan sapu.
Pagi harinya saat laki-laki itu pergi bekerja, ia putuskan kabur membawa anaknya ke tempat saudaranya. Mardo mendengarkan cerita perempuan itu dan keningnya berkerut, siapa laki-laki itu yang menyebut-nyebut namanya hingga membuat menderita istri dan anakknya.
"Memangnya siapa laki-laki itu? kalau boleh aku tahu."
Perempuan itu berdiri dari tempatnya duduk. Ia mengepal-ngepalkan jemarinya.
"Siapa laki-laki yang kejam itu, kenapa dia menyebut-nyebut namaku, semantara aku tidak pernah berhubungan dengan laki-laki lain selain suamiku."
"Aku sudah melupakan masa-masa menyakitkan itu, tetapi putraku tak bisa melupakannya ia ingin tahu kenapa ayahnya membenci ibu dan dirinya. Ia berusaha mencarimu bertahun-tahun."
"Oh, hanya karena laki-laki itu menyebut namaku, dia mencariku begitu lama?"
"Iya, dia mencarimu sejak lama."
Mardo mengepalkan tangannya, apa yang telah ia lakukan? hanya kerena namanya telah membuat perempuan ini dan anaknya menderita. Sungguh tak adil.
"Katakan siapa nama suamimu itu agar aku bisa mengingat apa yang telah aku lakukan padannya."
Sulit sekali bagi perempuan itu untuk menyebutkan nama laki-laki masa silam itu. Ia sempat gemetar oleh rasa marah, takut serta penyesalan. Ia menatap pada Mardo, berusaha menguatkan dirinya. Menyebut nama itu seolah mengembalikan dirinya saat bersama laki-laki yang kejam itu.
Bersambung
__ADS_1