Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 34. Ciuman Pertama


__ADS_3

Sebuah sudut di kapal menjadi tempat bercengkrama Richi dan teman temannya. Di tempat lain ada pesta ulang tahun yang meriah. Kumpulan gadis gadis pergi ke ruangan itu.   Awak kapal membentuk panitia untuk pesta salah satu gadis.  Meriah dan riuh di sana. Sementara  sebuah ruangan lain yang tak kalah besar dan luas sebagian penumpang menikmati film. Bangku bangku di susun bak layaknya di gedung bioskop.  Awak kapal memberikan kopi dan teh gratis. Dibagikan ke bangku bangku. Penumpang menikmati tontonan yang seru sembari minum kopi atau teh. Ada juga yang tertidur dengan merendahkan sandaran kursi.


Pada dindinng kapal juga banyak penumpang yang tiduran di sofa sofa memandangi bintang. Agaknya seluruh kapal bisa digunakan penumpang untuk bercengkrama. Mereka menghabiskan waktu hari demi hari hingga nanti tiba di tujuan. Dan banyak hal yang diberikan pada penumpang agar tak jenuh serta bosan. Hari pun akan terasa cepat berlalu. Dan malam itu adalah terakhir di kapal. Besok pagi kapal akan berlabuh di kota Fak fak atau kota eksotik. Papi yang menjuluki kota itu dengan kota eksotik. Dan pada akhirnya banyak orang mengakui bahwa kota terpencil itu memang indah, unik dan eksotik, bak negeri di atas awan.  Betapa tidak, kota itu terdiri dari dua bagian. Di bawah adalah bentangan laut, dermaga serta pelabuhan yang sangat ramai. Pertokoan dan pusat bisnis serta pariwisata. Dan mendaki ke atas ke puncak kapas merupakan pusat pemerintahan dan perumahan penduduk. Ada juga hutan rimba tempat penduduk asli Papua yang masih mempertahankan tradisi nenek moyang.


Betty agaknya sudah rindu dengan kota cantik mereka. Ia memetik gitar dan menyanyi lagu tri eva. Halima menari bersama Sarah Lee. Yang lain bertepuk tangan. Suara petikkan gitar dan nyanyian yang bersemangat terdengar hingga ke atas. Mas Irawan yang kebetulan sedang tak bertugas segera turun dan bergabung. Suara suara nyanyian terbawa angin hingga jauh.


'Tiri eva abua sirarandi. Itapatae manina tuti. Aika raifa fia.  Tiri eva abua. Tesa fak fak arep tiri eva abua...dru dru dru nina  dru dru manina...'


"Wah, asyik sekali di sini," pria muda itu tersenyum pada semuanya.


"Oh, kak Irawan. iya nih kak.  Kangen kota pala, kota Fak fak tercinta,"  Zamzam mewakili teman temannya.


"Bawa  apa tuh kak?"


Semua memandang benda di tangan pria itu.


"Ini telur burung kasuari, aku ingin memberikannya pada Mardo. Karena belum pernah melihat telur burung kasuari."


Zamzam bersungut sungut, tapi tak berkata apa apa.


"Oh, itu telur burung kasuari? ihh besar sekali, warnanya asli? hijau?"


Mardo takjub melihat sebuah benda berbentuk telur namun sangat besar.


"Ini asli namun sudah dilukis oleh penduduk yang menemukannya.  Warna aslinya seperti telur biasa."


"Wah, luar biasa! indah sekali."


"Seseorang menjualnya ke kapal, sudah langganan. Kak Irawan sudah punya tiga."


"Oh apakah mahal? jangan ah.itu antik."


Mardo tak enak, apa lagi Zamzam seperti cemburu.


"Kakak hadiahkan untukmu,"


"Ambil nona Mardo,kalau kau tak mau nanti diambil Zamzam," kata Halima.


Akhirnya dengan tersipu,  gadis itu menerimanya.  Ia pamit untuk menyimpan telur burung kasuari di kamar.


Mardo bermaksud kembali tetapi ia merasa haus dan mengambil minum. Ternyata air minum kosong. Ia pikir akan mengambil air minum ke dapur. Dan ia berpapasan dengan Vana yang ingin kembali ke kamar.  Mardo bilang ia akan mengambil air minum ke belakang. Vana mengiyakan dan menyuruh Mardo segera kembali. Karena ia dan Vana pernah mengambil air minum ke dapur maka dengan cepat ia sudah tiba di sana. Sayangnya menurut koki air minum panas sudah habis.


"Air minum su habis nona, tapi di atas ada banyak."


"Di atas, boleh mengisi termos di sana pak?"


"Boleh, karena nona teman Nak Raka toh?"


Setelah ditunjukkan oleh pria yang mengurusi air minum penumpang, Mardo beranjak ke atas.


Gadis itu belum pernah naik ke atas. Ingin mengajak Vana, tapi bisa dua kali kerjaan. Ach, tidak apa-apa kan pak koki sendiri yang suruh mengambil air minum di sana. Mardo sangat ingin minum coklat hangat.


Ia sudah kecanduan minum coklat setiap kali akan tidur.

__ADS_1


Jika tidak,  semalaman ia gelisah dan tak bisa tidur.


Mardo memutuskan pergi ke atas. Suara-suara musik dan cengkrama gadis-gadis terdengar sayup.


Gadis itu terus menaiki tangga hingga ia melihat lorong yang panjang dan sepi.


Agaknya memang bukan untuk umum, Mardo melihat tempat air minum di sudut lorong. Ia berjalan ke sana.


Galon-galon air minum tampak penuh berderet. Di atas sebuah meja ada dispenser. Mardo mengisi termosnya dengan air panas hingga penuh. Kemudian menutupnya.


Setelah selesai ia berbalik untuk kembali. Alangkah terkejutnya gadis itu melihat sosok yang sedang menunggunya.


Mardo tercekat, tidak ada jalan lain, itu adalah satu-satunya jalan.


'Kak Raka! dia sedang apa sih di situ?'


Mardo menggigit bibirnya,  ia lihat Raka menyongsongnya. Jantung gadis itu berdegup


Tiba tiba sudah mengurung dirinya di tembok.


Beberapa hari ini Raka mendidih darahnya oleh sikap Mardo. Teramat manis dan akrab dengan Richi. Sebelumnya ia juga melihat gadis itu bercengkrama dan akrab dengan Irawan. Bahkan ia tau beberapa menit yang lalu laki-laki itu memberikan sebuah cindera mata telur burung kasuari. Apa maksudnya dia memberikan telur itu pada Mardo. Ia melihat semua dari atas. Rasanya ia ingin merebut telur itu dan membantingnya hingga pecah berantakkan!


Ia kesal mendengar Mardo dan teman-temannya bermain gitar dan bernyanyi-nyanyi, bercanda dan tertawa.


Kalau saja tidak ada si Irawan itu, atau Richi adiknya tidak masalah, tapi Mardo berpandang-pandangan dengan Irawan juga Richi, ia gemas dan kesal dibuatnya.


"Haus ya, setelah ketawa-ketawa bersama laki-laki lain?"


Raka meluapkan kekesalannya.


Mardo mendorong dada Raka yang serasa ingin menekannya. Ia menghalangi Raka dengan tangannya.


"Jangan dekat-dekat dengan Roichi atau laki-laki lain! kak Raka jealous melihatnya!"


Suara mengeram di kuping. Membuat tubuhnya meremang.


"Kamu gadisku, milikku! jangan membuat cemburu!"


Hembusan napas Raka mengenai wajahnya, karena dekatnya  Raka mengucapkan kata-kata itu.


Lantas ia merampas termos ditangan Mardo, meletakkannya di bawah.


"Kau mau apa! lepasin aku kak,!"


Mardo sangat jengah oleh perlakuan Raka, ingin ia menjerit  tetapi tak bisa. Sesaat bisu.


"Kau gadisku, "


Sembari melakukan gerakkan yang cepat. Ia merunduk meraih bibir gadis itu.


Mardo menegang, tubuhnya serasa tersetrum, sesuatu yang basah, kenyal menempel di bibirnya.


Raka menjatuhkan ciuman dan ******* disertai tekanan di tubuh gadis itu, hingga tak bisa mengelak.

__ADS_1


Kemudian Raka mengangkat wajahnya, mereka berpandangan.


Sesaat Mardo tersadar, ia mendorong Raka dan lari sambil menangis.


Vana kembali ke sudut tempat anak anak masih bercengkrama. Tapi ia tak menemukan Mardo diantara mereka. Ia tadi ke dapur. Tak ada siapa siapa di sana. Ia segera pergi untuk mencari gadis itu. Mungkin ke toko mini untuk membeli minuman. Baru saja ia akan berbelok ke sebuah lorong ketika ia melihat Mardo yang seperti terburu buru menuju ke kamar.


"Hei Mardo,"  Vana memanggil , Hanya saja Mardo sudah masuk ke lorong yang lain. Vana lega karena Mardo sudah ketemu.


"Hei!"


Vana menoleh dan melihat Raka berdiri di tempat tadi Mardo  sempat terlihat.


"Ini, punya temanmu!"


Raka menyongsong dan memberikan termos air yang tertinggal. Kemudian pergi.


Vana terbengong. Sepertinya terjadi sesuatu. Mardo lari terburu-buru dan di belakangnya menyusul kak Raka yang membawa termos milik Mardo. Vana bergegas ke kamar.


 


Mardo menutup pintu kamar mandi, ia menyentuh bibirnya,


"Ya Rabb, dia menciumku."


Gadis itu mengingat janjinya di buku diary, bahwa ia akan menikah dengan pria yang pertama menciumnya.


Mardo, termenung. Apakah Raka nanti adalah suaminya?.


Do! Mardo!


Suara Vana, Mardo masih panik, takut dan juga marah pada kak Raka.


Tergiang kata-kata pak ustaz di madrasah, anak-anak perempuam harus menjaga dirinya dengan sebaik-baiknya. Tidak boleh disentuh oleh laki-laki. Apa lagi berciuman, merupakan dosa yang sangat besar


 


"Ya Rabb, ampuni aku."


Gadis itu mencuci bibirnya,mengambil wudhu.Ia ingin sholat isya dan mohon ampunan Rabbnya.


Vana menunggu di sofa.


 


Bersambung


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2