
Prita hampir saja terlambat ke tempat les privatnya, masih ada waktu satu jam sebelum ia kesana
gadis-gadis itu buru-buru mendorong motornya yang luar biasa besar dan lumayan berat. Ibunya
ikut membantu mengeluarkan motor besar itu dari pintu rumah mereka yang memang sempit.
"Kamu itu selalu saja terburu-buru Prita, ibu sudah bangunkan dari jam empaat, malah tidur lagi
jadinya kamu kayak gini, sesak napas ibu liat orang terburu-buru begituh."
Ibu Prita yang bertubuh tinggi besar itu mengomel panjang pendek, baru sekarang dia agak
perdulian dengan Prita, bahkan mau ikut mendorong motor anaknya lepas dari pintu. Kalau
dahulu sama sekali tidak mau tahu tentang Prita. Tidak perduli anak itu sekolah atau tidak. Kerjanya
hanya minum kopi, memasak untuk keluarga besar lalu tidur sepanjang hari. Begitu bertahun-tahun.
Menurut orang kehilangan suami dan seorang anak laki-laki telah membuatnya tanpa kehidupan
dan emosi. Beruntung saat itu ia masih berkumpul dengan ibu dan saudara-saudaranya. Sehingga
ada yang memperhatikan dan menghiburnya.
"Bu, aku berangkat ya, hati-hati di rumah."
Prita mencium tangan ibunya kemudian mengenakan helm dan dengan sigap dan gagah melajukan
si Red, ia menamai motor besar itu dengan Red. Sementara ibunya memandangi hingga berbelok
ke kanan dan hilang. Bibir perempuan itu tersenyum. Ia tak menyangka gadis kecil yang sempat
terabaikan selama bertahun-tahun ternyata mampu bertahan dari sikapnya yang tak perduli. Jantungnya
serasa tercabut ketika suami yang ia cintai meninggal di usia muda. Padahal setahun sebelumnya
mereka berduka kehilangan putra pertama mereka.
Kehilangan beruntun membuatnya jiwanya limbung, depresi melanda dirinya. Ia tak mau melakukan
apa-apa kecuali tidur dan makan. Gadis kecilnya yang berusia tiga tahun terabaikan, dan untungnya
anaknya itu memiliki daya penerimaan yang tinggi. Ia tumbuh dengan sikap yang baik dan tak
menyusahkan ibunya. Seolah mengerti dengan penderitaan ibunya. Bertahun-tahun bersamanya
tetapi tak memperdulikan gadis kecil itu.
Prita tetap ceria dan setiap pagi memeluknya dan mencium tangannya. Sepulang sekolah
Prita kecil bercerita tentang teman-temannya dan guru. Ia hanya membisu dan terbengong.
Saudara-saudaranya sering memarahinya, sebal pada dirinya yang seperti itu. Untungnya
dia adalah kakak tertua sehingga meski hanya sedikit masih ada rasa segan dan hormat.
Prita gadis kecilnya bertahan diantara paman, bibi dan anak-anak mereka. Tak mengindahkan
sikap kasar, cemohan serta caci maki dari paman, bibi dan anak-anak mereka. Prita selalu
tersenyum dan mengacuhkan mereka semua. Ia tak pernah lari ke punggung nenek meminta
pembelaan, tidak minta pelukkan nenek, ia biarkan semua berlalu di depan matanya. Karena
guru-gurunya sangat menyayanginya.
Assalamualaikum
Prita memberi salam sembari menatap pintu gerbang besar di depan matanya. Ia ingat
rumah ini adalah yang pertama ia datangi kemarin saat membagikan brosur. Oh, jadi
perempuan yang menelpunnya tinggal di rumah besar ini? Wah! seberapa kayanya
mereka ya?
Waalaikumsalam
Pria yang kemarin menerima brosurnya membukakan pintu.
"Pak, saya ingin bertemu ibu Mardo, semalam ibu menelpon saya."
Prita mengatakan langsung tujuan kedatangannya.
"Oh iya Kak, mari masuk saja."
Pak penjaga pintu gerbang membukakan pintu dan menyilahkan gadis itu bersama motor
besarnya masuk. Sebuah halaman yang luas membentang di depan matanya beserta
rumput dan taman bunga.
Kemudian sebuah garasi yang memuat sekitar lima mobil mewah, lalu ada dua moge
di sudut. Jika dia kesana nanti agak susah keluarnya. Akhirnya Prita menghentikan
mobil besarnya di luar garasi, di tepi jalan keluar. Ia melepaskan helmnya dan sejenak
__ADS_1
melihat jamnya. Ia memiliki waktu untuk berkenalan dengan calon muridnya.
"Pak, tolong antar saya ketemu ibu Mardonya."
Prita takut tersesat di rumah megah tersebut, dan meminta pak satpam mengantarnya
ke dalam. Pak Didin nama satpam di rumah Raka Bramantyo dengan senang hati mengantar
gadis itu ke dalam rumah. Mereka lewat pintu samping, dan ternyata ada halaman juga yang
dikelilingi bunga-bunga yang indah, serta dua buah mobil sedan yang elegan terparkir
di sana. Halaman mungil itu di kelilingi teras rumah.
Pak Satpam mengajak masuk lewat sebuah pintu yang sedang terbuka, dan terhampar
ruangan besar dengan perlengkapan yang mencengangkan Prita. Di sudut ada meja
makan dengan pernak-pernik perlengkapannya, lalu Prita sedikit lebih masuk untuk melihat
lebih ke dalam. Sebuah ruangan keluarga yang hangat dengan karpet bulu-bulu serta
sofa yang entah berapa harganya, serta tv theater tempat keluarga menikmati film-film
kesukaan. Lantas ada tangga di dekat meja makan yang berbentuk memutar menuju
ke lantai dua.
"Hello! Prita ya?"
Sosok itu muncul dari depannya, serta merta Prita tersenyum dan mengangguk.
"Iya, saya Prita bunda."
"Mari ke sini mba, kita bicara di sana saja ya."
Perempuan cantik dan memiliki aura berkharisma tersebut mengajaknya menuruni
ruangan keluarga yang memang di buat ke bawah. Bibirnya tersungging senyuman.
"Kebetulan bunda sedang mencari guru privat untuk anak-anak."
Mereka saling berhadapan, dan Mardo perempuan itu sempat terpukau oleh
kecantikan gadis itu, terutama matanya yang indah dan bibirnya yang memiliki
senyum yang kian membuatnya cantik, ia seperti pernah melihat mata dengan
bulu-bulu lentik itu dan juga senyumnya. Tetapi di mana ia pernah melihat
gadis ini?
tempat tinggal saya, punya pengalaman sedikit."
"Bagus sekali, jadi Nak Prita ini sudah sering memberi les privat ya?"
Dan Prita mengangguk, sembari tersenyum.
"Tapi Bun, saya hanya dua bulan ini saja ada waktu, karena saya kuliah di
luar kota, selanjutnya nanti bisa sih lewat vidiocall, atau di line."
"Oh begitu, pantas saja privatnya harian ya pembayarannya."
"He he he, iya Bun, suatu waktu siswa ada kesulitan belajar bisa panggil
saya."
Mereka berbincang-bincang hingga akhirnya mendapatkan waktu belajar
untuk Tria dan Dode setelah magrib usai makan malam. Dan itu dimulai
nanti sore.
"Jadi kita sepakat ya?"
"Siap Bun, nanti malam setelah magrib saya datang."
Prita memberikan waktu itu karena ia sudah memikirkan tidak ada lagi
waktu yang lebih tepat, karena pagi ia sudah booking les privat, lalu
sore ia juga sudah full, tinggal lagi malam hari, dan itu adalah waktunya
anak-anak belajar.
Sebelum Prita pamit, ternyata Mardo ingin memperkenalkan anak-anak
yang akan les privat padanya.
"Tria!"
"Dode!"
"Sini sebentar, bunda mau kenalin dengan guru les kalian."
"Iya sebentar Bun!"
__ADS_1
Terdengar suara anak perempuan dari atas, dan tak lama sesosok gadis
remaja yang manis menghampiri memeluk pinggang ibunya.
"Ini mba, anak saya Triananda, mana Dode?"
"Hello, Prita, nanti malam kita ketemu ya."
Prita dan Tria saling tersenyum.
"Biasa Bun, baca komik!"
"Dode!"
"Iya, sabar kenapa sih?"
Tak lama turun dari lantai atas seorang anak laki-laki yang tampan
dan tinggi, "Nanti les matematika ya Bun."
"Iya, ini biar kenal gurunya."
"Kenapa nggak sekarang aja Bun?"
"Nggak bisa, kakak Prita sudah ada kelas hingga sore."
Oh, mulut anak laki-laki itu sedikit manyun.
Setelah berkenalan, Prita buru-buru pamit, karena sebentar lagi ia harus
sudah sampai di tempatnya mengajar. Mardo dan anak-anaknya mengantar
ke teras.
"Oh, guru kalian pakai motor besar!"
Mardo entah kenapa langsung menyukai gadis yang bernama Prita, dan
seolah-olah sudah pernah bertemu dan mengenalnya lama.
Bersambung.
__ADS_1