
Meriah dan seru ultah Dea, obrolan mereka memenuhi ruangan. Paket makan siang yang terdiri dari sepotong ayam goreng renyah. Tambahan kentang goreng serta cola dengan es batu. Dea juga diantarin supirnya berkilo-kilo jeruk yang langsung dibagiin. Jadi deh tuh dua tempat ayam goreng berantakan, satunya lagi Dea booking kfc untuk teman lesnya.
"Fana bentar lagi loe juga ultah ya, bikin acara di mana? di restoran ya."
Ara berbisik-bisik di kuping Fana, seminggu lagi giliran ultah Fana.
Tapi gadis itu hanya tersenyum. Ia sudah memikirkannya sejak awal bulan, sudah membeli gaun yang indah di butik langganan ibunya. Ia juga sudah menyewa eo untuk memeriahkan ulang tahun ke enam belas tahun. Banyak anak-anak yang memeriahkan ulang tahun mereka dengan cara wah, tak kalah mewah dengan pesta selebriti. Tetapi ada juga yang sederhana seperti ultah Dea ini. Mengundang teman-teman sekelas langsung ke tempat makan. Tidak repot mikirin waktunya, makanannya, dan kostumnya.
Fani berbisik di telinga Ara, kalau dia nggak akan bikin pesta ulang tahun sesederhana ultah Dea. Fani ingin yang meriah dan seru.
Sip! kata Fani sembari memberi jempol.
"Kenapa kalian berdua senyum-senyum?"
Cindy yang berada di sebrang mereka barengan Wina menegur.
"Nggak apa-apa Cintah, ini Fani seminggu lagi ulang tahun katanya."
Beberapa teman menoleh dan tersenyum, mereka juga berteriak supaya tak lupa mengundang mereka. Fani cemberut, si Ara mulutnya ember, terpaksa Fani mangut-mangut dan bilang ia akan undang semua temannya.
Asyik! asyik!
Mereka membayangkan pesta ultah yang meriah dan seru. Masing-masing janjian pergi bareng. Akhirnya asyik membicarakan pesta ulang tahun. Dea sendiri setelah tadi sempat mengucapkan terima kasih atas kedatangan teman-temannya langsung pulang. Kecil-kecil Dea juga selalu terlihat terburu-buru dan sibuk. Katanya ia harus cepat-cepat pulang sebab di rumah ada pengajian dan juga bagi-bagi berkat untuk dhuafa dan anak yatim.
Anak-anak merelakan Dea meninggalkan mereka, ada yang iseng bertanya sih apa sudah membayar makanan mereka apa belum. Gadis itu menjawab sudah. Yang bertanya mengelus-ngelus dadanya pertanda lega. Sedang anak lain geer, tertawa.
Setelah menghabiskan makan siang mereka di Wendys sekelompok demi sekelompok meninggalkan tempat itu. Sambil berjalan turun ke lantai bawah ada yang melihat-lihat juga. Kebanyakkan mampir ke gramedia toko buku untuk melihat-lihat novel baru. Kebetulan sedang ada bazar buku, murah-murah ada novel yang harganya mulai lima ribu.
Sebagai gadis yang senang membaca, ini adalah kesempatannya. Cindy mulai memburu buku-buku yang sekiranya bagus, sepuluh buah langsung terpilih, dan ia juga membeli novel-novel trjemahan yang harga cuman sepuluh ribu. Ia dan bunda bisa menghabiskan bacaan itu sekejap saja.
Sementara Ara, dan Wina juga membeli masing-masing lima. Keduanya juga termasuk kutu buku. Berbeda dengan Fani. Ia tak betah berlama-lama di toko buku gramedia. Dia bilang menunggu di toko asesoris di bawah. Ia pasti mencari pernak-pernik untuk acara ulang tahunnya. Oh iya Ara sejak kelas satu terobsesi menjadi mangaka. Gadis itu pintar melukis perempuan beramput panjang terurai dengan mata belo dan bibir yang mungil. Buku-bukunya penuh coretan mangaka. Lukisan yang cantik dan indah. Banyak yang menyukai lukisannya dan minta dibuatkan. Jika sedang senang biasanya ia akan segera melukis. Tetapi kalau sedang datang mood jeleknya jangan harap direspon.
"Udah Ra, Wan?"
Cindy membawai buku-buku bazar tersebut ke kasir dan membayarnya. Begitu juga Ara dan Wani. Lumayan berat, sehingga ia tidak ada gairah lagi untuk melihat yang lain. Gadis itu menelpon pak Mus apakah bisa menjemputnya di sebuah mall.? Ternyata pak Mus bersedia. Karena memang ia bertugas antar dan jemput anak-anak dan juga Mardo.
"Apa Fani masih di tempat asesoris?"
"Masih Cintah, ini barusan nelpon nanyain kita, masih lama nggak."
Ketiganya segera keluar dari gramedia dan menuju eskalator, tak lama mereka sudah bertemu di depan toko asesoris. Mendadak kumpulan anak laki-laki mendatangi mereka, siapa lagi kalau bukan genk cowo pematah hati, atau genk cowo kece sedunia, Deni dan teman-temannya.
__ADS_1
"Waduh... ternyata belum pulang...he he he."
Deni mesem-mesem sambil garuk kepala.
"Ada apa Den, gaya kayak gitu ada maksudnya ?"
Fani langsung jutek melihat gaya nyebelin Deni, padahal Deni masih merasa ada kesalahan sama Cindy yang duduk di sebelah gadis itu.
"Apa sih Fan, lo geer aja. Orang Gwe lagi nggak enak sama Cindy he he he."
Cindy, Ara dan Wani hanya mesem.
"Nggak pengen ditraktir kok Den kita udah kenyang habis ditraktir Dea makan di Wendys."
"Bukan, itu Danang katanya mau traktir nomat."
Ke empat gadis itu melongo, apa nggak salah? Cindy keburu curiga.
"Bentar-bentar, coba periksa dompetnya, nanti ternyata dompet ketinggalan, kitae yang repot."
Cindy senewen dia ingat peristiwa baso gate, he he he.
"Atm siapa loe kuras?"
"Atm Gwe la, masaa atm orang, dosa tau."
"Uhhhhhh, emang lue udah tujuh belas tahuan apa ? semua tak yakin."
"Kenapa cewe cerewet ya, filmnya sebentar lagi di mulai ayo! siapa yang mau gwe traktir?"
"Aduh gimana ya? pak Mus udah otw masalahnya mo jemput gwe."
"Suruh bawain buku lo yang berat itu aja Cintah, terus kita nonton, mumpung ada yang ngebosy."
Ara memberikan ide, sekaligus bujukkan maut. Soalnya kadang Cindy mudah kena pengaruh, tapi tak jarang alot kayak besi baja.
"Iya, benar. Ya udah temanin ke parkiran Ra."
Malah Ara, Wani juga ikutan nitip buku-bukunya di pak Mus, katanya besok mampir di rumah Cindy. Jadilah pak Mus pulang dengan setumpuk novel. Baru selesai satu masalah Weni mendapat telpon ibunya yang menyuruhnya segera pulang sebab sebentar lagi les. Wajah gadis itu langsung lesu dan sedih.
"Napa Wan?"
__ADS_1
"Suruh nyak pulang, Gwe musti les, dah mau jam 2.30. ohhh nooo, sementara ingin senang-senang dengan kalian."
Wani nyaris mau mewek. Dia gadis yang baik dan penurut.
"Sok wis pulang sana, les itu lebih penting dari pada nonton film."
Ara menguatkan kebaikannya.
"Ohhhh, kenapa waktunya tak tepat."
"Sana pulang Wani, bayaran les itu mahal, dan orang tuamu ingin yang terbaik untuk kamu, gihhh."
"Ohhh, kenapa waktu tak berpihak kepadaku?
"Kenapa kalian tidak mencegahku, katakan! Wani, sekali-kali nakal tidak apa-apa toh? sekali-kali tidak jadi anak manis tidak mengapa toh?"
Wani ingin teman-temannya membujuknya juga, tetapi ia tak mendapatkan hal itu. Gadis itu berbalik sangat sedih.
"Udah sana pulang, dan pergi les, turuti perintah oroang tua."
Hampir berderai air mata Wani beringsut dari depan cinama yang sudah dibanjiri anak-anak remaja.
"Gwe les dulu ya."
"Iya, pergilah lain waktu kita pasti bisa nonton bareng ok."
Wani menggigit bibir, lantas lari meninggalkan tempat itu.
"Uhhh, malang banget nasib gwe."
Keluh Wani, tapi ia buru-buru menutup bibirnya. Tidak, ia adalah gadis yang beruntung, selalu bisa mempertahankan beasiswanya dan menjadi juara umum bertahan. Ia juga mengharumkan sekolah dengan memenangkan olimpiade matematika di sekolah bergengsi tersebut. Semua ia dapatkan berkat ibunya yang selalu memberikan dorongan serta tak boleh malas mengikuti les. Padahal sudah pintar. Cindy, Fani, Dea dan beberapa anak lain sampai pesimis untuk merebut kedudukkan itu.
Bersambung
__ADS_1