Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 65. Kemana Rakaku


__ADS_3

Di perjalanan pulang dari pesta, semua membisu terutama  Mardo. Ini pengalaman


yang tak terduga dalam hidupnya. Secara tiba-tiba bertemu dengan seorang pria


yang mempesona. Setelah bertahun-tahun ia menunggu pertemuan dengan Raka.


Apa yang terjadi dengan Raka? kenapa sejak kepindahannya ke Jakarta hubungan


itu putus  begitu saja?  cinta masa kecil  rapuh. Benarkah begitu? Mardo


menggigit bibirnya. Begitu lama, namun kenangan dengan Raka selalu baru di hatinya.


Seperti terjadi kemarin dan kemarin. Pria idola itu adalah cinta pertamanya. Bahkan


hari-hari terakhir ini ia semakin yakin pria Idola terasa mendekat. Ia bisa merasakan,


cinta itu, kasih sejati pria idola, tatapan lembut, peluk dan ciuman pertama itu. Oh!


Mardo mendekap tangannya, bukankah ia telah berjanji saat ia kelas enam sekolah


dasar, ia menulis di diary miliknya 'Ciuman pertamaku adalah suamiku'


Mardo tersenyum, kenapa bisa anak kecil sepertinya menulis seperti itu. Entahlah


tulisan itu keluar dari relung hatinya. Memanglah sejak kelas empat sekolah dasar


ia bergaul dengan Sashi yang sangat luas pengetahuannya tentang laki-laki.


Bayangkan kelas empat sekolah dasar. Ia sudah mengerti laki-laki bagaimana


yang pantas untuk dinikahi.


"Kita harus menikah dengan laki-laki yang kaya raya, agar kita tidak cape bekerja


tidak cape mengurus anak-anak."


Begitu katanya di depan teman-temannya, "Ingat! kita hanya memerlukan hartanya


bukan yang lainnya. Kita harus menjadi perempuan yang matrealistis ok!"


Mardo dan teman-temannya mengangguk-angguk, padahal apa arti matrealistis saja


belum tau. Pikiran dan pelajaran yang Sashi berikan sama sekali tidak berguna tapi


semua teman-teman menyukainya. Ia gadis kecil yang pemberani, pemberontak dan


lucu. Bahkan Mardo juga menyukainya, sisi lucu dan pemberaninya, sisi pemikiran


dewasanya.


Pernah suatu kali ada seorang murid baru, ia diantar naik mobil mewah. Anak itu gendut


dan wajahnya lucu. Semua teman-teman Sashi segera mendekatnya dan bertanya


pendapatnya, Mardo juga mendekat dan memasang kuping .


"Aku, kalian boleh menyukainya!"


Itu saran dan petunjuknya, yang membuat gadis-gadis kecil itu melongo.


"Ta-tapi wajahnya sangat jelek he he he."


Gadis kecil yang lain berbisik-bisik sembari ketawa.


"Kita suka hartanya saja, bukan orangnya!"


"Wajah tak penting, harta yang penting, sukai hartanya."


Hah! benar juga, suka sama hartanya saja.


Gadis-gadis kecil itu berlarian dengan senyum yang sumringah.  Mereka


menatap pada murid baru itu, mengajaknya tersenyum dan mengedipkan


mata yang centil.

__ADS_1


Semua gadis kecil itu melakukan hal yang sama termasuk  Mardo. Ia sudah


tertulari Ajaran Sashi, 'Hanya laki-laki kaya yang membuatmu senang'


Sedangkan laki-laki miskin membuatmu mencuci piring, memasak, mengepel


dan merana seumur hidupmu. Kamu tidak bisa memiliki baju bagus, sepatu, tas branded,


tak bisa jalan-jalan ke mall, makan di restoran, ke luar negeri, juga susah


bersedekah. Kamu hanya tinggal dirumah seperti katak dalam tempurung.


Ya ampun Sashi,  kamu bisa tau semua itu dari mana? kamu masih gadis


kecil kelas empat sekolah dasar. Ajaran Sashi itu membuat semua teman-temannya


memiliki impian yang sama, menikah hanya dengan pria kaya.


Berkat impian itu, semua teman-teman Sashi menikah dengan pria kaya dan


hidup bahagia. Setahun lalu mereka reuni, Sashi datang dengan sebuah mobil


berharga tujuh ratus juta rupiah, bajunya, sepatu, tasnya semua mahal. Begitu


juga teman-teman lain, cantik, elegan dan mewah. Mereka semua begitu.


Teman-temannya memandang pada Mardo, "Kapan kau menikah Do?, belum


ketemu cowo kaya? teman-teman ayo carikan."


Saat Mardo dengan santai menjawab, "Nggak perlu!, aku punya kretaria sendiri untuk


pasangan hidupku, dia juga harus tampan dan sama-sama saling mencintai, bukan


hartanya saja."


Sashi mengacungkan dua jempul untuknya."Kalau dapat yang sempurna mendinglah,


anak-anak kita nanti boleh tuh mengikuti ajarannya tante Mardo hemm."


"Kak, kita sudah sampai!"


Oh! iya, aku tertidur ya.


Khairani membuyarkan ingatannya tentang masa kecil dan teman-temannya.


Donny keluar kemudian berputar untuk membukakan pintu untuk  Mardo. Semua


melihat betapa manisnya sikap Donny.


"Terima kasih atas semuanya ya."


Mardo menatap wajah pria itu, ia tulus mengucapkannya. Dan Donny merunduk.


"Sama-sama, terima kasih juga, selamat beristirahat Mardo! juga kalian semua."


Gadis-gadis menjawab dengan riang, "Selamat beristirahat juga Bang Donny, semoga


mimpi indah."


Yulia yang menjawab.


Gadis-gadis masuk ke rumah untuk beristirahat dan mengabiskan malam yang tersisa.


Riza, Donny dan Azhar juga kembali ke rumah. Donny  bakal resah semalaman itu.


Karena sedikit-demi sedikit ia kian dekat dengan gadis itu. Ia tidak akan membuang


waktunya. Ia ingin melamar gadis itu menjadi istrinya seumur hidup. Menjadikan


Mardo ibu dari anak-anaknya.


Mentari pagi menerpa mata yang terpejam lelap itu. Lentik bulu mata itu bergerak oleh


sinar yang menggangu. Gadis itu meregangkan tubuhnya, menggeliat.

__ADS_1


"Kak Do, sudah siang loh."


Terdengar suara Yulia, yang rupanya sudah mandi dan rambutnya basah. Ia sedang mencari


sesuatu di lemarinya. Kamar itu memang miliknya. Inang menyuruhnya tidur bersama Khairani


agar Mardo nyaman tidur di sana.


"Oh, sudah siang ya Li?  Kakak terlambat bangun."


"nggak apa-apa Kak, weekend ini kok."


"Oia, ini hari minggu ya. Apa kamu mau pergi Li, kok sudah cantik."


"He he he, iya kak. Rahasia ya. Aku mau pergi menemui Thoni pacarku he he he


dia mau berangkat ke rantau hari ini."


Mardo tercenung, Ia teringat sosok Sashi. Kenapa mirip sekali dengan Yulia.


Sekecil ini sudah memiliki seorang laki-laki dikehidupannya. Bermain di pintu


belakang pula.


Mardo mengeleng-gelengkan kepalanya. Apakah memang sudah menjadi jamannya


perempuan  merancang kehidupan mereka lebih dini?


"Nanti Inang atau nenek menanyakanmu?"


"Aku sudah bilang Kak, mau keluar sebentar membeli softex."


"Hemmm ok, kakak mau ke lembah mandi di pancuran. Setiap mandi di sana


tubuhku merasa segar."


"Iya kak, mandilah biar bertambah cantik dan sehat, air dari pegunungan itu


bagai air penyembuh."


Terdengar suara cengkrama dan kikik kecil kakak-kakak sepupu yang bersamaan


berjalan ke belakang.  Nenek baru saja menyuruh mereka memasak, lalu


beristirahat karena lusa mereka akan bekerja keras membuat dodol. Gadis-gadis itu


gembira dan senang, pacar-pacar mereka bisa diandalkan untuk membuat


dodol. Tak sabar untuk bertemu.


"Kak aku pergi dulu ya."  Yulia menyelinap pergi.


Mardo lantas meregangkan tubuhnya, berdiri dan membuka jendela. Bunga


bunga sedang bermekaran. Titik-titik embun mulai berjatuhan sebab mentari


yang mulai naik.


Wajah Raka melintas di pikirannya. Sekejap saja, namun menyentuh hatinya


yang terdalam. "Kak Raka!" Bisiknya  Kau di mana?


"Di hatimu!"


Mardo terkejut, itu adalah jawaban Kak Raka setiap kali ia menelpon. Mardo


mengigit bibirnya, "Iya kau selalu ada di hatiku kak Raka."


 


 


 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2