
Di perjalanan pulang dari pesta, semua membisu terutama Mardo. Ini pengalaman
yang tak terduga dalam hidupnya. Secara tiba-tiba bertemu dengan seorang pria
yang mempesona. Setelah bertahun-tahun ia menunggu pertemuan dengan Raka.
Apa yang terjadi dengan Raka? kenapa sejak kepindahannya ke Jakarta hubungan
itu putus begitu saja? cinta masa kecil rapuh. Benarkah begitu? Mardo
menggigit bibirnya. Begitu lama, namun kenangan dengan Raka selalu baru di hatinya.
Seperti terjadi kemarin dan kemarin. Pria idola itu adalah cinta pertamanya. Bahkan
hari-hari terakhir ini ia semakin yakin pria Idola terasa mendekat. Ia bisa merasakan,
cinta itu, kasih sejati pria idola, tatapan lembut, peluk dan ciuman pertama itu. Oh!
Mardo mendekap tangannya, bukankah ia telah berjanji saat ia kelas enam sekolah
dasar, ia menulis di diary miliknya 'Ciuman pertamaku adalah suamiku'
Mardo tersenyum, kenapa bisa anak kecil sepertinya menulis seperti itu. Entahlah
tulisan itu keluar dari relung hatinya. Memanglah sejak kelas empat sekolah dasar
ia bergaul dengan Sashi yang sangat luas pengetahuannya tentang laki-laki.
Bayangkan kelas empat sekolah dasar. Ia sudah mengerti laki-laki bagaimana
yang pantas untuk dinikahi.
"Kita harus menikah dengan laki-laki yang kaya raya, agar kita tidak cape bekerja
tidak cape mengurus anak-anak."
Begitu katanya di depan teman-temannya, "Ingat! kita hanya memerlukan hartanya
bukan yang lainnya. Kita harus menjadi perempuan yang matrealistis ok!"
Mardo dan teman-temannya mengangguk-angguk, padahal apa arti matrealistis saja
belum tau. Pikiran dan pelajaran yang Sashi berikan sama sekali tidak berguna tapi
semua teman-teman menyukainya. Ia gadis kecil yang pemberani, pemberontak dan
lucu. Bahkan Mardo juga menyukainya, sisi lucu dan pemberaninya, sisi pemikiran
dewasanya.
Pernah suatu kali ada seorang murid baru, ia diantar naik mobil mewah. Anak itu gendut
dan wajahnya lucu. Semua teman-teman Sashi segera mendekatnya dan bertanya
pendapatnya, Mardo juga mendekat dan memasang kuping .
"Aku, kalian boleh menyukainya!"
Itu saran dan petunjuknya, yang membuat gadis-gadis kecil itu melongo.
"Ta-tapi wajahnya sangat jelek he he he."
Gadis kecil yang lain berbisik-bisik sembari ketawa.
"Kita suka hartanya saja, bukan orangnya!"
"Wajah tak penting, harta yang penting, sukai hartanya."
Hah! benar juga, suka sama hartanya saja.
Gadis-gadis kecil itu berlarian dengan senyum yang sumringah. Mereka
menatap pada murid baru itu, mengajaknya tersenyum dan mengedipkan
mata yang centil.
__ADS_1
Semua gadis kecil itu melakukan hal yang sama termasuk Mardo. Ia sudah
tertulari Ajaran Sashi, 'Hanya laki-laki kaya yang membuatmu senang'
Sedangkan laki-laki miskin membuatmu mencuci piring, memasak, mengepel
dan merana seumur hidupmu. Kamu tidak bisa memiliki baju bagus, sepatu, tas branded,
tak bisa jalan-jalan ke mall, makan di restoran, ke luar negeri, juga susah
bersedekah. Kamu hanya tinggal dirumah seperti katak dalam tempurung.
Ya ampun Sashi, kamu bisa tau semua itu dari mana? kamu masih gadis
kecil kelas empat sekolah dasar. Ajaran Sashi itu membuat semua teman-temannya
memiliki impian yang sama, menikah hanya dengan pria kaya.
Berkat impian itu, semua teman-teman Sashi menikah dengan pria kaya dan
hidup bahagia. Setahun lalu mereka reuni, Sashi datang dengan sebuah mobil
berharga tujuh ratus juta rupiah, bajunya, sepatu, tasnya semua mahal. Begitu
juga teman-teman lain, cantik, elegan dan mewah. Mereka semua begitu.
Teman-temannya memandang pada Mardo, "Kapan kau menikah Do?, belum
ketemu cowo kaya? teman-teman ayo carikan."
Saat Mardo dengan santai menjawab, "Nggak perlu!, aku punya kretaria sendiri untuk
pasangan hidupku, dia juga harus tampan dan sama-sama saling mencintai, bukan
hartanya saja."
Sashi mengacungkan dua jempul untuknya."Kalau dapat yang sempurna mendinglah,
anak-anak kita nanti boleh tuh mengikuti ajarannya tante Mardo hemm."
"Kak, kita sudah sampai!"
Oh! iya, aku tertidur ya.
Khairani membuyarkan ingatannya tentang masa kecil dan teman-temannya.
Donny keluar kemudian berputar untuk membukakan pintu untuk Mardo. Semua
melihat betapa manisnya sikap Donny.
"Terima kasih atas semuanya ya."
Mardo menatap wajah pria itu, ia tulus mengucapkannya. Dan Donny merunduk.
"Sama-sama, terima kasih juga, selamat beristirahat Mardo! juga kalian semua."
Gadis-gadis menjawab dengan riang, "Selamat beristirahat juga Bang Donny, semoga
mimpi indah."
Yulia yang menjawab.
Gadis-gadis masuk ke rumah untuk beristirahat dan mengabiskan malam yang tersisa.
Riza, Donny dan Azhar juga kembali ke rumah. Donny bakal resah semalaman itu.
Karena sedikit-demi sedikit ia kian dekat dengan gadis itu. Ia tidak akan membuang
waktunya. Ia ingin melamar gadis itu menjadi istrinya seumur hidup. Menjadikan
Mardo ibu dari anak-anaknya.
Mentari pagi menerpa mata yang terpejam lelap itu. Lentik bulu mata itu bergerak oleh
sinar yang menggangu. Gadis itu meregangkan tubuhnya, menggeliat.
__ADS_1
"Kak Do, sudah siang loh."
Terdengar suara Yulia, yang rupanya sudah mandi dan rambutnya basah. Ia sedang mencari
sesuatu di lemarinya. Kamar itu memang miliknya. Inang menyuruhnya tidur bersama Khairani
agar Mardo nyaman tidur di sana.
"Oh, sudah siang ya Li? Kakak terlambat bangun."
"nggak apa-apa Kak, weekend ini kok."
"Oia, ini hari minggu ya. Apa kamu mau pergi Li, kok sudah cantik."
"He he he, iya kak. Rahasia ya. Aku mau pergi menemui Thoni pacarku he he he
dia mau berangkat ke rantau hari ini."
Mardo tercenung, Ia teringat sosok Sashi. Kenapa mirip sekali dengan Yulia.
Sekecil ini sudah memiliki seorang laki-laki dikehidupannya. Bermain di pintu
belakang pula.
Mardo mengeleng-gelengkan kepalanya. Apakah memang sudah menjadi jamannya
perempuan merancang kehidupan mereka lebih dini?
"Nanti Inang atau nenek menanyakanmu?"
"Aku sudah bilang Kak, mau keluar sebentar membeli softex."
"Hemmm ok, kakak mau ke lembah mandi di pancuran. Setiap mandi di sana
tubuhku merasa segar."
"Iya kak, mandilah biar bertambah cantik dan sehat, air dari pegunungan itu
bagai air penyembuh."
Terdengar suara cengkrama dan kikik kecil kakak-kakak sepupu yang bersamaan
berjalan ke belakang. Nenek baru saja menyuruh mereka memasak, lalu
beristirahat karena lusa mereka akan bekerja keras membuat dodol. Gadis-gadis itu
gembira dan senang, pacar-pacar mereka bisa diandalkan untuk membuat
dodol. Tak sabar untuk bertemu.
"Kak aku pergi dulu ya." Yulia menyelinap pergi.
Mardo lantas meregangkan tubuhnya, berdiri dan membuka jendela. Bunga
bunga sedang bermekaran. Titik-titik embun mulai berjatuhan sebab mentari
yang mulai naik.
Wajah Raka melintas di pikirannya. Sekejap saja, namun menyentuh hatinya
yang terdalam. "Kak Raka!" Bisiknya Kau di mana?
"Di hatimu!"
Mardo terkejut, itu adalah jawaban Kak Raka setiap kali ia menelpon. Mardo
mengigit bibirnya, "Iya kau selalu ada di hatiku kak Raka."
Bersambung
__ADS_1