Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 109 Triananda Yang Ringkih


__ADS_3

Baby Tria imut seperti juga halnya Cindy. Tetapi yang membuat Raka dan Mardo kaget ketika


suatu malam baby Tria muntah dan badannya panas. Saat itu sudah tengah malam, dan mereka


berdua meminumkan paracetamol untuk menurunkan suhu panas baby Tria.


"Pi, ini suhu Tria tinggi sekali."


Raka mendekat dan menyentuh pipi putri imutnya itu. Ia merasakan panas di kulitnya yang menyentuh


baby Tria.


"Pipi, buatkan kompres dulu ya Mi."


Raka pergi mengambil mangkok dan mengisinya dengan air dingin, lantas mencari sapu tangan


bersih dan memerasnya. Ia meletakkan sapu tangan handuk putih tersebut di atas kepala baby


Tria. Baby Tria menggeliat. Ia rewel sekali dan tak bisa tidur.


Tengah malam panas tubuh Tria mulai turun dan ia tertidur lelap. Dengan pelan dan lembut Mardo


menurukankannya dari gendongannya dan meletakkannya di tempat tidur. Mardo sempat


menggosokkan minyak telon di punggung, telapak kaki dan perut Baby Raka. Lantas ia menatap


pada Kakak Rakasiwi yang tidur di sebrang sana dengan memeluk bantal, adek Cindy juga


terlelap tak jauh dari kakaknya sedang Raka juga sudah memejam sambil memeluk Cindy.


Mardo juga sudah merasa mengantuk dan membaringkan tubuhnya di sisi Baby Tria. Lelah


sekali rasanya seharian menggendong dan mengurus baby Tria yang agaknya terkena


flu. Tadi pagi sesudah mandi hidung mungil baby Tria terus menerus mengalir lendir dan


dirinya beberapa kali bersin. Malam hari perlahan tubuh baby Tria hangat dan akhirnya


muntah serta suhu tubuhnya tinggi sekali. Setelah Ia dan Raka memberikan obat penurun


panas, perlahan tubuh Baby Tria menjadi normal. Dia tidur dengan lelap.


Rasa baru saja terlelap saat baby Tria menjerit dan menangis. Raka dan Mardo bersamaan


terbangun dan menyentuh baby Tria. Badannya tidak terlalu panas. Mardo mengambil dan


mengendong baby Tria. Ia membawa berjalan-jalan, sementara Raka kembali tidur di sisi


Cindy dan Rakasiwi.


"Piiii! tolong! tolong Pi."


Tiba-tiba Mardo masuk kembali ke kamar sambil hesteris dan ketakutan. Tubuh Baby


Tria kejang-kejang, matanya terbeliak dan dari mulutnya keluar cairan.


"Oh Ampun, kenapa baby Tria! oh ya Allah! ya Allah!"


Raka tak kalah panik, keduanya menaro baby Tria di tempat tidur dan berusaha membantunya


dengan menyentuh, mengusapi telapak kaki yang dingin. Rakasiwi dan Cindy juga terbangun


dan berpelukkan melihat adik kecil mereka seperti itu.


"Pi, cepat panggil dokter! atau kita ke rumah sakit Pi hiks hiks hiks."


Panik dan ketakutan, sebab selama ini Mardo belum pernah mengalami hal seperti ini. Rakasiwi dan


juga Cindy hingga usai mereka sekarang, tak pernah mengalami kejang-kejang seperti Baby Tria.


Untung sekali kejang Baby Tria tidak lama, tetapi bayi itu lantas diam tak menangis, hanya memandangi


Mardo yang sibuk mengusapi tubuhnya yang mungil, mencium pipinya.


"Sayangku kamu kenapa? jangan menakuti bunda ya Nak. Sebentar ya Nak, ayah sedang menyiapkan


mobil. Kita ke rumah sakit sekarang."


Mardo menyambar selimut serta tasnya, lalu berlari keluar. Tak melihat dan ingat pada Rakasiwi dan Cindy


yang masih  berpelukkan dan takut.

__ADS_1


"Bunda!"


Kedua anak itu, berlari dan menjerit mengejar bunda dan adik mereka. Mardo menoleh dan melihat


kedua anaknya yang juga masih kecil-kecil mengejar ketakutan. Perempuan muda itu ingat, Opa dan


Oma mereka sedang pergi ke Papua dan mungkin mampir ke tempat Richi di Merauke.


Akhirnya, ia bersama anak-anaknya lari ke garasi. Mardo masih sempat menyambar baju hangat untuk


anak-anaknya. Raka sudah menunggu di dalam mobil. Mereka semua bergerak terdiam dan tegang.


Sebentar-bentar Mardo menatap pada baby Tria yang membisu. Ketakutan melanda hatinya, Ia takut


sekali terjadi sesuatu dengan Baby Tria. Mulut Mardo tak hentinya berdoa, memohon perlindungan


pada Allah Swt.


"Ya Rabb tolong aku, tolong baby Tria, ya Allah  lindungi baby Tria, lindungi ya Allah!"


Air mata berderai-derai di pipinya. Sementara  Raka fokus mengenderai mobilnya menuju ke rumah


sakit tempat anak-anak mereka lahir. ia sudah mengontak dokter yang biasa menangani sejak anak


pertamanya Rakasiwi hingga sekarang baby Tria.


"Iya, kebetulan saya sedang jaga hari ini, bawa baby Tria ke rumah sakit!"


Jadi begitu mereka sampai dokter Regawa  sudah menunggu bersama asistennya, baby Raka


segera dibaringkan di tempat tidur dan di periksa. Mardo lega ketika baby Tria menangis sangat


kencang sambil tangannya meminta gendong. Matanya tak melepaskan Mardo. Sementara


Raka berada di ruang tunggu memeluk Rakasiwi dan Cindy. Kedua anak itu seperti shok melihat


keadaan adik kesayangan mereka.


"Ayah, adek Tria kenapa?"


Rakasiwi menatap wajah Raka. Pandangan seorang anak kecil yang belum mengerti apa-apa.


Sedang Cindy hanya membisu memeluk  lengan ayahnya.


Rakasiwi dan Cindy buru-buru menaro kedua tangan mereka di depan wajah, dan berdoa


dipimpin oleh Raka."


"Ya Allah, tolonglah dan sembuhkan adik kesayangan kami baby Tria, kasihanilah adik kesayangan


kami, sembuhkan adik Tria ya Allah, hanyalah kepada Engkau kami meminta  pertolongan dan


Engkau sebaik-baik pemberi pertolongan, aamin yra."


Ketiganya mengusapkan tangan ke wajah. Tak lama terlihat baby Raka di dorong dengan tempat


tidur menuju ruang rawat inap. Dokter Regawa memutuskan agar baby Tria di rawat untuk pemeriksaan


lebih detail dan lanjut. Karena saat itu belum diketahui apa yang menyebabkan baby Tria demam


dan kejang-kejang.


"Pi, harus rawat inap, Tria belum diketahui sakitnya."


"Iya, sebaiknya rawat inap Mi, nggak apa-apa."


Mereka mengikuti suster yang membawa baby Tria di ruangan perawatan bayi. Ternyata banyak sekali


bayi-bayi yang sakit dan rawat inap.  Baby Tria menempati ruangan vip agak khusus di sudut


seperti sebuah rumah kecil.


"Dokter sudah memasang perlengkapan perawatan baby Tria. Tangannya sudah terpasang infus dan


perawat sudah meminumkan obat pada baby Tria. Terlihat baby Tria tertidur dengan pulas. Tadi malam


tidurnya hanya sedikit sekali.


"Bu, nanti kalau dedeknya bangun disusuin seperti biasanya ya bu."


" Iya suster."

__ADS_1


Setelah suster pergi, dokter Regawa datang dan berbincang-bincang dengan Raka, ia juga menyentuh


kepala Rakasiwi dan Cindy yang menurutnya sudah sangat besar dan ganteng, cantik seperti ayah dan


bundanya. Ia berpesan tidak perlu khawatir dengan Baby Tria, dia akan merawat dengan sebaik-baiknya


hingga baby tria sembuh.


"Terima kasih Dok,"


Raka mengangguk-angguk, selanjutnya dokter Regawa pergi. Barulah Mardo ingat pada Rakasiwi dan


Cindy yang belum mandi, minum susu dan sarapan. Mereka begitu terbius dengan sakit baby Tria


sehingga lupa pada kedua anak mereka. Mardo buru-buru mengingatkan Raka.


"Pi, bawa anak-anak pulang, mandi dan sarapan. Pipi juga belum makan apa-apa. Sekalian ijin kesekolah


kakak ya Pi."


"Ok Mi, Pipi pulang dulu mengurus anak-anak, nanti aku belikan makanan dan bawa baju Mimi."


Raka mencium pipi dan kening Baby Tria, lalu kening Mardo. Lalu menyuruh anak-anak pamit


pada Mardo.


"Bunda yang sabar ya."


Raka siwi seperti anak besar mencium tangannya dan juga pipinya. Mengikuti Cindy juga


melakukan hal yang sama, "Dek Tria cepat sembuh." Gumamnya.


"Aaminn, iya kakak Cindy, makasih ya," Mardo menirukan suara baby Tria.


Lalu ruangan rawat inap itu sepi. Mardo beranjak ke sofa dan membaringkan tubuhnya yang


serasa remuk dan juga jiwanya yang luar biasa terkejut. Ia takut sekali kehilangan baby Tria.


Kenapa ia tadi begitu ketakutan. Mungkin begitu yang dirasakan seorang ibu saat menghadapi


anaknya yang sakit.


Baby Tria begitu mungin dan putih lembut, dengan rambut hitam yang bergerumbul ikal. Ia


seperti Cindy yang menggugah dan menjadi sayang saat melihat wajahnya yang cantik


menggemaskan. Tak akan sanggup dirinya kehilangan baby Tria. Penyesalan mengerogoti


perasaannya. Betapa saat ia tahu dirinya hamil lagi, ia sangat jengkel dan ingin menggugurkan


kandungannya. Ia menumpahkan kemarahannya pada Raka yang membuatnya terus-terusan


hamil.


Selama kehamilan baby Tria, ia selalu kesal dan marah-marah, ujung-ujungnya bertengkar


dengan Raka yang meminta istrinya itu bersabar. Bukannya merasa beruntung dirinya


mendapat kepercayaan dari Allah Swt, malah kerjanya hanya cemberut dan selalu kesal.


Mardo selalu menganggap Raka tidak merasakan betapa sakit dan repotnya dirinya


setiap hari mengurus anak. Meski pun Raka sudah menyediakan dua asisten rumah


tangga yang membantunya tapi itu tak menolong banyak, asisten rumah tangganya


sibuk bekerja mengurus rumah mereka yang besar dan berhalaman luas. Hingga


Raka berencana menambah asisten rumah tangga lagi demi Mardo yang merasa


payah mengurus anak sendiri.


Astaqfirullah, Mardo memohon ampun atas sikapnya yang salah. Bisa jadi karena


penolakkannya itu baby Tria menjadi sakit seperti ini. Mardo berkali-kali memohon


dimaafkan kesalahannya dan ia tidak akan pernah lagi bersikap jelek seperti saat


itu. Mardo berjanji pada dirinya sendiri.


Bersambung

__ADS_1


Yuk saling memberi dan menerima


in Sya Allah kita sukses bersama


__ADS_2