Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 209. Dunia Kerja Prita


__ADS_3

Pagi-pagi Prita telah berangkat menuju kantornya. Ia tak mau terlambat di hari pertamanya. Semalaman ia berpikir-pikir bagaimana ia harus ke kantor? apakah dengan naik mobil online? itu lumayan mahal. Atau dengan motor kesayangannya? berarti ia harus mengunakan celana jeansnya atau dalaman. Agak merepotkan sekali.


Tetapi pada akhirnya Prita memilih mengenakan celana jeansnya dan merencanakan akan ke toilet menukar celana jeansnya begitu ia sampai di kantor. Prita yakin bisa menyiasatinya. Dari pada ia harus berganti-ganti kenderaan jika naik angkot. Atau mengeluarkan ongkos yang lumayan jika ia memilih naik kenderaan online. Dengan Motor besar kesayangannya ia bisa leluasa berangkat dan pulang.


Apa yang Prita pikirkan sesuai dengan kenyataan. Kantornya masih terlihat sepi. Ada beberapa karyawan yang sudah datang. Kelihatan sedang berkemas membereskan tempat kerja mereka. Prita buru-buru pergi ke kamar mandi. Gadis itu membuka clelana jeansnya dan mengantinya dengan rok kerjanya. Ia juga menambahkan lipstick di bibirnya. Menambahkan sapuhan bedak di wajahnya.


Prita memutar-mutar tubuhnya. Sejauh ini ia merasa nyaman dan penampilannya ok. Ia segera keluar dan bergegas menuju lift. Kantornya berada di lantai tujuh. Beruntung di lantai satu tersedia kamar mandi dan kaca besar. Beberapa karyawan juga melakukan hal yang sama. Mereka mampir ke toilet untuk memeriksa penampilan.


Berdebar saat ia mendorong pintu untuk masuk ke tempat kerjanya. Ia tadi sempat mampir ke meja bagian depan untuk menanyakan tempatnya. Dan gadis itu bilang ia naik ke lantai tujuh dan menemui pak Emir.


Dua orang di sana mendongakkan kepalanya. Menatap pada Prita. Gadis itu segera melebarkan senyumnya serta menganggukkan kepalanya.


"Hello, kenalkan aku Prita Pujaningrum."


Prita mengulurkan tangannya, disambut hangat oleh dua orang gadis yang usianya sedikit lebih tua dibanding mereka. Artinya keduanya lebih senior.


"Kayaknya itu meja kamu di sana, ada namanya Prita Pujanigrum."


"Mana? oh iya."


Prita tersenyum melihat di sebuah sudut ada meja yang bertuliskan namanya. Prita Pujaningrum, SE. Rupanya perusahaan sudah menyediakan tempat kerja untuknya. Senang sekali.


"Mohon bimbingannya."


Sekali lagi Prita menaro tangannya di dada, kedua perempuan itu mendekat dan berkata kalau mereka bertiga nanti akan bekerja bersama. Sebab mereka bertiga adalah team.


Terima kasih ya Rabb, akhirnya aku menggapai impianku. Aku bisa menyelesaikan kuliahku tepat waktu dan mendapatkan pekerjaan yang baik.


Prita berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia bekerja dengan sebaik-baiknya. Saatnya mengamalkan ilmu yang telah ia dapat.

__ADS_1


Hari pertama itu, Prita mendapatkan bimbingan teknis dari Marlina dan Diantika. Tugas mereka bertiga di devisi itu adalah menghitung dan membuat harga bagi costumer mereka.


Setiap saat berbagai email masuk untuk menanyakan harga untuk mereka. Prita dengan cepat bisa menjawab dan menyelesaikan pekerjaannya. Tidak terlalu sulit baginya yang menyukai pekerjaannya.


Tak terasa waktu istirahat tiba. Prita meregangkan tubuhnya. Ia harus bisa membagi waktu satu jam ke dapannya. Untuk menikmati makan siang, lantas sholat dhuhur. Lalu sedikit bercengkrama untuk mengakrabkan diri dengan karyawan lain. Juga sedikit waktu bagi dirinya sendiri. Me timenya.


Setelah istirahat semua kembali bekerja. Mereka berkutat dengan pekerjaan yang diberikan kepada mereka. Hingga tiba waktu pulang. Prita kembali masuk ke kamar mandi dan mengganti roknya dengan celana jeans. Ia mengenakan jaketnya juga kacamata hitam. Yang merubah penampilannya dari seorang gadis yang berpakaian feminim ke sosok tomboy pemberani.


Prita berjalan menuju tempat parkir motornya. Namun sebuah tubuh yang tegap dan tinggi menjulang menabraknya


saat keluar dari pintu gerbang.


"Au! hati-hati dong Mas, sakit tau!"


Prita  mengelus lengannya yang tadi ditabrak oleh sosok tersebut. Pria itu hanya menatapnya sedikit lantas meninggalkannya yang tercekat.


Akhirnya gadis itu juga mengacuhkan kejadian tersebut dan beranjak ke tempat motor gedenya. Ia berjalan lincah dan cepat seolah tak mau ketinggalan di tempat parkir itu. Tak  begitu lama Prita sudah menaiki motornya dan mulai meluncur  meninggalkan tempat parkit. Ia melewati sebuah mobil mewah berwarna hitam. Si pengendara mobil  terkejut. Gadis itu adalah yang ia temui di mall kemarin siang. Kenapa ia ada di kantor ini? Si laki-laki segera mengejar sang gadis yang menarik perhatiannya.


Namun gadis dengan motor gede itu sudah tak terlihat. Ia sudah berada di jalan raya dan menyalip mobil demi mobil hingga sudah jauh sekali dari  laki-laki yang hanya bisa memukulkan tangannya dengan kesal. Laki-laki itu bertanya-tanya, kenapa ia bertemua gadis itu? perempuan tomboy serta jutek. Anehnya ia menyukai sosok gadis itu. Entah kenapa ada sesuatu yang menarik pada gadis itu.  Tidak hanya cantik namun karena dia sangat berbeda dengan perempuan lain yang ia kenal.


"Mama! aku pulang!"


Prita berteriak di pintu rumahnya sembari mendorong motor gede ke ruang tamu.


"Eh sayang kamu sudah pulang, bagaimana pekerjaanmu?"


"Menyenangkan Ma, aku bekerja sebagai staf. keuangan."


"Alhamdulillah, mama senang mendengarnya. Mama buatkan teh hangat ya."

__ADS_1


Prita tak menolak, teh panas buatan Mama Risa sangat enak. Ia kecanduan pada teh buatan mamanya. Membuatnya bersemangat.


"Makasih Ma, aku bawa ke kamarku. Sekalian mau ganti baju dan tidur."


"Iya pergilah, mama sudah masak buat makan malam, kalau sudah lapar kita makan malam bersama ya Nak."


"Ok."


Keduanya tersenyum. Sehari itu Prita dan Mama Risa sangat bahagia. Setelah lama selalu berpisah sekarang mereka selalu bersama-sama. Mama Risa bersemangat menyiapkan sarapan, dan kemudian makan malam. Ia lebih memiliki tujuan melakukan pekerjaan di rumah.


Tetangga-tetangga juga melihat kegembiraan Mama Risa. Ia bercerita bahwa putrinya telah lulus dan menjadi sarjana. Sebagai seorang ibu ia sangat bangga saat ini. Orang-orang mengangguk-angguk kepalanya. Mama Risa pantas mendapatkan kebahagian itu. Keduanya telah sama-sama berjuang untuk kehidupan meski caranya berbeda. Masing-masing kini telah mendapatkan manisnya sesudah kesulitan itu.


 


 


 


 


 


 


Bersambung


 


 

__ADS_1


__ADS_2