
Malam itu setelah Boy pulang Prita melemparkan tasnya. Membuka dengan kasar gaun malam yang berharga mahal itu dan melemparkannya ke sudut kamar. Dia sangat kesal sekali kepada Boy. Tetapi malam itu ia hanya bisa melampiaskannya pada barang-barangnya.
Setelah kehabisan tenaga, akhirnya Iya ke kamar mandi membersihkan dirinya lalu membaringkan tubuhnya. Beberapa saat ia bergolek gelisah di tempat tidur. Ia sempat menanyakan keadaan mama Risa. Alhamdulillah besok sudah bisa pulang.
Pagi sekali Prita berkemas pergi ke rumah sakit. Hari ini ia akan membawa ibunya pulang. Ia memiliki pembicaraan dengan dokter tentang penyakit mama Risa. Ia akan menjaga perempuan itu dan terus berkonsultasi dengan dokter yang merawat.
"Alhamdulillah hari ini mama sudah boleh pulang. Prita sudah membersihkan rumah. Mulai dari kamar mama, dapur, ruang menonton tivi dan juga halaman. Pokoknya mulai dari sekarang mama tidak boleh bekerja, tidak boleh kelelahan. Juga tak boleh jajan sembarangan."
"Mama harus menggerakkan tubuh. Justru kalau diam saja tubuh Mama akan digerogoti oleh penyakit. Mama harus bergerak, agar bugar dan sehat. Tentang makanan mama setuju. Hanya akan memakan yang sehat dan bergizi. Mama tidak akan jajan sembarangan lagi. Mama kapok sakit, tidak mau dirawat di rumah sakit lagi. Sangat tidak enak! membosankan."
Mama Risa mengomel panjang pendek. Prita hanya tersenyum mendengar suara perempuan yang ia sayangi itu. Ia ingat telah membuat rumah senyaman mungkin untuk mamanya. Prita juga sudah berbelanja buah-buahan, susu, madu dan berbagai kebutuhan hari-hari mama Risa.
Satu lagi ia membujuk tetangganya, yakni seorang gadis remaja yang ditinggal suaminya. Gadis itu sudah menikah dan punya anak satu yang masih kecil. Prita janji akan menyekolahkan anaknya jika gadis itu mau tinggal bersama mereka. Dari pada gadis itu mengontrak gubuk reyot tak sehat di sudut kampung itu.
Agaknya gadis itu tak menolak. Ia sudah melihat kamar untuk dia dan anaknya. Ia tersenyum waktu itu
"Kamar ini untuk saya dan anak saya Mbak Prita? Oh ternyata besar sekali rumah ibu Risa dan mba Prita. Saya senang sekali mba. Di sini saya tidak punya keluarga, mengandalkan hidup dari bekerja membantu rumah-rumah orang. Terima kasih mba Prita. Saya sangat senang."
"Iya, nanti Mbak Wulan tidak perlu bekerja dari rumah ke rumah lagi. Tetapi cukup di rumah ini saja mengurusi Mama saya. Sedikit pekerjaan rumah. Kalau mencuci pun ada mesin cuci, paling hanya menyetrika saja. Layaknya pekerjaan rumah tangga. Mbak Bulan bisa tenang membesarkan anaknya."
"Ah, mba Prita kalau masalah pekerjaan apa pun saya tidak ada masalah. Saya yakin pekerjaan di sini sangat ringan. Alhamdulillah mba, nanti saya akan kabari mba Prita saat saya siap pindah ya mba."
__ADS_1
"Jangan lama-lama ya mba Wulan, sebab saya sangat butuh orang yang mau menjaga Ibu saya Mama saya saat saya pekerja
Itu adalah pembicaraan mereka yang terakhir. Tetapi hingga pagi hari berikutnya saat Prita berangkat ke kantor. Gadis itu belum juga mengabarinya sehingga Prita tampak gelisah saat akan meninggalkan mama Risa.
Perempuan mama Risa mengatakan pada Prita bahwa ia sudah sehat dan kuat. Ia bisa menjaga dirinya. Kalau terjadi sesuatu ia akan menelpon Prita, atau meminta tolong pada tetangga kiri, kanan dan depan. Akhirnya Prita berangkat ke kantor setelah yakin mamanya sehat dan bisa ditinggal.
***
Di kantor.
Pembicaraan mengenai acara tahunan yang sangat mengesankan. Saat Prita masuk kantor orang-orang bersikap berbeda padanya. Mereka tersenyum lebih ramah dan pakai membungkukkan tubuh.
Sikap mereka menjadi hormat sekali.
"Selamat atas pertunangannya ya bu Prita."
"Hah."
Gadis itu terkejut, buru buru melangkahkan kakinya menuju lift. Ia menekan ke lantai tujuh menuju ruangannya. Ia melihat ruangan Boy masih kosong.
Perasaan kesal dan marah pada Boy Indra kembali merajai pikirannya. Apa yang harus dilakukannya pada laki-laki itu?
__ADS_1
Tiba-tiba handphone berbunyi. Prita terkejut sebab tak biasanya Rakasiwi menelponnya. Ada kemarahan di nada suaranya.
"Prita, apa maksudmu? kau membuat keluargaku terkejut! Kau dan Boy Indra bertunangan!"
Dar!
Seperti ditampar rasanya. Pasti wartawan dan nitizen telah bekerja sangat bagus dengan membuat berita yang sangat menarik.
Orang tua Rakasiwi agaknya membaca berita tersebut. Dan mengabari Rakasiwi.
"Prita aku tak mengerti! kau membuatku terluka, mengapa kau tak sabar? Aku sudah janji padamu akan bertunangan setelah selesai wisuda. Apa arti semua ini Prita!"
"Rakasiwi!, tidak seperti yang kau pikirkan. Aku tidak bertunangan dengan Boy Indra, itu berita bohong!, jangan percaya."
"Bagaimana aku dan keluargaku tidak percaya! seluruh media massa menulis tentang hal itu dan fotomu dengan Boy Indra terpampang di berbagai koran, juga medsos, apa kau tak membacanya!"
"Aku tidak membaca dan tidak membuka medsosku dari kemarin. Sebab aku menggurus ibuku, aku menjemputnya dari rumah sakit. Tapi percayalah itu berita bohong!"
Rakasiwi marah, mereka bertengkar melakui vidio call. Prita sendiri sangat panik. Ia tak bisa menjelaskan hal yang terjadi sebab Rakasiwi tak mau mendengarnya. Rakasiwi mematikan handphone
Bersambung
__ADS_1