
Mardo bersama teman temannya mengikuti senam aerobik di bawah matahari pagi. Suara musik menghentak dari ruangan terbuka di lantai dua. Wau! cukup banyak juga pesertanya. Sekitar lima puluh orang. Instrukturnya terlihat komunikatif dan mudah tersenyum. Suara yang serak serak basah serta konyol, "Mana suaranya? kok sepi! ngopi ngopi ei!"
Peserta menjawab sembari senyum-senyum, "huuuahhhh!"
Mardo mencari cari sosok teman temannya, karena ia tadi belakangan ke tempat itu.
Ia lihat Halima dan Sarah Lee di barisan depan, "Hemmm, bagus mereka di depan."
Agak di belakang berturut turut tiga kurcaci he he he, Betty, Zamzam dan Rossy. Mereka mengikuti gerakkan dengan semangat empat puluh lima, he he he.
Lalu mana yang cowo-cowo? Mardo menyusuri lagi barisan demi barisan, dan gadis itu tertawa kecil melihat rombongan Richi, lengkap. Ada Sulaiman, Husen, juga Wiliam.
Hanya Vana yang tidak ada, Mardo menarik senyumnya. Ia memikirkan Vana dan keluar dari tempatnya.
"Hei Do, sudahan senamnya."
"Tiba tiba Richi sudah ada di dekatnya dan menyodorkan minuman.
"Makasih Rich, cerah sekali hari ini."
"Iya kuharap hati kamu secerah hari ini Do."
"Uh, tumben puitis,"
"Sering juga kok, baru tau ya."
"Oh ya, gimana tidurnya semalam? nyenyak?"
"Alhamdulillah, nyenyak banget sampe hampir ketinggalan sholat shubuh."
"Wah, tapi nggak kesiangan kan shubuhnya.?"
"Pas, masih jam lima kok."
"Baguslah, sholat shubuh sangant menentukan rejeki kita."
"Oh iya, begitu ya."
"Kata ustaz begitu."
Mereka berbincang-bincang diantara musik yang hingar dan bingar.
"Rich, ada yang ingin kukatakan."
Tiba-tiba Mardo menatap lekat-lekat ke mata Richi, serius sekali. Richi menjadi berdebar-debar.
"Sebaiknya kita mencari tempat lain, di sini brisik sekali Do, aku takut nggak dengar dengan jelas."
Richi berdiri sembari mengajak gadis itu menjauh dari suasana senam aerobik.
Keduanya bersandar di dinding kapal. Memandang pada ombak yang berkejaran.
"Ada apa? aku menjadi berdebar-debar," Richi menyentuh dadanya, Mardo yang ada di sebelahnya tersenyum.
"Hem, ini mengenai Vana Rich."
"Oh, Vana kenapa dia?"
Mardo menatap lagi ke laut lepas.
"Tadi pagi aku mendapatinya sedang menangis terisak-isak, aku kaget sekali. Sempat kutanyakan apa yang terjadi
tapi ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan dia bilang ingin sendiri."
"Kurasa itu serius, Vana selalu ceria selama ini."
__ADS_1
"Katanya ia akan menyusul, tapi sampai sekarang dia tak datang, Rich kita lihat Vana yuk."
Keduanya bergegas ke kamar dan kaget karena kamar kosong, " Vana tak ada Rich."
Richi cilinguk kesana dan kemari, "Ayo kita cari !"
Mereka bergegas setengah berlari memeriksa semua tempat. Richi juga menelpun teman-temannya mengabari tentang Vana yang menghilang. Tak lupa ia memberitahu kakaknya Raka tentang Vana.
Awak kapal bergerak sangat cepat. Deni dan Sammy segera memeriksa keseluruhan badan kapal dan terkejut ketika melihat seorang gadis sedang menaiki dinding kapal.
"Lihat! itu Vana! dia ada di buritan kapal, Raka dan dua temannya melihat di layar monitor."
Sontak Raka menelpun awak kapal yang berada di daerah tersebut.
Halima tak lepas pandangannya pada pria bertubuh gempal yang memimpin senam aerobik di sana,
Bibirnya tersenyum dan ia bersemangat sekali.
"Halima torang senyum senyum sendiri, ada apa?"
Sarah Lee yang memperhatikan dari tadi penasaran.
"Hansome banget Sarah, he he he."
"Siapa? sembari mengikuti pandangan Halima."
"O, torang suka ya? nanti aku kenalkan."
"Memang torang kenal?"
"Kenal, Dia Mas Bram, tetanggaku."
"Benarkah Sarah?"
"Iya, nanti kubuktikan ya, tapi bagaimana dengan Hasan Rumadau? kasihan dia Halima."
Halima cemberut, "Dia hanya teman kok."
"Teman?" Sarah Lee tak setuju dengan perkataan Halima.
Ia terdiam, apa Halima tak memiliki hati nurani?
Semoga Halima segera sadar. Sarah Lee, menggigit bibirnya.
Halima melihat betapa Sarah Lee tidak menyukai apa yang ia katakan. Tapi Halima ingin memiliki suami yang berkulit putih agar kelak anak anaknya bisa berkulit putih. Paling tidak kulitnya tidak sehitam dirinya.
Semoga suatu saat Sarah Lee mengerti. Halima memandang ke langit.
Di sebuah sudut Hasan dan Wiliam tengah beristirahat, dan mereka kembali terlibat pembicaraan yang serius. Entah apa yang mereka bahas. Sulaiman pun diacuhkan jika sudah begitu. Bikin penasaran saja.
" Heh, kalian ngobrol apa sih? nggak selesai selesai. Setelah senam kita ke restoran, Richi menunggu di sana."
Hasan dan Wiliam mendengarkan perkataan Sulaiman, kemudian menggangguk-angguk. "Ok Bosku, kita segera kesana sebentar lagi. Keringat masih mengucur."
"Aku duluan ya, jangan lama lama kalian mengobrol di sini."
"Siap, kami selesaikan dulu pembicaraan kami."
Sulaiman mengangkat tangannya dan tersenyum, lantas bergegas.
Kembali Hasan dan Wiliam meneruskan pembicaraan yang terputus.
"Halima tidak menyukaimu, dia hanya anggap kau teman," Wiliam berusaha membuka pikiran temannya.
"Dari pada nanti sakit hati, lebih baik dari sekarang berhenti menyukainya."
__ADS_1
Hasan menelan liur mendengar apa yang diucapkan Wiliam.
Ia menghapus matanya yang tiba tiba basah.
"Apa betul yang torang katakan itu Liem?"
"Kalau tak percaya tanyakan sendiri saja."
Wiliam bersikeras ia tak salah memberi nasehat.
"Dari mana torang tahu? memang torang sudah tanya Halima?"
"Untuk mengetahui apakah seorang wanita menyukai dan mencintai kita tak perlu bertanya."
Wiliam berteka-teki.
Hasan menatap temannya lekat-lekat.
"Bisa dilihat dari sikapnya, dan bisa dirasakan."
"Apa dia penuh perhatian pada torang? beta lihat dia tidak suka dekat dekat. Halima mengacuhkan torang. Ia hanya anggap torang teman."
Hasan semakin tersedu. "Torang benar, beta ini pungguk merindukan bulan."
"Jangan kecil hati, masih banyak cewe cantik Hasan."
Keduanya tersenyum. Lantas keduanya meninggalkan tempat itu.
Sementara Zamzam, Betty serta Rossy juga sudah menyelesaikan olah raga mereka.
Ketiganya sedang mencari teman-temannya. Agaknya semua sudah meninggalkan tempat senam tersebut.
"Kita ke restoran, mereka semua pasti sudah di sana."
"Iya, kita asyik bersenam ria, sedang mereka mungkin tak sampai selesai."
Lantas bergegas ke restoran. Saat berjalan menuju restoran mereka berpapasan dengan pria yang tampan.
"Hello nona-nona, sudah bersenam ria ya."
Gadis gadis tersebut tercekat, namun menjadi senang karena mereka mengenal pria muda itu sebagai awak kapal.
"Iya kak, kami baru saja ikut senam."
"Seru yaa."
Sama-sama mengangguk.
"Ok, silahkan menikmati Breakfast di restoran nona nona, saya buru-buru ke belakang, ada gadis yang ingin bunuh diri."
"Oh, benarkah? bolehkah kami ikut?"
Betty, Zamzam dan Rossy terkejut mendengarnya.
"Jangan! hanya para awak kapal yang boleh ke sana, silahkan ke restoran nona nona."
"Oh, baiklah kalau begitu. Tapi bolehkah kami tahu, apa yang telah terjadi dengan gadis itu nanti setelah selesai menolongnya, kita mengobrol sambil minum teh?"
"Ide bagus, saya bersedia."
Hore, ketiga gadis itu senang sekali, begitu juga pria itu yang tag namanya tertulis Irawan.
__ADS_1
bersambung