Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 107 Semua Yang Kuinginkan Harus Kudapat


__ADS_3

Ketika anak-anak bertingkah lucu dan menyenangkan.


Alangkah gembiranya hati melihat mereka berlarian kesana kemari berlompatan tanpa takut terjatuh berteriak-teriak dan tertawa sekeras-kerasnya. Dan bagi orang tua tidak ada kebahagiaan dan kegembiraan yang lebih besar kecuali melihat anak-anak tertawa bergembira dan ceria. Ayah dan Bunda akan melakukan apa saja, memberikan apa saja demi kebahagian dan tawa ceria sang anak.


Tetapi satu waktu anak-anak juga bisa membuat orang tua menjadi jengkel, marah dan stres, saat anak menangis tanpa bisa dibujuk dan didiamkan.


Serba Salah dan tidak tahu apa yang mesti dilakukan. Ini tidak mau dan yang itu juga salah. Rasanya gemas dan jika menuruti emosi enak sekali mencubit memukul dan menyakiti si anak.


Dan jika sudah begitu pasti nantinya orang tua juga yang menyesal. Saat anak telah diam dan anteng, tidak lagi menangis maka orang tua hanya tinggal menyesal dan bersedih kenapa sampai lepas kendali hingga menyakiti si anak.


Raka seringkali mengalami kejadian seperti itu. Dialami juga oleh Raka dan Mardo tingkah laku Rakasiwi terkadang membuat ayah dan Bundanya benar-benar tidak tahu apa yang mesti dilakukan sehingga kadang Raka memukul anak kecil itu.


Saat malam hari Raka pergi melihat anaknya yang tengah tertidur dengan nyenyak dan tidak terlihat bahwa beberapa saat tadi dia baru saja membuat semua orang jengkel dan marah, karena tidak bisa diam dan terus-menerus menangis. Dibujuk salah dan didiamkan semakin menjadi-jadi.


Saat dia tertidur pulas, dengan napasnya yang teratur, bibir yang mengatup diam dan tangan yang terletak di pipi, betapa damai dan manisnya dia. Seorang anak yang tiada berdaya. Menyerahkan seluruh dirinya hanya kepada orang tua saja. Tetapi seorang anak meyakini dirinya sendiri bahwa orang tuanya ada lah pelindungnya, malaikatnya. Keyakinan yang kuat hingga ia tertidur dengan penuh ketenangan dan kedamaian.


Yang bisa dilakukan hanyalah mengelus kepala anaknya dan mencium keningnya.


Lantas hampir-hampir air matanya menangis karena menyesali perbuatannya tadi yang memukul pantat Raka.


Tidak keras, dengan maksud membuatnya diam karena suaranya sudah terdengar serak.


Setelah dipukul ia semakin hesteris dan menangis, lalu lari ke pelukkan Mardo yang sedang menidurkan Cindy, Untungnya Cindy tidak terbangun oleh tangisan kakaknya. Karena sesaat tadi juga rewel.


Mardo memeluk tubuh putranya dan berbisik pelan, "Jangan nangis nanti adik Cindy bangun, kalau adik bangun, bunda nggak bisa bobo sama Kak Raka. Anak laki-laki itu mengangguk-angguk dan Mardo mengeser tidurnya memberikan tempat pada anak laki-laki itu.


"Ayah nakal bun, aku dipukulnya hiks, hiks."


Anak laki-laki itu merajuk disertai isak tangis tertahan.


"Cups-cups, kakak juga sih masa nangis udah berapa jam, kalau suaranya habis gimana?"

__ADS_1


"Kakak kan cuman mau minta beliin mainan kayak punya teman kakak, nggak boleh hiks hiks."


"Besok, bunda beliin, sekarang tidur dulu aja ya kak udah malam."


"Benaran ya Bun, besok pulang dari sekolah langsung ke mall, kata teman kakak, ada di mall dekat sini bun."


"Ok, kakak nanti pilih sendiri di tempatnya."


Dan barulah Rakasiwi diam, ia peluk tubuh Mardo, dan perempuan itu balas memeluknya dan menciumi wajahnya, menepuk-nepuk dengan lembut hingga akhirnya anak laki-laki itu tertidur pulas.


"Maafkan ayah ya nak, tadi telah memukulmu itu karena kau terus menerus menangis dan ayah serta Bunda tidak tahu lagi apa yang mesti kami lakukan hingga akhirnya Ayah memukulmu ayah janji tidak akan lagi pernah memukulmu ayah akan bersabar menghadapi mu karena kau masih sangat kecil maafkan ayah nak maafkan ayah ya Nak."


Raka berbaring pula di dekat anaknya dan memeluk sekaligus anak dan istrinya. Tempat tidur berupa kasur lembut yang sangat besar dan lebar itu sengaja di pesan dan dibentangkan di lantai.


Kasur besar itu bisa menampung hingga 5 sampai 6 orang. Raka bilang selama anak mereka masih kecil un tuk kemudahan dan keamanan dari jatuh, maka mereka selalu tidur bertiga di tempat itu. Tidak perlu khawatir sebab Rakasiwi bisa bergulingan kesana dan kemari tanpa cemas terjatuh dari tempat tidur.


"Mi, sudah tidur ya?"


Raka menyentuh jemari Mardo."


Raka menolehi istrinya yang begitu lembut dan sabar. Perempuan itu tak pernah memarahi anaknya. Paling hanya matanya yang membesar, menakuti saja. Mardo penuh kasih sayang, senyum manis serta ceria yang selalu menghiasi dirinya.


"Pipi tadi kelepasan Mi, mukul pantat kakak, Pipi merasa bersalah."


Mardo pelan-pelan bangun dan menaro bantal guling diantara kakak dan adiknya. Ia lantas membaringkan tubuhnya di sisi Raka, berbalik menghadap suaminya juga sudah menghadap ke arahnya.


Keduanya saling menatap."Pipi kan yang bilang pada Mimi supaya selalu sabar menghadapi apapun, apa lagi terhadap anak-anak. Jangan sampai kalah kesabaran kita terhadap kerewelan mereka. Kita sudah janji akan menganggap semua masalah sebagai warna warni yang indah, meski sulit sekali."


"Iya, Mimi benar. Aku nggak setangguh Mimi, aku sangat beruntung memilikimu Mi."


"Aku juga beruntung Pi, aku cinta sama Pipi."

__ADS_1


Mardo merengkuh leher pria itu, dan Raka membalas dan mencari yang ia inginkan, bibir yang cantik meski tak mengenakan lipstik. Bibir yang sudah berwarna pink muda. Pria itu meluapkan perasaannya yang sangat mencintai perempuan ini. Semakin lama, semakin besar cinta dan kasih sayangnya.


Dengan penuh kelembutan Raka menyentuhkan hidung serta bibirnya pada kulit kenyal, putih dan mulus. Dada yang semakin penuh oleh sebab sedang menyusui. Dan pria itu telah beberapa kali merasakan air susu yang merupakan milik Cindy. Kadang sebab keinginan sendiri tapi sering juga karena harus membantu Mardo, akibat lelah menguras, Dada Mardo membengkak dan ia membantu mengempeskannya.


"Baby Raka kepengen apa sih Mi, sampai segitunya."


Mereka baru saja melakukan penyatuan dua hati yang saling mencintai.


Mardo mendekap dada yang bidang serta hangat, Raka sudah memuaskannya dan bibirnya tersenyum dengan mata terpejam.


"Hanya mainan Batman Pi, besok Mimi udah janji beliin kakak."


"Anak itu, apa yang diinginkan mesti dia dapat."


"Kayak Pipi kan."


"Apa iya Mi?"


"Iya lah, siapa yang paling tau diri Pipi, ya Mimi dong."


"Pipi minta adik buat Cindy Mi."


"Ich Pipi, masih repot begini, buktinya Pipi nggak sabar menghadapi kakak Rakasiwi ah."


"Sekalian repot ya Mi, please."


"Baby Raka mesti mendapatkan semua yang ia inginkan, Pipi juga kan Mi?"


Mardo menjawab dengan bergerak dan membelakangi Raka.


"Kalau diam berarti mimi setuju, alhamdulillah, mesti setiap malam Mi, biar adik Cindy cepat jadinya, mudah-mudahan anak laki-laki Mi."

__ADS_1


Mardo sudah tertidur dan tidak mendengar apa pun.


Bersambung.


__ADS_2