Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 229. Pada Sebuah Pesta 2


__ADS_3

Boy Indra melihat jam tangannya, ia menunggu Prita tak jauh dari tempat acara. Ia kembali menelpon.


"Kalian sudah sampai mana? kok lama sekali?"


Prita menjawab tak sampai lima menit lagi mereka sampai. Ia bersikap tenang, berusaha seperti biasa menghadapai pak Boy yang tak sabaran. Sementara pak supir mencari jalan alternatif yang tercepat. Weekend seperti malam membuat jalanan macet. Anak-anak muda dan gadis-gadis saling berjanji bertemu di luar.


Kenderaan pun tiba di tempat yang disebutkan oleh pak Boy. Prita segera menghubungi pria muda itu yang terlihat bergegas keluar dari sebuah cafe.


"Alhamdulillah, kalian sampai juga, Aku seperti orang yang tidak punya kerjaan loh."gapi


Dia membuka pintu dekat pak supir sembari menatap ke belakang pada Prita, Dian dan Marlina.


"Maaf pak Boy, jadi menunggu."


Dian yang menanggapi, sementara Prita dan Marlina terdiam. Sekitar lima ratus meter akhirnya sampai.


Mereka semua keluar. Dian menggandeng tangan Marlina. Sementara Pak Boy melihat pada Prita. Dia tercekat, gadis itu cantik sekali, beruntung aku bisa menjadi pasangannya di pesta ini.


Sementara Prita juga menoleh pada pak Boy Inda yang mengenakan baju senada dengan gaunnya, ditutupi oleh jas berwarna abu-abu, pak Boy sangat tampan seperti seorang pangeran.


"Wau, lihat mereka serasi sekali."


Dian dan Marlina melihat Prita dan Boy Indra yang sudah berjalan bersisian.


"Yup, mereka cocok sekali."


Sesaat ke empat orang itu sibuk saling memandang satu-sama lain, hingga Prita menegus mereka.


"Hei! kalian ini kenapa? ayo masuk tadi katanya takut terlambat."


"Malam ini kau terlihat berbeda sekali, ternyata kau cantik juga bila diperhatikan."


Boy Indra tak melepas tatapannya dari gadis yang memakai gaun yang sangat indah, dia seperti putri dalam dongeng berpipi merah seperti yang sering ibunya ceritakan.


"Iya Prita cantik sekali, Pak Indra terlambat ya mengetahui hal itu he he he."


Marlina yang menjawab, membuat Prita semakin berdebar.


"Iya, aku tak menyangka dia cantik sekali."


Pak Boy Indra menatap kembali sosok Prita yang malam itu bakal menjadi perhatian banyak orang.


"Terus saja memujiku, aku memang cantik dari dulu, baru tau ya."


Mereka semua tersenyum, Prita mulai narsir.


"Ayo kita masuk, tamu-tamu sudah berdatangan."


Dian dan Marlina mendahului masuk melewati pintu gerbang, mereka mengisi buku tamu. Tak lama Prita dan Boy menyusul. Baru saja mereka masuk, sudah menjadi daya tarik tersendiri. Karyawan-karyawan memuji gaun dan kecantikan Prita, juga tubuh menjulang tinggi berwajah tampan di sisinya. Semula mereka semua mengira gadis yang bersama pak Indra bukanlah Prita, melainkan kekasihnya. Tetapi setelah lebih diperhatikan ternyata gadis itu adalah Prita, teman sesama karyawan.


Namun ketika mereka masuk semakin ke dalam. Pasangan Boy Indra dan Prita membuat banyak gadis-gadis terhenyak, mata mereka membesar.


"Lihat! lihat! itu Boy indra! Dia datang dengan pasangannya."


Gadis-gadis yang bersama seorang  wanita setengah baya melihat pada Boy Indra yang berjalan memasuki ruangan. Wanita itu berjalan untuk menyambut Boy Indra bersama gadis-gadis yang bersamanya.


"Boy Indra, akhirnya kau muncul, bibi merindukanmu."


Serta merta perempuan itu memeluk Boy Indra sangat erat.


"Bibi Lora, aku juga merindukanmu."


"Kalau kau merindukan bibi kenapa tak ke kantor atau ke rumah, padahal bibi menunggumu."

__ADS_1


Mereka berbincang-bincang dan berpandangan, hingga bibi Lora menatap pada Prita.


"Siapa gadis cantik yang bersamamu? apakah kau tak keberatan memperkenalkannya padaku?"


Boy Indra tersenyum melirik pada Prita yang disisinya.


"Oh, dia Prita Pujaningrum, kenalkan Bi."


Prita mengulurkan tangannya menyambut uluran tangan bibi Lora.


"Nama yang cantik seperti orangnya, maukah kuperkenalkan dengan staf-stafku?"


Prita mengangguk, ia lantas bersalaman dengan gadis-gadis yang mengelilingi bibi Lora.


"Kau dan gadis itu sangat serasi."


Terdengar bisik bibi Lora. Boy Indra hanya tersenyum.


Tiba-tiba seorang pria berjas bersama rombongannya mendekat pada mereka.


"Hello Bung Boy, lama tak bertemu. Terakhir ketemu kamu masih sangat muda, sekarang sudah tampak dewasa dan papa kamu bilang sekarang kamu yang memimpin perusahaan, selamat ya!"


"Tuan Irvan, makasih banyak, semoga tetap bisa bekerja sama."


Boy dan laki-laki gagah itu bersalaman, juga gadis serta beberapa pria manager yang bersamannya.


Kemudian seperti bibi Lori yang saat itu kembali ke meja mereka, tuan Irvan menolehi Prita.


"Wah, siapa gadis cantik yang beruntung sekali ini? bukan hanya cantik dan mempesona tetapi serasi denganmu bung Boy."


Matanya menatap pada Prita dari kaki hingga kepala.


"Pasti perempuan yang sangat special bagi Bung ya?"


Mereka semua mengatakan hal yang sama. Betapa cantik dan mempesonanya Prita. Sangat serasi dan cocok menjadi pasangan boy Indra, gadis-gadis cemburu dan merasa kehilangan kesempatan. Semua perusahaan yang sudah lama bekerja sama tau bahwa pengusaha kawakkan Kesuma Wijawa memiliki pewaris tunggal, seorang pria muda yang selama bertahun-tahun ia sekolahkan di luar negeri. Sesekali ia memang mengenalkan Boy pada kolega-koleganya. Sebagian besar para pengusaha tersebut mengenal Boy Indra.


Boy Indra pamit dengan sopan karena masih banyak tamu yang harus ia sapa. Ia menarik lengan Prita.


"Sebaiknya kita ke tempat duduk di depan."


"Ayo,"


Prita juga pamit pada mereka semua yang beberapa saat mengerubungi mereka. Ruangan tersebut telah dipenuhi tamu undangan. Host juga sudah membuka acara dan terdengar kemeriahkan dengan tari-tarian selamat datang. Gadis-gadis berpakaian  fantasi yang mempesona. Setelah itu kata-kata sambutan dari bapak Kesuma Wijawa yang tiba-tiba memanggil putranya Boy Indra.


Sedikit terkejut, Boy Indra menolehi Prita. Gadis itu menganggukkan kepalanya, seolah dukungan agar Boy pergi ke panggung.


Laki-laki gagah berkharisma dan memiliki wajah tampan dan mirip sekali dengan Boy Indra. Laki-laki itu menyambut putranya dan memeluk erat.


"Dia satu-satunya putra saya, harapan saya yang membubung tinggi hingga langit ketujuh."


Semua tamu-tamu yang sedang mendengarkan sambil menikmati jamuan makan malam di masing-masing meja memperhatikan keadaan di panggung.


"Saat ini saya sudah berusia tujuh puluh lima tahun, sudah puluhan tahun hidup berkat obat-obatan. Beberapa bulan ini putra saya telah membuktikan bahwa dia bisa. Sebab itu saat ini saya menyerahkan perusahaan pada putra saya ini.  Dengan ini saya menyatakan saya pensiun."


"Wah, penodongan!"


Boy Indra meledek Papanya.


"Ha ha ha, habis kalau nggak ditodong mana mau dia bekerja!"


Semua tamu-tamu menyukai tontonan yang segar itu, mas host yang juga usil ikut-ikutan mengoda Boy Indra.


"Kalau nggak mau, buat saya saja pak Bos."

__ADS_1


"Enak saja, memang kacang goreng, sini miknya,"


Boy Indra merebut mikrofon dari tangan host.


"Selamat malam semua!"


Malam!


Terdengar gemuruh suara tamu-tamu undangan.


"Mau bagaimana lagi, saya nggak bisa menolak. Kena todong malam ini. Ok sebagai seorang anak yang baik dan sholeh, sudah menjadi kewajiban seorang anak untuk melanjutkan usaha orang tuanya. Malam ini juga dihadapan kolega-kolega papa semua saya menyatakan menerima pekerjaan yang papa saya berikan. Semoga saya bisa bekerja lebih baik lagi melebihi yang telah papa lakukan."


Dihadapan semua tamu undangan kedua orang itu saling berpelukkan, kemudian melanjutkan pesta tahunan perusahaan, Seorang artis senior meramaikan acara, artis tersebut mengajak semuanya bernyanyi gembira.


Boy Indra kembali ke mejanya dan menghirup minumannya.


"Kau ingin makanan apa? nanti kupanggilkan pelayan, sebentar lagi juga ada kambing guling."


"Sudah cukup, makanan dihidangkan silih berganti, aku sudah kenyang sekali."


"Pestanya hingga jauh malam, ada pesta dansa nanti."


"Maksudmu kau mau mengajakku berdansa? oh no! aku tidak bisa berdansa."


Baru saja mereka membicarakannya ketika seseorang datang ke meja mereka  dan berkata bahwa mereka semua ingin  berdansa duluan adalah pak direktur dan wakil direktur.


"Ayo, ternyata acara dansanya sekarang bukan nanti malam. "


Tempat yang lapang di bagian depan dijadikan arena untuk berdansa.


Boy Indra tak menolak, ia menarik lengan  Prita, sementara di depan host telah  berkoar-koar  bahwa pak direktur dan wakilnya akan  memulai dansa yang pertama. Yang lain bersiap-siap menyusul.


Musik cha-cha terdengar meriah. Mereka semua penyuka cha-cha.


"A-aku tak bisa."


Prita menghindar tapi Boy meyakinkannya bahwa mereka bisa.


"Ikuti aku saja, yakin bisa."


"Baiklah."


Rasa pede Prita muncul, salah satu  kehebatan Boy Indra adalah rasa pedenya yang besar. Ia tak pernah takut berhadapan dengan siapa pun, saat dia tidak mengerti apa pun.  Yang ia andalkan adalah rasa keyakinannya yang besar.


Kali ini pun ia mulai memainkan kaki-kakinya di lantai. Menggoyangkan tubuhnya mengikuti irama.


"Yeah! yeah! cha-cha."


Dengan mengandalkan ingatannya saat ia melihat orang berdansa cha-cha, Boy Indra berhasil membuat semua orang bertepuk tangan.  Prita juga akhirnya mengikuti kaki-kakinya bergerak seperti Boy Indra.  Pria itu mengajari Prita dengan lembut. Setelah beberapa menit yang lain maju ke arena dansa. Malam itu indah.


 


 


 


 


 


 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2