Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 114 Menjemput Anak


__ADS_3

"Pi, nanti sore kakak Rakasiwi minta di jemput di stasiun, Pipi ada waktu? kalau Pipi sibuk biar Mimi yang jemput."


Pria tampan yang tak lagi muda itu, tersenyum kecil mendengar suara yang lembut di sebrang.


"Untuk anak tentu Pipi ada dan bisa dong Mi, kita jemput bareng ya. Nanti Pipi ke kantor Mimi terus kita ke stasiun."


"Ok, baiklah Mimi tunggu ya Pi. Muahhh muahhh."


"Muahhh."


Raka menutup handphonenya. Rasanya baru kemarin ia dan Mardo mengantar Rakasiwi ke tempatnya sekarang menuntut ilmu.


Mereka mendatangi kampus terkenal itu untuk mengantar Rakasiwi yang mendapatkannya tanpa tes, melainkan panggilan jalur khusus.


Setelah registrasi mereka mencari kost yang nyaman untuk Rakasiwi dan itu tidak mudah. Banyak juga putra dan putri dari berbagai kota yang juga mencari kost selama kuliah di tempat itu.


Ketika mereka menemukan yang cocok dan sangat nyaman ternyata sudah ada yang yang memesannya. Sehingga mereka mencari lagi. Begitu beberapa kali dan akhirnya mereka mendapatkan sebuah penawaran rumah yang baru selesai di buat.


Sang pemilik menawarkan untuk menyewa saja selama Rakasiwi kuliah. Pemilik rumah itu memberikan harga special karena sedang membutuhkan uang.


Raka dan Mardo melihat lihat rumah tersebut dan mengangguk-angguk sebab rumah itu strategis, tidak terlalu jauh dari kampus dan berada di tepi jalan. Mudah untuk pergi dan pulang ke kampus.


Rumah itu juga astri dan sekelilingnya merupakan rumah-rumah warga pendatang yang mungkin sedang bertugas. Keamanan juga terjaga sebab ada beberapa satpam yang bergantian jaga di pos penjagaan.


Rakasiwi menyukai juga rumah itu, dan mau meninggalinya. Raka dan Mardo berpikir untuk mengungsikan sepasang asisten rumah tangga mereka untuk menemani Rakasiwi dan mengurusi rumah serta keperluan Rakasiwi.


Pak Yuda supir dan istrinya Wiwi tidak keberatan ditugaskan menemani Rakasiwi di perantauan.


"Siap pak, hitung-hitung ganti suasana baru."


Maka hampir seminggu dia, Mardo, pak Yuda dan istrinya Wiwi berada di kota tersebut untuk mengurusi semua *****-bengek keperluan Rakasiwi menghadapi hari pertamanya di perguruan tinggi.


Dan setelah Rakasiwi mendapatkan keberaniannya, kenyamanannya, belajar mandiri dan jauh dari orang tua serta saudaranya, barulah dia dan Mardo pulang.

__ADS_1


Rakasiwi memeluknya erat-erat dan menangis terisak-isak. Ia membelai pundak putranya, ini adalah yang pertama kali bagi Rakasiwi jauh dari ayah dan bundanya, jadi Raka memahami fase kehidupan jauh dari orang tua.


Rakasiwi saat itu masih berusia delapan belas tahun, muda dan belia. Anak mama yang tak pernah jauh dari rumah.


Mardo sendiri gelisah ketika pertama kali menghadapi kenyataan bahwa Rakasiwi diterima di sebuah perguruan tinggi terkenal di luar kota. Itu artinya Rakasiwi harus keluar dari rumah dan tinggal jauh dari dirinya. Mengingat hubungannya dengan Putra sulungnya itu sangat dekat dan dalam rasanya Ia tidak mampu berpisah lama dan jauh dengan putranya.


Mardo meminta izin kepadanya untuk tinggal beberapa hari di rumah itu. Dan Raka tak sampai hati jika perempuan itu sudah meminta dengan mata berkaca-kaca. Anak laki-laki itu memang sangat lengket dengan bundanya.


Jadilah Raka meninggalkan istrinya tinggal selama beberapa waktu bersama Putra sulung mereka. Dan rupanya dengan cara itu perlahan Rakasiwi belajar bisa berpisah dengan keluarganya.


Setahun sejak mereka mengantarnya ke kota itu untuk menuntut ilmu, tiada terasa sekarang libur semester dan Rakasiwi minta di jemput di stasiun.


"Baiklah Nak, ayah dan bundamu akan menjemputmu di stasiun ayah sangat merindukanmu."


Raka meraih tasnya keluar dari kantor beranjak ke tempat parkir dan di sana seorang supir sudah menunggunya. membawanya ke kantor istrinya Mardo.


Raka tahu bahwa Mardo pasti sudah menyiapkan minuman segar serta makanan kesukaannya. Mereka tidak akan langsung berangkat ke stasiun melainkan bersantai sejenak dan menikmati minuman dan makanan sembari bercengkrama.


Raka menyukai minuman segar buatan istri terkasihnya mardu bertahun-tahun marde membuatkannya minuman dan makanan yang membuat dirinya selalu sehat segar dan bertenaga.


Baju-bajunya, kaos dalam, celana, dasi dan sebagainya semuanya selalu disediakan oleh Mardo.


Dia tidak tahu apa-apa tentang harga-harga, tempat membeli barang yang terbaik. Semua tinggal pakai dan menikmati. Begitu juga semua keperluan anak-anak, dia tidak pernah repot mengurusnya semuanya beres dan rapih di tangan Mardo.


Raka merasa sangat dimanja dan diperhatikan. Tidak ada sesuatu hal yang membuatnya kecewa ataupun tidak suka semuanya membuatnya nyaman dan hangat.


Rumah, anak-anak dan lingkungan selalu bersih wangi dan menyenangkan. Membuatnya selalu rindu ingin pulang, berada di pelukkan istri dan anak- anaknya.


Dreeet dreeet dreeet


Bunyi telponnya membuyarkan lamunannya dan ia melihat itu dari Mardo. Segera Raka mengangkatnya.


"Pipi di mana? Jangan terlalu siang takut macet

__ADS_1


Pi jalan ke stasiunnya."


"Iya Mi ini Pipi sudah di jalan, sebentar lagi sampai ke kantor Mimi


kok."


"Ok Pi, mimi tunggu ya, muahhhh."


"Muahhhhh."


Muahhh yang sudah didengarnya selama bertahun-tahun dan ia tidak pernah bosan oleh kecupan perpisahan di telpon. Kalau sampai Mardo lupa maka hal itu membuat Raka gelisah dan dia akan balik menelepon Mardo dan mengingatkan bahwa istrinya itu lupa mengucapkan muahhh.


Tawa Mardo yang renyah di sebrang, membuatnya tersenyum bahagia. Plus kecupan muahhhh. Tidak ada perempuan lain seistimewa kekasih pertama dan terakhirnya.


Sambutan yang hangat dengan pemujaan dan rindu selalu ia dapatkan setiap kali bertemu dengan Mardo.


Kali ini pun ketika Iya muncul di pintu di pintu ruangan kerja istrinya. Perempuan itu buru-buru berdiri untuk menyambutnya.


"Sudah sampai Pi, gimana tadi Pi? di jalan tidak macet? minum dulu aja ya Pih, Mimi sudah sediakan minuman buah segar untuk Pipi."


lincah Mardo pergi ke kulkas kecil yang berada di sudut ruangan, mengeluarkan dua gelas minuman untuk Raka dan untuk dirinya sendiri. Juga mengeluarkan kue kue yang menggugah selera kesukaan Raka dan anak-anak.


Raka langsung menghirup minuman segar dari campuran beberapa buah yang rasanya manis dan segar.


Membuat dirinya merasa lebih bertenaga serta sehat. Mardo menemaninya menghirup minuman segar itu, sambil berpandangan dan tersenyum mesra.


Lantas Mardo menyodorkan kue kemulut Raka, laki-laki itu menggenggam lengan istrinya dan mendekatkan mulutnya meraih kue ditangan Mardo, lalu mengambilnya separoh dan menyuapi istrinya.


Mereka berdua larut di pertemuan sebelum berangkat menjemput putra sulung mereka.


Tak lama mereka berdua bergegas meninggalkan ruangan kerja Mardo. Sebuah tas plastik berisi minuman buah segar dan kue kesukaan Rakasiwi tak lupa untuk menjemput anak sulung.


Begitulah Mardo, tak pernah lupa membawakan minuman segar penghilang dahaga. Serta kue-kue untuk menghilangkan rasa lapar. Tak pernah lupa, sehingga Raka dan anak-anak selalu merasakan ketenangan dan nyaman.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2