
Bismillahirohmanirrohim, sembari laki-laki muda itu tersenyum dan menatap pada wajah kekasihnya yang berdiri di sampingnya sembari memegang erat tangannya.
"Tara!"
"Silahkan masuk nyonya Al, selamat datang."
Wah!
Cindy melebarkan matanya dan tersenyum ceria memasuki rumah yang masih kosong melompong. Mereka memeriksa seluruh ruangan demi ruangan. Alfredo membuka pintu-pintu kamar. Cindy meneliti dan merasa puas.
"Bagus nggak ya bangunan dan modelnya? mahal ini loh Yang, Rakasiwi juga minat Yang, tapi enak nggak Yang nanti rumah kita dekatan sama mereka. Tau sendiri Rakasiwi Yang kerjanya kalau nggak telponan sehari aja langit runtuh Yang, kakakmu itu loh ngeropotin banget."
Alfredo mengelusi dagunya yang klimis, curhat-curhat manja sama Cindy yang hanya melengos saja. Dia menengok ke lantai atas, mengajak Al ke sana. Segera Alfredo naik duluan diikuti oleh Cindy. Sebuah ruang terhampar luas, Kata Alfredo ruangan itu untuk bersantai, menonton tivi, senam atau tidur-tiduran. Ada kamar utama, tiga kamar anak-anak, mushollah, kamar mandi dan juga dapur. Jadi jika sedang berada di lantai dan ingin masak tidak perlu turun ke bawah. Apa yang berada di bawah juga terdapat di lantai atas.
Sayangnya belum ada barang atau benda apa pun yang mengisi ruang-ruang kosong itu. Alfredo bilang rumah itu pembangunannya baru saja selesai dua hari yang lalu. Wangi catnya saja masih keras. Cindy mangut-mangut. Ia sendiri sama sekali tak terpikirkan untuk memiliki rumah. Selama ini ia nyaman di kamarnya di rumah besar. Juga rumahnya di Bandung dibelikan ayah Raka atas namanya.
"Nanti sedikit demi sedikit kita akan membeli perabotan Yang, mulai dari tempat tidur, kursi tamu, tivi dan lain-lain."
"Iya Yang, santai saja. Nggak usah terburu-buru, kan kita menikahnya tahun depan."
Sahut Cindy. Dia tidak mau mendesak Alfredo untuk buru-buru membeli perabotan yang pastinya sangat banyak.
"Besok aku magang kerja di kantor Ayah, aku akan minta gajiku biar bisa membantumu membeli perabotan."
Cindy mengerlingkan matanya, Alfredo setuju, berarti ia bisa lebih cepat mengisi rumah cantik itu dengan perabotan. Tiba-tiba Alfredo menarik jemari Cindy hingga mereka berdekatan dan berpandangan.
"Yang, tak sabar untuk menjadikanmu istriku."
Kata Al sembari menarik jemari Cindy kedadanya.
"Setahun lagi, itu tak lama, hanya sekejap mata saja."
"Bagimu, kalau aku beda, sehari rasanya seabad, ingin selalu dekat dan memeluk seperti ini."
Keduanya saling bertatapan dan tersenyum, Cindy lantas mendorong tubuhnya ke atas hingga ia bisa mencapai bibir Al yang tengah tersenyum. Alfredo serta merta menyambutnya. Kedua pasangan itu telah beberapa kali melakukan rasa itu. Saling berpagutan, mengesek-gesekkan dua kepala mereka, ciuman di pipi, dan diakhiri di sudut bibir yang bergeletar.
"Sudah malam, kita pulang Yang."
Alfredo lebih dulu menyudahinya, Cindy mengangkat wajahnya dan mengangguk-angguk. Gadis itu sekali lagi memeriksa rumah tersebut, kemudian mengikuti Alfredo ke luar. Mereka terjebak macet di pertigaan. Satu jam berikutnya Alfredo dan Cindy tiba di cafe Pria Idola Rakasiwi.
Kedua pasangan itu masih duduk-duduk di sebuah sudut cafe, ada banyak hal yang membuat keduanya seolah berat berpisah. Alfredo yang selalu mengingatkan Cindy untuk mengakhiri kebersamaan mereka, belum halal katanya beralasan jika sudah berlama-lama berdua asyik masyuk. Cindy menurut saja jika Alfredo sudah menyuruhnya pulang.
__ADS_1
"Yang, udah malam, pulang gih, atau mau Aa antar."
"Udah malam ya? iya sih, biar aku pulang sendiri, nggak apa-apa kok."
Keduanya beranjak, Alfedo menaro tangannya di bahu gadis itu, semua tau mereka pasangan yang romantis serta manis. Yang satu tampan dan memiliki senyum ramah yang manis, dan satunya lagi cantik, manja dan ceria. Pasangan yang membuat jomblo jelous, cemburu tingkat tinggi dan ingin cepat-cepat mencari kekasih biar bisa semesra Al dan Cindy.
Beberapa karyawan mengintip dari jendela apa yang dilakukan pasangan kekasih itu di parkiran. Gadis-gadis pramusaji itu saling bergenggaman tangan gemas. Di sana terlihat Alfredo membukakan pintu mobil agar Cindy masuk ke mobilnya. Sebelum Cindy memundurkan mobilnya keduanya saling berpandangan. Alfredo mendekatkan wajahnya ke jendela.
"Hati-hati di jalan Yang, muah."
Gadis-gadis di atas menjerit kecil saat melihat Alfredo memberi ciuman mesra pada kekasihnya Cindy.
"Oh so sweet pisan mereka."
Gadis-gadis itu saling meremas tangan, gemas oleh kemesraan pasangan itu.
"Ohh, kapan aku bisa punya pacar semesra dan memuja seperti itu. Ia memperlakukan kekasihnya seperti ratu."
Tak mereka sadari manager mereka mendekat dan geleng-geleng kepala pada kelakuan gadis-gadis pramusaji itu.
"Heh! sedang apa sih kalian ini? pergi! pergi! cepat selesaikan pekerjaan!"
Keempat gadis itu serta merta beranjak dari tempat itu menuju ke tempat kerja mereka masing-masing. Tetapi mereka mengkhayal tentang indahnya cinta. Mereka sering memperhatikan Alfredo, dia anak muda yang tampan, baik dan ramah. Sama halnya seperti Rakasiwi. Kedua laki-laki itu menjadi pria idola di dalam hati gadis-gadia pegawai di cafe pria idola milik Rakasiwi.
Alfredo kembali ke dalam cafe setelah kekasihnya pergi. Ia masuk ke ruangannya dan membuka laptop. Ia memeriksa keuangan yang masuk hari ini. Ia menginput data pemasukkan. Serta pengeluaran belanja hari itu. Ia tersenyum. Pemasukkan mereka diatas rata-rata target.
"Ya Rabb, terima kasih Engkau beri kemudahan aku mengelola cafe Pria Idola, sehingga keuntungannya meningkat hari demi hari"
Alfredo pergi mengambil wudhu lantas melaksanakan sholat isya. Ia selalu melakukan hal itu sebelum pulang. Sehingga begitu sampai di rumah ia hanya tinggal bercengkrama dengan ayah dan ibunya. Atau membersihkan dirinya dan tidur.
Sebelum memejamkan mata, ia melihat handphone dan memandangi Cindy. Ia tersenyum dan berbisik.
"Sayang, kamu udah bobo belum? Aa nggak bisa bobo, ingat dirimu selalu."
Ingin ia chat, tapi bukankah tadi mereka telah bersama dan mencurahkan kerinduan selama berpisah. Alfredo laki-laki yang penuh pengertian. Sebelum melakukan sesuatu pasti ia memikirkan apakah nanti yang ia lakukan menggangu gadisnya.
Apa lagi jam telah menunjukkan angka sebelas. Tentunya Cindy telah tidur di peraduannya yang hangat dan lembut. Tergolek di sana seperti putri tidur yang terlelap dan bermimpi indah. Bibirnya yang ranum tengah tersenyum oleh mimpi tentang pangeran Alfredo.
Laki-laki itu tersenyum kecil, oleh khayalannya yang lebay. Tetapi baginya Cindy adalah putri salju yang cantik, putih, lembut, berbibir merah yang sangat mempersona. Ia jatuh cinta sejak kali pertama bertemu di rumah temannya Rakasiwi. Ia terhenyak melihat gadis kecil yang putih cantik, bermata galak dan tajam saat menatapnya.
"Ka, di rumah lu ada putri salju ya?"
__ADS_1
Begitu pertama kali ia mengomentari pertermuannya dengan adik sahabatnya itu.
"Putri salju? maksud Lu apa? mana ada putri salju, makanya jangan baca buku dongeng melulu."
"Itu sih siapa? kalau bukan Putri salju?"
Rakasiwi mengikuti telunjuk Alfredo yang menuding pada Cindy yang sedang duduk cantik menonton tivi di ruangan keluarga.
"Itu Cindy adek Gwe! lebay lu ach."
"Kok beda ya ama Lu Ka?"
"Maksudnya beda apa, ya iyalah dia anak perempuan, Gwe anak laki-laki."
"Bukan itu, kok dia putih, napa Lu geseng item gitu Ka?"
Kontan Raka menepak kepala Alfredo, dia paling sebal jika dikatain hitam sama temannya itu, padahal kulitnya bukan hitam melainkan kulit sawo matang. Alfredo memegang kepalanya yang sakit akibat jitakkan Rakasiwi. Matanya tak lepas dari gadis kecil cantik putih, ceria dan juga centil.
"Adik Lu cantik Ka, kenapa Lu jelek banget ya, apa cetakkannya belum berpungsi seratus persen yaa?"
Lagi-lagi Alfredo meledek Rakasiwi. Kontan mereka bergelut sebab Rakasiwi tak terima dikatakan jelek, hitam dan cerewet.
"Udah Lu sana deh pulang, nggak usah tidur sini, bikin senewen aja."
Alfredo hanya terkekeh kegelian. Ia berdalih, tak menyangka Rakasiwi memiliki adik perempuan secantik putri salju. Hal yang membuatnya keheranan, itu saja. Kembali Rakasiwi memukuli dan menggebuki Alfredo. Dan terdengar suara mereka ribut di kamar itu.
Bersambung
__ADS_1