
Prita tak sempat mengetahui kelanjutan keputusan Yunna, sebab sore harinya ia kembali ke
Semarang. Sudah banyak sekali tugas yang harus diselesaikan. Ia pikir Yunna pasti bisa
mengatasi dan mengurus semuanya. Dibanding dengan dirinya dan Elsa, Yunna lebih kuat
dewasa, berani dan cerdik. Ia pasti bisa memutuskan yang terbaik untuknya.
Lagi pula ia dan Rakasiwi juga sedang asyik masyuk. Hampir setiap beberapa menit Rakasiwi
mengirim pesan menanyakan keadaannya. "Sudah makan siang puspitaku?"
Begitu Rakasiwi mengirim pesan jika waktunya makan siang. "Morning Puspitaku jangan lupa
sarapan sebelum aktifitas ya."
Pesan-pesan yang membuat Prita tersenyum dan bahagia. Wajahnya sumringah menambah
cantik gadis itu. Hidupnya terasa sangat indah dan tidak lagi kesepian. Ia sekarang memiliki
seseorang di hatinya. Pria baik hati dan tampan. Pria idolanya. Ia tidak pernah mencarinya
bahkan belum pernah bermimpi bertemu seseorang yang mempesona. Rakasiwi datang
tiba-tiba di dalam kehidupannya. Bermula dari pertemuan dan saling menabrak di stasiun.
Prita tak pernah memikirkan bahwa itu adalah awal dari hubungan mereka. Bahkan kemudahan
demi kemudahan dalam hubungan mereka itu mengalir seperti air.
Prita tersenyum, ia duduk di sebuah taman sambil membalas chat Rakasiwi. Sesekali
Rakasiwi meminta mereka vidiocall, kangen melihat senyum gadisnya. Prita terpaksa
mengabulkan permintaan Rakasiwi. Mula-mula agak memalukan baginya, saat keduanya
saling bertatatapan di handphone. Ia tak bisa menahan senyumnya yang malu-malu.
Rakasiwi juga hanya tersenyum lalu mengedipkan matanya lalu putus.
Pertemuan di telpon yang membuat keduanya senyum-senyum sendiri. Pipi memerah
seperti apel washington. Membuat teman-temannya geleng-geleng kepala. "Kayaknya
Prita lagi jatuh cinta, itu seperti orang gila, senyum-senyum sendiri. Teman-temannya
berbisik-bisik. Tapi Prita tak perduli, ia mencebirkan bibirnya dan bangun dari duduknya
lantas bergegas.
"Hemmm, mereka pengen tau aja apa yang kulakukan, penasaran
saja huh!"
Gadis itu bergegas pulang ke tempat kostnya. Ia memasukkan handphonenya. Disiplin
merupakan salah satu kebiasaannya. Saat berjalan ia akan menyimpan handhonenya
dan tidak akan bermain handphone, sebab ia tau bahayanya. Sedetik kelengahan
bisa saja membawa petaka bagi diri sendiri atau orang lain.
Setelah sampai di kamar kostnya, menganti baju dan membersihkan dirinya barulah ia
melihat handphonenya. Ada panggilan dari Yunna dan Elsa. Wah! ada apa ya? ia
segera menelpon balik.
"Hello, ada apa Yunna! aku tadi sedang di jalan, ini baru sampai kost."
"Prita! aku dan ayah Jae akan menikah."
Gadis itu mendengar dengan jelas perkataan Yunna, tetapi ia tetap terkejut.
"What! apa aku tak salah dengar?"
__ADS_1
"Tidak! kamu nggak salah dengar Cing! aku memutuskan menikah dengan pria itu,
dia lembut sekali, mulanya aku pikir ini hanya kasihan, tetapi hatiku berdebar oleh
sikap-sikapnya yang dewasa dan memomong diriku, sekonyong-konyong aku jatuh
cinta padanya."
"Yunna! kamu harus memikirkan seribu kali lagi! jangan sampai kamu menyesal, aku
mohon pikirkan lagi!"
"Sudah Cing! Gwe udah berpikir seribu kali lebih, dan hatiku condong kepadanya dan
tidak akan menyesal."
"Prita! kamu harus menjadi pendampingku nanti! segera ya kamu mengurus kepulanganmu
ke Jakarta."
Gadis itu terdiam seribu bahasa. Apakah yang ia lakukan benar dan tidak akan membuat
Yunna menderita. Pertemuan pertama dengan ayah Jae tampak sekali dia seperti seorang
pimpinan mafia. Dingin dan menakutkan. Bahkan ia tak main-main saat menculik ibu dan
dirinya.
Tapi pertemuan berikutnya laki-laki itu banyak berubah. Prita termenung di sofa, Ia bingung
haruskah bahagia atau bersedih. Yunna sangat muda, sedangkan ayah Jae lebih cocok
menjadi ayahnya. Prita bangun dan kemudian mondar-mandir di ruangan kecil itu. Waktu
ia menceritakan tentang ayah Jae, sama sekali tidak untuk menjatuhkan Yunna atau Elsa
ke pelukkan laki-laki itu.
Tiba-tiba Prita mengambil handphonenya dan menelpon Elsa. Lama tak di jawab. Elsa
dan terdengar suara yang halus. "Hei Prita! maaf aku sedang tadi sedang bekerja."
"Elsa! apa yang terjadi dengan Yunna? dia benaran serius mau nikah dengan ayah Jae?"
Prita sekali lagi ingin meyakinkan dirinya lagi.
"Iya benar dong Prita, masa bohong! dan Yunna memang menginginkanya."
"Menginginkan apa?"
"Masa kau tidak tau, tentu saja hartanya he he he."
"Oh no! Yunna nggak boleh seperti itu, tujuan menikah karena harta itu tak baik
apa Yunna tidak tau akan hal itu. Seharusnya tujuan menikah adalah karena
Allah Swt, ibadah!"
"Ya nggak tau Cing! itu semua sudah menjadi keputusan Yunna, kamu bisa pulang kan
Cing?"
"Iya, aku harus buru-buru pulang!"
Prita menutup telponya. Akhir bulan ia harus pulang, untuk menjadi pendamping mempelai
wanita. Entahlah apakah ia merasa senang atau sedih. Gadis itu merasakan hatinya
berdebar tak karuan. Yang jelas dia lah yang telah mengenalkan Yunna dengan Ayah Jae
dan ternyata Yunna jatuh cinta pada laki-laki itu. Siapa yang menyangka.
Kabar itu membuat Prita ingin memberitahu Rakasiwi, ia mengambil handphonenya dan
membuat pesan.
__ADS_1
"Akhir bulan aku pulang."
Tak lama Rakasiwi membalasnya, "Memang libur ya?"
"Bukan, temanku menikah, jumat dan sabtu aku tak ada kelas, jadi aku bisa pulang
dan langsung kembali."
"Oh, temanmu menikah ya, kalau kita kira-kira kapan ya menikah?"
Ups! Prita tersirap darahnya oleh pesan masuk dari Rakasiwi.
"Ich, aku sih belum memikirkannya, fokus belajar dan lulus dengan nilai
yang bagus."
Rakasiwi mengiriminya jempol.
Semangat Puspita.
"Tanpa diminta pun udah selalu semangat kok!"
"Dirimu mau pulang?"
"Belum tau, memangnya kangen gitu ya?"
Pipi Prita memerah seperti apel washington.
"Bukan, perlu bodyguard ha ha ha."
"Hemm."
"Maaf ya bercanda."
Prita merasa ia kelepasan.
"Emmm, nggak apa, aku akan menjadi bodyguard untuk puspita hatiku."
Rakasiwi tersenyum. Perlahan sekali pesan-pesan keduanya mulai menyentuhi
hubungan kedekatan layaknya orang yang saling mencintai. Prita sudah membuka
dirinya. Rakasiwi menjadi tahu bahwa Prita belum memiliki seseorang di hatinya. Sejak
Ia mengajak gadis itu ke pertemuan reuni.
Itu adalah awal Rakasiwi meyakini bahwa Prita masih sendiri. Belum ada seseorang
yang menemaninya di sisinya. Betapa beruntungnya dirinya. Gadis itu cantik, dengan
mata yang indah.
Ajaibnya ternyata mereka dulu adalah teman satu kelas di taman kanak-kanak
yang sama. Rakasiwi menyimpan sosok gadis mungil pemberani yang pulang
ke rumahnya sendirian, juga berangkat tanpa seorang yang menemaninya. Sementara
ia sangat manja selalu ingin ditunggui oleh bunda dan ayah. Kalau tak ada bundanya
ia akan menangis, dan bundanya sering menunjuk gadis kecil itu, "Lihat! anak
perempuan itu selalu berangkat dan pulang sendirian, ia juga tak ditunggui ibunya
ia gadis kecil yang cantik, ceria, lucu dan pemberani. Kesan yang tertinggal
di dalam jiwanya. Hingga mereka bertemu kembali di stasiun, bertabrakan.
Bersambung
Hello pembaca sayang, terima kasih atas dukungannya ya, selalu tinggalkan jejak
__ADS_1
likem komen dan vote, aouthor sangat berterima kasih