Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 122 Waitress


__ADS_3

Prita! Prita!


Bangun! sudah siang begini masih juga di tempat tidur. Anak gadis bangunnya siang-siang, pamali tau!"


Terdengar suara besar suara merepet ibu di depan pintu kamarnya. Membuatnya menggeliat terbangun oleh suara itu serta ketukan keras di pintu kamarnya.


"Haduh ibu aku kan sedang libur, tidak apa-apa atuh kalau bangun kesiangan kan? Sahut Prita manja sambil menggeliat di atas tempat tidurnya.


"Prita! kemarin ada seorang laki-laki muda cakep yang mencarimu.


"Dia mengembalikan dompetmu," seketika Prita membuka telinganya lebar-lebar.


"Apa Bu seseorang datang mencariku? siapa?"


"Iya, dia bilang mengembalikan dompetmu."


"Oh! benarkah? mana bu dompetnya?"


"Ibu taro di meja depan tivi, apa kau tak melihatnya? dari kemarin tergeletak di situ."


Prita segera bangun dan membuka pintu kamarnya lalu setengah berlari menuju ke ruang tengah di atas meja yang disebutkan oleh ibunya.


Mata bulat gadis itu melihat dompet mungil miliknya tergeletak di atas meja.


Ia takjub, karena dompet itu telah hilang nyaris seminggu lamanya. Ia bahkan sudah tak mengharap dompet itu kembali padanya lagi.


Dompet itu memang untuk dikeluar masukkan dari tas untuk membayar cepat, tidak ada dokumen penting hanya ada ktp copian serta dua atm yang saldonya sangat memprihatinkan.


Prita menyambarnya dan membuka, uang, ktp cofian, dan beberapa kartu serta dua atm masih pada tempatnya, tidak ada yang berubah.


Prita memang memiliki dua dompet. Yang pertama berisi ktp asli, kartu asuransi, uang, serta sebuah atm untuk menerima beasiswa, beberapa kartu nama yang penting, ia jarang memakainya, dan menyimpam di bagian tengah tasnya untuk keamanah


Dan dompet yang kedua


adalah dompet untuk membayar cepat, berisi uang yang tidak terlalu banyak, cofian ktp, dan atm yang saldonya sedikit.


"Siapa yang mengembalikan dompetnya Bu?"


"Tidak tau, dia meninggalkan nomer handphonenya, barangkali kau ingin mengucapkan terima kasih padanya."


"Ibu taro dibawah dompetmu itu."


"Oh iya Bu, aku akan menelponnya dan mengucapkan terima kasih."


Prita membawa masuk dompet dan secarik kertas yang bertuliskan nomer handphone seseorang.


Kertas itu hanya berisi nomer saja tidak ada namanya. Prita menimbang-nimbang untuk menelpon, atau menulis pesan.


Gadis itu duduk di atas tempat tidurnya dan memasukkan nomor tersebut ke dalam kontak dan nomor tersebut memiliki WhatsApp.


Saat ia membuka Whatsapp terlihat foto profil seorang gadis kecil yang sedang tersenyum.


Prita mengercitkan dahinya, apa dia seorang perempuan?, tetapi menurut ibunya orang yang mengantarkan dompet tersebut adalah seorang yang laki-laki yang cakep.


Akhirnya Prita menekan nomer tersebut. Beberapa kali tapi tidak ada sahutan.


Prita terus memanggil hingga akhirnya terdengar suara seorang perempuan, "Hello, saya Prita."


"Iya, ada apa ya.?


Prita, sesaat kebingungan, tetapi kemudian ia mengatakan bahwa ia hanya ingin mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih untuk apa?"

__ADS_1


"Karena sudah mengembalikan dompet saya. Kemarin saat Saya tidak di rumah, seseorang datang dan mengembalikan dompet dia memberikan nomor ini, jadi saya bisa mengucapkan terima kasih saya."


"Oh begitu."


"Ini siapa?"


Prita menanyakan gadis yang bicara dengannya.


"Saya Cindy, hemmm agaknya kakak saya yang datang mengembalikan dompet itu dan memberikan nomer saya, dia memang usil sekali, apa kakak ingin bicara dengannya?"


"Apakah dia ada?"


"Ada, sebentar."


Cindy masuk ke kamar Rakasiwi dan memberikan handphonenya.


"Kak, ada yang ingin bicara."


Cindy memberikan handphone tersebut kepada Raka dan laki-laki muda itu pun mendengarkan suara di seberang sana.


"Halo, saya Prita mau mengucapkan terima kasih, karena sudah mengantarkan dompet saya, apakah kamu yang menemukan dompet itu? di mana kamu menemukannya, saya mencarinya kemana-mana dan tak ketemu."


"Iya, saya yang menemukannya, dan mengantarnya ke rumahmu."


"Saya mengucapkan banyak terima kasih ya, kalau boleh tahu siapa namamu.?"


"Nama saya Rakasiwi, dan kamu?"


"Saya Prita, apakah ini nomermu?, katanya ini nomer adikmu?"


"Iya, nomer adikku."


"Ok, itu nomerku Prita Pujaningrum."


Prita mematikan handphonenya. Dan merasa senang karena dia menemukan dompetnya dan sekaligus berkenalan dengan seseorang.


Dan kenalan baru itu seorang pria. Segera Prita kekamar mandi. Hari ini ia, Yunna dan Elsa janji pergi ke sebuah tempat.


***


"Tempat apa  sih Yunna?"


Prita dan Elsa  sama memandang pada Yunna yang hari itu menggunakan baju terusan, sehingga


memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Tetapi ia juga menggunakan leging sehingga saat


mengenderai motor tetap dapat leluasa bergerak. Hal yang sama juga dilakukan Prita dan Elsa.


Mereka hari itu menjadi seorang gadis, mengenakan baju terusan, dengan leging.


Tak lama mereka sampai ke sebuah gedung, gadis-gadis itu memarkir kenderaan mereka berbaris


dengan kenderaan lain. Selanjutnya mereka memperbaiki baju serta penampilan. Mereka masuk


ke toilet, untuk memoles lagi wajah serta bibir dengan lipstick, Yunna yang paling mencolok sedang


Prita dan Elsa sedang-sedang saja.


Mereka lantas naik ke lantai tujuh, dan memasuki pintu kaca yang berat.


Di hamparan mata sebuah ruangan yang luas. Agaknya sebuah tempat untuk bersenang-senang


sebab di depan sekali ada sebuah panggung.

__ADS_1


"Yunna! ini sepertinya bar!"


Prita menarik lengan gadis itu, tetapi Yunna seperti orang nekat tetap masuk lebih dalam sehingga


semakin banyak yang mereka lihat yang ada di dalam ruangan tersebut. Prita menggenggam


tangan Elsa.


"Kalau bekerja di tempat ini, kita bisa punya uang banyak."


Bisik Yunna.


Oh!


Prita dan Elsa nyengir, tetapi mereka memiliki rasa ingin tau yang lebih besar, sehingga


tetap ikut masuk ke depan.


"Hello, nona-nona cantik kalian mencari siapa?"


Tiba-tiba seorang pria muncul dari sebuah ruangan, menyapa dan memandangi ketiga


gadis di depannya. Yunna mengeluarkan secarik kertas yang agaknya sebuak iklan


lowongan kerja dari sebuah koran.


"Mas, katanya ini baru buka ya? dan banyak mencari waitress? kami ingin melamar mas."


"Oh begitu ya, iya benar. Kami sedang mencari banyak waitress, sebelumnya apa kalian


sudah tau nama-nama minuman yang dijual di bar?"


Ketiga gadis itu saling menatap, dan tersenyum merasa geli, boro-boro nama minuman


paling taunya juga sirup abc, he he he. Tetapi Prita dan Elsa hanya menahan senyum.


"Kami ini cepat banget belajar mas, sekali diberitahu langsung ingat dan mengerti."


Yunna meyakinkan pria itu. Untunglah pria itu seorang yang ramah dan mengerti, atau


memang mereka sangat membutuhkan pegawai. Pria itu lantas menjelaskan banyak


hal tentang pekerjaan mereka nantinya, tentang tamu-tamu yang beraneka karakter, asap


rokok serta musik hinggar bingar. Karena memang tempat tersebut, adalah bar, pub tempat


bersantai sembari mendengarkan musik dan juga menyediakan dance floor. Tamu-tamu


bisa turun berdansa atau ajojing, juga boleh berjoget di tempat duduk mereka.


Yunna, Prita dan Elsa  bisa membayangkan tempat itu seperti apa. Orang-orang yang


memiliki kelebihan uang, mencari kesenangan sesaat, dengan bermabuk-mabukkan


di temani wanita-wanita cantik.


Apakah Prita, Yunna dan Elsa tertarik menjadi Waitress, untuk mendapatkan uang


yang lebih banyak dan cepat.


Tunggu lanjutannya ya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2