Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 113 Diantara Anak dan Karya Bag. 2


__ADS_3

Anak-anak perlahan besar dan memiliki dunianya masing-masing. Rakasiwi tergila-gila dengan band seperti dulu ayahnya. Cindy mulai sering mengurung diri di kamar asyik membaca buku cerita.


Agaknya Cindy sama seperti Mardo, senang membaca dan membeli buku cerita-cerita baru.


Setiap hari minggu gadis kecil itu mengajak menemaninya ke toko buku.


"Ayah, hari ini sibuk nggak?"


Kalau sudah bertanya seperti itu, pertanda ada sesuatu. Ada udang di balik batu.


"Nggak, memang kenapa?"


"Antarin sih Yah, beli buku baru, bacaanku sudah habis."


"Antarin?, kalau cuma ngantarin kan ada pak Yuda, dia aja yang ngantar."


"Emm he he he, sekalian nemanin ding."


Kalau Raka masih acuh tak acuh maka Cindy akan berkata lagi, "Aku kan anaknya ayah bukan anaknya pak Yuda.


Nanti orang-orang salah sangka, tapi terserah aja sih. "Aku nanti dikira orang anaknya pak Yuda bukan anak ayah Raka."


"Memang Cindy ingin jadi anaknya pak Yuda ya?"


"Nggak lah! aku mau jadi anak ayah Raka Bramantyo yang hebat dong, temani ayah aja."


Jadilah Raka mengantar Cindy ke toko buku, tentu saja Tria minta ikut bersama kakak dan ayahnya. Dan jika mereka pergi biasanya bisa berjam-jam.


Mardo bete dan tak tau apa yang mesti dilakukan. Rakasiwi dan adiknya Dode pasti setiap hari minggu berkurung di kamar khusus kedap suara. Mereka memukul-mukul alat-alat band milik ayah mereka yang memang sudah diberikan kepada kedua anaknya itu.


Saat sepi seperti itu, Mardo serta merta pergi ke meja kerjanya. Ia pun mengetik dengan lincah dan cepat kata demi kata yang berasal dari pikirannya. Ia tumpahkan seluruhnya kesebuah tulisan indah yang menarik.


Mardo memiliki bakat menulis yang datang ke dalam dirinya sejak kecil.


Mardo tak pernah belajar menulis secara khusus. Bakat otodidaknya dalam hal menulis terbawa sejak ia kecil.


Dan kemampuannya itu terasah dengan banyak mendengar ratusan dongeng dari kakek dan neneknya.

__ADS_1


Kemudian ratusan buku-buku yang dibelikan oleh papi dan mami. Saat dia mulai memiliki uang sendiri Mardo yang pergi ke toko buku untuk mencari buku bacaan sekiranya bisa menambah pengalaman dirinya dalam hal tulis menulis


Ketika ia membaca sekaligus mempelajari cara menulis kisah-kisah yang pernah ia baca dan benar-benar menyimpannya di dalam pikirannya.


Ketika ia menulis otomatis aturan-aturan dalam menulis sudah ia terapkan dengan sendirinya.


Tentu saja tulisannya diterima oleh media-media dan Mardo tidak pernah memikirkan honor dari menulisnya melainkan bahwa ia merasakan kepuasan dan kebahagiaan saat tulisannya dibaca oleh orang-orang.


Cerpen-cerpennya selalu terbit di hari Minggu harian di kota mereka. Cerpen yang unik dan sangat berbeda dengan tema-tema yang ada.


Seperti tulisannya yang berjudul Jalan. Cerpen jalan bercerita tentang orang kaya yang keberatan tanah miliknya dijadikan jalan mondar mandir orang-orang juga kenderaan yang berlalu lalang.


Padahal orang-orang dan kenderaan yang melewati jalan itu adalah mereka yang membeli tanah dari si orang kaya tersebut. Ia marah dan yang menyindir nyindir setiap orang yang lewat bahwa mereka seenaknya saja lewat di jalan itu tanpa pernah memikirkan bahwa dialah yang susah payah membayar pajak jalan tersebut.


Si orang kaya tersebut sering sekali berkoar-koar di halaman rumahnya bahwa orang-orang yang lewat, apa lagi kenderaan di depan rumahnya itu tidak tahu diri!


Tidak tanggap! tak punya pikiran! serta kata-kata kasar yang akhirnya terdengar oleh mereka yang melewati jalan itu.


Pertengkaran pun terjadi, salah satu orang yang mendengar kata-kata orang kaya itu tidak terima.


Mereka bertanya apa maksud si orang kaya tersebut sehingga menyinggung perasaan mereka.


Belakangan si orang kaya tersebut meminta pembayaran bagi siapa saja yang melewati jalan itu setiap bulan, bahkan ia mematoknya, lima ratus bagi pemilik mobil dan tiga ratus bagi yang tidak memiliki kenderaan, ia juga menawarkan jaminan keamanan, karena ia akan berjaga setiap hari di ujung jalan itu.


Beberapa orang yang memang memiliki uang yang berlebih tidak masalah mengeluarkan pajak untuk jalan tersebut. Tetapi beberapa yang lain tidak memperdulikannya. Mereka berpikir bahwa mereka sudah membeli tanah dan kemudian membangun rumah. Otomatis harus ada jalan. Apa mereka harus naik kapal terbang untuk keluar masuk, sungguh keterlaluan sekali orang kaya tersebut.


Sikap orang kaya itu sangat berbeda sekali kepada orang yang rutin membayar untuk jalan tersebut. Dan dengan orang yang tidak pernah mau membayar jalan.


Pada orang yang membayar jalan setiap bulan, wajahnya sumringah, ceria serta tersenyum lebar, mengangguk-anggukan kepalanya dengan hormat.


Tetapi pada mereka yang tidak mau membayar jalan yang mereka lewati setiap hari dia tidak pernah mau menegur bahkan membuang mukanya dan memperlihatkan sikap yang tidak bertetangga.


Dan ternyata cerpen tersebut mendapat tanggapan, ada orang yang mengalami hal tersebut. Dan mereka menanyakan kok bisa penulis tau derita dan penderitaan mereka.


Mardo hanya tersenyum membacanya. Tentu saja dia tidak pernah menjawab hal tersebut karena apa yang ia belikan itu adalah sebuah keluhan yang pernah disampaikan oleh seseorang kepadanya dan dia sendiri sudah lupa siapa yang curhat kepadanya saat itu.


Iya bisa langsung merasakan dan kemudian membayangkan sikap orang kaya tersebut serta orang-orang yang berlalu lalang di jalan itu.

__ADS_1


Sebuah ide tentang kejadian yang dramatis tercipta di kepalanya. Jadilah sebuah cerpen yang berjudul jalan.


Setelah cerpen yang berjudul jalan. Banyak cerpen cerpen lain bermunculan dan menjadi bacaan hari minggu.


Cerpen Bongong Jeumpa yang tulisnya berikutnya berkisah tentang seorang anak perempuan dan ibunya yang pergi ke Aceh untuk mencari ayahnya.


Tak mudah, sebab tanah Aceh sangat asing bagi mereka berdua bahasanya yang sulit dimengerti serta luasnya daerah tersebut membuat keduanya hampir putus Asa.


Hanya sebuah petunjuk untuk mereka, yakni nama daerah tempat tinggal yang diberitahukan laki-laki itu adalah kampung Cut Meutia.


Sebuah lagu menjadi penyemangat ibu dan anak itu. Lagu Bungong Jeumpa.


Setiap kali mereka berhenti mencari maka si anak kecil tersebut mulai bersenandung, ' Bungong jeumpa bungong jeumpa megar di Aceh, Bungong telebeh indah lagoina.


Putih kuneng, mecampur mirah. Na na na.


"Ibu, aku sudah bisa menyanyikan lagu orang sini, Bongong Jeumpa, lagu yang indah ya Bu."


Anak kecil bermata bulat dan jernih itu, berkata ceria saat mengatakan kepada ibunya tentang kepandaiannya menyanyikan lagu yang sangat asing.


Ibunya pun juga tersenyum dan bahagia betapa anak kecil itu dengan mendengarkan sekali saja saat mereka melewati anak-anak yang sedang melaksanakan upacara bendera di halaman sekolah.


Mereka berhenti saat itu seusai turun dari bis yang membawa mereka dari kampung ke kota asing itu.


"Oh kau sungguh pintar nak! nanti kalau kita sudah bertemu ayah dan membawa ayahmu pulang, kau nyanyikanlah lagu Bungong Jeumpa ini di hadapan kakek dan nenek. Mereka pasti terbengong-bengong mendengarnya karena sangat asing ditelinga ha ha ha ha."


Ibu dan anak itu terkekeh melupakan kelelahan mencari ayah di kota yang asing.


Bersambung





__ADS_1


__ADS_2