Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Eposide 240. Mobil Wakil direktur


__ADS_3

Biasa, sahabat yang dekat jika bertemu susah berpisahnya. Sejak pagi Prita berada di rumah Elsa,teman dekatnya sejak kecil. Elsa mengajari menyetir mobil mulai dari teori dan praktek langsung. Dalam beberapa jam Prita sudah menguasai ketrampilan itu. Lapangan yang luas mempercepat lancarnya gadis itu menyetir. Ditambah keinginan yang kuat dari dalam dirinya untuk bisa menguasai kenderaan beroda empat tersebut. Sekejap Prita sudah bisa menguasai tehnik menyetir. Beberapa kali Elsa menyuruhnya memulai dari awal. Sejak dari menghidupkan mesin dan mulai menjalankannya. Berbelok, menghentikan kenderaan semisal di lampu merah. Atau menghentikan untuk parkir. Satu jam berikutnya Elsa juga mengajari maju dan mundur.


"Besok aku datang lagi ya Sa, jangan kapok ya."


Saat keluar dari rumah Elsa setelah menonton film drama korea hingga mereka berdua ketiduran. Prita sangat berharap  Elsa mau mengajarinya sehari lagi.


"Datanglah, aku tidak ada kerjaan jika Sabtu dan Minggu. Aku bisa mengajarimu sampai bisa."


Jawab Elsa pasti. Sembari mengikuti Prita menuju motor gede yang terparkir di bawah naungan pohon bougenvil yang menjalar ke atas pagar.


"Terima kasih say, jika nanti mobilnya sudah ditanganku aku ajak kau dan Yundy keluar kota. Test drive he he he."


"Ok, siap."


"Baiklah aku pulang, terima kasih pada semuanya hari ini."


Prita memeluk Elsa dan mereka cipika dan cipiki. Barulah Prita menaiki motor gede, kemudian terdengar deru mesinnya. Sekejap Prita telah menghilang dari pandangan Elsa.


Bagaimana pun Prita adalah gadis yang beruntung. Ia beberapa kali menawarkan pekerjaan di perusahaannya. Tapi Prita menolak. Ia yakin akan menemukan pekerjaan dan impiannya tercapai. Terbukti Prita langsung diterima di sebuah perusahaan yang besar. Tak tanggung-tanggung ia langsung menduduki wakil direktur. Prita selalu membuat Elsa dan Yunna terkagum-kagum oleh sebuah aura keberuntungan. Dan mereka berdua menulari keberuntungan itu. Kalau bukan karena Prita, dirinya mungkin masih bekerja sebagai pramusaji di cafe Pria Idola.


"Prita bagaimana pun aku sangat berterima kasih padamu."


Elsa menunduk. Ia teringat pada saat dikenalkan dengan ayah Jae. Mereka bertiga datang ke rumah megah itu dan berbincang-bincang. Hanya sekedar mengenalkan keduanya. Siapa yang mengira hubungan itu berlanjut. Ayah Jae yang semula menginginkan Prita mengalihkannya pada Elsa. Tetapi Yunna mendahului dengan keberaniannya bahwa ia mau menjadi istri laki-laki setengah baya itu.


Sempat merasa kesal dengan kehidupannya yang tidak seberuntung Prita dan Yunna. Ia berusaha merubah dirinya menjadi Elsa yang berbeda. Ia meninggalkan Sifat pemalu dan perasaan rendah diri yang ia miliki. Berkat perubahan dirinya ia bahkan berani mulai mencari pria yang cocok untuknya.


Elsa diam-diam sempat menyukai bos nya di cafe Pria idola. Matanya tak berkedip saat sang bos muda mengajak beberapa orang untuk bertatap muka. Ia terpesona pada laki-laki itu. Sempat terobsesi padanya. Hingga ia tersentak. Bahwa ia pernah bertemu sebelumnya. Laki-laki muda bosnya itu adalah kekasih Prita. Ia menyadari hal tersebut saat melihat foto-foto di pernikahan Yunna dan Ayah Jae. Di sana ada beberapa foto Prita bersamanya. Serta merta ia memusnahkan impian tersebut.


Hingga akhirnya tragedi kelahiran Yundy. Tiba-tiba Ayah Jae melibatkannya dan Prita. Lalu keadaannya berubah. Ia menyesali kejadian itu sebab ia dan Prita kehilangan sahabat dekat. Mereka semua tak bisa berbuat apa-apa. Ayah Jae dalang semuanya akhirnya juga mati dengan cara yang aneh.


Ah! Elsa mengibaskan rambut panjangnya. Ia tak suka mengingat hal itu. Sekarang adalah kehidupannya bersama putra Jae dan Yunna. Ia menyibukkan diri bersama bocah itu. Berusaha menghilangkan sedikit-demi sedikit bayangan ayah Jae dan Yunna. Ia telah bekerja keras untuk merubah semuanya. Hingga tidak ada sedikit pun jejak ayah Jae dan Yunna.  Semua demi masa depan Yundy, putri sahabat dekatnya. Ia bahkan sampai melupakan masa depan dirinya sendiri.


***

__ADS_1


Seminggu berikutnya Prita telah lancar mengenderai mobil.  Beberapa kali ia memberanikan diri rental mobil hanya untuk memperlancar menyetirnya. Ia telah menghemat sejuta lebih untuk belajar menyetir di lembaga kursus. Selanjutnya ia mencari tahu membuat sim yang tidak ribet dan banyak membuang waktu. Elsa yang memberitahu dirinya tentang seorang wanita yang bekerja di satlantas polres. Cukup memberikan uang sebesar yang diminta, lalu mengisi formulir dan memberikan ktp, tak sampai satu jam pembuatan sim selesai.


Prita meminta ijin kantor untuk mengurus sesuatu, sebab sabtu kantor polres tutup. Dia tak bilang sedang membuat sim. Nanti ketahuan sekali betapa ia menunggu dan berharap kenderaan yang dijanjikan tersebut.  Gadis itu berdebar dan was-was. Sebab sejak obrolan di cafe itu Boy tak lagi pernah membicarakannya. Membuat Prita senewen. Ingin menanyakannya ia malu. Tiada lain kecuali hanya bersabar dan menyiapkan dirinya.


Bay dan pak Emir sendiri sudah mengurusnya. Tetapi warna permintaan Prita belum tersedia. Menunggu untuk beberapa saat. Boy sengaja tak memberitahu gadis itu untuk membuatnya menunggu. Ia tersenyum beberapa kali sembari berucap dalam hatinya, 'selamat menunggu hei gadis'


Hampir sebulan, tetapi belum ada tanda-tanda mengenai mobil tersebut. Prita menyimpan rasa sewot dalam dirinya.


"Apa maksudnya mengatakan hal mengenai fasilitas mobil? hanya pura-pura saja?"


Tiap kali bertemua Boy, ia ingin sekali bertanya, apakah ia mendapatkan mobilnya atau hanya sekedar


main-main. Kenapa Boy memperlakukannya seperti itu. Ia akan mengucapkannya tetapi tak keluar dari ujung lidahnya. Membuat dirinya kesal.


Hingga awal bulan berikutnya tiba-tiba Boy mengajaknya ke tempat parkir. Di sana ada papan bertuliskan parkir wakil direktur. Persis di sebelah Direktur. Prita berdebar-debar ia mengigit bibirnya, untuk apa papan nama parkir itu sedangkan mobilnya saja tak ada. Prita baru akan protes, ketika bunyi klakson membuat jantungnya hampir putus.


Ia melihat seorang pria muda dan pak Emir di dalam mobil tersebut. Keduanya turun dengan senyum lebar.


"Prita mobilnya baru saja tersedia dan langsung dibawa ke sini."


Prita melebarkan matanya, dan memegangi dadanya yang berguncang.


"Selamat, kau mendapatkan mobilmu."


"Oh! seperti mimpi."


"Apa kau bisa membawanya pulang? lalu apakah rumahmu ada garasi untuk menyimpan mobil ini?"


Serentetan kata-kata dari mulut Boy, terdengar sinis. Tetapi tak menyakitkan lagi ia sudah terbiasa mendengar kata-kata lugas dan dingin dari mulut Boy.


"Lihat saja nanti."


Jawab gadis itu melengos. Ia menerima kunci mobil serta surat-surat atas namanya.

__ADS_1


"Selamat Prita, semoga kian menambah semangat untuk bekerja lebih giat lagi."


"Iya pak Emir, terima kasih sekali lagi."


"Kau tidak berterima kasih pada orang yang memberimu mobil itu? tanpa persetujuanku mobil tak ada."


Prita menolehi laki-laki yang berdiri tak jauh darinya.


"Terima kasih pak direktur yang baik hati, mobil ini akan lebih mempercepat pekerjaanku dalam memperkenalkan perusahaan ini kepada calon klien."


Prita membungkukkan tubuhnya. Barulah Boy melebarkan bibirnya.


"Aku pegang janjimu, kalau kinerjamu tidak ada, mobil aku tarik."


"Hem, kayak debt. colektor aja pak direktur."


Prita memanjunkan bibirnya.


"Seenaknya saja!"


Boy mengomel. Ia lalu meminta kunci dari tangan Prita


"Sini biar aku parkirkan, jangan sampai kau menyenggol mobil kesayanganku."


Prita memberikan kunci mobilnya. Ia pun tak pede jika ada ada beberapa orang yang melihatnya mengenderai mobil baru tersebut. Cantik sekali mobil berwarna hitam itu. Elegan. Ia menyaksikan Boy menghidupkan mobilnya dan mulai menjalankannya memasuki tempat parkir  wakil direktur.


 


 


 


Bersambung

__ADS_1


 


 


__ADS_2