
Mardo menyusuri jalan menuju ke sebuah tempat. Bibirnya tersenyum, dan mata dibalik
kacamata itu mengawasi jalanan. Rencana hari ini adalah ke kantor, berbelanja dan ke spa.
Ia mematikan handphonenya. Sisi usil dan pemberontaknya muncul. Heh, kembali ia tersenyum.
Membayangkan Richi menunggunya.
"Gila, apa Richi sudah gila?"
Kepalanya menggeleng-geleng. Tak mungkin ia menyetujui perbuatan gila itu. Yang benar saja!
Nama baik, anak-anak, serta suaminya dipertaruhkan. Sebab itu Mardo memutuskan mematikan
handphone dan melakukan seperti yang ia rencanakan.
Kebetulan di kantor ada yang menunggu Mardo. Seorang penulis yang ingin berkonsultasi
dengannya.
"Bu, ada tamu menunggu ibu."
Mardo mengangguk, begitu karyawannya mengatakan tentang tamu tersebut. Setelah Mardo
masuk ke ruangannya dan menanda tanggani beberapa surat. Barulah ia keluar menemui
tamu tersebut.
"Oh ibu, saya pikir siapa?"
"Oh iya Bu Mardo, kebetulan saya sedang di dekat sini, jadi saya mampir bu."
"Iya, senang bertemu dengan ibu, ada yang bisa saya bantu Bu?"
Perempuan itu tersenyum. Kemudian ia mengutarakan maksud kedatangannya. Ia sudah
mendapatkan dp dari tulisan yang ia kirimkan ke penerbit tersebut. Dan menanyakan kapan
realisasi bukunya bisa terbit?
Mardo tersenyum, lalu memanggil pegawainya dan menanyakan tentang kontrak dengan ibu
tersebut. Sesaat Mardo dan pegawainya memeriksa dan kemudian memberikan jawaban bahwa
bukunya baru akan terbit bulan September. Perempuan itu tampak senang, artinya tinggal beberapa
bulan lagi. Ia kemudian menanyakan kemungkinan untuk membuat buku baru. Sekiranya ada tema
yang diinginkan oleh penerbit.
Mardo memberikan beberapa pilihan, tetapi jangan terlalu berharap sebab saat ini para penulis
tengah beralih menulis di platform. Meski mereka tak memungkiri ada pangsa pasar penggemar
buku . Tidak ada tema kebutuhan khusus. Penerbitnya tengah menjajagi kemungkinan-kemungkinan
yang tak terduga. Mardo hanya menyarankan menulis saja terus sesuai yang dikuasai.
"Baiklah Bu, terima kasih atas waktunya, semoga lancar hingga kebulan September ya Bu."
Aamiin yra.
Perempuan itu lalu pamit. Dan Mardo kembali ke ruangannya, menulis dan membaca
sesuatu. Kemudian ia pamit pada pegawainya. Mardo meluncur ke salon dan ia ingin
__ADS_1
menenangkan dirinya dengan pijat dan lulur. Ia sama sekali tak memikirkan tentang
Richi yang sangat kesal menunggunya.
"Bregsek! Dia mempermainkan aku! lihat saja nanti."
Laki-laki itu meremas-remas kepalanya yang terasa pusing dan berkunang-kunang.
Kemarahannya membuat darahnya bergejolak. Ia lalu keluar dari tempat itu dan pergi mengenderai
mobilnya. Tetapi tiba-tiba handphonenya berbunyi dan ia terkejut karena Laura istrinya
menghubunginya.
Perempuan itu ada di bandara dan memintanya agar menjemput. Richi yang tidak ada tujuan
akhirnya menyetujuinya.
"Baik aku menjemputmu, tunggu saja!"
Laura tersenyum. Ia memutuskan untuk pulang dan bicara empat mata dengan Richi. Ia selanjutnya
tidak akan sering pulang ke tempat orang tuanya. apa lagi sendirian. Mommy sangat marah ketika
Laura menceritakan Richi ingin bercerai. Semua kesalahan Laura yang selalu mengikuti egonya.
Seharusnya ia memikirkan anak-anaknya. Jangan sampai Laura menyesal belakangan.
"Honey, forgetme."
Laura berlari menyongsong Richi yang menunggunya di depan pintu keluar.
Sedang laki-laki itu hanya tersenyum dingin.
"Aku menelpon ke rumah, kata Papi kamu sedang di Jakarta."
Hal itu membuat Laura tak enak hati. Ia mengingat semua pertengkaran terakhir mereka.
"Jangan pulang karena aku akan bercerai denganmu!"
Saat itu Richi sangat marah. Wajahnya membara dan jemarinya mengepal kencang. Ia melampiaskannya
dengan menyambar sebuah pot bunga dan melemparkannya pada Laura. Untungnya hanya mengenai
kakinya. Ia buru-buru masuk ke mobil dan meninggalkan laki-laki itu dalam kemarahan.
Mereka sampai ke apartemen. Laura menaro kopernya sementara Richi menghempaskan tubuhnya
ke sofa. Ia meraih remote dan menghidupkan tivi. Ia tak memperdulikan Laura. Perempuan itu lantas
menyibukkan dirinya dengan pergi ke kamar mandi dan mengganti bajunya. Tak lama Laura keluar
dari kamar mandi. Wangi yang harum tercium oleh Richi. Ia menoleh sesaat.Laura mengenakan tshir
bunga-bunga yang bahannya halus lembut mengikuti tubuh. Tshit sehari-hari yang nyaman. Berleher
rendah dan tidak berlengan. Sehingga tubuh Laura tampak menggoda.
Richi beranjak mengambil sesuatu di sebuah tempat, menuangnya ke dalam gelas dan meneguknya.
Laki-laki itu semasa kesendiriannya di negeri orang sering bersama teman-temannya bersenang
dan minum di bar yang bertebaran. Richi tau minuman itu haram, dan papinya pasti sangat marah jika
mengetahui ia minum. Semula hanya sedikit, dan ingin tahu. Tetapi minuman itu membuatnya merasa
__ADS_1
nyaman dan kemudian mulai menyimpannya sebotol. Kemudian ia memesannya lagi sebotol, sedikit
demi sedikit, dan menjadi kebiasaan.
Rasa terbakar mulai menyerangnya dan ia memandangi Laura yang sedang menyisir rambutnya.
Richi mendekat dan memeluknya dari belakang. Laura sedikit tersenyum. Tetapi akhirnya ia meletakkan
sisirnya dan memegang lengan Richi.
"Apa kau merindukan aku?"
Gumam Laura? dan Richi menjawabnya dengan menarik tangan Laura ke tempat tidur. Ia membuka
kemejanya dan menaiki tempat tidur untuk menindih Laura. Sesaat terjadi pergumulan antara laki-laki
dan perempuan di atas tempat tidur. Namun berakhir dengan Richi mencekik leher jenjang indah milik
Laura.
Oh!
Laura merasakan napasnya hampir putus oleh jepitan tangan Richi di lehernya. Laura menggelepar-gelepar
berusaha melawan. Sebuah tendangan keras keselangkangan membuat Richi terjengkang dan kesakitan.
Laura terbatuk, ia menghirup udara secepatnya. Sebelum Richi menyerangnya lagi ia meraup bajunya
dan berlari ke pintu. Terdngar suara tawa.
"Aku sudah bilang, sekali kau keluar lagi dari kehidupanku aku tak akan menerimamu! kau ingat
tidak?"
Richi berhasil menarik rambutnya, dan mendorongnya keras ke dinding. Rasa sakit yang amat sangat
membuat Laura roboh. Kepalanya terbentur keras pada tembok. Tetapi Richi tanpa kasihan menariknya
ke tengah ruangan. memandangi tubuh telanjang Laura, ia kembali menindih dan mengoyang Laura
yang sudah mulai melemah. Puas memperlakukan Laura sesuka hatinya, ia tertawa terbahak-bahak
di atas tubuh istrinya itu. Dengan sisa tenaga yang terakhir, Laura berhasil meraih botol minuman yang
tergeletak di lantai. Ia memukul sekuat tenaganya ke wajah laki-laki itu.
Aaaaaaaaargh!
Richi hesteris dan jatuh terkapar, dahinya mengucur darah segar. Laura mendorong tubuh laki-laki
itu yang melemah dan ambruk di atas tubuhnya. Laura berusaha menggerakkan tubuhnya. Ia melihat
Richi tergletak diam. Ia ketakutan, lantas dengan panik memakai pakaiannya dan berlari keluar
meminta bantuan. Seorang satpam yang sedang bertugas di sekitar apartemen mendengar teriakkan
itu dan berlari. Ia merasa ngeri melihat perempuan yang bersimbah darah. Tubuh itu juga akhirnya
ambruk di depan satpam.
Bersambung
Hello, othor berterima kasih sekali karena dukungan teman-teman semua.
__ADS_1
Tetap jangan lupa kasih Pria Idola like, komen, vote serta bintan lima ya gaes
othor sekali lagi mengucapkan terima kasih.