Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 195. Hampir Saja Menjadi Kekasih


__ADS_3

Menjelang ujian semester satu di kelas dua mereka banyak kegiatan di luar sekolah. Mardo tak akan pernah lupa kejadian di kolam renang.  Sehari sebelumnya ia, Sashi, Emely dan putri janjian berangkat bareng ke gelangang remaja Jakarta Timur. Itu adalah tempat mereka jika ada kelas olah raga. Mulai dari renang, basket, tenis meja serta berliuk-liuk dengan sepatu roda. Sashi bilang kalau mau bermain sepatu roda mesti datang lebih cepat jadi mereka puas bermain  di gelanggang tersebut.


Jadilah Mardo menyiapkan sepatu rodanya dan menaro di dalam tas. Perlengkapan berenang juga sudah siap. Selanjutnya ia naik beca ke halte bis. Sashi, Putri dan Emely sudah menunggu. Bukan hanya mereka tapi ada


Satria dan teman-temannya juga. Mereka lantas berebut menaiki bis yang datang. Anak perempuan beruntung mendapat tempat duduk. Sedangkan Satria dan teman-temannya berdiri di tengah-tengah. Ada pegangan tangan di atas sehingga mereka aman jika bis bergerak atau ngerem mendadak.


Suka duka naik metro mini di Jakarta ya begitu. Jika tak menunggu  di halte sudah pasti tak mendapat bangku. Bergelantungan di pintu sudah menjadi pemandangan hari-hari di Jakarta. Sebab metro mini saat itu adalah


kenderaan murah milik masyarakan dan anak sekolah.


"Kramat jati pinggir Pir."


Satria melihat ibu yang duduk di dekat Mardo hendak turun. Ia buru-buru mendekat untuk menggantikannya. Terlebih dulu ia menaro tasnya dipangkuan Mardo.


"Suittt! suitt!"


Teman-teman Satria yang berada  di belakang bersuit jahil. Sebab melihat Satria sudah duduk di sebelah Mardo. Sedangkan si ibu sudah turun. Satria pura-pura tak mendengar gerumit serta cicit teman-temannya. Ia sedang meredakan jantungnya yang berdebar kencang. Baru sekali ini ia duduk sedekat ini dengan Mardo. Satria salah tingkah. Sementara bis sudah melaju lagi dengan kencang. Ia mengambil tasnya yang sempat di pangku oleh gadis itu.


"Terima kasih ya Do."


Satria senyum-senyum sementara di belakang teman-temannya masih menggoda.


"Do, jangan mau digombalin play boy cap kapak ha ha ha."


Satria menoleh ke belakang sambil memperlihatkan bogem tangannya. Ia mengancam agar anak-anak tak usil.


Mardo sendiri sama grogi dan serba salah. Ia juga belum pernah dekat dengan laki-laki. Saking groginya ia sampai-sampai mendengar Satria memanggil namanya dan ia menoleh sambil menjawab.


"Apa Sat?"


Laki-laki itu sempat terbengong juga, tiba-tiba Mardo menolehinya dan menatapnya. Terpaksa Satria mengecoh dengan menolehi teman-temannya.

__ADS_1


"Itu di belakang pada norak banget he he he, kayak nggak pernah lihat orang pacaran aja."


Satria bergumam tak jelas. Mardo membuang wajahnya melihat ke luar. Memang mereka pacaran? seenaknya aja!


Tetapi Mardo mesem, hati gadis remaja itu bersemi indah, bibirnya mengukir senyum yang disembunyikan. Hingga mereka sampai di gelangang. Benar saja, suasana tidak terlalu ramai.


"Satria, Candra kami ke dalam ya, mau main sepatu roda."


Laki-laki muda itu menatap Mardo dan teman-temannya  yang memasuki gedung bagian kanan. Satria tidak tau kalau Mardo dan teman-temannya akan bermain sepatu roda. Ia berencana menyusul untuk melihat gadis-gadis itu. Ia mendapat tugas mengkoordinir teman-temannya. Satria menunggu buku absen dari  seseorang yang berada di dalam kolam renang.


Sementara Mardo dan teman-temannya sudah menaro tas punggung mereka di sebuah tempat dan mengeluarkan sepatu roda. Tak sabar rasanya meluncur dan meliuk-liuk memutari gedung. Rasanya tak terlukiskan bak seorang penari balet. Sampai-sampai bermain sepatu roda kadang menjadi candu bagi mereka. Setiap hari minggu di pagi hari mereka berempat sering bermain menghabiskan waktu di taman mini. Meluncur bergantian, mengebut dengan mendorong tubuh lalu berputar.


"Asyikkk!"


Keempat gadis itu berteriak-teriak dan tertawa. Mereka bergantian meluncur tanpa rasa takut. Karena mereka sudah sering bermain dan berlatih  jadinya sepatu itu seperti sudah menyatu. Berjalan, berbelok, berhenti serta mengayunkan tubuh sembari meluncur sangat mudah dilakukan.


Mardo dan Sashi berpegangan tangan, keduanya meluncur ke depan lalu berbelok dengan cepat. Putri dan Emily menyusul  di belakang. Mereka seling berkejaran.


Satria sudah duduk menonton dan tersenyum. Mardo menggoes sepatunya lalu menghentikan permainan di dekat tas. Ia sudah berkeringat. Ia malu bermain sepatu roda di depan Satria.


"Kok sudah mainnya Do?."


"Iya, sudah cape Sat. Kamu mau main? ini pakai saja sepatuku."


Tapi Satria menolak, ia belum pernah bermain sepatu roda. Tetapi melihat gadis-gadis itu bermain sepatu roda kok jadinya pengen bisa juga. Sashi, Putri dan Emely  juga berhenti.


"Sat mau coba."


"Gimana sih?"


Terlihat keinginannya yang besar. Mereka mendorong Satria untuk belajar Roller Skate. Berhubung masih cukup waktu akhirnya Satria mau mencoba. Apa lagi ada Candra dan Bambang juga. Apa yang terjadi? kaki Satria meluncur ke sana kemari tak terkendali hingga ia jatuh tertelentang. Ia bersungut-sungut.

__ADS_1


"Kok kalian bisa?"


Ia bangun menahan rasa sakit. Sashi mengajari selangkah demi selangkah. Yang terpenting adalah menahan keseimbangan tubuh. Hampir bisa tetapi waktu untuk ujian renang segera dimulai. Mereka buru-buru menyimpan sepatu roda dan berlarian ke kolan renang. Satria terpincang-pincang sebab kaki dan punggungnya sakit.


 


Pak Kris guru olah raga sudah berada di kolam saat mereka tiba. Sesaat melakukan pemanasan dan segera melakukan ujian satu persatu. Karena mereka sudah berlatih minggu-minggu sebelumnya ujian berlangsung dengan mudah dan lancar. Mereka semua mendapat nilai delapan dan sembilan.


Kemudian pak Kris pulang, membiarkan anak-anak menghabiskan waktu di kolam renang. Sesaat Mardo terhanyut oleh air yang hangat. Ia berenang kesana dan kemari. Mardo berpikir, satu putaran lagi ia akan keluar dari kolam renang. Bibirnya sudah biru sebab sudah terlalu lama di kolam.


"Arghhh, tolong!"


Mardo terkejut melihat seseorang yang timbul tenggelam tak jauh darinya. Yang sering terjadi adalah kram yang mengakibatkan seseorang gagal berenang. Gadis itu serta merta mendorong tubuhnya dan meraih tubuh orang tersebut. Ia berusaha membawa ketepi dan berhasil menggulingkan tubuh itu ke tepi. Kejadian itu pun terjadi, Saat ia berada di atas tubuh Satria dan memompa agar air yang tertelah keluar. Karena tak berhasil ia nekat mendekatkan wajahnya ke wajah Satria. Tiba-tiba mata yang terpejam itu terbuka. Keduanya sama terkejut.


Satria lantas bangun dan berlari menghilang meninggalkan Mardo yang tercekat.


Hampir saja Mardo menyentuh bibir Satria. Kalau itu terjadi maka janjinya adalah siapa yang mendapatkan ciuman pertamanya adalah suaminya. Ha ha ha, untungnya tidak terjadi. Justru Rakalah yang mencuri ciuman pertamanya dan seperti janjinya menjadi suaminya.


 


 


 


 


 


 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2