
Ketika ia sampai di rumah mama sudah siuman, tetangga depan rumah masih menungguinya.
Mama menatapnya dengan penuh rasa bersalah. Prita diam saja, ia berjalan ke meja makan
menuang minuman dan menghirupnya.
"Laki-laki itu tidak baik untuk mama! ia memukulimu karena tak ada uang lagi, iya kan."
Prita sekarang bisa memarahi mamanya, karena sudah terbukti hitungan hari saja laki-laki
itu telah menguras habis mamanya.
"Mama tau uangnya untuk apa? membayar perempuan dan minum-minum."
Ibunya tertunduk.
"Aku sudah memberinya pelajaran, dan aku harap ia mengingat itu seumur hidupnya,"
Mama mengangkat kepalanya. "Kau! a-apa yang kau lakukan? jangan Nak! mama tidak
apa-apa."
"Tidak apa-apa bagaimana! ibu sampai tak sadarkan diri saking dia keras memukul ibu!"
"Sayang, dia itu jahat!, sebaiknya kau cepat kembali ke Semarang. Jangan berurusan
dengannya."
"Iya minggu depan aku kembali, lebih baik aku di kos an dari pada melihat ibu
menderita seperti ini."
"Tidak sayang! itu terlalu lama, besok kau harus kembali!"
Prita menatap mata ibunya, "Aku tidak takut padanya Ma! aku justru mencemaskan
mama, aku sudah mengancamnya agar tak lagi berani dan lancang menyakitimu."
Perempuan itu malah terisak-isak, menyesali pertemuannya dengan Abidin. Prita
anaknya benar, mereka baru saja merasakan kebersamaan berdua, kedekatan
ibu dan anak, suasana menyenangkan berdua di rumah. Risa mendekap mulutnya
merasa sangat menyesal.
yang
"Maafkan mama Prita, mama terlalu mengikuti nafsu, tak melihat bahwa laki-laki
itu bukan suami yang baik apa lagi seorang bapak! mama menyesal."
Prita hanya terdiam, memang benarlah penyesalan selalu datang di akhir.
Tidak pernah berada di bagian depan. Dengan begitu jangan sampai terjadi
masuk ke lubang yang sama. Manusia belajar dari sebuah pengalaman. Itu
pelajaran yang ia ambil saat ini. Dan jangan terlalu cepat menilai seseorang
itu baik atau jahat. Perlu proses yang panjang hingga memutuskan menikah.
Mama baru beberapa hari kenal Abidin sudah menikah. Sekarang baru
kelihatan belangnya.
"Aku harus bersiap mengajar sekarang, mama tidak apa-apa ditinggal?"
Prita sebenar mencemaskan perempuan ibunya, ia takut Abidin
pulang dan kembali meluapkan kemarahannya pada mama.
"Mama bisa menjaga diri, kalau ada apa-apa mama nanti minta tolong
tetangga."
"Baik Ma! aku juga harus mempersiapkan perpisahanku dengan anak-anak
les privatku. Agar mereka bisa belajar mandiri."
Prita masuk ke kamarnya, tubuhnya perlu disegarkan dengan siraman air
dingin, kemudian memakai kemeja yang lembut dan celana jeansnya. Setelah
memulas sedikit wajah dan bibirnya serta mengoleskan minyak wangi kesukaannya
Ia bergegas ke rumah keluarga Bramantyo.
Bunyi motornya yang besar itu terdengar oleh pak Didin yang membukakan
pintu. Prita segera masuk dan memarkir di tempat biasa. Sekarang Prita
tidak lagi diantar tetapi telah berani sendiri. Biasanya Tria dan Dode sudah
menunggu di ruang tamu dan segera bergegas mengambil tas dan pergi
ke ruangan belajar.
Tapi hanya Rakasiwi yang sedang duduk di sana, menonton dan bersandar
__ADS_1
di sofa, Prita mengucapkan salam dan laki-laki muda itu menoleh padanya.
"He Prita! kau sudah datang ya."
Rakasiwi bangkit, "Tria! Tria!"
Tetapi tidak ada sahutan, akhirnya Rakasiwi bergegas ke atas dan menyuruh
Prita menunggu di ruang keluarga. Tak lama terdengar suara-suara kedua
anak itu.
"Sudah tau sejam segini les, malah mainan game gimana sih."
Rakasiwi mengomeli Tria dan Dode, yang seperti biasa berdebat.
"Siapa yang main game, habis mandi tau!"
"Kenapa mandinya malam-malam? dasar malas!"
"Ich lagian kakak Rakasiwi kenapa jadi marah-marah, orang kita juga udah
mau turun dari tadi."
"Kalian ini kalau dibilangin ya, mau dicium apha heh."
Serta merta Tria dan Dode berlarian menghindar.
"Siapa yang mau dicium embe he he he."
"Enak aja embe!"
Kedua adiknya itu tertawa-tawa kegelian oleh kemarahan Rakasiwi.
Memang Rakasiwi sedang memelihara sedikit jenggot di dagunya, dan bunda
bilang ngapain melihara jenggot seperti embe saja, dan sekarang ia
dibilang oleh adik-adiknya embek.
Prita hanya tersenyum mendengar candaan bersaudara itu, ia lalu bersiap
dan beranjak ke tempat belajar. Sedang Rakasiwi kembali menonton tivi
di ruang keluarga. Ia juga sedang menunggu Alan dan Alfreddo. Mereka ingin
memastikan perjalanan ke sebuah kota untuk mencari pemasok tetap
buah-buahan. Terutama buah mangga gincu dan gedong.
Kalau tidak ada halangan mereka bertiga akan ke pergi ke tempat
gincu di daerahnya.
Sudah lama juga Edo tak pulang kampung, karena itu dia sangat senang
dan antusias sebab Alan dan Rakasiwi sekalian ingin melihat kota itu
dan mangga gincu.
Saat sedang tenggelam dengan tontonannya terdengar suara kenderaan, hemm
pasti mereka! Rakasiwi bangun dari duduknya dan beranjak ke depan, ia melalui
kolam dan ruang belajar. Terdengar suara Prita dan Tria yang sedang mengerjakan
soal-soal. Ruang tamu di bagian depan jarang sekali di buka, Rakasiwi hanya ingin
melihat Prita dan adik-adiknya saja dan memiliki alasan untuk kedepan membuka
pintu. Padahal biasanya lewat samping.
"Suttt, yang benar belajarnya ya!"
Rakasiwi menyempatkan mampir di pintu ruangan les privat adik-adiknya. Prita
menolehi dan bertemu tatap dengan Rakasiwi.
"Kakak Rakasiwi sana, jangan menganggu!"
"Cuman lewat doang, iklan! iklan!"
"Uh, sana! atau mau gulet?"
Dode sudah ancang-ancang, abang dan adik itu kalau sedang kumat kerjanya
bergelut sampai cape, mulai dari ruangan di atas hingga ke bawah mereka terus
bergelut sembari ketawa. Kakak Rakasiwi usil dan suka mengganggu Dode dan
adiknya itu cengeng serta manja.
"Belajar sana, gulet! gulet!, kak Prita kalau nakal di cubit aja kak."
Prita hanya tersenyum, "Mana ada yang nakal ya Dek."
"Wee, nggak ada yang nakal, lalu terdengar suara salam, Dode berlari
mendahului kakaknya Rakasiwi, "He! belajar sana, biar kak Raka yang
__ADS_1
buka."
Tak lama terdengar suara-suara bercakap di ruang tamu. Alan, Edo dan
Rakasiwi merencanakan keberangkatan mereka.
"Berapa jam Do, dari Jakarta ke tempat opamu?"
Terdengar Rakasiwi dan teman-temannya yang akan melewati ruangan
tempat les privat. Agaknya mereka akan bersantai-santai di ruang keluarga
atau naik ke atas di kamar Rakasiwi
"Kak Rakasiwi mondar mandir aja! ganggu orang belajar tau!"
Dode menghadang di depan pintu.
Alan langsung tertawa, "Biasa dia Dek kayak setrikaan ha ha ha."
Rakasiwi langsung membawa Alan dan Edo ke ruang keluarga, dan mengobrol
sambil menikmati makanan. Tiba-tiba Cindy turun dan tersenyum-senyum
ceria, "Mau ke luar kota ya? ikut dong."
"Apaan sih? kita mau kerja kok bukan jalan-jalan."
Cindy saling tatap dengan Edo, gadis cantik dan lucu itu jika ada Edo pasti dia
menampakan dirinya, agaknya kalem dan diamnya sahabat kakaknya itu membuat
Cindy penasaran.
"Kak Alan mau dibuatin minum apa?"
"Apa aja Di, Edo kok nggak ditawarin, cian dong."
Edo udah senyum tipis saja, "Yang tua dulu aja ya Di,"
"Tua? enak aja."
"Tenang aja nanti Cindy buatin minuman yang enak, udah tinggal angkut aja kok."
"Asyik."
Alan teriak.
Tak lama Cindy datang membawa empat gelas minuman yang sepertinya segar dan
menggugah selera. Ternyata enak sekali. "Ich enak Di, dari buah apa nih, manis, ada
segarnya, trus ada rasa apa nih, lembut-lembut."
"Ini minuman kreasi aku, jus asam, manis, cinta."
"Waduh ada cintanya pantasan mantap."
"Iya dong he he he." Sambil melirik pada Edo."
"Buah apa nih Di, sungguhan enak loh."
"He he he, jus wortel dan tomat doang kok!"
Saat mereka sedang asyik menikmati minuman tersebut, Tria, Dode dan Prita
keluar karena sudah selesai, Tria langsung minta minum.
"Kakak Di, aku mau jusnya."
Semua menoleh, dan Alan terkejut melihat gadis yang bersama Tria dan Dode.
Rakasiwi buru-buru memanggil gadis itu yang akan pulang.
"Prita! sini sebentar!, minum dulu pasti haus, Di masih ada minumannya?"
"Masih, sebentar!"
Cindy beranjak ke belakang mengambil gelas-gelas dan membawa ke belakang.
"Prita, kenalin teman aku, Alan dan Edo."
Alan masih terbengong, "Beberapa kali kita sudah bertemu."
"Prita guru les Tria dan Dode Bro."
Oh! Alan tak bisa berkata apa-apa. Setelah berbincang sesaat Prita pamit karena
sudah malam.
Bersambung
Hello terima kasih sudah membaca dan memberi Like, komen dan vote
author sangat berterima kasih.
__ADS_1