Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 117 Gadis Tomboy


__ADS_3

Prita mengeluarkan motor honda peninggalan ayahnya dari ruang belakang. Ia bersihkan hingga berkilau. Tidak ada kerusakkan. Ibunya bercerita bahwa ia menyimpan motor itu di tempat tersembunyi, paman-paman Prita dan banyak dari keluarganya menginginkan motor itu, tetapi ibu mempertahannya untuk kelak diberikan pada Prita. Hanya itulah barang berharga peninggalan ayahnya.


Prita menyukai motor tersebut apalagi merupakan satu-satunya benda yang mengingatkannya pada ayahnya. Hal yang membuat Prita terharu ternyata. Setelah selama ini hubungan ibu dan anak tiada pernah ada manisnya, baru kali itulah Prita tercekat, tak percaya pada kenyataan di depan matanya. Ibunya yang bertampang galak dan menyeramkan mengajaknya ke belakang. Ia membuka balutan bermeter-meter kain hingga tampaklah sebuah motor yang sangat gagah.


Di balik ketidakpedulian dan keacuhan ibunya pada dirinya selama ini ada juga yang ingin diberikannya kepada Prita yakni motor tersebut.


Meski pun itu adalah motor pria tetapi Prita tidak masalah. Sudah lama ia ingin memiliki sebuah motor untuk pergi kemana saja yang ingin ia datangi, tetapi tak semudah membalikkan telapak tangan. Penghasilannya tak seberapa, kadang habis untuk makanan dan transport saja. Prita tak pernah menceritakan betapa seringnya ia berpuasa karena tidak ada uang untuk membeli makanan. Tubuhnya begitu ramping akibat sering berpuasa.Meski ia merasa lebih sehat.


Tetangga mereka yang memiliki bengkel berbaik hati memeriksa axi, oli yang telah kering, dan memberikan tune up cuma-cuma. Ia suka juga


pada motor Tiger tersebut.



"Wuihhh keren banget nih, motor bagus, gagah banget."


Si tukang bengkel terperangah saat Prita membawanya ke sana. Dan mememinta tolong untuk memeriksa motor tersebut dengan pesan jangan mahal-mahal.


Beruntung Prita justru mendapatkan tune up gratis, mengingat ayah gadis itu adalah teman baik si tukang bengkel.


"Terima kasih Paman, semoga Allah membalas kebaikanmu."


Prita mendoakan tukang bengkel dan memasukkan kembali uangnya ke dompet. Ia memang harus menghemat bahkan harus mencari uang untuk kembali ke kampusnya sebulan lagi.


Dia mulai mencoba motor tersebut. Menghidupkan mesinnya dan akhirnya menjalankannya dengan hati-hati dan pelan. Untungnya sejak smp ia sudah bisa naik motor. Dia menggunakan motor Yunna atau Elsa. Ketiganya sering berboncengan pergi jalan-jalan ke berbagai tempat.


Drug! drung! drung!


Prita berkali-kali menggas motornya di depan rumah Yunna. Keadaan rumah Yunna tak jauh beda dengan pretty. Ayahnya bekerja sebagai tukang bangunan, dan ibunya berjualan sembako dan sayur mayur di depan rumah. Yunna memiliki dua adik yang masih kecil.


Tak jauh dari rumah Yunna, sekitar seratus meter terdapat rumah keluarga Elsa. Lebih bagus dibandingkan dengan rumah Prita dan Elsa. Bertingkat dan mereka termasuk orang kaya di kampung tersebut. Pada mulanya keadaan keluarga mereka tidak lebih baik dari keluarga Prita dan Elsa. Tetapi belakangan ini keadaan berubah. Bisnis barang rongsok yang ditekuni keluarganya meledak sehingga mereka bisa seperti yang terlihat sekarang.

__ADS_1


Bahkan Elsa juga sudah memiliki sebuah mobil khusus untuknya. Mobil mungil elegan berwarna oranye kemerahan, cantik dan cocok untuk Elsa yang mungil.


Meski Elsa sekarang keadaannya sudah berubah tetapi persahabatan di antara mereka tetap terjalin dan tidak mengubah apapun. Elsa tetap seorang yang yang ceria dan juga lucu, selalu mengingat teman dekatnya, yakni Prita da Yunna.


"Siapa sih? brisik banget!"


Yunna yang mendengar suara motor meraung-raung di depan rumahnya membesarkan matanya dan merasa sangat aneh karena ada seorang yang membuat gaduh di depan rumahnya, apa belum pernah kena lempar telur busuk apah? pikirnya sembari bergegas ke depan dan ia berusaha mengenali pengendara motor Tiger berwarna merah di depannya.


Seseorang yang mengenakan celana jean serta jaket Levi's abu-abu, ia mengenakan helm dan kacamata hitam. Deg, seorang pria tampan nan gagah kah?


Yunna yang sedang mencari kekasih sempat berdebar.


Tetapi ia segera tertawa lebar melihat siapa yang ada di atas motor tersebut, "Ternyata Elu Prit? gua kira cowok dari mana mau nyamper gua kencan, dasar lo ach brisik! motor dari mana tuh? gile mantap banget baru beli Prit?"


Gadis itu menatap Prita sembari mendekat temannya yang tersenyum-senyum membanggakan motornya.


Yunna mengamati motor yang ditunggangi Prita dan tangannya menyentuhi motor besar tersebut, "Wuidih mantap, ini cocoknya buat Gwe Prit! Elo pakai ini kebanting. Badan lo kurus kayak gitu. Baru beli ya? ini baru mantap namanya.


"Ya Allah, nyokap Loe Prit, lupanya kelamaan coba loe jaman sma pakai ini ke sekolah, keren Prit, tapi alhamdulillah Prit, ada peninggalan bokap loe, ada sim Loe ngajak jalan?"


"Ada, kan dulu barengan elu, elu ngurusnya, Gwe baru perpanjang bulan lalu, akhirnya berguna sim Gwe Yun."


Karena saat itu Yunna juga sudah bersiap pergi maka dia tinggal mengeluarkan motornya dan langsung ke rumah Elsa.


Seperti halnya Yunna, Elsa juga terperangah melihat motor besar yang dikendarai oleh Pretty.


"Itu motor peninggalan bokap Prita, yang disimpan bertahun-tahun di dalam gudang, baru keingatan ama nyokapnya."


Yunna langsung menjelaskan mengenai motor tersebut sehingga Elsa tak perlu banyak bertanya. Mereka sengaja ke rumah Elsa untuk mengajaknya pergi menemani Prita yang baru saja punya motor baru.


"Ok, yuk kita jalan-jalan menikmati hari minggu yang ceria."

__ADS_1


Elsa mengeluarkan motor scoopy kecoklatan warna kesukaannya. "Kita kemana?"


"LA City, he he he cusss Lenteng Agung!"


Yunna mendahului memimpin jalan. Dulu sekolah smp mereka berada di pertengahan kebun daerah Lenteng Agung. Perjalanan ke daerah sana teduh dan tidak padat lalu lintas, mereka bisa melalui jalan kampung, bernostalgia masa-masa smp.


"Prita! Elsa! kita melalui jalan belakang pasar minggu ya, langsung Lenteng Agung."


"Iya siap!"


Ketiganya berbelok ke kanan menuju jalan yang dimaksud oleh Yunna. Sebuah jalan kecil yang tidak terlalu ramai. Biasanya anak-anak sekolah menyusuri jalan tersebut untuk menuju ke jalan besar atau Jalan Raya.


Yah, Berapa kilo meter dari pasar buah yang terkenal itu yakni Pasar Minggu terdapat sebuah gedung sekolah smp yang sangat besar dan memiliki halaman yang luas.


Saat berangkat dan pulang sekolah jalan kecil itu akan dipenuhi oleh siswa-siswa SMP yang akan bergerak ke Jalan Raya Pasar Minggu atau ke Jalan Raya Lenteng Agung Di Ujung Jalan berikutnya.


Daerah Lenteng Agung merupakan pusat buah yang tak mengenal musim, setiap keluarga agaknya memiliki minimal sehektar untuk berkebun buah. Dan jarang ada yang tau kalau di sana ada sebuah Villa yang cantik. Sesekali boleh di buka untuk umum, tetapi sangat dibatasi, berhubung pemiliknya juga berdiam di villa tersebut.


Beberapa anak sekolah pernah masuk dan bermain di sana termasuk Yunna, Elsa dan Prita, mereka pernah dua kali ke tempat itu. Ada teman mereka yang bekerja mengurus villa tersebut.


Memang sebuah tempat yang sangat mirip dengan dunia dongeng.


Villa yang berada di daerah yang tinggi, ditembok sekelilingnya hinggak dunia luar hanya melihat menara-menaranya saja.


Model villa tersebut juga unik, bangunan Castile, kata teman mereka yang ibu bekerja di tempat itu pemiliknya seorang dokter yang bekerja di kantor presiden.


Yunna, Prita da Elsa merindukan tempat itu. Sebuah tempat yang merupakan impian masa gadis. Memiliki pria kaya yang membuatkan mereka istana.



Bersambung

__ADS_1


__ADS_2