
Hari yang indah dengan kebersamaan keluarga, teman-teman, tetangga serta kenalan berakhir penuh kenangan abadi tak terlupakan. Raka dan Mardo saling mengungkapkan betapa mereka saling jatuh cinta yang pertama dan menjadi yang terakhir. Harapan keduanya adalah hidup bahagia, saling menjaga hingga akhir. Anak-Anak mereka sangat bangga memiliki ayah dan bunda yang perduli satu sama lain. Memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anak. Sehingga tidak pernah merasa kurang perhatian, kasih sayang serta cinta.
Keluarga yang diliputi cinta, pengayoman serta keceriaan. Setiap harinya, bulan hingga tahun demi tahun.
Alan tersenyum kecil. Apa memang ada kehidupan sempurna seperti itu? Tak pernah ada masalah serta pertengkaran.
Sebaliknya Alan mengalami hal yang berbeda. Sejak kecil keributan dan pertengkaran papa dan mamanya terjadi.
Dari ia bangun tidur suara makian dan celaan papanya membuat ciut. Bagi papa, mamanya selalu salah. Terlalu bodoh dan tidak bisa menyenangkan dirinya.
Mama Alan memang hanya lulusan sekolah menengah atas saja, sedangkan papanya lulusan s2 dari perguruan tinggi terkenal. Hal tersebut membuat Papa tinggi hati. Bukan hanya pada mama, melainkan juga perusahaan-perusahaan tempat ia bekerja.
Setiap kali ia merasa tak nyaman dengan sebuah perusahaan, maka tak berpikir panjang ia akan meninggalkan tempat itu. Menurutnya perusahaan itu merendahkan dirinya yang memiliki pendidikan tinggi. Berkali-kali ia melakukan hal tersebut. Sedangkan perusahaan yang menawarkan pendapatan kecil akan ia tolak mentah-mentah. Pada akhirnya papa Alan tak lagi mendapatkan pekerjaan.
Hal yang membuat mama mengeluh. Sebab pengeluaran sangat banyak. Mulai dari biaya sekolah anak-anak, biaya rumah tangga dan banyak lagi. Setiap kali mama mengeluh maka papa membalas dengan kemarahan serta makian yang menyakitkan. Hingga akhirnya mama menutup mulutnya rapat-rapat. Mama tak lagi mengeluh, apa lagi meminta hak penghidupan pada suaminya.
Sebagai gantinya mama mulai pergi setiap pagi dan pulang sore. Rumah menjadi sepi tanpa pertengkaran serta makian yang menyakitkan. Sejak mama sering pergi untuk bekerja, Alan dan adik-adiknya selalu tercukupi. Mereka selalu memiliki uang saku dan bisa membeli apa yang mereka inginkan. Mama juga memasak banyak lauk pauk sebelum ia pergi bekerja.
Setelah itu terdengar juga sesekali pertengkaran antara mama dan papa. Tapi bukan lagi mengenai keluhan pembayaran ini dan itu. Melainkan Papa mempermasalahkan kalau mama berubah menjadi perempuan sombong dan angkuh. Bagaimana pun papa tetaplah suami yang harus di hormati, dilayani kebutuhannya. Dan mama melakukan semua yang bisa ia perbuat.
Alan tahu mama berusaha mempertahankan rumah tangganya, namun sikap papa yang tidak pernah berubah, bertahun-tahun hanya kebanggaan memiliki ijazah s2 nya saja. Tak menaruh penghargaan sedikit pun pada mama yang telah membanting tulang. Akhirnya perempuan yang selalu mengalah itu sampai pada puncak pertahanannya. Ia menggugat perceraian.
Saat itu Alan dan adik-adiknya berada di luar kota karena mendapat perguruan tinggi negeri. Mereka tidak banyak mengetahui apa yang telah terjadi. Pada akhirnya mama meninggalkan papa dan juga rumahnya. Ia membiarkan papa memiliki semuanya. Mama tinggal di rumah kost memulai kehidupannya dari awal.
Alan dan adik-adinya sedikit pun tidak menyalahkan mama. Mereka sangat mengerti dengan penderitaan mama, perempuan lembut dan baik hati itu juga berhak bahagia. Ia dan adik-adiknya tak bisa berbuat apa-apa. Bagaimana pun terkadang Alan merasa cemburu jika melihat kebahagian rumah tangga orang tua temannya. Menangis diam-diam mengingat ketidak bahagian keluarganya.
Sesekali ia iri pada Rakasiwi. Marah, sebab ia tak mendapatkan yang seperti temannya miliki. Mama lah yang melihat hal yang tidak baik tersebut. Mama menasehati bahwa masing-masing orang memiliki keberuntungannya sendiri. Tak boleh iri dan membenci orang yang lebih beruntung. Tak perlu menyalahkan papa yang tidak seperti ayahnya Rakasiwi. Mama yang berbeda dengan bundanya. Justru bersyukur sebab telah Allah pertemukan dengan orang yang istimewa bahkan menjadi sahabat.
Rasa benci serta iri tersebut hilang dan datang silih berganti. Ia merasa dirinya hanya seorang pecundang. Sementara Rakasiwi memiliki semuanya. Tampan, pintar serta mapan. Alan merasa tersiksa dengan persahabatannya itu. Tetapi Rakasiwi dan Alan selalu mengingatnya, mengajaknya dalam kegembiraan dan kebahagian mereka.
Alan dan setiap orang meninggalkan rumah berhalaman luas itu dengan kesan mendalam. Tentang sebuah hubungan yang manis, kesetiaan hanya pada satu pasangan saja,
Sebelum semua berpamitan pulang, Bramantyo mengundang beberapa orang terdekat untuk meeting keluarga.
Mereka adalah Richi, Laura, Mangara, Patricia, Rakasiwi, pak Wijaya, Deni, Sammy serta Raka dan Mardo.
Jadi semua tak boleh pulang. Melainkan menunggu hingga malam. Mereka bertanya-tanya ada apa papi Bramantyo mengadakan meeting. Apakah ada sesuatu yang penting?
Setelah selesai makan malam semua anggota keluarga duduk merapat di ruang keluarga yang luas. Akhirnya Papi Bramantyo membuka meeting dengan sebuah senyum kebahagian.
__ADS_1
Sebelumnya papi Bramantyo mengomentari pesta perak Raka dan Mardo. Ia terkesan dengan kehadiran teman-teman dekat Raka dan Mardo yang juga ia kenal sejak lama. Alangkah indahnya persahabatan mereka. Ia sendiri memang banyak memiliki sahabat namun tidak sedekat hubungan Raka dan dua sahabatnya. Mardo dengan tiga sahabatnya. Mereka melebihi saudara sekandung.
Papi Wijaya dan Mami setuju sekali. Ia tak pernah melihat persahabatan yang begitu kental serta awet. Usia tak membuat mereka berubah. Masih seperti dulu saat-saat mereka gadis. Bercerita lepas, bebas dan melonjak-lonjak. Papi juga senang melihat persahabatan itu.
Semua setuju, persahabatan Raka dengan Deni, Sammy terikat bak saudara sekandung. Begitu juga Mardo dengan Putri, Sashi dan Grace. Persahabatan dalam suka dan lara.
Setelah obrolan ringan tersebut Papi Bramantyo mengutarakan bahwa ia memutuskan akan menetap di Jakarta bersama Richi dan anak-anaknya. Rumah villa yang selama ini kosong akan mereka huni bersama. Usia yang tidak lagi muda tak memungkinkan bolak-balik mengurus bisnis di Merauke dan kota Eksotik. Papi Bramantyo memutuskan akan menyerahkan seluruh usahanya pada Raka dan Richi. Papi ingin istirahat di rumah villa menghabiskan usia tuanya.
"Pokoknya Papi ingin pensiun dari bisnis. Papi serahkan semua pada Raka dan Richi. Terserah Raka dan Richi mau diapakan, mau dikelola bersama, atau di jual. Sudah saatnya Papi dan Mami mempersiapkan diri untuk menghadap yang khalik. Mau nggak mau, kalian berdua yang mengurusnya. Hanya kalian anak papi dan mami."
Papi menatap wajah Raka dan Richi, ia sudah memutuskan hal tersebut beberapa tahun yang lalu. Hanya tidak ada moment yang pas. Baru sekarang ia mendapatkan waktu yang tepat. Papi sudah membuat warisan untuk masing-masing putranya. Seluruh usaha yang ada di kota eksotik ia serahkan pada Raka. Sementara Richi mendapatkan perusahaan yang ada di Merauke. Sementara sebuah rumah mewah di Jakarta sejak lama sudah menjadi milik Raka.
Sedangkan rumah Villa kelak akan menjadi milik Richi. Semua yang ikut meeting malam itu menjadi saksi perkataan papi Bramantyo. Setelah ia menyerahkan hak waris anak-anaknya, tinggal terserah Raka dan Richi mau mereka apakan warisan tersebut.
Raka saling menatap dengan adiknya Richi. Ia menyatakan terkejut dan tak menduga mendapatkan warisan usaha yang begitu besar. Ia bilang sementara menerima hak waris dari orang tuanya. Dan belum tau apakah akan di jual atau meneruskan usaha papanya di kota Eksotik. Laki-laki itu memandang Mangara, Patricia, Rakasiwi, Deni serta Sammy. Ia akan memikirkannya dengan segera.
Sementara Richi, ia memutuskan akan tinggal di Jakarta bersama Papi dan Mami di rumah villa. Untuk perusahaan di kota Merauke ia pikir akan membiarkan berjalan seperti biasanya. Sampai sesuatu terjadi yang membuatnya harus menjual perusahaan tersebut.
Papi Bramantyo tersenyum, mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia setuju dengan keputusan anak-anaknya. Ia bisa fokus mengurus kehidupannya sendiri mulai sekarang. Lebih mendekatkan diri pada sang penciptanya.
Papi Wijaya juga mengatakan bahwa ia pun sudah melakukan hal seperti Papi Bramantyo. Beberapa tahun yang lalu ia sudah membagi hak waris anak-anaknya. Sekarang ia dan istrinya hanya tinggal menikmati masa tua mereka serta rajin beribadah.
Anak-anak sangat mendukung keputusan orang tua mereka. Cukup sudah urusan bisnis. Tinggal lagi mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk akhirat.
Sebab itu ia meminta bantuan seluruh keluarga untuk menginformasikan penjualan seluruh aset grup Bramantyo ke siapa saja yang sekiranya bisa membelinya.
Untuk maksud tersebut Papi Bramantyo telah membuat penawaran yang mencakup data seluruh perusahaan tersebut. Ia memberikan laptopnya pada Richi dan akan mengirim penawaran tersebut pada mereka semua.
Masing-masing memberikan alamat email mereka untuk dikirimi penawaran tersebut. Semua terdiam. Aset Papi Bramantyo sangat banyak di dua kota tersebut. Tentu tak mudah mendapatkan seorang pembeli.
Tetapi tidak ada yang tak mungkin. Diantara jutaan manusia bisa saja ada satu yang memiliki kekayaan yang bisa membeli keseluruhan aset Papi Bramantyo.
Deni dan Sammy menyambut penawaran tersebut. Keduanya berjanji akan berusaha mencari pembeli.
Sementara Raka belum bisa mengambil keputusan tersebut. Ia ingin bicara empat mata dengan Papi. Raka tahu bahwa Papi sangat mencintai perusahaan-perusahaannya itu. Merupakan kehidupan dan bagai urat nadinya.
Sementara Mangara juga mengutarakan pendapatnya, kenapa harus di jual? bukankah bisa alih generasi. Misalnya pada Rakasiwi, Cindy dan yang lainnya. Kelak generasi berikutnya tentu membutuhkan tempat untuk mereka mengamalkan ilmu dan pendidikan mereka.
Papi Bramantyo tercenung. Apa yang dikatakan oleh Mangara ada benarnya. Tapi sejauh ini Papi Bramantyo melihat bahwa Raka putra sulungnya tidak tertarik sama sekali dengan bisnisnya. Tak ingin mencampuri sedikit pun. Raka asyik membesarkan perusahaannya sendiri.
__ADS_1
Sementara Richi, putranya yang satu itu. Dia memang pria yang penurut dan memiliki kemampuan besar. Hanya saja ia melihat Laura yang tidak nyaman dengan kota kecil tersebut. Meski pun Laura sudah berubah banyak namun mata perempuan itu merindukan kota metropolitan seperti kehidupannya selama ini.
Keinginan Laura itu suatu saat akan berpengaruh pada Richi. Papi Bramantyo juga sudah semakin tua dan ingin menikmati kehidupan tenang dengan berkebun di sekeliling villa. Dengan berbagai pertimbangan papi Bramantyo mengambil keputusan tersebut yang ia pikir yang terbaik.
Selanjutnya ia akan mendirikan sebuah perguruan tinggi swasta atau sebuah rumah sakit. Di mana kelak anak-anak dan cucu serta generasi berikutnya bisa mengabdi di perusahaan tersebut.
Hampir jam sebelas malam ketika meeting keluarga tersebut selesai. Beberapa orang setuju dengan pandangan Papi Bramantyo. Terlalu merepotkan bolak-balik ke kota di ujung Indonesia tersebut.
Keluarga itu akhirnya mengetahui tentang bagi hak warisan, dan mereka membicarakan hingga mengantuk dan tidur.
Betapa beruntungnya Raka dan Richi, harta mereka kian bertambah setelah mendapatkan hak waris dari Papi
Bramantyo.
Deni dan Sammy yang pulang dalam satu mobil membicarakan dengan senyum merekah.
"Hem, kamu dengar kan Sam, kekayaan Raka bertambah berkali lipat. Dia pria idola yang beruntung."
"Benar Den, Raka benar-benar beruntung."
"Menurutmu apakah ia akan menjual perusahaannya di kota eksotik?"
"Ya aku tidak tau Sam, bisa iya bisa tidak."
Kedua pria itu tercenung oleh keberuntungan dalam hidup Raka Bramantyo, si pria Idola.
Bersambung
Hello, terima kasih othor ucapkan pada semua yang mendukung dan memberikan
like, vote serta komen. Semoga bisa saling mendukung ya. Othor sangat berterima kasih.
muah.
__ADS_1