Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 189. Richi Asli Dan Palsu


__ADS_3

Richie meregangkan tubuhnya dia menghadap ke jendela dan melihat matahari menyingsing. Dia berpakaian dengan pelan-pelan. Mengancingkan lengan-lengan bajunya dan dengan cermat mengenakan setelannya. Ia sedikit berdebar dan mundur beberapa langkah ke tempat tidur. Richi duduk menghembuskan napas dan memejamkan matanya.


Ia tidak tau apa yang terjadi dengan dirinya selama beberapa hari ini. Dia berpikir akan menunggu reaksi dari keluarganya. Kemudian setelah merasakan tenang pada dirinya. Ricky pun berjalan keluar dari kamar dan mendengar gerumit dan suara di ruang keluarga.


Richie beranjak dan berjalan ke sana. Papi adalah orang yang pertama kali melihat Richi dan dengan cepat berdiri menyongsong putranya itu.


"Alhamdulillah, kau sudah sembuh seperti semula."


"Papi merasa kau mendapatkan keajaibanmu, sebab kau terluka parah dan hampir tidak terselamatkan. Tetapi pagi ini kau sudah sembuh! ini sungguh ajaib!"


Papi menepuk-nepuk pundak putranya penuh rasa syukur dan bahagia. Mami juga menyongsong dan memeluk putranya erat-erat. Ia menangis terisak-isak.


"Terima kasih ya Allah, terima kasih ya Rabb, Engkau telah menyembuhkan putraku dan mengembalikannya seperti semula. Sungguh Engkau maha penyembuh dan penerima doa."


Mami memandangi wajah putranya. Matanya yang berseri-seri. Tangannya menangkup wajah tampan tersebut dan menarik lehernya dan mencium keningnya.


'Jadi selama ini aku sakit.'


Richi membatin sembari dia menghenyakkan tubuhnya di sofa. Laura dan anak-anaknya datang menyalaminya. Rachel memeluk pinggang Daddynya, juga Richo.


"Daddy sudah sembuh, alhamdulillah."


Rachel menciumi pipi Daddy berebut


dengan Richo. Laura menyajikan minuman hangat itu di hadapan Richi. Laki-laki itu mengerutkan keningnya seingatnya Laura sudah pergi meninggalkannya. Kapan perempuan ini kembali ke dalam keluarganya? dan sikap Laura berbeda dari biasanya. Dia bahkan mau menghidangkan minuman untuk Richi. Sosok perempuan itu terlihat lebih tulus terhadapnya dibanding biasanya.


'Apa yang sudah aku lewatkan?'


Kembali Rizki membatin. Tetapi ia tidak mungkin berkomentar tentang apa yang ia rasakan. Dirinya belum mendapatkan kan penyebab dari perubahan Laura.


Hanya ia tak bisa menahan pertanyaannya. sebab Iya sangat mengingat pertengkaran mereka yang terakhir dimana Laura meninggalkannya dalam kemarahan.


"Kok kami disini? kau kembali?"


Laura tiba-tiba bersimpuh di kaki suaminya.


"Dad, aku minta maaf. Aku janji tidak akan mengulangi kejadian itu. Aku akan menurut apa yang engkau katakan sebagai imamku. Aku tidak akan pergi tanpa ijinmu. Aku bersamamu dan anak-anak. Aku akan mengurusmu dan anak-anak, tolong terima aku kembali Dad."

__ADS_1


'Pasti sesuatu yang sangat luar biasa telah terjadi yang membuat Laura berubah.'


Richi kembali membatin. Ia tentu saja tak ingat apa-apa saat Laura memukul dahinya hingga ia hampir mati. Sebab saat ia sampai di Jakarta dan melihat keharmonisan Raka serta Mardo, jiwanya bergejolak oleh kegagalannya.


Saat itulah Richi palsu menguasainya. Ia tak segan merencanakan kejahatan terhadap Mardo. Hingga kepulangan Laura. Richi palsu mengenali Laura sebagai perempuan yang sering bertemu dengannya. Tapi ia tidak tau kalau Laura adalah istrinya. Justru Richi palsu mengira istrinya adalah Mardo yang telah meninggalkannya.


"Bangunlah, baiklah aku menerimamu kembali. Aku berharap apa yang kau ucapkan itu berasal dari hatimu."


Richi mengangkat bahu Laura dan ia memeluk perempuan itu. Laura menangis terisak-isak dipelukkan suaminya. Rachel dan Richo ikut memeluk Dad dan mom mereka. Bibir kedua anak itu mencebik, menahan tangis.


"Sudahlah, yang lalu biarlah dan tinggalkan, sekarang kalian harus rukun kasih sayang, asah asih asuh. Jangan mengikuti nafsu dan emosi yang hanya akan merugikan diri sendiri. Kalian sudah memiliki dua anak dan kalian lah yang kelak menjadikan kedua anak berbakti atau justru menyakiti."


"Iya Pi, terima kasih."


Rakasiwi, Cindy, Tria hanya menyaksikan kejadian mengharukan tersebut.


Raka dan Mardo keluar dari kamar mereka. Melihat semua anggota keluarga berkumpul di ruangan bersantai itu.


Mardo menggamit pinggang Raka, memeluk erat, pertanda ia takut mengingat kejadian tadi malam. Serta sebuah hal yang telah Richi lakukan padanya. Ia tidak akan menceritakan rahasianya itu. Demi kebaikan.


Mardo takut bergabung bersama mereka.Tak sanggup bertemu pandangan dengan Richi. Tapi Raka menenangkannya, menyentuh pinggang istrinya, membimbing dan meyakinkan perempuan itu bahwa tidak ada yang terjadi.


Mereka berjalan dengan berpelukkan


"Hello Bro, Kau sudah sembuh, aku sangat senang melihatmu."


Raka memeluk dan menepuk-nepuk pundak adiknya.


"Kami semua sangat mengkhawatirkanmu Bro, untunglah sekarang kau pulih, bagaimana sekarang rasanya?"


"Alhamdulillah, terima kasih Kak. Pasti aku sangat merepotkanmu dan semua keluarga. Tapi sekarang aku merasa jauh lebih baik, tak pernah aku merasa sebaik dan sesehat ini."


Richi juga berpandangan dengan Mardo. Mata yang biasa, milik Richi yang sangat dikenali oleh Mardo. Mereka saling tersenyum. "Alhamdulillah Rich, kami senang melihat keadaanmu."


Mereka sekeluarga bercengkrama sambil minum teh hangat dan kue-kue kesukaan Raka serta Richi saat kecil.


Tidak ada yang tergesa-gesa untuk pergi bekerja.

__ADS_1


"Rakasiwi kapan wisuda? Opa ingin kamu membantu usaha Opa di kota Merauke dan kota Eksotik."


"Iya, Rakasiwi, uncle sangat kewalahan di sana."


"He he he, Rakasiwi baru semester empat Opa dan Uncle masih lama."


"Kebutlah."


Rakasiwi hanya memajukan mulutnya.


"Oh iya bro, kapan kamu ada waktu mengunjungi kami di Merauke. Ajak Mardo dan anak-anak. Memangnya kalian tidak merindukan masa-masa remaja dulu di Merauke dan di kota eksotik?"


Tiba tiba Richie menawari Raka untuk mengunjunginya di Merauke. Raka tercekat. Dia tak pernah lagi ke Merauke sejak liburan itu. Raka memang tidak menyukai kota Eksotik dan Kota Merauke.


Dirinya lebih sering berada di Jakarta.Hanya sebab keberadaan Mardo di kota itulah ia betah berlama-lama dan memaksakan diri untuk pergi ke Merauke.


"Gimana Mi, kau ingin bernostalgia?"


Raka mengerling Mardo.


"Ayolah, kalian pasti tercengang melihat perubahan kota itu. Sangat fantastik."


"Bunda, ayo ke Merauke, Cindy mau tau kota itu."


"Tria juga mau bun, ayo ke Merauke dan kota Eksotik."


"Baiklah nanti kita bicarakan, aduh sudah mulai lapar, sebaiknya kita sarapan, sambil berbincang-bincang."


"Iya, aku juga sudah lapar."


Mardo dan Laura bergegas lebih dulu ke meja makan untuk menyiapkan makanan untuk orang terkasih dan tercinta.


Rakasiwi berpikir semuanya sudah selesai dan berakhir bahagia. Ia berencana pulang ke Yogyakarta, dan ingin mampir ketempat Prita.


Rakasiwi menulis pesan di handphonenya.


'Hello Puspitaku sedang apa? semuanya sekarang sudah membaik dan bahagia. Karena itu lusa aku akan pulang. Aku ingin mampir ke kotamu dan menginap satu malam di hotel. Kita ketemuan ya, jalan-jalan dan menikmati kuliner."

__ADS_1


Terkirim, tetapi Prita sedang tak online. Rakasiwi membiarkan dan nanti gadis itu pasti membalasnya.


Bersambung


__ADS_2