
Akhirnya hari yang telah ditentukan itu tiba. Raka sedikit gugup dan berdebar. Ini adalah hari yang bersejarah baginya. Awal kehidupan pria dewasa yang sesungguhnya. Malam itu, ia akan membawa keluarganya melamar puspita hati, kekasih sepanjang masa. Perempuan pujaan dan idaman.
Sejak sore Raka dan keluarganya sudah bersiap-siap. Papi mengenakan batik yang membuatnya gagah dan berwibawa, Mami juga berseri-seri dan cantik. Richie tak mau kalah ia juga mengenakan baju yang yang paling disukai . Sementara Deni dan Sammy melakukan hal yang sama bahkan jauh-jauh hari kedua sahabat Raka yang sudah bagaikan saudara kandung mempersiapkan baju-baju khusus untuk acara istimewa Raka.
Malam ini adalah pertemuan keluarga kecil dengan keluarga calon mempelai wanita. Jadi Raka hanya akan mengajak Papi, Mami, saudara laki-lakinya yakni Richie, juga Deni dan Sammy. Kebetulan adik bungsu papi sedang bertugas di Jakarta, yakni Om Edwar ikut menghadiri pertemuan tersebut.
"Apakah semua sudah siap, sebaiknya kita berangkat sekarang."
Papi mengeraskan suaranya agar semua anggota keluarga bersiap segera berangkat ke tempat tujuan. Papi dan juga Mami merasakan apa yang dirasakan oleh Raka. Mereka juga dilanda oleh perasaan gugup dan berdebar. Ini adalah tugas pertama mereka menikahkan seorang anak. Tentu saja sebuah hal baru di dalam kehidupan mereka. Canggung, gugup hingga takut yang tak beralasan sempat menguasai hati kedua pasangan orang tua dari Raka Bramantyo.
Tetapi Raka memberikan keyakinan pada Papi dan Mami bahwa tugas mereka tidaklah susah. Sebelumnya Raka sudah melamar Mardo secara pribadi dan gadis itu menerimanya. Penolakkan sudah diminimalisasi. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Papi percaya bahwa Raka sudah membuka 95 persen jalan untuk mereka meminang seorang perempuan untuk menjadi istri anak mereka sekaligus menantu terkasih.
"Bismillahirrahmanirrahim, kita berangkat sekarang semoga acara lamaran ini berlangsung dengan lancar dan mudah, aamiin yra"
Supir sudah menyusun hantaran di bagasi dan kursi belakang. Raka sudah menyiapkan dua set perhiasan emas dan berlian diantara hantaran tersebut.
Raka tidak akan menyematkan sebuah cincin dijari manis Mardo. Karena menurutnya bertentangan dengan kebiasaan keyakinannya. Sebab sebuah cincin jika diyakini bisa menumbuhkan cinta serta ikatan yang langgeng justru terhitung kesyirikan.
Setelah nanti lamaran diterima, akan
berlanjut pada hal hal lainnya. Kedua belah pihak keluarga akan saling bercengkrama untuk lebih akrab satu sama lain. Hingga tiada rasa sungkan untuk menentukan agenda demi agenda hingga selesainya pesta pernikahan Raka dan Mardo.
Semua mengucapkan Aamiin, kenderaan segera meluncur dengan mantap menuju tujuan. Hanya dua mobil saja. Karena acara lamaran tersebut adalah pernyataan dari kedua pihak yang meminta dan menerima. Jika ini sudah terlewati dengan baik maka selanjutnya adalah acara akad nikah yakni ijab kabul pengantin. Selanjutnya pesta resepsi pernikahan.
Sementara itu di kediaman Mardo juga sedang sibuk mempersiapkan sambutan untuk keluarga Raka. Mardo sudah mengenakan dress yang membuatnya terlihat sangat cantik. Brokat putih yang dibuat model yang disukai wanita masa kini. Papi dan Mami juga tak kalah menawannya. Mereka sedikit gugup seperti halnya keluarga Bramantyo. Sebentar-bentar ke kamar untuk melihat penampilan, saking groginya sampai bertabrakkan dengan mami, membuat kening merah dan benjut segede telur puyuh. Terpaksa mami mengolesi hingga hilang bengkaknya.
"Kalem coba Pih, biasanya juga nggak gini-gini amat ich."
"Papi gugup Mi,"
"Anaknya juga tenang-tenang aja kok, papi malah yang grogian."
"Ach, kayak Mami nggak gugup aja."
Suami istri itu saling menyalahkan dengan mesra.
__ADS_1
Malam itu ada banyak gadis-gadis cantik yang akan menyaksikan peristiwa penting itu. Teman-teman dekat Mardo tidak mau kehilangan momen tersebut. Mereka setengah memaksa ikut di dalam pertemuan keluarga. Meskipun beberapa kali Mardo sudah memberitahu bahwa mereka akan diundang saat akad nikah temen-temennya tidak mau, malah ngambek. Bahkan ingin memutuskan persahabatannya jika tidak di perbolehkan menghadiri acara lamaran tersebut.
Jadi selain Bang Mangara , Patricia, Khairani, selebihnya adalah teman-teman dekat Mardo. Putri , Sashi, dan Emily.
Assalamualaikum!!!
Terdengar salam di halaman serta mobil yang baru berhenti.
Waalaikumsalam!
Bang Mangara dan istrinya yang
menyambut, kemudian mendampingi masuk ke ruangan yang sudah ditata dengan sedemikian rupa. Papi dan Mami kemudian datang menyambut. Mereka berpelukan dan saling menepuk pundak. Mereka teringat masa bertugas di kota eksotik.
"Wah, pak Wijawa dan ibu, masih seperti dulu, awet muda!"
Dipuji seperti itu papi dan mami tersipu-sipu lantas membalas, " Ah bisa saja. Justru Bapak dan Ibu Bramantyo yang tidak berubah sedikitpun. Tetap ganteng dan cantik seperti pertama kali bertemu. Luar biasa!, jadi ingin tahu rahasianya nih."
"Oh, memang ada kok rahasianya Pak Wijaya, yaitu itu istri cuman satu, anak cukup dua dan makan di rumah, berkumpul bersama keluarga. Itu sih rahasianya."
Terlihat mereka mengangguk-angguk.
kekuarga."
Raka tiba-tiba mencolek papinya, membuat pria itu menghentikan basa-basi mereka.
"Oh, baiklah."
Papi memperbaiki duduknya sembari bergumam, agaknya kami akan langsung pada maksud kedatangan kami berhubung anaknya sudah tak sabar pak Wid ha ha ha."
Keluarga Bramantyo mulai terlihat serius serta mempersiapkan diri. Sebagai pihak laki-laki merekalah yang
pertama mengajukan pinangan secara resmi. Raka diapit oleh orang tuanya sementara sisi lain terisi oleh Om Edwar, Richie, Deni, serta Sammy.
Kedua keluarga berhadap-hadapan.
__ADS_1
Sementara keluarga Wijaya yang akan memberikan jawaban juga telah bersiap. Calon mempelai wanita tidak kelihatan. Bapak Wijaya dan ibu diapit oleh kedua anaknya yakni Mangara dan Patricia yang sekarang sudah menjadi seorang gadis remaja yang cantik. Di balik dinding sebenarnya duduk Mardo yang diapit oleh teman-temannya. Mereka
Semua berdebar-debar.
Pak Bramantyo terlebih dulu mengenalkan keluarganya satu persatu. Mulai dari Raka Bramantyo sebagai anak sulung keluarga tersebut. Juga sekilas tentang kegiatan atau pekerjaan Raka. Laki-laki tampan tersebut adalah seorang Ceo dari grup PT. Bramantyo, Lulusan terbaik sekolah bisnis dua universitas. Lalu Richi Bramantyo. adalah adik bungsu dari Raka yang diusia sangat muda telah menjadi seorang maha guru. kemudian Om Edwar merupakan adik bungsu dari Pak Bramantyo serta dua sahabat anaknya yang sudah ia anggap seperti putranya sendiri. Yakni Deny dan Sammy. Intinya pak Bramantyo mau bilang bahwa menikah dengan Raka Bramantyo maka dia akan bahagia seumur hidupnya tidak akan kekurangan sesuatu apapun, tidak juga tersakiti karena mereka berasal dari keluarga yang terdidik dengan baik.
Sedikit terbata akhirnya, pak Bramantyo berhasil mengutarakan maksudnya, Meminang putri pak Wijaya. Setelah mengucapkan hal tersebut, pria itu menghembuskan napasnya. Lega sekali seperti terbebas dari beban yang sangat berat.
Tinggal menunggu jawaban.
Giliran pak Wijawa yang gugup dan
berdebar-debar. Masalahnya sama dengan pak Bramantyo, dirinya juga baru sekali ini berurusan dengan lamar melamar.
"Hemmm, tak perlu panjang lebar, kami sebagai orang tua, hanya menyetujui dan memberi restu. Namun keputusan tetap pada putri kami."
Papi memberi kode pada Patricia untuk memanggil Kakaknya, Patricia berdiri memanggil kakaknya yang segera datang. Semua mata terpukau pada gadis cantik yang diapit oleh tiga gadis cantik.
Gadis itu memberi salam pada keluarga Raka, kebahagian meliputi seluruh perasaan gadis itu. Membuat kecantikkannya memancar demikian mempesona. Ia duduk tak jauh dari orang tuanya.
"Putri Papi dan Mami yang cantik, ternyata tak terasa kau telah tumbuh menjadi wanita dewasa, saatnya kau melangkah kejenjang selanjutnya yakni pernikahan, Papi mau bertanya, apakah kau menyukai dan mencintai
pria itu? kau menerima pinangannya?"
Mardo menolehi Papi, dan menjawab dengan jelas, "Iya Pi, aku menyukai, cinta dan menerima pinangannya."
Mardo!!!
Sebuah jerit hesteris mengejutkan mereka semua.
Richi terkejut sekali melihat perempuan yang menjawab, iya untuk
lamaran Raka.
Hello, terima kasih sudah setia
__ADS_1
dengan kisah Pria Idola
Bersambung