
Pagi cerah sekali, terdengar cicit burung yang beterbangan di taman bunga. Mama Risa terbangun dan melihat Prita dan Rakasiwi sudah bercengkrama. Agaknya keduanya tak tidur semalaman. Sebentar-bentar Rakasiwi mendapati tempat tidur Prita dan memeriksanya. Indah sekali cinta mereka. Mama Risa tersenyum dan melangkah keluar merapatkan jaketnya. Ia tidur sangat nyenyak seusai berbincang-bincang dengan Raka dan Mardo tadi malam. Ia menyerahkan nasib putrinya di tangan kedua orang yang luar biasa itu. Ia percaya Prita tak salah pilih, semua yang terbaik Allah berikan pada putrinya. Nikmat Tuhan mana lagikah yang ia harapkan. Begitu banyak yang telah ia dan putrinya dapatkan. Mama Risa memandang matahari yang mengintip malu-malu di atas sana. Matahari yang tak pernah ingkar janji.
"Ma, sudah bangun ya?"
Rakasiwi menyapa mama Risa yang kembali ke kamar dan melihat keadaan Prita. Ia meletakkan tangannya di dahi putrinya itu. Sudah dingin, dan ia baru saja menghabiskan sarapannya.
"Aku sudah sembuh Ma, Prita tak apa-apa."
Mama Risa mengangguk-angguk dan tersenyum.
"Ini namanya sakit minta nikah Nak Rakasiwi."
"Ich Mama, bikin aku malu saja."
Mereka bertiga tertawa terkekeh, ceria pagi diliputi oleh kebahagian.
***
Keluarga Rakasiwi memutuskan akan melamar Prita di dua minggu berikutnya. Mama Risa berpikir untuk memperbaiki rumahnya yang sempat terhenti karena ia sakit. Hanya tinggal memasang ubin serta plafon, maka rumah itu menjadi cerah dan kelihatan bagus. Mama Risa dan Prita juga pergi ke toko kembang untuk membeli beberapa bunga-bunga untuk ditata di halaman dan teras.
Prita, mama Risa dan Elsa menyiapkan sambutan untuk keluarga Rakasiwi yang beberapa hari lagi akan datang melamar. Di sela persiapan itu Prita mengajak Rakasiwi bertemu seseorang. Rakasiwi tak keberatan, ia dan Prita sama-sama berangkat ke kantor. Sementara Boy meski sangat kecewa, namun ia telah mempersiapkan diri jauh-jauh hari. Ketika Prita bilang ia telah memiliki kekasih, ia sempat tak percaya. Namun sikap gadis itu yang bersikeras menolak membuat Boy menahan diri dari keinginan memilikinya.
Tetapi ia terus bersikap tak mundur, ia tetap memperlakukan Prita sebagai tunangannya. Menyedihkan. Boy mengepalkan tangannya. Ia merasakan lagi luka itu. Hingga ia mendengar ketukkan di pintu. Wajah seseorang yang sedang ia pikirkan muncul di pintu.
"Selamat pagi pak Boy, apakah sedang sibuk?"
Laki-laki itu jantungnya bak akan putus oleh sosok Prita yang datang tiba-tiba. Ia berusaha menenangkan perasaanya.
"Hei pagi, ka-kamu sudah keluar dari rumah sakit? maafkan aku Prita tak datang lagi sejak ada dia."
Boy keluar dari mejanya, ia mengajak Prita duduk di sofa.
"Aku bersama dia pak Boy, ada yang ingin kami bicarakan?"
"Oh, ajak masuk saja."
__ADS_1
Prita berdiri dan bergegas menjemput Rakasiwi yang berada di ruangannya.. Ia mengajak laki-laki itu ke ruangan Boy. Prita membuat keduanya saling berhadapan dan bersalaman.
"Pak Boy, dia tunanganku Rakasiwi. Sayang, ini pak Boy bos aku yang sangat baik dan perhatian."
Kedua laki-laki itu bersalaman dan tersenyum. Ketegangan diantara mereka hanya sebentar, selanjutnya ketiganya bisa mengobrol dengan santai. Boy memesankan minuman untuk Prita dan Rakasiwi.
"Sebenarnya aku malu pada anda. Saat Prita ada kesusahan, bukan aku yang mendampinginya tetapi anda. Sebab itu aku menemui anda untuk mengucapkan banyak terima kasih."
Boy tersenyum, Rakasiwi terdengar formal, aneh di telinganya.
"Santai saja Bro, kebetulan yang ada didekat Prita hanya aku, tidak ada orang lain."
"Iya, waktu mama Risa jatuh sakit dan harus operasi, aku terpaksa pinjam uang pada pak Boy, kalau tidak ada dia mama tak bisa operasi malam itu."
"Maaf, aku salah faham waktu itu. Aku tidak tau Prita membutuhkan biaya yang besar."
"Pak Boy, aku sudah janji akan mengembalikan pinjamanku, tadi pagi aku sudah transfer ke rekening."
"Kau ini! membuatku kesal. Kenapa kau harus mengembalikannya? kau sudah bekerja sangat baik, dan mendapatkan banyak job. Jadi aku yang berterima kasih dan bantuan itu tak seberapa jika dibanding kontribusi yang telah kamu berikan pada perusahaan."
"Ok, baiklah! minum dulu, mumpung masih panas, apa sebaiknya kita minum ke cafe pria Idola ha ha ha."
Rakasiwi tersenyum lebar. Rupanya Boy sudah tau kalau cafe pria idola adalah miliknya.
"Ya, dengan senang hati. Sebuah kehormatan dikunjungi oleh pak direktur."
Boy mengusap-usap rambutnya, ia menduga-duga sebenarnya selain hal yang telah mereka bicarakan pasti ada sesuatu yang lebih penting. Dan akhirnya Prita meminta ijin tidak bekerja karena akan mempersiapkan acara lamaran dan pernikahan dengan Rakasiwi. Seketika wajah Boy berubah. Ia tak menyangka Prita akan segera menikah dengan Rakasiwi.
"Ka-kapan lamarannya?"
"Segera pak Boy, sebab itu saya mohon ijin terlebih dahulu."
"Silahkan Prita, apa yang tidak untuk kamu."
Terdengar suara yang tertahan oleh sebuah perasaan yang hancur.
__ADS_1
"Tenang Bro, kami tak akan lupa mengirim undangannya padamu."
Rakasiwi mencairkan suasana yang sempat menegang.
"Terima kasih telah mengundangku di acara bahagia kalian, aku senang dan mendoakan kalian berdua
lancar dan dimudahkan acaranya."
"Aamiin yra."
Mereka bertiga sama-sama mengucapkan, semoga Allah mengabulkan.
"Pak Boy, sekali lagi maaf yang sebesar-besarnya ya, bagiku pak Boy adalah atasanku sekaligus kakak lelaki yang tak pernah aku miliki, juga sahabatku seumur hidup."
Prita tersendat dan kelopak matanya basah oleh keharuan, Boy berdiri dan membentangkan tangannya untuk memeluk Prita, sebelumnya ia menatap Rakasiwi yang mengangguk.
Gadis itu tenggelam kedalam pelukkan hangat Boy Indra. Jemarinya mengusap-usap rambut Prita penuh sayang, ia juga menarik Rakasiwi, dan bertiga-tiga saling berpelukkan.
"Kita adalah saudara sekarang, juga sahabat seumur hidup."
"Terima kasih, aku sangat senang sekali."
Kemudian Prita dan Rakasiwi pamit. Mereka berjanji akan saling membantu. Boy menghapus wajahnya, sebenarnya ia ingin menangis, oleh rasa haru serta perasaan-perasaan yang tidak ia mengerti. Ia kehilangan lagi gadis yang telah sempat masuk kejiwanya. Akan sulit membuat hati dan jiwa berseri lagi. Tiba-tiba ia ingin minum kopi yang pahit. Agar hati dan jiwa lebih mengerti bahwa patah hati dan cinta itu memang pahit.
Boy bergegas menyambar handphone dan kunci mobilnya. Ia memerlukan sebuah suasana untuk menikmati kopi pahit. Laki-laki itu mengenderai mobilnya ke sebuah tempat minum kopi asli. Suasana di sana tenang dan terdengar musik lembut. Ia menuju sebuah meja yang agak tersembunyi dan memesan kopi pahit. Setelah itu ia iseng mengedarkan pandangannya. Tatapannya jatuh pada sesosok gadis yang sedang menundukkan kepalanya. Ia sendirian dan juga minum kopi pahit. Kening Boy berkerut, gadis itu? apa yang sedang ia lakukan?
__ADS_1
Bersambung