Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 216. Pesta Pernikahan Perak Raka Dan Mardo II


__ADS_3

Prita melihat suasana meriah di rumah Rakasiwi. Ternyata Cindy dan Edo sedang menata ruangan untuk sebuah acara untuk Raka dan Mardo. Cindy dan Prita segera terlibat pembicaraan serta diskusi tentang hiasan-hiasan yang akan di lekatkan di dinding. Mereka mencoba merekat serta memasang yang paling serasi hingga menemukannya.


"Cindy! kamu itu, kakak Prita kok langsung suruh ikutan repot. Buatin minuman dulu buat aku sama kak Prita."


Rakasiwi yang baru selesai berbincang-bincang dengan Edo melihat Cindy dan Prita yang sibuk memasang gambar love di dinding.


"Ihh, kakak  tinggal minta sama mba di belakang."


"Nggak mau, kakak maunya dibuatin sama kamu, sekalian itu buat Edo juga."


Gadis remaja itu jengah, tetapi akhirnya ia melepaskan pekerjaannya dan berlalu ke belakang. Sementara Rakasiwi mengamati hasil pekerjaan anak-anak. Ia mengangguk-angguk. Lumayan katanya. Besok tepat di tanggal pernikahan Raka dan Mardo mereka semua akan merayakan kejadian itu. Akan banyak keluarga yang datang, teman-teman Mardo, Raka serta orang-orang terdekat.


Deni dan Sammy yang merupakan sahabat dekat Raka besok bertugas akan menceritakan kembali bagaimana Raka muda mengalami hari-harinya di kota Pala. Saat itu mereka menganggap bahwa perempuan hanya merepotkan dan membuat tidak fokus belajar. Jadi mereka bertiga berjanji tidak akan berpacaran hingga waktu yang tidak ditentukan.  Namun belum lama mereka berikrar, saat berangkat ke Jakarta Raka  bertabrakkan dengan gadis muda di lorong  sebuah bandara. Gadis itu dengan tatapan yang sangat galak memarahi pria menjulang di depannya. Sebuah kejadian yang mendebarkan Raka menjadi awal cinta pertamanya.


Deni dan Sammy tertawa mengenang masa lalu. Pernikahan Raka dan Mardo membuat ibu Deni datang jauh-jauh untuk menghadirinya. Tapi selain itu untuk menceramahi Deni. Kapan mulai memikirkan pernikahan. Ibunya tak rela jika Deni belum menikah dan memberinya cucu saat ia sudah sangat tua dan akhirnya meninggal. Menikah atas permintaan seorang ibu? oh no. Bukannya ia tak mau menikah namun sumpahnya telah menjadi kenyataan. Ia ingin menikah di usia empat puluh.


Sebab itulah hubungannya dengan Putri putus begitu saja. Ia belum lagi berusia empat puluh. Setahun berikutnya ia mencoba menjalin cinta lagi tetapi berakhir dengan kegagalan. Tepat seminggu sebelum ia berusia empat puluh tahun Deni bertemu gadis yang kini menjadi istrinya. Gadis itu benar-benar cocok untuk Deni. Ia memiliki sisi humor yang tinggi  dan suka sekali mengajak Deni berdebat.


Deni menceritakan pertemuannya dengan gadis yang sekarang telah menjadi istrinya itu. Ia bilang bahwa pertemuan itu terjadi di depan toilet mewah sebuah restoran. Kenalan Deni  mengajaknya ke restoran mewah tersebut. Dan di sana hidangan yang disajikan berupa ikan. Deni tidak suka ikan, dan ia sudah memberitahu temannya itu agar dipesankan makanan lain. Tapi temannya  membujuk bahwa ikan itu tidak terasa sebagai ikan sebab telah bercampur dengan bahan-bahan lain. Pokoknya sangat enak. Deni harus mencobanya.


Demi menghormati temannya itu akhirnya Deni mencoba memakan menu ikan tersebut.


"Ayo, makanlah rasanya tidak seperti ikan kok."


Temannya itu menyemangatinya, sebab sushi di pub tersebut paling nikmat. Deni sudah membayangkan sebelumnya bahwa perutnya akan bergolak oleh ikan mentah yang telah disamarkan dengan kombinasi  saos. Deni hanya memakan sedikit dan ia merasa tidak enak lalu pamit ke toilet.  Deni sangat malu karena telah muntah di tempat cuci tangan minimalis.


Saat berjalan dari toilet seorang pramusaji berkulit hitam manis menawarinya lap tangan berlabel hotel dan restoran tersebut. Deni menerima sapu tangan itu sembari memandangi wajah manis gadis itu. Ia berdebar untuk pertama kalinya. Agak gemetar ia menghapus jasnya dengan sapu tangan itu. Lalu mengucapkan terima kasih.


Deni kembali ke mejanya dan pramusaji itu membawakan mereka menu pencuci mulut yang membuat Deni senang karena tidak ada menu yang mengandung ikan. Pramusaji itu mondar-mandir melayani dengan senyum ramah yang terukir di bibirnya. Deni dan temannya menghabiskan malam di tempat itu hingga ia tak lagi melihat pramusji yang cantik serta gesit itu.


Deni lantas meninggalkan restoran tersebut dan mengambil kenderaannya di tempat parkit. Saat hendak melewati jalanan tak jauh dari hotel tersebut. Deni melihat  gadis pramusaji tadi tengah menunggu kenderaan. Deni tak berpikir panjang. Ia memundurkan mobilnya dan membunyikan klakson.


"Hello, apa aku boleh mengantarmu pulang nona? ini sudah sangat malam, kenderaan sudah menipis."

__ADS_1


Aku membunyikan remote dan membuka pintu untuknya. Dia ternyata menerimanya dan mengatakan alamatnya. Teryata tidak jauh dari hotel tersebut. Ia tinggal bersama temannya di sebuah kost. Ketika mobil berhenti tepat di jalan depan kostnya. Gadis itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Dengan takut-takut Deni bertanya apakah bisa menemuinya lagi. Gadis itu membungkuk dan tersenyum manis. Terlalu dini menafsirkan sebagai penerimaan atau malah penolakkan.  Deni mengingat dengan baik jalan dan kost gadis itu. Ia tadi menanyakan nama gadis yang membuatnya sangat nyaman itu, namanya Evi, nama yang manis seperti orangnya.


Semuanya berjalan lancar, memang gadis itu adalah jodoh Deni. Ia dengan bangga menelpon ibunya bahwa ia akan menikah dengan seorang gadis yang manis. Ibunya pasti menyukai menantunya. Sekarang Deni sudah memiliki tiga orang anak, tapi memang masih kecil-kecil. Dua laki-laki dan seorang anak perempuan. Deni merasakan bahwa dirinya saat ini telah menjadi pria sejati. Ia mensejajarkan dirinya dengan Raka Bramantyo, sahabatnya.


Lalu Sammy, pria pemikir di perusahaan Pria Idola. Setelah Raka menikah lima tahun berikutnya ia menyusul. Gadis itu pengagumnya sejak smp. Mereka bertemu kembali saat pertemuan bisnis. Gadis itu terus saja memandanginya bahkan seperti sengaja mempertemukan tatapannya. Sammy menjadi penasaran. Saat istirahat dan makan siang, Sammy segera mendekati gadis itu dan bertanya kenapa sering sekali memandangnya.


Gadis itu tercekat lalu bertanya padanya apakah pernah bersekolah di sana. Sammy mengangguk, ternyata mereka pernah satu kelas. Sammy yang sejak kecil memang acuh dan tak suka bergaul tentu saja sudah melupakan semua teman-teman smpnya.


"Aku Jessika, teman smp kamu."


Kata gadis itu. Setelah pertemuan tersebut masih berlanjut dengan pertemuan berikutnya. Gadis itu datang untuk mengikuti pelatihan bisnis yang diselenggarakan perusahaan Pria Idola. Gadis itu telah mendaftar untuk kepemilikkan sebuah cafe tak jauh dari tempat tinggalnya. Cafe itu adalah salah satu mitra Perusahaan Pria Idola.


Deni dan Raka sangat menyukai kisah pertemuan itu, mereka mendukung Sammy untuk segera melamar Jessika sebelum terlambat. Gadis pintar dan cantik seperti  Jessy pasti banyak yang menginginkannya.


Begitulah, Deni dan juga  Sammy hidup berbahagia dengan satu cinta. Sama halnya dengan sahabat mereka Raka Bramantyo. Ketiga pria itu tidak pernah meninggalkan jejak dengan menyakiti hati seorang pun wanita. Sammy telah memiliki dua orang anak, laki-laki dan perempuan.


Malam itu Sammy dan Denny mendatangi rumah Raka, mereka ingin melihat sejauh mana persiapan acara pernikahan perak tersebut. Sammy mengajak putranya yang bernama Razka, ia berteman dekat dengan Tria. Keduanya sedang menanjak remaja. Deny tak kalah, ia juga membawa Daffa putra pertamanya. Usia ketiga anak itu tak berbeda jauh.


Terdengar suara Raka yang riuh menyambut dua sahabatnya itu. Membawa mereka masuk dan memanggil Mardo serta anak-anaknya untuk menyalami dua orang yang selalu bersamanya.


Mardo langsung bangun dan duduknya dan mengendong si bungsu pergi ke ruang tamu. Cindy, Tria, dan Dode juga berlarian di belakang Mardo. Mereka selalu antusias jika Om Deni dan Om Sammy berkunjung. Ayah mereka seringkali menceritakan petualangan serta kerja smart mereka bertiga. Rakasiwi menatap Prita lalu mengajaknya juga untuk bertemu dengan kedua sahabat special  Raka.


"Bagaimana persiapannya nih? aku tak sabar membawakan kisah cinta kalian berdua di hadapan tamu-tamu undangan."


Deni sumringah. Sementara Mardo, Sammy serta Raka hanya kalem saja. Mereka memang sudah tahu sifat Deni yang selalu antusias dan bersemangat.


"Udah beres kok, mau lihat? yuk."


Raka mengajak ke ruang keluarga, tempat mereka besok memulai acara, lalu taman depan yang menyatu ke hamparan taman di belakang rumah. Bukan acara yang rumit dan hanya syukuran dengan mengundang banyak orang menikmati berbagai makanan di kebun.  Rumah itu memang sangat besar, dikelilingi kebun yang menghampar di belakang.


Bukan sekali dua kali Raka mengadakan perayaan di kebun belakang itu tetapi sejak papi dan maminya masih di rumah itu, mereka sudah sering melakukan pesta perayaan di sana. Mereka bertiga layaknya masih merasa semuda saat dulu mengelilingi rumah dan melihat taman serta kebun bersih yang terbentang. Yah benar sekali Raka dan Mardo sudah mempersiapkan semuanya dengan baik.


"Wah, ini keren! akan menjadi inspirasi bagi yang  mereka yang sedang mencintai dan dicintai."

__ADS_1


Kebun luas itu memang sudah di tata sedemikian rupa untuk acara pernikahan perak Raka dan Mardo. Bunga-bunga mawar yang sedang berkembang dan merekah mengeliling kebun itu. Raka sudah memanggil tukang bunga yang berada di pinggir jalan saat ia setiap hari mondar-mandir melewatinya. Tukang bunga itu memiliki kebun mawar yang banyak. Semua telah berpindah ke kebun di belakang rumah. Hampran rumput juga sedang menguatkan akarnya di sana setelah sebulan lalu di hamparkan. Sangat nyaman berada di sana dan tak akan membosankan. Beberapa cottage untuk berteduh dan duduk-duduk  sambil memandang keindahan suasana.


 


"Yup, ini mantap."


Sammy ikutan memuji sambil mencoba berjalan ke kebun. Langit dengan bintang-bintang yang mengintip serta desau angin semilir membuat suasana terasa romantis.


"Ok, kalian bawa semua anak-anak ya. Mereka bisa bermain bola sesuka hati mereka di kebun itu. Akan banyak makanan dan juga ada band. Rakasiwi dan teman-temannya akan menghibur para tamu."


Deni dan Sammy berdecak dan mengacungkan jempul. Mereka juga ingin merayakan hari pernikahan mereka. Untuk menunjukkan bahwa mereka memiliki tahun pernikahan yang panjang.  Sammy sudah dua puluh tahun, sedangkan Deni baru beberapa puluh tahun.


"Pi, kita makan malam dulu yu, ajak tuh temannya Pi."


Mardo muncul di belakang mereka dan mengamit lengan Raka.


"Masak apa memangnya Do? ayolah, aku telat makan membuatku sakit kalau sedikit saja telat."


Deni buru-buru berbalik dan berjalan ke dalam, diikuti Sammy yang tersenyum kecil.


"Huh, dasar tukang makan, alasan sakit lah ha ha ha."


Deni dan Raka hanya senyum-senyum.


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2