Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode. 287. Menunggu


__ADS_3

 Menjelang makan siang meeting penting itu selesai. Hasil meeting selanjutnya akan digodok oleh mereka yang memiliki wewenang dan tanggung jawab. Cindy memberitahu bahwa ia dan para ketua akan merapatkan hasil meeting hari ini. Nanti ia dan Raffa akan dihubungi kembali.


"Ok Diana, terima kasih atas kedatangan dan waktunya, Sampai jumpa lagi."


Cindy mengakhiri meeting hari itu. Diana menggamit jemari Cindy kencang.


"Sama-sama, saya juga berterima kasih sudah mendapatkan kesempatan bertemu dan menjelaskannya."


Gadis itu dan Raffa berjalan keluar. Ternyata tak semudah dugaannya. Ia belum tahu sama sekali apakah kue penutup itu diterima atau ditolak. Diana menundukkan melangkah lurus tanpa menoleh kiri dan kanan. Ia membandingkan dirinya dengan gadis tadi. Dia sangat cemerlang, memiliki segalanya, cantik, terpandang, smart, ia bisa melihat gadis itu selihai burung elang sekaligus selembut merpati. Di usia muda sudah menjadi seorang  Ceo.


Sedang dirinya? Diana merasa kecil dan gagal, ia tak yakin lagi dengan kue penutup itu. Kegembiraan yang ia rasakan ketika berangkat sirna. Ia ingin menangis. Sementara Raffa justru memikirkan hal lain. Laki-laki di dekat Cindy itu sering sekali bicara sambil mendekatkan dirinya pada gadis itu. Kadang mereka saling tersenyum, menatap dan menyamakan pendapat mereka.


Terus terang ia melihat ada kedekatan yang berbeda diantara keduanya. Apakah laki-laki itu kekasih Cindy? menjadi sebuah tanda tanya. Kalau iya, apakah ia bisa lebih dekat lagi dengan gadis itu? Raffa penasaran dan berencana mencari tahu tentang Alfredo.


"Raffa, apakah kau akan mengantarkan aku pulang?"


Diana yang sejak tadi lebih dulu sampai di tempat parkir mencegat Raffa yang masih tertegun-tegun tentang pikirannya terhadap Cindy dan laki-laki bernama Alfredo di ruang meeting. Ia tersentak oleh sosok Diana yang berada di depannya.


"Iya Diana, meski sebenarnya aku harus ke kantor."


"Kalau begitu, turunkan saja aku nanti di jalan kecil yang menuju rumahku, biar aku berjalan kaki."


"Iya sudah, naiklah."

__ADS_1


Raffa berjalan ke depan memasuki mobilnya lalu membukakan pintu dari dalam. Diana masuk sembari menghembuskan napasnya.


"Bagaimana menurutmu Raffa? apakah mereka akan bekerja sama denganku?"


Raffa tak mendengar pertanyaan Diana, ia belum bisa lepas dari bayang-bayang laki-laki yang dekat sekali dengan Cindy. Ditambah ia sedang fokus menyetir memutar gedung tersebut hingga  akhirnya keluar dari pintu yang berada di belakang gedung. Diana menolehi Raffa dan mengercitkan keningnya.


"Raffa! kau tak menjawab pertanyaanku?"


"Yang mana? aku tak dengar."


Uh!


Diana menghembuskan napasnya, ia mulai jengkel dengan sikap laki-laki muda di sebelahnya itu. Sama sekali tidak perhatian dan malah memikirkan sesuatu.


"Menurutmu bagaimana? apakah mereka akan bekerjasama denganku?"


"O, tentu. Mereka akan membuat perjanjiannya dan kau nanti tinggal menanda tanganinya."


"Tanda tangan apa? mereka belum menjebutkan jumlah, padahal aku menunggu sejak datang kesana."


Laki-laki itu tertawa, ia menjelaskan pada Diana bahwa ini bukan kerja sama yang kecil  seperti ia menitipkan kue penutup di cafenya. Perlu proses hingga nanti tidak ada yang merasa dirugikan atau diuntungkan.Harus benar-benar diperhitungkan oleh ahlinya.


"Oh jadi begitu ya? tinggal menunggu?"

__ADS_1


Raffa menganggukkan kepalanya.


"Dan jangan lupa berdoa, agar semuanya berjalan sesuai dengan kehendakmu dan juga aku,"


"Baiklah, aku akan berdoa agar diberi kemudahan."


Tak terlalu lama tiba-tiba Raffa menghentikan mobil, ia menatap Diana dan mengatakan sudah sampai. Gadis itu melihat sekelilingnya dan tersenyum.  Raffa mengantarnya sampai di halaman rumah. Begitu cepat dan tak terasa.Sunggu enak sekali memiliki mobil bisa dengan cepat sampai dan kembali. Ia lalu melambai pada Raffa yang meninggalkannya.


"Baiklah aku akan menunggu kabar baik tersebut."


Diana tersenyum dan membalikkan tubuhnya  berlari-lari kecil memasuki rumah. Ia memanggil nenek dan kedua bibinya. Agaknya mereka sedang membuat kue di belakang.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2