
Polisi yang sedang bertugas jaga menyambut kedatangan Elsa ramah. Mereka melihat sosok Elsa yang pucat dan kelelahan. Mereka menduga agaknya gadis itu baru saja mengalami kejahatan. Jadi mereka menunggu dan bersiap menerima laporan gadis itu. Hanya saja Elsa seperti kehilangan suaranya.
"A-aaa saya minta tolong pak."
Dengan susah payah Elsa mengutarakan maksudnya. Suaranya kembali menghilang ia tak bisa bicara. Seorang polisi membuatkannya teh hangat manis. Memberikannya pada Elsa dan menyuruhnya minum supaya Elsa merasa tenang dan nyaman.
"Minum dulu tehnya biar tenang dan tak gugup."
Tak disuruh dua kali, Elsa langsung meminumnya hingga tandas. Ia sangat haus dan tenggorokannya kering. Teh itu terasa nikmat sekali. Polisi penjaga malam itu memandangi gadis itu. Mereka semua yakin kalau gadis itu sudah mengalami sebuah kejahatan. Mereka semua menunggu Elsa bercerita.
Sementara di sebuah tempat Prita tak bisa diam. Hampir dua hari ia berada sendirian di ruangan bawah tanah. Ia hesteris dan sambil memegang kepalanya yang tidak jua bisa menemukan jalan keluar. Selama ini ia telah mengalami kesulitan, penuh onak dan duri tetapi ia bisa menemukan jalan keluar. Tidak seperti saat ini buntu.
Ruangan itu seperti sudah dipersiapkan untuk mengurungnya. Sebuah ruangan bawah tanah yang tidak bisa berinteraksi dengan dunia luar. Memang ruangan itu besar, memiliki dua kamar tidur, ruang tamu, tempat bersantai menonton tivi dengan sofa. Bagian belakang ada bar serta meja makan. Kitchen set serta lemari pendingin. Tempat itu lengkap. Bahkan sebuah lemari yang penuh dengan baju-baju perempuan yang ukurannya pas dengan tubuhnya. Bukan hanya baju, tetapi juga pakaian dalam. Semua tersedia.
Namun meski pun semua tersedia dan nyaman tetap saja Prita tidak tahan terkurung sendirian di ruangan bawah tanah itu. Ia ingin bertemu mama Risa, teman-temannya dan juga Rakasiwi. Ia kembali berteriak dan hesteris. Ia sudah berpikir seribu kali tentang meloloskan diri. Tapi tidak ada yang bisa ia lakukan. Ruangan itu sudah dibuat sedemikian rupa untuk mengurungnya. Hanya sebuah keajaiban yang bisa mengeluarkan dirinya.
Prita melemparkan tubuhnya ke tempat tidur. Ia tak bisa berpikir lagi sebab hanya buntu. Kecewa, marah serta tak berdaya. Kenapa dia yang mendapatkan masalah seperti ini? apa yang salah? Rabbku yang biasa ia sebut namaNya membiarkannya sendirian. Rasanya sangat sedih dan tak berdaya. Ia bergolek ke kiri dan ke kanan.
__ADS_1
Tadi siang Jaelany turun menemuinya dan kembali laki-laki itu bilang sedang mempersiapkan pernikahan mereka. Ia tak perduli jika Prita tak setuju. Ia yang mengendalikan semuanya di tempat itu. Ia tak akan membiarkan Prita pergi darinya. Ia sengaja membuat tempat itu untuk mendapatkan Prita. Memiliki Prita dengan caranya. Bukan Yunna yang ia inginkan. Tetapi Prita. Yunna hanya menjadi batu loncatan untuk dia mendapatkan Prita.
Tiba-tiba Prita mencium bebauan dalam kamarnya itu. Bebauan harum yang membuatknya mengantuk. Tak lama Prita telah tertidur lelap. Saat itulah Jaelany mendatanginya. Ia tersenyum melihat tubuh Priti yang telantang di atas tempat tidur. Ia menelan liurnya, menggerak-gerakkan kepalanya serta tersenyum.
"Kurasa tidak perlu penghulu dan menikah, tidak ada seorang pun yang tau aku memiliki dirimu."
Jaelany mendekat dan bahkan naik ke atas tempat tidur. Tak puasnya ia memandangi sosok Priti.
"Gadis keras kepala yang membuatku tak bisa tidur. Aku memikirkanmu selama bertahun-tahun."
"Bidadariku, akhirnya aku memilikimu."
Jaelany tiba-tiba menaiki tubuh Prita, membuka kancing-kancing bajunya. Tetapi tiba-tiba mata Prita terbuka. Jaelany terkejut sebab yang sedang ia tiduri bukan Prita tapi sosok mengerikan. Leher yang dipenuhi darah serta mata penuh kemarahan dan dendam.
"Yunna! K-kau!"
Tubuh Prita bangun dan mengejar Jaelany dengan jemari yang ingin mencekik lehernya.
__ADS_1
"Kau sudah mati! tidak mungkin!"
Jaelani meninggalkan Prita. Sosok itu mengikutinya dan berusaha menangkapnya.
"Kau sudah mati! jangan ganggu aku! apa kau ingin mati untuk kedua kalinya?"
Tak ayal baru kali ini ia mengalami hal seperti ini. Bulu kuduknya berdiri, wajah Yunna sangat menakutkan. Dan lehernya terlihat luka yang menyayat.
Bersambug
__ADS_1