
Sepanjang hari itu, keduanya mengobrol di ruang keluarga. Sebelumnya Mardo menemani Richi
makan siang. Mardo merasa seperti mengulangi masa remajanya dulu. Ia ceria sekali dan merasakan
kegembiraan yang menyenangkan. Sementara Richi terkadang tertawa namun lebih banyak hanya
nyegir dan mesem. Richi hanya memandangi saja sosok Mardo yang tidak banyak berubah sejak
ia pertama melihatnya lagi. Hanya bertambah dewasa saja, agak berisi namun justru terlihat lebih
molek.
Saat Mardo pergi menjemput Dode, Richi termenung. Teringat pertengkaran dan pertengkaran lagi
hampir setiap hari dengan Laura istrinya. Richi sangat mencintai Laura namun perempuan itu terlalu
menuntut berbagai hal kepadanya. Terlalu sering pergi ke luar negeri menemui orang tuanya dan
tinggal berbulan-bulan di sana.
Entah apa yang salah, tetapi Laura seperti tidak menyadari kalau ia adalah seorang ibu, memiliki
kewajiban terhadap suami dan anak-anaknya. Laura terlalu manja, keras kepala dan tak mau
mendengar apa yang Richi katakan. Bulan lalu adala puncak pertengkaran mereka. Baru saja
ia pulang ke Indonesia sudah bersiap-siap pergi lagi. Membuat Richi memanggilnya dan menyuruhnya
untuk tinggal. Anak-anaknya membutuhkan dirinya. Begitu juga dirinya.
Tapi ia bilang, tak bisa lama-lama meninggalkan Daddy dan Mommy. Padahal sepengetahuan Richi
orang tua Laura baik-baik saja. Ia seperti tak betah berada di rumahnya sendiri. Membuat kesabaran
Richi ludes tak bersisa.
"Pergilah! tapi tidak perlu pulang lagi ke sini! kita bercerai."
Richi pikir perempuan itu akan berpikir dan mempertimbangkannya. Namun dasar perempuan
__ADS_1
itu yang tidak memiliki kedewasaan, malah tetap pergi dengan mendongakkan kepalannya dan
mengangkat kopernya.
"Ingat! jangan pulang ke sini lagi! Aku akan melemparkan dan bahkan mungkin membunuhmu
jika pulang kesini! ingat itu Laura!"
Perempuan itu hanya membisu dan membanting pintu mobil lantas berangkat ke bandara.
Anak-anaknya hanya terbengong lantas mengejar.
"Mommy! Mommy! jangan pergi!"
Richi meraih tubuh anaknya dan memeluk anak-anak itu. Mereka bertiga saling bertangisan.
Sikap Laura yang seperti itu membuat anak-anak lekat pada Richi serta kakek dan neneknya.
Pak Bramantyo dan istrinya memang memilih menetap di Merauke bersama Richi. Mereka
membangun rumah besar di sana, dan mengurus bisnis dari rumah tersebut. Mereka hanya
sesekali ke Jakarta menengok keluarga putranya Raka Bramantyo dan Mardo. Apa lagi
Laura diasuh oleh kakek dan nenek mereka.
Richi menggigit bibirnya, ia telah salah memilih seorang istri. Ia dulu jatuh cinta karena Laura
begitu lembut dan cantik. Mereka sama-sama jatuh cinta dan kemudian menikah. Laura ternyata
sangat manja dan ketergantungan dengan Maminya. Sedikit saja mereka bertengkar Laura
langsung menjerit-jerit memanggil ibunya.
'Seharusnya Mardo yang menjadi istriku!'
Sambil mengamati sosok Mardo di sebuah foto keluarga yang terpampang.
Ia meremas jemarinya, dan mengigit bibir. Lalu kepalanya merasa pusing yang hebat
__ADS_1
yang membuatnya limbung dan buru-buru merebahkan tubuhnya di sofa.
"Richi! Richi! yuk kita ke kantin Sarah Lee."
Ia mendengar suara Zam-zam, Betty, Vana dan Mardo.
Ia melihat dirinya yanga langsung berdiri untuk menyambut teman-temannya. Ia
tersenyum lebar dan menyuruh masuk terlebih dahulu. Ia sangat senang sebab
ada Mardo juga. Mereka menunggu di ruang tamu sambil mengobrol dan menikmati
makanan yang ada di meja.
Tak lama ia sudah siap dengan celana jeans dan baju kemeja. Selanjutnya mereka
berangkat ke kantin Sarah Lee. Mereka juga akan berbincang-bincang tentang
apa saja hingga menjelang malam.
Terkadang ia menelpon Mardo dan menanyakan apakah sudah membuat pekerjaan
rumahnya. Sekedar alasan saja, selanjutnya mereka mengobrol tentang berbagai
hal. Ia dan Mardo tertawa berderai oleh cerita lucu yang terjadi. Apa saja yang sedang
hot di kota itu langsung mereka bicarakan dan komentari di telpun. Hampir setiap
malam Richi menelpon dan berbincang di telepon.
Bersambung
__ADS_1