Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 176. Kepingan Kenangan Lama


__ADS_3

Sepanjang hari  itu, keduanya mengobrol di ruang keluarga. Sebelumnya Mardo menemani Richi


makan siang. Mardo merasa seperti mengulangi  masa remajanya dulu. Ia ceria sekali dan merasakan


kegembiraan  yang menyenangkan. Sementara Richi terkadang tertawa namun lebih banyak hanya


nyegir dan mesem.  Richi hanya memandangi saja sosok Mardo yang tidak banyak berubah sejak


ia pertama melihatnya lagi. Hanya bertambah dewasa saja, agak berisi namun justru terlihat lebih


molek.


Saat Mardo pergi menjemput Dode, Richi termenung. Teringat pertengkaran dan pertengkaran lagi


hampir setiap hari dengan Laura istrinya. Richi  sangat mencintai Laura namun perempuan itu terlalu


menuntut berbagai hal kepadanya. Terlalu sering pergi ke luar negeri menemui orang tuanya dan


tinggal berbulan-bulan di sana.


Entah apa yang salah, tetapi Laura seperti tidak menyadari kalau ia adalah seorang ibu, memiliki


kewajiban terhadap suami dan anak-anaknya. Laura terlalu manja, keras kepala dan tak mau


mendengar apa yang Richi katakan. Bulan lalu adala puncak pertengkaran mereka. Baru saja


ia pulang ke Indonesia sudah bersiap-siap pergi lagi. Membuat Richi memanggilnya dan menyuruhnya


untuk tinggal. Anak-anaknya membutuhkan dirinya. Begitu juga dirinya.


Tapi ia bilang, tak bisa lama-lama meninggalkan Daddy dan Mommy. Padahal sepengetahuan Richi


orang tua Laura baik-baik saja. Ia seperti tak betah berada di rumahnya sendiri. Membuat kesabaran


Richi ludes tak bersisa.


"Pergilah! tapi tidak perlu pulang lagi ke sini! kita bercerai."


Richi pikir perempuan itu akan berpikir dan mempertimbangkannya. Namun  dasar perempuan

__ADS_1


itu yang tidak memiliki kedewasaan, malah tetap pergi dengan mendongakkan kepalannya dan


mengangkat kopernya.


"Ingat! jangan pulang ke sini lagi!  Aku  akan melemparkan dan bahkan mungkin membunuhmu


jika pulang kesini! ingat itu Laura!"


Perempuan itu hanya membisu dan membanting pintu mobil lantas berangkat ke bandara.


Anak-anaknya hanya terbengong lantas mengejar.


"Mommy! Mommy! jangan pergi!"


 Richi meraih tubuh anaknya dan memeluk anak-anak itu. Mereka bertiga saling bertangisan.


Sikap Laura yang seperti itu membuat anak-anak lekat pada Richi serta kakek dan neneknya.


Pak Bramantyo dan istrinya memang memilih menetap di Merauke bersama Richi. Mereka


membangun rumah besar di sana, dan mengurus bisnis dari rumah tersebut. Mereka hanya


sesekali ke Jakarta menengok keluarga putranya Raka Bramantyo dan Mardo. Apa lagi


Laura diasuh oleh kakek dan nenek mereka.


Richi menggigit bibirnya, ia telah salah memilih seorang istri. Ia dulu jatuh cinta karena Laura


begitu lembut dan cantik.  Mereka sama-sama jatuh cinta dan kemudian menikah.  Laura ternyata


sangat manja dan ketergantungan dengan Maminya. Sedikit saja mereka bertengkar Laura


langsung menjerit-jerit memanggil ibunya.


'Seharusnya Mardo yang menjadi istriku!'


Sambil mengamati sosok  Mardo di sebuah foto keluarga yang terpampang.


Ia meremas jemarinya, dan mengigit bibir. Lalu kepalanya merasa pusing yang hebat

__ADS_1


yang membuatnya limbung dan buru-buru merebahkan tubuhnya di sofa.


"Richi! Richi! yuk kita ke kantin Sarah Lee."


Ia mendengar suara Zam-zam, Betty, Vana dan Mardo.


Ia melihat dirinya yanga langsung berdiri untuk menyambut teman-temannya. Ia


tersenyum lebar dan menyuruh masuk terlebih dahulu. Ia sangat senang sebab


ada Mardo juga. Mereka menunggu di ruang tamu sambil mengobrol dan menikmati


makanan yang ada di meja.


Tak lama ia sudah siap dengan celana jeans dan baju kemeja. Selanjutnya mereka


berangkat ke kantin Sarah Lee. Mereka juga akan berbincang-bincang tentang


apa saja hingga menjelang malam.


Terkadang ia menelpon Mardo dan menanyakan apakah sudah membuat pekerjaan


rumahnya. Sekedar alasan saja, selanjutnya mereka mengobrol tentang berbagai


hal. Ia dan Mardo tertawa berderai oleh cerita lucu yang terjadi.  Apa saja yang sedang


hot di kota itu langsung mereka bicarakan dan komentari di telpun.  Hampir setiap


malam Richi menelpon dan berbincang di telepon.


 


 


 


 


Bersambung

__ADS_1


 


 


__ADS_2