
Bulan berikutnya Prita sudah menikmati pekerjaannya. Ia banyak membantu Boy menjalankan tugasnya sebagai direktur utama. Ia bertemu dengan tamu-tamu penting Boy. Meeting dan pergi ke berbagai tempat. Terkadang Ia mewakili Boy karena pria itu sibuk dan tidak mau diganggu. Pada mulanya Prita kaku dengan pekerjaan tersebut. Namun ia belajar dari Boy yang sangat santai menghadapi apa saja. Lama-lama Prita semakin menguasai dan tak lagi canggung pada pekerjaannya. Ia sudah semakin luwes.
"Prita, besok kita ke kampus ya."
Boy menyebut sebuah kampus di Jakarta.
Mereka mendapat undangan untuk memprensentasikan pembuatan buku pegangan mahasiswa.
"Ok, baiklah."
Prita tak banyak cincong menyanggupi tugas tersebut. Ia mulai menyiapkan perlengkapan untuk nanti menjadi pertimbangan bagi kampus tersebut. Perusahaan itu telah berhasil bekerja sama dengan berbagai kampus di Jakarta untuk membuat buku kalangan sendiri. Sebenarnya perusahaan sudah memiliki banyak klien tetap. Tidak perlu repot-repot mencari lagi. Dan sebenarnya mereka tak mencari melainkan berdatangan begitu saja. Agaknya klien merekalah yang mencari dan meminta.
Pada jam istirahat, Prita bergabung dengan Diana dan Malina. Kedua temannya itu sempat jealous saat mengetahui Prita pindah dan menjadi wakil pak Boy Indra.
"Sudahlah jangan jealous, aku hanya beruntung."
"Kami sudah bertahun-tahun tapi masih begini-begini saja hu hu hu."
Marlina dan Dian meremas-remas sapu tangan mereka, memasang wajah memelas.
"Sudahlah, biar aku traktir kalian ya, tapi jangan lebih dari dua puluh ribu rupiah, jangan sedih lagi."
Prita menepuk-nepuk pundak Dian dan Marlina. Sikapnya seperti seorang ibu yang sedang membujuk anak-anaknya. Dian dan Marlina hanya mencebik. Mereka sekedar mengganggu Prita. Gadis itu memang beruntung dan tidak ada yang bisa menghentikannya. Mereka percaya nasib baik sedang berpihak pada Prita. Akhirnya mereka berlari-lari menuju warung padang di sebrang kantor. Tapi sebelum masuk Dian dan Marlina berhenti.
"Nggak apa-apa ya ibu wakil direktur makan di warung padang? atau kita makan di sana kayaknya lebih keren."
Prita menatap gedung yang ditunjuk oleh Dian. Tak jauh dari tempat itu ada restoran mewah. Masakkan Internasional, banyak orang-orang penting kesana, sambil membicarakan bisnis. Boy pernah juga mengajaknya makan di sana saat merayakan keberhasilan mereka.
"Enak makanan asli Indonesia Dian dan Marlina, bumbunya yummy."
Prita bergegas memasuki rumah makan yang juga cukup besar itu. Saat ini ia hanya bisa mentraktir Dian dan Marlina di restoran warung padang.
"Ayolah, aku pakai rendang ya Prita."
"Aku juga."
__ADS_1
Mereka makan siang sambil mengobrol selanjutnya ketiganya pergi ke musholah dan menunaikan ibadah sholat dhuhur. Sempat meluruskan tubuh juga dengan berbaringan di karpet yang bersih. Perut yang kenyang, karpet lembut serta bersih plus dinginnya ac membuat mata mengantuk. Ketiganya sempat memejamkan mata di belakang gorden yang memisahkan jamaah laki-laki dan perempuan.
"Sudah lunch belum?"
Prita membuka handphonenya, pesan dari Rakasiwi. Gadis itu tersenyum dan membalas.
"Udah, ini sedang di mushollah habis sholat."
"Oh, alhamdulillah. Gadisku yang sholehah."
Prita tersenyum, ia membayangkan Rakasiwi yang sedang menggenggam handphonenya dan fokus pada dirinya. Bulan depan pria muda itu maju ujian kemudian wisuda, selanjutnya mereka akan bersama di kota yang sama. Prtia tak sabar menunggu saat Rakasiwi bersamanya.
Jam satu semua karyawan kembali ke kantor dan kembali bekerja. Prita naik ke lantai tujuh. Ada beberapa surat-surat yang belum ditanda tangani oleh Direktur. Ia harus menemui Boy. Tapi pria itu agaknya belum datang dari istirahatnya. Prita cilingak-cilinguk kedalam kantor. Terpaksa ia kembali ke ruangannya.
Boy sendiri memang sesuka hatinya. Tetapi biasanya sangat menghargai waktu. Prita lalu membuka komputer dan membuka email.
"Prita!"
Wajah muda yang tampan menyembul di pintu.
"Kamu mencariku? ada yang penting?"
Pria itu membesarkan matanya. lalu segera ke ruangannya untuk memeriksa.
"Baiklah aku memeriksanya dulu."
"Silahkan Pak."
"Jangan lupa besok kita ke kampus, jangan telat!"
"Kapan saya telat pak?"
"Hanya memberitahu saja."
Mereka bertatapan, lalu pria itu menjadi gugup lantas meninggalkan ruangan Priti. Gadis itu mengeleng-gelengkan kepalanya. Tiba-tiba kepala Boy menyembul lagi dan menyerahkan surat-surat penting yang sudah ditanda tangani.
__ADS_1
"Aku sudah membereskannya nih."
Priti menerima dan membereskannya lalu menyimpannya dengan rapi. Ia tersenyum dan mengangguk-anggukan.
"Ok, sudah beres."
"Hem, jangan lupa ya besok pagi."
"Iya,"
Kadang Prita bosan, sebab Boy suka sekali mengulang-ulang, seolah-olah ia anak kecil yang sering lupa.
Jika Prita sudah nyengir sebab jijik barulah Boy buru-buru pergi.
Sementara Boy Indra menempati kursinya kebesarannya yang empuk dan berputar. Ia menegadah sambil tersenyum. Ia mengingat Prita. Gadis yang sangat menarik. Tetapi ia sangat menjaga dirinya. Matanya akan membesar jika mendekat ke tubuhnya. Sehingga belum sekali pun ia berhasil menyentuh gadis itu. Prita memiliki benteng pertahanan yang kokoh sehingga tidak ada laki-laki yang berhasil mendekat kepadanya.
"Apa dirinya sudah memiliki kekasih ya?"
Boy menyadari hal itu, dahinya berkerut. Ia harus mencari tahu apakah Prita sudah memiliki kekasih. Sebab ia mulai ada rasa pada gadis itu. Setiap kali jauh dari Prita ia ingin cepat-cepat bertemu. Saat bertemu menjadi gugup dan berdebar tak menentu. Pikirannya hampir dua puluh empat jam tak henti memikirkan dan ingat pada sosok Prita. Hanya saat tidur saja ia berhenti memikirkan gadis muda nan cantik dan ceria itu. Boy mengigit bibir bawahnya. Selama ini tidak pernah ada pria yang mengantar dan menjemputnya. Membuat keyakinan Boy bulat bahwa Prita belum memiliki seorang kekasih.
Bersambung
__ADS_1