Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 298. Kisah Yang Terulang


__ADS_3

Raffaza sudah mengetahui tentang papanya yang mengalami putus cinta dengan Mardo. Setelah Mardo dikembalikan pada keluarganya mama menelponnya panjang lebar. Semua itu bukan kesalahan Mardo, sebab perempuan itu sejak smp sudah menjadi kekasih Raka Bramantyo. Papanya Donny devien rupanya sakit hati dan terluka oleh penolakkan Mardo.


Lantas sekarang Raffaza jatuh cinta pada anak dari perempuan yang dicintai oleh papanya. Lagi Cindy dan Alfredo telah dekat sejak mereka smp.  Benar-benar kisah itu terulang pada dirinya. Saat ini Raffaza merasa mendapat beban yang sangat berat, ia takut mengalami hal yang sama dengan  Donny. Ia berpikir bagaimana ia keluar dari situasi yang menyiksa itu.


Bahkan saat bersama Diana ia tak hentinya memikirkan tentang Cindy.  Hingga Diana berteriak mengerjutkannya.


"Hei! kau mau bawa aku kemana? rumahku sudah terlewat jauh!"


Laki-laki muda itu tercekat. "Yang benar saja! Kenapa tak bilang?"


Raffaza melihat sekelilingnya yang gelap dan mentok, jalan buntu. Ia terpaksa memutar mobilnya.


"Stop! apa kau mau membawaku ke apartemanmu lagi?"


"Huh! mana mungkin, cepat keluar dan sampaikan selamat ultah pada bibi ya."


"Ok, terima kasih."


Raffaza meninggalkan rumah Diana. Ia melamun lagi dan memutuskan sesuatu.


***


Sabtu malam minggu. Suasana  Cafe Rakasiwi berbeda.  Ada penjaga di gerbangnya. Hari itu mereka tutup.  Ada Acara penting di cafe tersebut. Beberapa mobil yang merupakan keluarga Cindy sudah berdatangan.  Uncle Richi dan istrinya Laura tampak tampan dan cantik. Bersama mereka Opa Bramantyo dan oma. Serta anak-anak. Mangara sekeluarga juga hadir serta Patricia adik bungsu Mardo yang sudah memiliki dua buntut.


Pertemuan keluarga yang selalu saja membuat ceria, bahagia serta keakraban yang manis. Mardo dan Raka menyambut Papi dan Mami mereka, membimbing hingga sampai ke bangkunya. Setelah itu Mardo menyapa adik serta keluarga lainnya. Deny  juga  Sammy tampak hadir ditengah-tengah keluarga besar itu. Cindy mengenakan gaun malam yang cantik. Berwarna pink keunguan. Rambutnya yang sebahu disanggul sederhana. Riasannya alami.  Malam itu Cindy memukau semua orang.



Berbeda lima menit dari kehadiran keluarga Bramantyo, tiga buah mobil memasuki tempat parkir cafe. Muhammad Alfredo keluar dari kenderaannya. Ia membuka pintu dan  menyilahkan mamanya keluar. Perempuan itu mengandeng tangan putranya. Sementara papa berjalan gagah di depannya.


"Al, aku dan mama datang untukmu, semoga lancar ya."


Alan dan mamanya keluar dari kenderaan, kedua sahabat itu berpelukkan erat.


"Terima kasih sudah datang Lan, tante terima kasih."


Alfredo menyalami mama Alan, mereka memasuki cafe bersamaan. Ada Om dan tante Alfredo yang sengaja datang dari jauh.  Selain itu dukungan untuk Alfredo  juga datang dari  Melani serta suaminya Boy. Keduanya cantik dan tampan. Boy mengangguk-anggukkan kepalanya pada semua orang.


Akhirnya semua sudah hadir di ruangan tersebut.  Kedua belah pihak sudah saling berhadapan. Richi membuka acara tersebut dengan pembacaan doa.  Selanjutnya ucapan selamat datang serta mengenalkan keluarga besar Cindy. Seperti  biasanya dari pihak laki-laki juga mengenalkan anggota keluarganya. Selanjutnya mengutarakan maksud kedatangan mereka yakni melamar Cindy Larasati  untuk putra semata wayang mereka yakni Muhammad Alfredo.


Raka dan Mardo saling memandang, lalu keduanya menatap pada putri cantik mereka.


"Cindy, bagaimana Nak orang tua Muhammad Alfredo melamarmu? apakah diterima?"

__ADS_1


Suasana tegang, semua mata memandang pada Cindy, gadis itu menjadi berdebar oleh suasana yang tercipta, ini lebih tegang dari ujian. Ia mengigit bibirnya lantas seperti gadis pemalu ia mendekatkan bibirnya ke telinga Mardo. Selanjutnya Mardo berbisik pada Raka.


Raka menatap orang tua Alfredo lalu dengan suara yang mantap ia menjawab.


"Diterima!"


"Alhamdulillah!"


Semua menghembuskan napas kelegaan, saling memeluk dan bersalaman. Kebahagian itu berlanjut dengan Alfredo memakaikan cincin pertunangan di lamaran tersebut. Berlanjut dengan makan malam dan kemudian menentukan hari yang tepat untuk pernikahan. Keluarga sepakat akan menyatukan kedua insan tersebut pada bulan September, tiga bulan dari saat itu dan   sesudah Cindy wisuda.


Kedua pihak setuju. Mereka akan mengurus semua pernak-pernik persiapan pernikahan anak-anak mereka.


Cindy dan Alfredo tampak bahagia. Keduanya sedang bercengkrama sembari bertatapan mesra. Alan datang menghampiri.


"Kalian sungguh pasangan yang serasi, selamat ya Cindy! kamu sudah menemukan pria idola."


"Makasih kak Alan, Cindy doakan semoga kak Alan juga segera menyusul."


"Aamiin yra."


Mereka menikmati makan malam, berbincang serta bernostalgia. Anak-anak semua sudah menjelang remaja dan dewasa, Bramantyo bahagia sekali pada keluarganya. Mereka semua tidak kekurangan apa pun. Selalu rukun dan bersama menikmati setiap momen.


Tiba-tiba handphone Cindy bergetar, ia mengambil di tas kecilnya ternyata vidio call dari Rakasiwi.


"Kakak Rakasiwi dan kak Prita!"


"Hello Cindy, lamaran ya? selamat, Al akhirnya loh berhasil melamar adik gue, dasar lu ah, cinta lokasi."


Cindy dan Alfredo tertawa bahagia, gadis itu beranjak mendekati ayah dan bundanya.


"Maaf, ayah, bunda ada kak Rakasiwi dan kak Prita."


Semua sangat merindukan Rakasiwi dan Prita. Keduanya sudah memasuki tiga tahun di Jerman.


Rakasiwi menyalami semuanya mulai dari opa, oma, uncle Richi, aunty Laura, Om Mangara, Patricia juga papa dan mama Alfredo.


Kelihatannya di sana sedang pagi hari, terlihat terang dan cerah.


"Ayah, dan bunda sebentar lagi punya cucu."


"Oh, tak sabar, cepatlah kalian pulang."


Mardo menghapus air matanya, dia sangat rindu pada putra sulungnya yang ketika kecil sangat manja dan tergantung padanya.

__ADS_1


"Cucu ayah dan bunda langsung dua!"


"Hah! kembar! Subhanallah."


"Mohon doa semuanya, semoga ibu dan anak selalu sehat dan dimudahkan dilancarkan kelahirannya."


"Aamiin yra."


Semua mengucapkan aamiin dan mendoakan Prita.  Mereka semua berkomunikasi dengan Rakasiwi dan Prita.


"Keren dong anak lu Ka, nanti lahiran Jerman."


Alan dan Alfredo bercanda dan saling menggoda. Alan minta dikenalkan dengan gadis Jerman, tetapi Rakasiwi tidak merekomendasikan cewe Jerman, kata Rakaksiwi kulitnya totol-totol.


"Cari gadis Indonesia aja Lan, lebih cantik-cantik he he he."


"Ah bilang aja lu nggak ada kenalan bule Ka, dasar nggak gaul lu."


Hingga jauh malam cafe itu ramai oleh keluarga besar Raka Bramantyo dan keluarga Alfredo. Boy dan Melani pamit duluan sebab Melani sedang hamil sama dengan Prita. Alfredo mengantar keduanya ke depan.


"Pak Boy, Mel, terima kasih ya sudah datang."


"Sama-sama, semoga lancar ya pak Al."


Setelah itu Alan  pamit berdua ibunya. Alfredo memeluk sahabatnya erat. Terasa betapa beruntung dan bahagia memiliki sahabat. Acara itu menjadi meriah dengan kedatangan keluarga serta teman dekat.


 


 


 


Tara!!! Terima kasih sudah mampir, jangan lula ya Like, komentarnya, juga vote, sangat berterima kasih pada kalian sob.


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2