Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 164. Cinta Dua Malam


__ADS_3

"Puspita hatiku, aku sudah ada di depan kosmu"


Rakasiwi mengirim pesan saat kenderaannya memutar kembali dan berhenti di depan kos.


"Iya Camamku," Prita membalas sembari menahan senyum. Lebai banget mereka. Dan


bibirnya masih tergantung senyum ketika ia muncul di pintu gerbang kos.  Rakasiwi


menganggukkan kepalanya,  "Ayo!"


"Nggak mampir dulu, minum?"


Prita menawari, tapi Rakasiwi menolak, lebih baik mereka jalan dari sekarang. Gadis itu segera


menutup pintu gerbang yang besar. Untungnya lancar dan tidak memerlukan tenaga yang besar.


"Hai, gimana? enak di kota Semarang?"


Prita menanyai kesan Rakasiwi terhadap kota Semarang.


"Enak, kotanya tenang dan hangat banget, aku tidur nyenyak semalam."


Alhamdulillah, keduanya saling berpandangan. Kebersamaan satu hari telah mendekatkan


dan mengurangi perasaan malu serta asing. Rakasiwi bilang dia belum makan nasi dan mulai


lapar, sebaiknya mereka mencari tempat makan. Jadilah Prita berdialog dengan pak supir


tentang tempat kuliner yang asyik,


"Cobain ayam kalasan sambal ganja mas, pelanggan saya ketagihan saat pertama saya


ajak kesana, kedatangan selanjutnya minta diantar kesana lagi."


"Wah, jangan-jangan! ada ganjanya itu, haram!."


Prita dan Rakasiwi buru-buru menolak. Membuat supir mobil online tertawa terbahak-bahak,


"Nggak benar itu mas, memang sambalnya khas sambal dari Aceh.  Bahannya cabai, udang,


daun jeruk, blimbing wuluh, dan serai muda.  Dan bahan-bahan itu ada yang di tumis terlebih dahulu.


"Perpaduan ayam khas Jogjakarta dan sambal khas Aceh ternyata sangat nikmat sekali. Ayam


yang gurih, empuk serasi dengan sambal, asam dan segar. Sambal udang tersebut yang


membuat orang ketagihan seperti orang yang makan ganja."


"O, jadi nggak pakai ganja kan?"


"Tidak dong Mas, bisa-bisa udah di grebek dari dulu, memang sih Mas, saya sendiri juga


ketagihan, Enak mantap Mas, Mba  saking enaknya sampai dikira pakai ganja."


Rakasiwi dan Prita saling pandang, "Kita coba yuk."


Prita hanya mengangguk-angguk setuju. Pak supir  langsung mengerti dan tersenyum


senang. Jadilah sepanjang jalan pak supir bercerita tentang rumah makan  yang akan


mereka tuju tersebut. Menurutnya di sana juga ada minuman ya


ng beraneka rupa.


Minuman tradisional  yang terbuat dari rempah-rempah. Bisa dinikmati dingin dan juga


hangat. Tergantung selera.


"Iya, nanti kami mau coba semua pak."


Rakasiwi memotong cerita pak supir yang begitu seru dan antusias mempromosikan


makanan dan minuman di kota Semarang. Membuat tambah lapar dan haus saja.


Untunglah setelah menuruni daerah kampus, tak lama  mereka sampai. Rakasiwi


menawari pak supir untuk menikmati makanan bersama mereka. Tetapi ditolak


dengan malu-malu tapi mau.


"Ayo pak, nggak apa-apa, saya traktir kok, tinggal pesan aja, yang bapak suka."


"Serius Mas?"


"Dua rius, ayo ini sudah waktunya makan siang!"

__ADS_1


Jadilah pak supir yang ramah dan pintar bercerita itu mendapat traktiran Rakasiwi.


Bahkan menawari barangkali mau dibungkus juga buat keluarga di rumah. Pak


supir memandangi Rakasiwi, ya Allah ada anak muda yang baik, mimpi apa yaa


semalam.


Keduanya kembali menikmati makan siang berdua sembari menikmati musik


lembut yang mengalun. Pemandangan melalui jendela juga indah.


"Selamat menikmati makanan Puspita,"


Rakasiwi tersenyum menatapi wanita manis di depannya. Prita balas menatap


dan tersenyum.


"Yuk, selamat menikmati makanannya juga."


Keduanya mulai mencicipi ayam kalasan sambal ganja, sedikit agak pedas tetapi


memang sangat enak.


Beberapa saat, tiba-tiba Rakasiwi menghentikan suapannya, menatap gadis


di depannya. Prita kembali memandang dan bertanya kenapa Rakasiwi


menatapnya seperti itu. Jemari laki-laki muda itu terulur dan mengusap


sudut bibir Prita lembut, membuat Prita tercekat, darahnya tersirap dan


terpompa deras, pasti pipinya telah memerah sebab malu.


"Ada bekas makanan."


Rakasiwi menarik tangannya yang baru saja mengusap sedikit bekas kuah


yang tertinggal di sudut bibir.


"Terima kasih,"


Gumam Prita masih berusaha menyimpan gemuruh yang di dadanya. Gadis itu


mencari-cari sesuatu di tasnya, dan mengambilnya dengan malu-malu. Prita


baru saja di usap oleh Rakasiwi. Sudah bersih dan tidak ada lagi makanan


yang mengenai wajahnya.


"Ayo, makan lagi, dihabiskan tidak ada makanan yang menempel lagi kok."


Rakasiwi menyuapi lagi makanannya, tiba-tiba Rakasiwi kembali membuat


Prita terpana, sebab di depan mulutnya sebuah sendok berisi makanan


dan potongan daging ayam, Rakasiwi berusaha menyuapinya.


Aaa!


Prita seperti dicocok hidung membuka mulutnya dan menerima suapan


dari Rakasiwi, pipinya pasti memerah lagi, karena ia merasakan pergerakkan


darah yang meluap ke daerah wajahnya.


"A-aku bisa sendiri kok."


"Iya tau, cuman pengen menyuapi saja, suapin aku dong."


"Apa?"


Prita pasti salah mendengar, "Aku juga mau disuapi, biar memes."


"Apaan Memes?"


"Mesra!"


Prita, lagi seperti di cocok hidung menuruti kemauan Rakasiwi, Ia menyendok


nasi dan potongan daging ayam dan dengan tersenyum menyuapkan sendok


tersebut ke mulut laki-laki di depannya, tangannya sedikit gemetar. Rakasiwi


menguatkan lengan yang gemetar itu dan hap, sesendok makanan itu masuk

__ADS_1


kemulutnya dan ia mengunjahnya dengan nikmat.


"Mas, saya sudah selesai, mau bertugas kembali, oia saya membungkus dua


makanan untuk istri dan anak ya Mas."


Supir yang tadi ikut makan tetapi memilih duduk sendirian di pojok, pamit setelah


mengucapkan terima kasih.


"Mas, maaf tadi saya membuat foto, nantik saya tunjukkan pada istri dan anak


saya kalau Mas dan Mba yang membelikan makanan ini."


Pria itu memperlihatkan sebuah foto yang memperlihatkan kemesraan, saat


Rakasiwi mengusap sudut bibir Prita. Foto yang indah. Rakasiwi  meminta


foto tersebut dikirim kepadanya, ternyata ia membuat foto-foto yang lain


juga, saat menyuapi Prita dan sebaliknya. Rakasiwi dan Prita senang sekali


melihat foto-foto hasil bidikkan laki-laki itu.


Rakasiwi mengeluarkan dompetnya dan memberikan lembaran merah karena


senang sekali. Tiga lembar uang berwarna merah berpindah tangan. Kembali


laki-laki supir mobil online itu tercekat, ya Allah rejeki hari ini berlimpah.


"Terima kasih Mas, Mba, semoga selalu bahagia."


"Aamiin yra."


Laki-laki itu lantas bergegas pergi, ia memutuskan pulang untuk mengantar


makanan buat istri dan anaknya. Juga memberikan rejekinya kepada


istrinya.


"Ternyata laki-laki tadi berguna juga, ia mengabadikan kememesan kita."


Rakasiwi tak puasnya memandangi foto-foto mesra dirinya dan Prita.


"Kirim sih."


Prita juga ingin memiliki foto-foto itu, dan Rakasiwi mengirimnya. Keduanya


asyik memandangi foto tersebut. Tenggelam oleh keindahan serta suasana


yang terekam.


"Yuk, kemana lagi?"


"Jalan-jalan denganmu menghabiskan hari."


"Hemmm, kalau begitu yuk pergi!"


Rakasiwi bangun dan mengulurkan tangannya untuk Prita bangun dari kursinya.


Oh, Prita tak menolak ia menaro telapak tangannya di genggaman laki-laki itu, dan


keduanya bergandengan tangan keluar dari rumah makan itu.


"Rasanya aku ingin membuat sebuah lagu."


"Oh ya? memangnya bisa?"


"Memang kamu lupa, aku pintar main gitar dan juga mencipta lagu."


"Oh iya, aku baru ingat, lagu apa?"


Rakasiwi mengercitkan dahinya, berpikir keras dan tersenyum.


"Judulnya bagaimana kalau Cinta Dua Malam Di Semarang?"


Prita tertawa, " Ada juga Cinta Satu Malam."


"Makanya aku mau membuat Cinta Dua Malam."


Keduanya tertawa merasa geli dengan ide konyol tersebut.


 


 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2