
"Puspita hatiku, aku sudah ada di depan kosmu"
Rakasiwi mengirim pesan saat kenderaannya memutar kembali dan berhenti di depan kos.
"Iya Camamku," Prita membalas sembari menahan senyum. Lebai banget mereka. Dan
bibirnya masih tergantung senyum ketika ia muncul di pintu gerbang kos. Rakasiwi
menganggukkan kepalanya, "Ayo!"
"Nggak mampir dulu, minum?"
Prita menawari, tapi Rakasiwi menolak, lebih baik mereka jalan dari sekarang. Gadis itu segera
menutup pintu gerbang yang besar. Untungnya lancar dan tidak memerlukan tenaga yang besar.
"Hai, gimana? enak di kota Semarang?"
Prita menanyai kesan Rakasiwi terhadap kota Semarang.
"Enak, kotanya tenang dan hangat banget, aku tidur nyenyak semalam."
Alhamdulillah, keduanya saling berpandangan. Kebersamaan satu hari telah mendekatkan
dan mengurangi perasaan malu serta asing. Rakasiwi bilang dia belum makan nasi dan mulai
lapar, sebaiknya mereka mencari tempat makan. Jadilah Prita berdialog dengan pak supir
tentang tempat kuliner yang asyik,
"Cobain ayam kalasan sambal ganja mas, pelanggan saya ketagihan saat pertama saya
ajak kesana, kedatangan selanjutnya minta diantar kesana lagi."
"Wah, jangan-jangan! ada ganjanya itu, haram!."
Prita dan Rakasiwi buru-buru menolak. Membuat supir mobil online tertawa terbahak-bahak,
"Nggak benar itu mas, memang sambalnya khas sambal dari Aceh. Bahannya cabai, udang,
daun jeruk, blimbing wuluh, dan serai muda. Dan bahan-bahan itu ada yang di tumis terlebih dahulu.
"Perpaduan ayam khas Jogjakarta dan sambal khas Aceh ternyata sangat nikmat sekali. Ayam
yang gurih, empuk serasi dengan sambal, asam dan segar. Sambal udang tersebut yang
membuat orang ketagihan seperti orang yang makan ganja."
"O, jadi nggak pakai ganja kan?"
"Tidak dong Mas, bisa-bisa udah di grebek dari dulu, memang sih Mas, saya sendiri juga
ketagihan, Enak mantap Mas, Mba saking enaknya sampai dikira pakai ganja."
Rakasiwi dan Prita saling pandang, "Kita coba yuk."
Prita hanya mengangguk-angguk setuju. Pak supir langsung mengerti dan tersenyum
senang. Jadilah sepanjang jalan pak supir bercerita tentang rumah makan yang akan
mereka tuju tersebut. Menurutnya di sana juga ada minuman ya
ng beraneka rupa.
Minuman tradisional yang terbuat dari rempah-rempah. Bisa dinikmati dingin dan juga
hangat. Tergantung selera.
"Iya, nanti kami mau coba semua pak."
Rakasiwi memotong cerita pak supir yang begitu seru dan antusias mempromosikan
makanan dan minuman di kota Semarang. Membuat tambah lapar dan haus saja.
Untunglah setelah menuruni daerah kampus, tak lama mereka sampai. Rakasiwi
menawari pak supir untuk menikmati makanan bersama mereka. Tetapi ditolak
dengan malu-malu tapi mau.
"Ayo pak, nggak apa-apa, saya traktir kok, tinggal pesan aja, yang bapak suka."
"Serius Mas?"
"Dua rius, ayo ini sudah waktunya makan siang!"
__ADS_1
Jadilah pak supir yang ramah dan pintar bercerita itu mendapat traktiran Rakasiwi.
Bahkan menawari barangkali mau dibungkus juga buat keluarga di rumah. Pak
supir memandangi Rakasiwi, ya Allah ada anak muda yang baik, mimpi apa yaa
semalam.
Keduanya kembali menikmati makan siang berdua sembari menikmati musik
lembut yang mengalun. Pemandangan melalui jendela juga indah.
"Selamat menikmati makanan Puspita,"
Rakasiwi tersenyum menatapi wanita manis di depannya. Prita balas menatap
dan tersenyum.
"Yuk, selamat menikmati makanannya juga."
Keduanya mulai mencicipi ayam kalasan sambal ganja, sedikit agak pedas tetapi
memang sangat enak.
Beberapa saat, tiba-tiba Rakasiwi menghentikan suapannya, menatap gadis
di depannya. Prita kembali memandang dan bertanya kenapa Rakasiwi
menatapnya seperti itu. Jemari laki-laki muda itu terulur dan mengusap
sudut bibir Prita lembut, membuat Prita tercekat, darahnya tersirap dan
terpompa deras, pasti pipinya telah memerah sebab malu.
"Ada bekas makanan."
Rakasiwi menarik tangannya yang baru saja mengusap sedikit bekas kuah
yang tertinggal di sudut bibir.
"Terima kasih,"
Gumam Prita masih berusaha menyimpan gemuruh yang di dadanya. Gadis itu
mencari-cari sesuatu di tasnya, dan mengambilnya dengan malu-malu. Prita
baru saja di usap oleh Rakasiwi. Sudah bersih dan tidak ada lagi makanan
yang mengenai wajahnya.
"Ayo, makan lagi, dihabiskan tidak ada makanan yang menempel lagi kok."
Rakasiwi menyuapi lagi makanannya, tiba-tiba Rakasiwi kembali membuat
Prita terpana, sebab di depan mulutnya sebuah sendok berisi makanan
dan potongan daging ayam, Rakasiwi berusaha menyuapinya.
Aaa!
Prita seperti dicocok hidung membuka mulutnya dan menerima suapan
dari Rakasiwi, pipinya pasti memerah lagi, karena ia merasakan pergerakkan
darah yang meluap ke daerah wajahnya.
"A-aku bisa sendiri kok."
"Iya tau, cuman pengen menyuapi saja, suapin aku dong."
"Apa?"
Prita pasti salah mendengar, "Aku juga mau disuapi, biar memes."
"Apaan Memes?"
"Mesra!"
Prita, lagi seperti di cocok hidung menuruti kemauan Rakasiwi, Ia menyendok
nasi dan potongan daging ayam dan dengan tersenyum menyuapkan sendok
tersebut ke mulut laki-laki di depannya, tangannya sedikit gemetar. Rakasiwi
menguatkan lengan yang gemetar itu dan hap, sesendok makanan itu masuk
__ADS_1
kemulutnya dan ia mengunjahnya dengan nikmat.
"Mas, saya sudah selesai, mau bertugas kembali, oia saya membungkus dua
makanan untuk istri dan anak ya Mas."
Supir yang tadi ikut makan tetapi memilih duduk sendirian di pojok, pamit setelah
mengucapkan terima kasih.
"Mas, maaf tadi saya membuat foto, nantik saya tunjukkan pada istri dan anak
saya kalau Mas dan Mba yang membelikan makanan ini."
Pria itu memperlihatkan sebuah foto yang memperlihatkan kemesraan, saat
Rakasiwi mengusap sudut bibir Prita. Foto yang indah. Rakasiwi meminta
foto tersebut dikirim kepadanya, ternyata ia membuat foto-foto yang lain
juga, saat menyuapi Prita dan sebaliknya. Rakasiwi dan Prita senang sekali
melihat foto-foto hasil bidikkan laki-laki itu.
Rakasiwi mengeluarkan dompetnya dan memberikan lembaran merah karena
senang sekali. Tiga lembar uang berwarna merah berpindah tangan. Kembali
laki-laki supir mobil online itu tercekat, ya Allah rejeki hari ini berlimpah.
"Terima kasih Mas, Mba, semoga selalu bahagia."
"Aamiin yra."
Laki-laki itu lantas bergegas pergi, ia memutuskan pulang untuk mengantar
makanan buat istri dan anaknya. Juga memberikan rejekinya kepada
istrinya.
"Ternyata laki-laki tadi berguna juga, ia mengabadikan kememesan kita."
Rakasiwi tak puasnya memandangi foto-foto mesra dirinya dan Prita.
"Kirim sih."
Prita juga ingin memiliki foto-foto itu, dan Rakasiwi mengirimnya. Keduanya
asyik memandangi foto tersebut. Tenggelam oleh keindahan serta suasana
yang terekam.
"Yuk, kemana lagi?"
"Jalan-jalan denganmu menghabiskan hari."
"Hemmm, kalau begitu yuk pergi!"
Rakasiwi bangun dan mengulurkan tangannya untuk Prita bangun dari kursinya.
Oh, Prita tak menolak ia menaro telapak tangannya di genggaman laki-laki itu, dan
keduanya bergandengan tangan keluar dari rumah makan itu.
"Rasanya aku ingin membuat sebuah lagu."
"Oh ya? memangnya bisa?"
"Memang kamu lupa, aku pintar main gitar dan juga mencipta lagu."
"Oh iya, aku baru ingat, lagu apa?"
Rakasiwi mengercitkan dahinya, berpikir keras dan tersenyum.
"Judulnya bagaimana kalau Cinta Dua Malam Di Semarang?"
Prita tertawa, " Ada juga Cinta Satu Malam."
"Makanya aku mau membuat Cinta Dua Malam."
Keduanya tertawa merasa geli dengan ide konyol tersebut.
__ADS_1
Bersambung