
Setelah mengutarakan rahasia terpendam di jiwa pak Malik keduanya saling bertatapan dan mengerti.
"Terima kasih Mardo, kau sudah mendengarkan apa yang selama ini menyiksa batinku. Bapak pikir hal ini juga yang membuatnya depresi."
"Sama-sama pak Malik, seandainya saya tahu lebih awal," Mardo menghapus air mata yang menetes di pipinya, Ia sangat sedih. Selama beberapa hari Vana bersamanya tetapi ia tidak tau penderitaan yang terpendam di jiwa sahabatnya. Vana memutuskan menyimpan sendiri apa yang telah terjadi antara dirinya dan Papinya. Karena ia tidak ingin nama baik keluarganya tercemar.
Kemudian Mardo pamit lebih dulu. Meski Pak Malik mengajak makan malam bersama anak-anak. Gadis itu beralasan Mami dan Papinya menunggu untuk makan malam juga. Di dalam kenderaan beberapa kali Mardo menghapus lagi air mata yang menetes.
"Van, kamu masih suci. Papi kamu hanya membohongimu. Seandainya kamu memperbolehkan Pak Malik menikah lagi, kamu dan adik-adikmu akan ada yang merawat dan menjaga. Mungkin tidak terjadi seperti ini. Kenapa kamu keras kepala Van? kami semua kehilanganmu.
"Non, udah sampai puncak kapas Kav.BI," Supir taxi membuyarkan lamunannya.
"Oh iya, terima kasih ya pak."
Mardo melompat dan menaiki undak-undak tangga dan kemudian sampai di teras. Patricia yang membukakan pintu. Mardo langsung ke kamarnya, menyangkutkan tas dan membuka bajunya. Ia ingin mandi dan mengguyur kepalanya agar cerita pak Malik menguap pergi, hanya membuatnya kesal.
Esok paginya Betty menyamper untuk bareng bareng berangkat. Mardo menuruni tangga dengan wajah segar dan ceria. Ia menyambut Betty dengan sapaannya, "Hei Betty, segar sekali kamu dan wangi hemmm."
"Tentu saja, aku barusan mandi dan pakai parfum ibuku."
"Hemm, pantas saja."
Kedua gadis itu berjalan bersisian menuju sekolah, lantas berpisah di koridor. Mardo mesti naik ke gedung atas. Sedang Betty di gedung bawah.
Semua berjalan seperti biasanya. Hanya hari itu Halima minta diajari bahasa Inggris. Gadis Papua itu sangat lemah dan takut pada pelajaran tersebut. Mardo membantu Halima memulai dari awal atau nol, Ia menyuruh Halima mengikutinya membacakan abjad dengan bahasa Inggris. A dibaca Ei dan sebagainya. Barulah terbuka pikiran Halima, ternyata rahasia di situ. Gadis itu mangut-mangut.
"Torang hapalkan itu dulu Halima, besok kita belajar lagi, ok?"
"Siap Nona Mardo, beta sangat berterima kasih."
"Kita pulang yuk Halima, sekolah sudah sepi, apa kamu mau mampir ke rumahku."
Halima menggeleng, ia akan ke warung baso Sarah Lee saja. Ia punya kamar dan barang-barang di sana.
Kedua gadis berkulit hitam dan putih itu berjalan ke pintu keluar. Pak Satpam sempat mengantar kedua gadis itu ke luar. Kemudian menghilang.
Mardo dan Halima berdiri di depan gerbang sekolah,menunggu taksi. Matahari bersinar terik.
Tiba tiba sebuah mobil hitam berhenti di depan mereka. Pintu terbuka dan seorang pria tiba tiba saja menarik paksa Mardo ke dalam mobil.
Mardo terkejut dan hesteris, tapi tubuhnya sudah ditarik kuat masuk ke dalam mobil.
"Halima! tolong! cepat panggil Richi atau Sulaiman! Halima!"
Mardo berteriak-teriak, Halima juga berusaha mencegah mobil itu cepat terbebas darinya. Ia pegang pintu dan membuat tubuhnya tergantung di sana. Sampai ia merasakan tendangan di tubuhnya. Hingga jatuh terguling-guling.
"Halima! Richi!"
Mardo hesteris, ia takut sekali.
"Nona Mardo!!! Nonaaaa!!!"
__ADS_1
Halima berusaha bangun, ia tadi terhempas dan terjengkang oleh tendangan seorang pria di dalam mobil. Halima mengejar dengan wajah cemas dan ketakutan.
Beruntung sebuah mobil melihat Halima mengejar ngejar sesuatu,sembari meneriakkan nama Mardo.
"Hei, ada apa? kamu memanggil manggil Mardo?"
Halima tercekat, pria itu adalah pria idola gadis gadis.
Sempat terpesona dan merasa sangat beruntung bertemu pria idola. Namun Ia lantas teringat Mardo.
"Kak Raka! Mardo di culik!"
"Apa! Mardo di culik?
"Mereka ke arah mana?"
Sana Kak! sambil Halima membuka mobil dan naik.
Raka buru-buru memutar, dan membawa Halima. Terbata-bata Halima menceritakan kronologinya.
Bagai kilat Raka mengejar mobil hitam yang telah jauh.T api Raka bisa meraba ke arah mana mobil tersebut membawa Mardo. Raka sempat melihat buntut mobil itu menuju ke puncak sebuah gunung.
Jalan berliku liku serta jurang yang menganga di sebelah kanan mobil. Raka tak perduli ia terus mengikuti mobil hitam yang sekarang tak lepas dari matanya. Halima menutup matanya melihat jalan yang terjal dan curam.
"Hati hati kak!"
Raka tak menyahut.Ia tegang. Jalan menuju ke puncak itu sangat sempit. Salah sedikit nyawa taruhannya.
Dan akhirnya sampai ke puncak pegunungan itu. Raka menghentikan mobil. Ia keluar untuk memeriksa.Tapi yang kelihatan hanya hutan belantara.
"Kemana mereka?"
Raka kembali masuk kemobil ketika melihat sebauh jalan setapak di balik gunung. Ia merangsak kesana.
Tiba tiba puluhan anak panah menyerang mobilnya dan berpentalan .Ia melihat puluhan bayangan orang pedalaman mengejarnya sembari berteriak teriak.
Halima menutup wajahnya.Ia sangat takut.
"Heh, itu sukumu, aku pikir kau akan bisa bicara dengan mereka. Apa yang mereka inginkan?"
Halima mengangguk angguk.
Sementara Mardo telah di bawa ke dalam hutan dan hilang di balik kelebatan belukar.
Setelah belantara itu tampaklah sebuah rumah dan seorang laki laki hitam tinggi besar dengan tubuh bergambar menggengam sebuah tongkat. Beberapa orang berbaris menjaganya. Mereka semua bertelanjang dada. Dan Mardo yang putih cantik kontras di tengah mereka.
"Siapa torang punya nama?"
Laki laki asli Papua itu menatap tajam pada Mardo.
"Mardo Paristiowati."
Sahut gadis itu,masih berpikir kenapa ia diculik dan dibawa menghadap pria hitam yang besar itu.
__ADS_1
"Bawa dia masuk, taro di tempat biasa."
Dua orang menarik tubuh gadis itu dan memaksanya naik ke atas rumah dan membawa Mardo ke sebuah ruangan.
"Duduk dan tunggu!"
Kata laki laki yang disuruh menjaganya.
Laki laki tinggi besar yang agaknya berkuasa itu duduk di hadapannya.
"Torang bikin rusuh di tanah air beta hah?"
Matanya membesar kearah Mardo.
"A-aku Bikin rusuh?apa maksudnya?"
Mardo terperangah,ia mendengar tuduhan yang tak ia mengerti.
"Bikin rusuh apa? beta tidak mengerti."
"Torang akan merasakan akibatnya!"
Mardo hampir menangis, karena pria yang berkuasa itu menuduhnya tanpa bukti, Tapi gadis itu berusaha tenang
dan sabar.
"Ada yang tahu dan mengikuti kita, tapi mereka tersesat di hutan."
"Kenapa, kalian punya kerja tidak becus? bikin berantakan acara Pelindung anak Papua hah!"
"Kami sudah lama menunggunya pak ketua, dan ternyata dia bersama temannya."
Sial!!!
Ia menendang sesuatu yang mengakibatkan bunyi yang ribut.
"Sudah terlanjur, bawa saja orang itu kesini!"
"Baik pak Ketua,"
Beberapa orang menuruni rumah kayu tersebut dan pergi, Sedangkan orang yang dianggap ketua bertolak pinggang di depan pintu gerbang.
Bersambung
__ADS_1