
Mardo pagi itu merasakan keceriaan di dalam hatinya. Sudah lama ia tak merasakan kegembiran yang berbeda.
Kegembiaraan serta keceriaan yang bukan berasal dari Raka suaminya. Bukan juga dari anak-anaknya. Melainkan kegembiraan mengingat serta mengenang masa remaja. Satria, Putri, Sashi dan Emely adalah teman-teman smpnya. Mereka mengikuti masa-masa orentasi sekolah bersama, lalu mendapatkan kelas yang sama pula. Entah apa yang menyebabkan kebersamaan itu.
Tiba-tiba saja mereka menjadi sering pulang dan berangkat ke sekolah bareng. Beberapa bulan telah membuat keempatnya merasa cocok dan nyaman. Selalu bersama melakukan berbagai hal. Sama-sama tak menyukai pelajaran matematika sehingga memutuskan bolos bersama setiap kali terlihat jadwal tiga jam belajar matematika.
Mereka berpikir tiga jam itu sangat menyiksa dan kemungkinan maju ke depan kelas sangat besar. Itu sangat menakutkan dari apa pun.
Akhirnya mereka bertemu di perhentian bis, mencari musholla atau swalayan lalu ke toilet untuk berganti baju.
Keempatnya tersenyum oleh kesepakatan menghabiskan waktu di mall. Entah sudah berapa kali mereka melakukannya hingga mengenal semua plaza dan mall besar di Jakarta. Tidak ada yang mereka lakukan kecuali
menghabiskan waktu di dalam mall. Menikmati permainan di timezone. Yang paling mereka sukai tentu saja dance timezone. Menari dengan panduan mesin, berdiri di atas mesinnya dan meletakkan kaki pada tempat yang menyala secara tepat, cepat dan teratur. Musik membuat permainannya menjadi lebih seru. Ketiga temannya lincah sekali dan bisa mengikuti lampu yang berkelap-kelip. Hanya Mardo yang tidak bisa.
Terkadang mereka mengunjungi salah satu diantara mereka yang memiliki saurada yang memiliki sesuatu. Misalnya yang punya restoran sehingga mereka bisa makan gratis. Yang memiliki perkebunan untuk bermain sampai puas. Pokoknya yang bisa mereka manfaatkan selama bolos.
Mardo tertawa geli jika mengingat betapa nakal dia dan teman-temannya. Namun keberuntungan berpihak juga
pada keempatnya. Sebab meski sering bolos, nilai matematika mereka tetap baik. Karena mereka rajin mengerjakan pr matematika yang bertumpuk-tumpuk. Seperti yang lain mereka berempat naik juga ke kelas delapan. Di sini mereka bertemu dengan Satria yang menjadi ketua murid. Ia lumayan galak dan disiplin.Tapi Ia tak berdaya jika berhadapan dengan Mardo, ha ha ha.
Satria sejak pertama melihat gadis itu, harinya tak lagi sama. Ia sering melamun, terdiam dan membisu. Ia sering memperhatikan Mardo dari jauh hingga gadis itu menoleh padanya. Satria gelagapan namun berusaha tersenyum.
"Kenapa ya Satria sering banget liatin aku?"
Tanyanya suatu kali pada Putri.
"Hah? masa sih Do, aku lihat biasa saja."
"Kan aku yang merasa Put."
"Oh gitu ya, berarti dia suka kamu Do, asyik."
Malah yang terjadi, ketiga temannya meledeknya habis-habisan. Dan merencanakan hari di mana Satria akan nembak Mardo. Diam-diam tanpa sepengetahuannya Sashi, Putri dan Emely ketiganya mendatangi Satria. Entah apa rencana mereka.
Tiba lah mereka ke acara olah raga renang. Guru olah raga mereka mengajari anak-anak tehnik renang. Dimulai dengan melemaskan kaki dengan mengayunkan-ayunkan tungkai kaki di air. Setelah itu baru melatih beberapa
__ADS_1
gaya yang sudah diajarkan.
Setelah semua murid melakukannya, pak guru mendahului pulang. Anak-anak masih menghabiskan waktu di kolam renang. Demikian juga Mardo ia memang menyukai pelajaran berenang. Ia berenang dari ujung satu ke ujung
satunya. Dan saat ia sadar telah sepi sekali tempat itu. Mardo cilungak dan cilinguk.
"Ahh tolong!"
Tiba-tiba ia melihat seseorang di ujung kolam, tempat yang dalam. Orang itu timbul tenggelam. Mardo buru-buru terjun ke kolam dengan tolakkan yang kuat pada tubuhnya sehingga ia cepat menggapai tubuh itu. Susah payah ia menarik dan membawa tubuh yang tak lain adalah Satria ke atas kolam. Tidak satu pun yang terlihat di sana. Bahkan penjual makanan yang biasanya membuatkan makanan hangat dan minuman.
"Tolong."
Mardo beberapa kali berteriak, tetapi tidak ada orang.
"Aneh, kemana mereka."
Mardo akhirnya berhasil menggulingkan tubuh Satria ke tepi kolam. Satria pingsan. Bingung dan panik tetapi ia berusaha menolong Satria dengan melakukan gerakkan pertolongan pada orang tenggelam. Ia terpaksa berada dia atas tubuh Satria dan menyentuh dadanya. Tetapi tak berhasil, Mardo semakin panik, ia menyentuh rahang Satria
dan akan memberikan ciuman pertolongan. Tetapi tiba-tiba mata Satria terbuka dan ia menyemburkan air dari
Secepat kilat Mardo menjauhkan diri dari Satria. Ia terbengong dan malu. Sementara Satria juga langsung berdiri dan berlari meninggalkan tempat itu. Ingin Mardo berteriak tetapi ia tak memiliki keberanian. Esok paginya ramai di sekolah. Foto-foto Mardo dan Satria beredar secara rahasia di sekolah. Anak-anak tersenyum tiap kali ia melintas di depan mereka.
"So sexy girl."
Bisik-bisik di belakangnya. Hingga akhirnya ia melihat sendiri fotonya yang akan mencium Satria.
Mardo sangat terkejut. Juga marah. Siapa yang telah mencuri foto itu. Ia tidak rela fotonya yang sedang mengenakan pakaian renang ditatapi oleh anak-anak. Mardo menangis terisak-isak. Ia marah pada
Sashi, putri serta Emily. Mardo menuduh teman-temannya jahat dan bersekongkol untuk menjebaknya. Ia juga
marah para Satria.
"Bukan kami Do? sumpah."
Putri, Sashi dan juga Emely tak mengaku. Mereka bilang memang buru-buru pulang takut kemalaman di jalan. Satria juga hanya terdiam ketika ia menanyakan maksudnya. Hingga Mardo memukulnya dan tak mau memaafkannya.
__ADS_1
Plak!
Pukul Mardo saat bertemu. Satria menyentuh pipinya dan berdesis kesakitan.
"Gara-gara kamu semua orang menuduhku yang tidak-tidak, kenapa kamu nggak menjelaskan yang sebenarnya?
Kamu jahat Satria."
"Mardo, maafkan aku ya. Aku janji akan membereskan semuanya, aku akan hapus semua fotomu dari hp anak-anak. Bagaimana pun caranya."
Tapi Mardo tak mau mendengar kata-kata Satria, ia tau teman-temannya dan Satria telah bersekongkol, ia benci sekali hal itu. Hanya saja masalahnya tertutup dengan acara ulang tahun sekolah. Teman-temannya sibuk berkemas dan menyiapkan acara. Begitu juga Satria. Hanya Mardo yang tidak ikut dan tak terlibat di sana. Kemudian ujian semester pertama lalu libur panjang.
Saat libur panjang itulah Papi mengajak keluarga kecilnya pindah ke kota eksotik. Ia hanya memberi tahu Putri, Sashi serta Emily. Mereka berempat saling bertangisan, bermaaf-maafan. Meski selanjutnya mereka menghabiskan waktu dengan bermain dan berkejaran di taman mini.
"Do, kirimin aku koteka kalau kau sudah sampai di Fak-fak ya."
"Iya, mau sekalian isinya?"
"Wah Mardo, ngga ada malunya ich."
"Lagian, buat apaan koteka? ada-ada aja."
"Kan buat pajangan di ruang tamu Do, unik pastinya."
"Iya, nanti aku kiriman yang banyak biar ruang tamumu banyak kotekanya."
Mereka semua tertawa oleh keinginan aneh Emily.
Bersambung
__ADS_1