
"Mereka pergi kemana sih?"
Raka saling tatap dengan Deni dan Sammy.
Beberapa kali Raka menelpun Mas Arif, juga Richi tapi tidak di jawab.
Agaknya fokus liburan. Tak ingin di ganggu siapa pun.
Raka kelihatan kesal, serba salah.
Deni dan Sammy saling lirik. Mereka tak mengerti. Kenapa juga Raka sangat terobsesi dengan gadis belia yang bernama Mardo itu.
Banyak gadis yang lebih keren, serta sebanding dengan Raka. Namun yang terpilih rupanya cuman Mardo.
Gadis belia yang sangat beruntung.
Raka yang dulu sangat jauh berbeda.Semua berawal dari kejadian di bandara.
Bertemu seorang gadis yang berani mengkritiknya dengan pedas, ' Dasar ceroboh!'
Bak baru terbangun dari tidur. Ia membuka matanya dan melihat seorang gadis yang mencibir kepadanya.
Mata Raka terbeliak, tapi terlambat gadis yang mengatainya ceroboh serta mencibir itu sudah menghilang di balik pintu keberangkatan.
Sebenarnya bukan hanya Raka yang terkejut, tapi juga Deni dan Sammy.
Mereka berada tak jauh dari Raka saat kejadian itu. Sama terpana seperti Raka. Sampai tak berbuat apa-apa.
Agaknya gadis belia itu memiliki energi kuat dalam tubuhnya. Terbukti orang seperti Raka yang biasaya keras, tak mau mengalah kali itu menjadi patung.
Menurut Deni yang sangat mengenal sifat Raka, gadis itu telah menohok jantungnya sangat dalam.
Terpanah oleh panah asmara.
Waktu itu mereka berbisik-bisik.
"Sudah terpanah cinta dia."
"Iya, dia mematung begitu lama."
"Mungkin sudah waktunya ada cewe yang menghentikan sikap jeleknya heh."
Keduanya mangut mangut.
"Lebih cepat lagi sih, seperti keong saja!"
Raka kesal, merasa teman-temannya berbisik-bisik tentangnya.
Raka mengusap usap sebuah benda kecil yang kemana saja di bawanya. 'Jepit rambut seorang cewe'
"Sabar Bro, ini sudah kecepatan seratus lebih."
"Bukankah tadi pagi sudah melihatnya?"
Saling menolehi berduaan Deni dan Sammy. Senyum mereka menggoda Raka.
Cowo itu pura pura tuli. Asyik mengusap usap jepit rambut di jemarinya.
Entah sudah berapa jauh dan berapa pantai pasir putih yang mereka lewati, tapi yang mereka cari belum ketemu juga. Tetapi mereka yakin Richi dan teman-temannya masih berada di sekitar pantai. Merauke memang dikenal memiliki banyak sekali pantai. Beberapa diantaranya belum lagi sempat di populerkan oleh pemerintah.
__ADS_1
Pantai Lampu satu yang sangat terkenal, karena sangat dekat dengan kota Merauke. Di sebut pantai lampu satu karena ada bangunan menjulang untuk lampu atau mercusuar sebagai panduan kembali ke pantai bagi nelayan.
Pantai lampu satu sangat terkenal, karena selain pantai yang terpanjang serta terluas, juga merupakan perkampungan nelayan yang unik. Banyak kapal-kapal nelayan yang bersandar di bawah pohon-pohon kelapa.
Anak-anak nelayan dengan riang bermain pasir atau berteduh di bawah pohon kelapa yang tumbuh berbaris rapat sepanjang garis pantai.
Tak jauh dari pantai lampu satu, sebuah pantai pasir putih yang tak kalah indah yakni pantai Buti, tidak berbeda dengan pantai sebelumnya. Di sini pun banyak wisatawan lokal dan luar. Ada tempat-tempat orang berjualan kelapa manis serta makanan seperti sagu.
Setelah pantau Buti, lantas pantai Payum, pantai Onggaya dan yang terjauh pantai Wendu. Ketiga pantai yang terakhir, belum banyak didatangi oleh wisatawan. Masih alami dan natural. Pasisir pantainya bersih, tampak jelas dari air laut yang tidak tercemar oleh sampah. Pemandangan yang indah dan unik. Barisan pohon kelapa yang rapat sehingga menimbulkan kerimbunan dari daun-daunnya. Sangat nyaman untuk duduk-duduk menikmati pemandangan laut serta sunset di pagi dan soren hari. Sebab itu pula beberapa penduduk membuat pondok
untuk beristirat atau saat menunggu kembalinya nelayan dari laut.
Sebuah suasana yang tenang, damai serta indah.
Raka dan teman-temannya masih menyusuri pantai, hanya saja Richi dan teman-temannya memang berangkat
pagi-pagi. Perjalanan mereka tentunya sudah sangat jauh. Mungkin mereka ke sebuah pantai yang sepi. Karena sangat jauh dari kota.
Agaknya mereka sudah berada di pantai yang paling jauh. Yakni pantai Wendu.
Raka yakin rombongan Richi menuju pantai tersebut.
Mereka menjadi tak terburu-buru lagi, malah mampir di tempat minum untuk menghilangkan dahaga.
Setelah puas, mereka lanjut mengikuti garis pantai, hingga akhirnya mereka melihat sebuah kenderaan yang tak asing.
"Itu mereka!"
Deni menunjuk mobil mini bis yang terparkir di bawah pohon, pada tempat yang teduh.
Deni mengomel panjang pendek sembari meringis.
"Eh Kami juga mengikuti supir mo Kak."
Karena mereka semua sedang menikmati es kelapa, sekalian saja Deni juga minta tiga kelapa muda.
"Yang lain kemana? kok cuman kalian di sini?"
Sammy dan Raka melihat kalau beberapa diantara mereka tidak ada.
"Betty, Richi dan Mardo, kayaknya shoting vidio kak, tempatnya bagus. Apa lagi sudah mulai teduh."
Oh, di mana?
"Tadi mereka jalan ke depan sana kak? mencari yang terbagus."
"Biar! aku juga mau jalan-jalan."
Raka, bergegas pergi. Alam begitu segar
Lamat-lamat ia mendengar suara beberapa orang yang bersendau gurau.
Ternyata teman-teman Richi, Sulaiman, Hasan dan Wiliam.
Ia belum melihat adiknya dan gadis itu. Raka berdebar.
Namun bayangan tiga orang yang berjalan menjauh, ia mengenali mereka.
__ADS_1
Sebaiknya ia kembali. Raka tenang, setidaknya mereka tidak berdua-duaan.
Sementara Deni dan Sammy bisa bercengkaram dengan Zamzam, Vana, Rose serta Sarah Lee dan Halima Haremba.
Raka menyusuri pantai. Sesekali ia mendekat ke bibir pantai.
Kemudian ia meminta kunci mobil, karena ingin sendirian melihat-lihat pantai hingga ujung.
"Aku pergi dulu, nanti aku kembali."
Raka berteriak pada temannya. Ia tak menunggu jawaban.
Dengan pelan sembari menikmati hembusan nyiur Raka mulai menyusuri pantai dengan mobil.
Tak lama ia berpapasan dengan Sulaiman. Wiliam, Husen dan Betty.
Mereka memanggil dan melambaikan tangan.
"Kak Raka! mau kemana?"
"Melihat pemandangan," jawab Raka setengah acuh."
Raka tak melihat adiknya dan Mardo.
Sontak darahnya menjalar cepat.
'Mereka berdua-duaan!"
Sementara Richi dan Mardo memang sedang berjalan pelan-pelan. Mereka sedang bercegkrama.
Richi sedang menjelaskan kalau pantai Kaimana itu masih sangat jauh. Mereka tak mungkin kesana. Sebab harus naik pesawat. Mungkin liburan tahun depan mereka bisa pergi ke sana.
"Ada teluk yang menakjubkan di sana, namanya teluk Triton."
"Katanya tak kalah unik dan ajaib dengan Raja Ampat."
"Semoga kita bisa ke sana ya Rich."
"Siap, Indonesia sangat beruntung memiliki banyak pulau-pulau yang indah dan unik,"
Keduanya berbincang-bincang dengan asyiknya sehingga tak menyadari kalau Raka telah melintas tak jauh dari mereka. Raka meremas jemarinya dengan keras. Ia menahan darahnya yang serasa mendidih.
Ia lantas berbalik dan kemudian mengikuti dari belakang. Tak bisa menahan rasa marahnya, Raka menginjak gas sehingga kenderaan itu melaju kencang menyusul dua orang yang sedang asyik bercengkrama. Matahari sudah sejak lama meredup.
"Awas kalian ya?"
Raka kembali menginjak gas. Di depan matanya masih asyik berduan, berbincang adik dan gadis yang ia sukai.
Richi!
Raka menutup matanya dan Brak!
Terasa olehnya badan mobil menabrak sesuatu benda keras, lalu suara jeritan hesteris.
Raka tak berani membuka matanya.
__ADS_1
Bersambung