Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 295. Babak Baru Cafe Pria Idola


__ADS_3

Keluarga Raka Bramantyo melakukan acara syukuran atas kembalinya Mardo.  Banyak makanan serta kue-kue di pesan untuk dibagikan kepada tetangga, karyawan serta anak-anak yang tinggal di panti. Mardo sudah kembali ceria seperti sedia kala. Anak-anak tidak lagi mencemaskannya. Semua kembali seperti semula.


Hari seninnya Cindy memutuskan kerjasama eksklusif dengan gadis yang bernama Diana. Ia mengundang gadis itu bertemu dan membicarakan tentang kerjasama mereka. Raffazaa dan Alfredo  juga hadir diantara mereka. Cindy dan Alfredo menjelaskan hak dan kewajiban perusahaan begitu juga sebaliknya. Setelah jelas dan menunggu Diana berkonsultasi denggan Raffaza, akhirnya tercapai kesepakatan.


"Bismillahirohmanirrohim, mudahkan ya Rabb."


Diana mulai menanda tangani kesepakatan kerjasama  tersebut. Terhitung hari itu Diana  menjadi  rekan kerja perusahan Pria Idola . Ia mendapatkan fasilitas ruangan untuk berkantor. Perusahaan telah memiliki  pabrik roti  serta kue-kue kering yang mengisi ribuan cafe milik perusahaan dan mitra. Cindy telah merancang sebuah tempat untuk Diana berkreasi di perusahaan.


"Alhamdulillah, beres Yank."


Alfredo mendekati Cindy dan memeluk pinggang gadis itu yang ramping. Cindy menyentuh lengan Al .


"Lalu maksudnya sekarang giliran mengurusi  pertunangan kita Yank?"


"Gadis pintar he he he."


"Alfredo melekatkan tubuhnya dan menaro dagunya di punggung gadis itu."


"Aku tak sabar Yank, ayolah kita tentukan waktunya.'


Cindy berbalik, mengambil kacamata Alfredo  lalu memberi ciuman tipis di bibir Al.


"Baiklah Yank, bagaimana kalau minggu depan keluargamu datang  melamarku, aku akan bicara dengan ayah dan bunda agar menyiapkannya."


"Benar Yank?"


"Hemmm, benar dong."


"Baiklah, aku akan segera memberitahu orang tuaku."


Mereka bertatapan dan menyungingkan senyum kebahagian. Alfredo  memulai mendekatkan wajahnya dan menjumput bibir gadis itu yang menawannya. Cindy membalas menjumput balik bibir Alfredo. Keduanya saling menjumput, menyesap dan berpelukkan erat.


"Bu Cindy...oh eh a-aku tak melihat apa-apa."


Anna yang akan meminta tanda tangan Cindy, melihat pasangan muda yang sedang berpelukkan, ia tercekat dan buru-buru keluar. Alfredo mengejarnya.

__ADS_1


"Bu Anne silahkan, aku kembali bekerja di kantorku."


Alfredo tersipu dan bergegas pergi  meninggalkan perusahaan. Ia sudah pamit pada Cindy dan kembali ke cafenya di bilangan Jakarta timur. Hatinya diliputi kegembiraan dan kebahagiaan. Senyum merekah di bibirnya yang seksi. Ia merasa sangat beruntung menjadi cinta pertama Cindy, dan mereka akan menjadi pasangan tak lama lagi.


"Oh iya mas Al, sudah beres ya?"


Anne tersenyum menggoda  laki-laki tampan itu.


"Sudah kok, ditunggu bu Cindy."


Anne segera memasuki ruangan pimpinan perusahaan tersebut. Ia lihat gadis muda belia itu tengah menulis sesuatu di agendanya. Perempuan yang telah bertahun-tahun menjadi sekretaris perusahaan itu menyapa Cindy dan menyodorkan file-file untuk di tanda tanganinya.


Cindy menerima file-file tersebut dan menanda tanganinya dengan cepat.


"Makasih Bu Anne, besok jika Diana datang tolong beritahu tugas-tugasnya ya Bu.  Ia akan segera membuat kue penutup untuk seluruh cafe."


"Siap bu Cindy."


"Besok pagi ada meeting area manager jam 09.00 Bu."


"Ok Bu, saya siap."


Gadis itu juga akan membuka penawaran bagi siapa saja khususnya karyawan dengan masa kerja 5 hingga 10 tahun  bisa menjadi mitra berkesempatan memiliki usaha sendiri. Ia berharap perusahaan akan mengalami peningkatan yang bagus.


Setelah menulis poin-poin penting yang akan ia sampaikan besok di meeting manager  ia menutup agendanya lalu memikirkan permintaan Alfredo. Segera ia meraih tas dan kunci mobilnya ia ingin bertemu Mardo untuk membahas hari pertunangannya.


"Aku keluar bu Anne."


Pamitnya sambil berlari-lari kecil. Ia masuk dan menghilang di dalam lift. Ia harus buru-buru ke kantor bunda Mardo. Sebab teman-teman bunda sering mengajaknya makan siang dengan berpindah tempat. Ia ingin makan siang bersama ibunya itu.


Sementara Raffaza dan Diana sedang makan siang berdua. Laki-laki muda itu mengucapkan selamat kepada Diana.  Ia sengaja mengajak gadis itu untuk bicara tentang persentasi keuntungan yang akan ia peroleh. Sebenarnya Diana malas membicarakannya. Raffaza seperti memburu dirinya dan tak sabaran. Padahal dia sendiri belum ada pemberitahuan transfer kerjasama yang sudah dilakukan. Proses transfer sedang dikerjakan oleh sekretaris yang baru saja memberikan surat persetujuan  kepada bagian akunting. Proses di bagian akunting bisa memakan waktu sehari atau dua hari menunggu persetujuan bagian keuangan.


"Selamat ya Din, aku tak menyangka nilainya sangat besar."


"Terima kasih pak, jangan lupa uang tersebut tidak seluruhnya untukku, melainkan juga untuk membeli bahan-bahan pembuatan kue penutup, bu Cindy meminta lima rasa. Aku harap harga-harga tak naik minggu ini."

__ADS_1


"Kau bisa minta tolong padaku untuk hal tersebut. Sesuai kesepakatan awal, kau sudah setuju memberiku sepuluh persen."


"Iya tenang saja, begitu uangnya sudah ditransfer segera kukabari."


"Ok baiklah, kita nikmati makanannya."


"Din, aku lihat kau sering sekali melihat pak Alfredo, apa kau tertarika padanya?"


Tiba-tiba Raffaza mengalihkan pembicaraan. Diana tercekat, ternyata Raffaza memperhatikan dirinya. Ia berusaha mengelak, mereka hanya berempat di tempat itu. Bagaimana mungkin ia tak memandangi laki-laki tampan dan berkharisma tersebut. Pak Alfredo tepat berada di depannya.


Sejujurnya Diana berdebar oleh sosok tampan pak Alfredo. Tinggi, wajah tampan yang jantan. Dengan rahang yang kokoh, bentuk bibir yang mengoda, serta lesung pipi yang membuatnya manis jika tersenyum. Menurut Diana hanya gadis bodoh yang tidak memiliki ketertarikan pada laki-laki muda itu.


"Bilang saja kau suka dan naksir he he he."


"Ah, aku nggak berani pak Raffaza.  Aku bisa melihat  Ia dan bu Cindy memiliki hubungan yang khusus."


Laki-laki muda itu terdiam. Ternyata bukan hanya dia yang melihat kemanisan antara Cindy dan Alfredo. Tetapi ia memiliki prinsip. Selama janur belum terkembang ia masih memiliki kesempatan. Raffaza terobsesi mendapatkan


Cindy. Sejak pertama melihat gadis itu ia tergetar dan matanya tak bisa lepas dari gadis itu.


"Kalau kau yakin dan percaya, kau bisa memilikinya Din."


Diana tercekat, ia mengangkat wajahnya. Ia melihat sesuatu yang tidak ia mengerti di dalam mata Raffaza. Cepat-cepat ia menggelengkan kepalanya.


"Aku hanya sekedar mengagumi saja, tidak lebih."


"Serius? kau tidak tertarik padanya."


Diana kembali menggeleng-gelengkan kepalanya. Dalam hatinya, berteriak apa kamu tidak tahu Raffaza bahwa kamu yang aku inginkan menjadi kekasihku. Bukan pak Alfredo atau laki-laki lain. Diana mengigit bibirnya dan menatap Raffaza. Laki-laki muda ini memang sering menjengkelkan dengan sikapnya yang mengemaskan. Sangat ambisius serta tangguh.


Apa kah laki-laki itu hanya memikirkan uang dan keuntungan semata.  Impiannya terlalu tinggi dan besar, Diana terkadang merasa kasihan, sebab terlihat ia terbebani oleh impiannya tersebut. Rasa kasihan itu perlahan berubah menjadi cinta. Ia ingin berada di sisi laki-laki itu untuk membantunya menyeimbangkan dirinya.


 


 

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2