Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 27. Wasur Seimut Nona Black Sweet


__ADS_3

Hari itu sudah begitu banyak yang dilihat juga dirasakan. Sesuatu banget.


Taman Wasur kota Merauke menyimpan kekayaan alam yang ajaib, unik dan eksotik.


Lucu dan seru ketika mengintip binatang yang mirip kangguru. Katanya perbedaan binatang itu hanya pada tubuhnya. Yang di Australia besar, sedangkan yang terdapat di kota Merauke ini kecil serta imut mengemaskan.


Hemmm, imut seperti Halima Haremba si nona black sweet. Goda Husen Ramadau. Semua yang mendengar tertawa geli. Husen kental sekali logat bahasa Papuanya.


"Torang sungguh imut Halima seperti binatang wasur," Husen melirik Halima yang seketika membesarkan


matanya dan menggigit bibir gemas.


"Itu kepala belum pernah dinaiki sepatukah? mau torang kepala dinaiki sepatu kah? kerja torang


seperti itu, mau beta adukan ke beta punya kepala suku?"


Halima melepas sepatunya dan akan memukul, Husen lari menjauh sembari tertawa.


"Ampun Halima, sepatu torang banyak debu itu, bisa sakit beta."


"Makanya torang jangan usil, semua baik-baik mo, torang yang kurang ajar!"


Sulaiman sedang membuat vidio, mereka semua duduk-duduk sambil menonton.


"Teman teman, tadi kita sudah melihat musamus toh?  beta sangat terpesonaaaa.  Betapa tidak! ada semut yang rajin membangun rumah rumah yang tinggi seperti pohon. Menurut beta itu suatu yang ajaib, unik, dan langka. Mahakarya terhebat. Ukurannya ada yang kecil dan ada yang menjulang tinggi.  Musamus menyebar hampir di semua kampung toh, sehingga menjadi ikon kota Merauke."


Sulaiman terlihat menjelaskan tentang rumah semut  yang unik.


"Jangan kalah sama semut!  torang juga mesti bisa buat rumah yang bagus dan nyaman untuk tempat berteduh keluarga, iya toh kitong ini benar toh?"

__ADS_1


Yang lain hanya tersenyum senyum melihat keakraban dan kecocokkan Sulaiman dan Wiliam. Berikutnya mereka juga melihat tempat rusa. Sebenarnya ingin mencoba berburu rusa, ada daerah khusus yang diperbolehkan memburu rusa meski dengan perlengkapan yang disiapkan. Tapi anak anak itu merasa cukup dengan melihat dan menikmati perburuan yang dilakukan  beberapa anak muda yang  masuk ke dalam hutan.


"Lebih baik beta berburu gadis cantik, torang gimana?"


Sembari Husen menyenggol  wiliam, "Iya beta setuju."


"Teman teman kita berburu dendeng rusa, perut beta sudah ingin makan dendeng rusa, mariii."


Cewe cewe setuju, Hasan, Wiliam, Sulaiman juga Richi tau tempatnya.  Mereka segera bergegas menuju pengrajin makanan khas Merauke yang terkenal.


Mereka menuju ke restoran dan melewati pengrajin yang sedang membuat dan menjemur dendeng rusa.


Daging rusa yang sudah direbus kemudian di iris tipis-tipis lalu di baluri bumbu kemudian dijemur. Orang-orang yang datang ke Merauke sudah pasti membawa oleh-oleh dendeng rusa.


Kali ini Sulaiman berhasil merayu Halima menjadi presenter vidionya. Jadilah cewe cewe termasuk Mardo berdebar melihat Halima.


"Hellooo, tadi teman saya sudah bilang toh bahwa ada tempat membuat dendeng rusa. Mariiii ikut beta melihat benar atau tidak toh.  Teman teman tau toh kalau Merauke itu dari duluuu tempat berkembang biak rusa yang besar jumlahnya. Karena banyaknya rusa di hutan Merauke maka kota ini juga disebut kota rusa he he he torang semua sudah tau toh.  Oh iyo, beta kali ini disuruh satu orang ini untuk melihat cara membuat dendeng rusa. Sebenarnya daging rusa bukan hanya enak dibuat dendeng tapi juga bisa di olah untuk berbagai masakkan. Hanya kalau beta suka sate rusa. Tapi kita mau melihat cara membuat dendeng rusa toh? mariiii, daging rusa di tipiskan lalu dilumuri bumbu yang bahan utamanya gula merah dan ketumbar. Setelah rata daging di jemur selama tiga atau empat hari sampai benar benarrrrr kering. Di jemur dengan matahari. Setelah itu dikemas untuk oleh oleh. Untuk teman makan dan camilan. Teman teman penasaran kah? silahkan teman teman mencicipinya, Beta jamin teman teman ketagihan."


Semua bertepuk tangan pada gadis Papua yang manis itu.   Dia sungguh berbakat.Sarah Lee bilang Halima melihat tivi hanya semalam. Langsung bisa menyerap cara seorang membawakan acara.  Tentunya masih banyak kekurangan.


"Aihhhh kamu luar biasa Halima," Zam zam menyalami.


"Aih,   biasa saja ah nona Zamzam, kitong hanya berusaha."


Siang itu diakhiri dengan menikmati makan siang. Beruntung ada juga sate daging rusa. Panas panas dengan bumbu kecap,  sangat lezat sampai menambah tiga kali.


Perjalanan dan petualangan Richi dan teman temannya tidak cukup sehari. Karena Taman Wasur sangat luas dan banyak tempat yang berbeda keunikkannya dan kelangkaannya. Mungkin besok atau kesempatan lain mereka akan kesana lagi. Menjelang senja mereka segera bergegas pulang. Tak lupa mampir di penjualan souvner khas Merauke. Cewe cewe bilang pada Mardo untuk memiliki tas nope.  Karena merupakan souvenir asli Merauke dan juga Papua.   Tas Nope itu terbuat dari kulit salah satu pohon tumbuhan yang tumbuh di tanah Papua. Seorang perempuan di sebut dewasa jika sudah bisa membuat tas nope.


"Aihh! .begitu yaa? Mardo lantas memilih dan membeli tiga,  Ia  akan memberikan adik dan abangnya.

__ADS_1


"Yuk kita menghabiskan senja di alun alun kota Merauke,  ok?"


Ok mariiiii kitong ke alun alun kota Merauke, perjalanan ke kota sekitar sepuluh menit. Jalanan agak lenggang. Sehingga perjalanan lancar. Kota Merauke sekilas bersih dan tertata rapi. Pohon-pohon cemara ditanami  hampir di sepanjang tepi jalan. Kemudian mereka melewati kantor bupati Merauke yang megah berwarna putih. Ada beberapa lahan luas yang belum tersentuh. Karena gadis-gadis ingin membeli cindera mata, mas Arif yang setia menemani mereka lantas membawa ke sebuah tempat  untuk keperluan itu.


Nona-nona kota Eksotik bergiliran turun, kemudian bersama ke tempat penjualan souvenir. Banyak sekali barang-barang yang unik. Mulai dari patung-patung leluhur,  kalung, gelang. dan tas nope. Mardo tersenyum melihat tas-tas tersebut. Ia sering melihat  penduduk Papua menggunakan tas itu untuk berbagai keperluan. Tas itu lentuk dan bisa buat apa saja. Mulai anak kecil, remaja, hingga kakek nenek selalu menyandang di punggungnya atau tergantung di pinggang. Tas yang unik dan hanya ada di Papua. Kerajinan tas Nope juga mungkin hanya orang-orang Papua yang bisa membuatnya.


"Halima Haremba, lihat!" Mardo memanggil gadis Papua sahabatnya yang lugu dan ceria.


Gadis berkulit hitam itu mengangkakat wajahnya dan melihat Mardo mengenakan tas Nope khas Papua.


"Aihhh! bagus sekali Nona Mardo! cantik! beli yang banyak Nona."


"Bagus ya, aku beli lima Halima, buat Papi yang besar, buat Mami, bang Mangara, dan buat Patricia."


"Iya betul, ini akan menjadi kenangan  dari kota Papua. Buatan tangan-tangan saudara kita."


Halima pandai mempromosikan barang-barang khas kota Papua.


Hingga senja datang barulah mereka  kembali ke hotel.


 


 


 


Bersambung


 

__ADS_1


 


__ADS_2