
Prita sangat sedih, ketika tiba saat wisuda, Rakasiwi tak mengabarinya. Demikian marahnya laki-laki itu padanya. Rakasiwi hanya menginginkan kehadiran keluarganya saja. Tidak untuk Prita. Gadis itu menangis terisak-isak. Harapan akan cinta Rakasiwi pupus seketika.
Mendadak mama Risa kembali jatuh sakit dan dibawa ke rumah sakit. Prita melupakan sejenak urusannya dengan Rakasiwi. Ia sibuk mengurus dan menunggui mamanya. Berdoa untuk kesembuhan perempuan yang ia sayangi itu. Dokter memanggilnya dan mengatakan bahwa tak bisa lagi menunda operasi. Sebab keadaan ibunya sangat kritis. Kata dokter ia harus membayar sejumlah uang sebelum operasi. Prita mengatakan ia hanya memiliki sejumlah uang, apakah ia bisa mencicilnya. Ternyata dokter tak bisa menjawab, sebab semua itu adalah prosedur rumah sakit. Prita panik dan ia hanya mengingat Boy.
Prita tak banyak pikir ia menelpon Boy Indra.
"Hello, oh Prita! kamu di mana? kamu bolos kerja ya? mau kupecat."
Boy kebetulan sedang memegang handphonenya dan langsung menjawab telpon.
"Pak Boy, a-aku sedang di rumah sakit, tolong datang ke sini aku membutuhkan bantuanmu, setelah di rumah sakit nanti aku jelaskan."
Mendengar suara Prita yang demikian panik, Boy buru-buru menarik senyumnya. Semula ia ingin meluapkan rasa gemasnya pada gadis itu yang berani bolos tanpa memberitahu dirinya.
"Baiklah, tak perlu cemas, aku akan segera ke rumah sakit, kau tenang saja."
"Terima kasih pak Boy, aku sangat membutuhkan bantuanmu saat ini."
"Kau yakin?"
"Iya, saat ini hanya kau yang bisa membantuku."
"Oh, aku merasa tersanjung, baiklah tunggu aku di rumah sakit."
Prita gelisah menunggu kedatangan laki-laki itu. Ia mondar-mandir di depan kamar mama Risa. Ia tak bisa duduk tenang di bangku tunggu. Hingga sosok laki-laki muda yang tampan tiba-tiba duduk dan mengangkat kakinya lantas memandang Prita yang terkejut.
Boy tersenyum.
"Baiklah, aku sudah di rumah sakit, apa yang bisa kubantu."
Prita duduk di dekat Boy menghadapkan wajahnya pada laki-laki itu.
"Tolong, aku ingin pinjam uang. Mamaku harus segera dioperasi. Aku membutuhkan banyak uang."
Pria tampan itu menundukkan wajahnya dengan kalem. Tak segera menjawab, Prita kembali bicara dengan lemah.
"Aku pasti akan mengantinya. A-aku tidak tahu mau pinjam pada siapa."
Boy menegakkan tubuhnya, wajahnya masih memperlihatkan kediaman.
"Aku pasti menggantinya, bisa ambil dari gajiku dan juga tabunganku."
Boy memejamkan matanya.
__ADS_1
"Kau mau menolongku atau tidak?"
Boy hanya merubah cara duduknya, Prita menjadi tak sabaran. Ia hampir menangis, kenapa pak Boy diam saja, tidak maukah dia menolongku. Karena Boy tak bereaksi, Prita menghentakkan kakinya bergegas pergi. Tetapi lengannya ditarik oleh tangan yang kuat.
"Prita kau mau kemana? aku kesini untuk membantumu, kau tenang saja."
Gadis itu sesaat terdiam, Boy berdiri di sisinya dan menatap serta melihat air matanya, mereka bertatapan dan seketika Prita merebahkan kepalanya di dada Boy yang lantas mengelus kepalanya dengan lembut. Melingkarkan tangannya di pinggang Prita.
"Aku akan membantumu, selalu ada di sisimu."
Prita tak bisa membendung air matanya lagi, ia menangis di dada bidang Boy.
"Kenapa aku jadi cengeng begini hiks hiks hiks."
"Kau tak perlu sungkan meminta bantuan kepadaku, aku akan mengatasi semuanya."
"Terima kasih Pak Boy."
Boy dan Prita kemudian pergi ke kasir untuk membayar biaya operasi mama Risa. Setelah selesai keduanya kembali duduk di tempat tunggu di depan kamar rawat inap.
"Wah, aku lapar tadi belum sempat mengisi perut, apa kau sudah makan Prita?"
Gadis itu baru ingat sejak pagi ia belum makan bahkan tak seteguk minuman yang masuk ke perutnya karena mengurus mama Risa. Perutnya tiba-tiba berbunyi kriukkk!, ia mengigit bibirnya melirik pada Boy yang pasti mendengar bunyi perutnya yang tak tahu malu.
Boy meninggalkan Prita. Tak lama beberapa pria datang untuk membawa mama Risa keruangan operasi. Prita mencium kening mamanya dan berdoa, operasi itu pasti berhasil. Ia lantas kembali menunggu di bangku tempatnya tadi. Tak lama Boy kembali membawa tas plastik berisi nasi bungkus dan minuman.
Oh pak Boy baik sekali, bagaimana aku mesti membalasnya. Pikir Prita
"Prita bukalah, aku membeli nasi serta lauknya, semoga kau suka."
"Terima kasih ya."
Prita mengucapkan rasa terima kasihnya.
"Yuk kita makan di sini saja ya."
Prita mengangguk-angguk, tidak ada tempat lagi. Untungnya dalam bungkusan itu sudah ada sendok, juga lap tangan. Langsung disuapkan ke mulut saja. Setelah habis langsung dibuang.
Seorang suster mendekati Prita dan meminta tanda tangan karena operasi akan dimulai. Gadis itu dengan tangan gemetar menanda tanganinya. Ia kembali berdoa untuk kesembuhan mama Risa.
"Jangan cemas, dokter akan segera melakukan operasi dengan begini kemungkinan nyonya Risa untuk sembuh semakin besar."
"Iya suster, terima kasih."
__ADS_1
"Nah Prita, kau tenang saja. Serahkan semuanya pada dokter."
"Semoga yang dikatakan oleh suster itu benar."
"Semangat Prita, kau harus berpikir positif, yakinlah itu pasti benar."
"Hutang budiku padamu bagaimana membayarnya?'
"Prita, kenapa berkata begitu? aku senang bisa menolongmu. Bagaimana mungkin aku membiarkanmu sendirian menghadapi ini?"
"Percayalah semua akan berjalan lancar."
"Terima kasih pak Boy."
Prita mulai resah, ia mengigit-gigit bibirnya, beberapa waktu telah berlalu.
"Kenapa lama sekali ya?"
Boy baru melihat Prita seperti itu. Sangat cemas dan menyedihkan. Wajah gadis itu membuatnya tak tega.
"Prita! Prita! jangan resah, mama kamu pasti sembuh."
"Jika tak sembuh, bagaimana kalau mamamu berobat di Jerman. Di sana fasilitasnya lengkap dan dokternya hebat. Soal biaya biar aku yang akan menanggung."
"Tidak perlu pak Boy, mamaku pasti sembuh setelah di operasi."
"Baiklah, aku sudah menawarimu. kalau ok kau tinggal menghubungiku. Aku ke depan sebentar menghirup udara segar."
Boy beranjak meninggalkan Prita. Gadis itu sudah menyuruhnya pulang dan membiarkan dirinya yang menunggu mama Risa. Tapi Boy tak mau meninggalkan Prita. Ia sangat perduli pada Prita dan mama Risa. Boy bisa merasakan kesendirian gadis itu. Seperti dirinya. Ia hanya memiliki mama dan papanya. Mereka kesepian dan saling membutuhkan.
Tak lama Boy sudah kembali, namun ia melihat Prita teridur karena lelah. Gadis itu bersandar pada tangan kursi. untungnya kursi tunggu itu seperti sebuah sofa yang memiliki bantalan lembut. Laki-laki sejenak menatapi kecantikan Prita yang tengah tertidur. Ia seperti bidadari yang sedang menikmati istirahatnya. Boy menutupkan jasnya pada tubuh gadis itu lantas duduk di sebelahnya dengan melipat tangan di dada.
Tak lama Prita terbangun dan merasakan tubuhnya yang tertutupi. Ia membuka dan melihat kalau itu adalah jas pak Boy. Prita terhenyak, pak Boy tadi telah menyelimutinya. Lalu Prita menyadari pria itu ada di sebelahnya sedang tertidur sama seperti dirinya tadi. Menyandarkan kepalanya ke bangku. Ia terlihat tenang, tampan dan seperti malaikat.
Bersambung.
__ADS_1