Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 255. Pesta Pernikahan Prita dan Rakasiwi


__ADS_3

Rakasiwi menarik tangan Prita, Rakasiwi bilang ia dan istrinya mempersembahkan sebuah lagu pada semua yang hadir. Ia sekali lagi menatap kekasih hatinya.


'Cinta pertama dan terakhir!


Untuk kalian semua yang kucintai dan kusayangi, sekalian merupakan cerita hatiku dan istriku Prita, iya kan sayang?"


Prita tersipu, ia mencubit manja pinggang Rakasiwi. Gadis itu membuka handphone dan melihat syari lagu tersebut di gawainya. Sementara tamu undangan bertepuk tangan. Terdengarlah denting-denting gitar  sebuah lagu yang pernah tenar beberapa tahun lalu. Rakasiwi memetik gitar dengan mengambil nada rendah, lambat tetapi justru terdengar merdu dan syahdu di telinga. Kembali tepuk tangan bergemuruh.


Tamu undangan tercekat, terpukau dan terpaku di tempat. Bibir mereka ikut melantunkan syairnya.


'Sebelumnya tak ada yang mampu


mengajakku untuk bertahan di kala sedih


Sebelumnya kuikat hatiku


hanya untuk aku seorang


Sekarang kau di sini


hilang rasanya semua bimbang, tangis, kesepian


Kau buat aku bertanya


kau buat aku mencari


tentang rasa ini


aku tak mengerti


Lalu semua menyadarkanku


kau cinta pertama dan terakhirku


Sebelumnya tak mudah bagiku


tertawa sendiri di kehidupan yang kelam ini


sebelumnya rasanya  tak perlu


membagi kisahku tak ada yang mengerti


sekarang kau di sini


hilang rasanya semua bimbang, tangis,  kesepian


Kau buat aku bertanya


Kau buat aku mencari


Tentang rasa ini


Aku tak mengerti


Akankah sama jadinya bila bukan kamu


Lalu senyummu menyadarkanku


Kau  cinta pertama dan terakhirku


Bila suatu saat kau harus pergi


jangan paksa aku  untuk cari yang lebih baik


Karena senyum mu menyadarkanku


Kaulah cinta pertama  dan terakhirku


Oh oh hooo...


Kau buat aku bertanya


Kau buat aku mencari


tentang rasa ini


Aku tak mengerti


Akankah sama jadinya bila bukan kamu

__ADS_1


Lalu senyum mu menyadarkanku


Kau cinta pertama dan terakhirku'


Tidak ada yang menduga kalau yang menyanyi adalah Prita. Boy dan Melani yang baru melangkah keluar, terhenti. Keduanya berpegangan tangan menatap takjub. Di sana di panggung terlihat Prita dan Rakasiwi berpelukkan. Lagu cantik  milik Sherina  itu dibawakan berbeda oleh Prita. Bernada rendah, tetapi membuat semua tamu undangan bisa melihat Prita bahwa perempuan cantik itu ternyata pintar juga menyanyi dengan caranya. Suara Prita halus sangat menyentuh. Beberapa yang mengenal dekat Prita tak bisa menahan air matanya.


Salah satunya Elsa, Ia bersandar di dinding, menggigit bibir  dan air matanya  mengucur. Teringat persahabatan mereka, impian serta cinta sejati. Bayangan Prita yang suka menolak, menggelengkan kepalanya saat ia dan Yunna mengajak pergi bermain.


"Aku sedang belajar, kalau nilaiku turun beasiswaku bisa hilang."


Dirinya dan Yunna memajukan bibir mereka.


"Belajar melulu, kapan mainnya Prita?"


Saat di sekolah, mereka kembali mengajak Prita untuk keluar dari kelas. Biasanya pasti ditolak.


"Ayo Prita, kita istirahat dulu. Kita beli makanan, lapar dan cape belajar terus."


Kalau Prita tak lapar sekali, ia pasti menolak pergi. Namun saat itu Prita pasti lapar, wajahnya pucat  dan ia kelihatan kuyu. Mengingat masa lalu kian membuat Elsa terisak. Ia meninggalkan tempatnya dengan rasa haru.


"Prita, aku senang kamu sekarang bahagia."


Tangisnya membuat air mata kian luruh jatuh ke pipi. Ia sangat bahagia melihat Prita bersanding dengan laki-laki tampan yang mencintainya. Ia teringat dirinya yang belum juga memiliki seseorang yang membuatnya berdebar. Banyak Pria di sekelilingnya tapi tak ada yang ia sukai. Elsa hanya tersenyum dan mengigit bibirnya.


Pelaminan  masih menghangat, setelah berpelukkan dan menangis dalam tatapan semua tamu undangan gantian Raka yang bersenandung diiringi gitarnya.


'Sebelumnya tak ada yang mampu


mengajakku untuk bertahan di kala sedih


Sebelumnya kuikat hatiku


hanya untuk aku seorang


Sekarang kau di sini


hilang rasanya semua bimbang, tangis, kesepian


Kau buat aku bertanya


kau buat aku mencari


tentang rasa ini


aku tak mengerti


Lalu semua menyadarkanku


kau cinta pertama dan terakhirku


Sebelumnya tak mudah bagiku


tertawa sendiri di kehidupan yang kelam ini


sebelumnya rasanya  tak perlu


membagi kisahku tak ada yang mengerti


Sekarang kau di sini


hilang rasanya semua bimbang, tangis,  kesepian


Kau buat aku bertanya


Kau buat aku mencari


Tentang rasa ini


Aku tak mengerti


Akankah sama jadinya bila bukan kamu


Lalu senyummu menyadarkanku


Kau  cinta pertama dan terakhirku


Bila suatu saat kau harus pergi


jangan paksa aku  untuk cari yang lebih baik

__ADS_1


Karena senyum mu menyadarkanku


Kaulah cinta pertama  dan terakhirku


Oh oh hooo...


Kau buat aku bertanya


Kau buat aku mencari


tentang rasa ini


Aku tak mengerti


Akankah sama jadinya bila bukan kamu


Lalu senyum mu menyadarkanku


Kau cinta pertama dan terakhirku'


Tamu undangan ikut melantunkan lagu tersebut, dan berakhir dengan tepuk tangan membahana. Kembali Rakasiwi dan Prita berpelukkan erat. Hingga akhirnya MC datang untuk mengambil gitar. Ia mengusap-usap matanya.


"Kenapa matamu?"


"Habis nangis Ka, lagumu membuat seluruh yang hadir di sini menangis, oleh kisah cinta kalian. Cinta pertama dan terakhir, cinta sejati."


"Hem, semoga semua laki-laki dan perempuan bertemu cinta pertama dan terakhir  mereka, sehingga tidak ada perempuan atau laki-laki yang saling menyakiti, setuju?"


Setuju!


Semua menjawab hingga gedung itu serasa runtuh. Mereka semua lantas sama-sama berteriak...


'Kau cinta pertama dan terakhirkuuuuu!'


Lalu tepuk tangan membahana. Tidak ada  pesta yang meninggalkan kesan sedemikian rupa di hati para undangan. Suata manja, halus, lembut dan bernada rendah selalu mereka ingat. Ketika senja tiba, pesta Prita dan Rakasiwi selesai. Satu persatu tamu undangan pulang. Hingga tinggallah keluarga inti. Mereka semua bahagia serta gembira. Meski kelelahan mempersiapkan pernikahan tidak ada yang ingin meninggalkan pesta. Mereka mengobrol dan tertawa oleh rasa puas, sebab telah menyelesaikan sebuah tangung jawab.


Ketika tiba saatnya, semua mengantar Rakasiwi dan Prita  ke pintu gerbang. Sebuah mobil cantik telah menunggu di depan hotel tempat resepsi.



Semua mengantar pasangan yang berbahagia itu. Mereka akan pergi ke sebuah apartemen hadiah pernikahan dari ayah Raka  dan bunda Mardo. Mereka akan sampai ke apartemen tersebut menjelang malam. Semua membayangkan betapa indahnya malam pertama Rakasiwi dan Prita. Mereka pasangan yang saling mencintai, merupakan cinta pertama dan cinta terakhir.


Kelelahan juga bahagia berakhir ketika keduanya sampai ke depan kamar pengantin. Bismillahirohmanirrohim. Rakasiwi berdoa sebelum membuka pintunya sementara Prita juga mengikuti ucapan suaminya. Bibirnya tersenyum. Rakasiwi sudah mempersiapkan aparteman itu untuk hari-hari pertama pernikahannya dengan Prita. Dan juga malam pertamanya. Sebuah apartemen ekslusif melalui pemilihan yang rumit, hingga akhirnya Rakasiwi setuju untuk memilikinya. Berada di sebuah sudut kota Jakarta. Rakasiwi bisa memulai rumah tangganya dari apartemen tersebut.


Tak terlalu menghiraukan ruangan lain yang memang telah tertata rapi. Rakasiwi dan Prita langsung menuju kamar pengantin mereka. Baju pengantin yang mulai terasa tak nyaman. Keduanya saling menatap saat hamparan pemandangan tempat tidur yang cantik dan sederhana. Rakasiwi menolehi Prita yang langsung tersirap darahnya. Jika saja di bawah terang pasti pipi merona merah miliknya terlihat Rakasiwi. Dengan genit Rakasiwi mengerling dan mengedipkan matanya.


"Sayang, bantu aku membuka bajuku ya, biar aku mandi duluan. Sementara aku mandi kau membuka baju pengantinmu itu."


Prita cemberut manja.


"Yang membantuku membuka baju pengantin siapa?"


Rakasiwi kembali mengedipkan mata sekali lagi.


"Sebelum mandi aku akan membuka bagian belakangnya saja, selanjutnya tinggal sisanya."


"Iya deh."


Sahut Prita lalu membantu membuka jas Rakasiwi.


"Ups, ambilkan handuk dulu Yang, nanti malu he he he."


Prita tersenyum dan geli oleh tingkah Rakasiwi yang mengemaskannya.


"Sama istri sendiri kok malu, nanti juga kulihat semuannya ha ha ha."


Prita tak bisa menahan gelinya. Rasanya ketegangan mereka langsung cair.


Sementara Rakasiwi tersenyum kecil.


"Memangnya kamu nggak malu Yang? lihat saja nanti siapa yang malu."


Sembari bergegas ke kamar mandi setelah ia membukakan baju pengantin Prita bagian belakang. Tinggal Prita memerosotkan gaun tersebut hingga jatuh ke lantai. Ia langsung mendekap dadanya dan mencari kimono yang sudah ia siapkan.  He he he, untung Rakasiwi sudah di dalam kamar mandi hingga tadi saat baju pengantin jatuh, tubuhnya yang hanya mengenakan Bra dan ****** *****, tidak terlihat. Ia tinggal mencopoti hijab serta perhiasan-perhiasan yang melekat di tubuhnya.



 


 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2