
Agenda membuat dodol untuk oleh-oleh ke Jakarta jatuh pada hari itu. Mereka semua
sudah menyiapkan lahir dan bathin untuk suksesnya pembuatan makanan tradisional
tersebut. Sudah istirahat selama dua hari. Tenaga-tenaga muda dan trampil juga sudah
berdatangan. Diawali oleh Azhar dan Donny. Hemmm, Donny tampan sekali.
Memakai kaos casual dengan celana Jeans yang menampakkan badannya yang liat dan segar.
Azhar juga terlihat manis dan tampan. Khairani menyambut mereka.
"Sudah sarapan? nenek memasak banyak sekali, yuk makan dulu."
Azhar menolak, katanya sudah sarapan nasi goreng tadi.
Tak lama Ayah dan Inang juga keluar. Menyalami dua anak muda itu. Kemudian ia
mengajak Azhar dan Donny membuat tungku di halaman. Riza juga sudah siap
dengan peralatan menggali tanah, tiga buah batu yang sama besarnya. Beberapa
kayu untuk membuat atap yang melindungi pembuatan dodol dari kotoran yang
mungkin jatuh dari atas. Selebihnya setumpukkan kayu bakar. Inang juga sudah
mengeluarkan belanga yang sangat besar. Memuat puluhan kilo adonan.
Yulia membawai beberapa tikar dan membentangkannya di bawah pohon.
Menyusul kakak-kakak sepupu yang membawai bahan-bahan ke atas tikar.
Suara-suara bercanda mulai terdengar. Mardo keluar menjenguk dari teras.
Ia keheranan, sebab begitu banyak kelapa yang dipetik dari belakang, sekitar
lima puluh kelapa lebih. Tepung ketan, gula merah dan beberapa bahan lagi
yang tidak terlalu dikenali oleh Mardo.
"Madia do tukang kupas kelapai?"
Kak Tania tersenyum-senyum menatap saudara-saudaranya.
Ia menanyakan mana pacar-pacar mereka yang akan mengupas kelapa?
"Sabontar lagi sampai mereka, sabar ma kakak, masih pagi ini."
Yang lain menjawab, bercampur bahasa daerah dan Indonesia.
Bunyi motor meraung-raung mendekat dan berhenti, lima orang anak muda
memarkir motornya tak jauh dari mobil milik Donny.
"Assalamualaikum."
Mereka mengucapkan salam, kontan gadis-gadis mendongak dan pipi mereka jengah.
"Mereka datang, Waalaikumsalam, masuk lah kalian abang-abang."
Kak Tania menyongsong anak-anak muda itu lantas mengenalkan pada paman
Kholil dan Inang, juga Donny dan Azhar.
Yulia, Nenek, dan Mardo sedang sibuk membuat kue-kue untuk menemani
kakak-kakak sepupu dan abang-abang bekerja. Mardo mengeluarkan kue-kue
yang dikukus dan menyusun di beberapa piring yang besar. Wanginya enak
sekali, ada kue yang terbuat dari tepung ketan yang didalamya dimasukkan
adonan kacang hijau dan gula. Mardo mencobanya dan hemmm, enak
sekali, legit. Nenek juga membuat lemang dan kue onde-onde. Lumayan
banyak sajian untuk para pekerja yang membuat dodol.
Yulia sedang menunggu air mendidih. Ia memasukkan kopi dan gula ke dalam sebuah
teko besar. Dan satunya lagi ia membuat teh tawar.
Di depan sudah ramai oleh pembuatan tungku, juga mesin yang disewa untuk memarut
kelapa terden
gar brisik.
__ADS_1
Mardo keluar membawa kue, "Hello hello! kuenya sudah jadi nih, hangat-hangat."
Uhui! asyik!
Mardo meletakkan piring berisi kue-kue di hadapan gadis-gadis.
"Do, ambilkan dulu buat abang Donnymu itu."
"Ich kakak, biar aja nanti masih ada kok di dalam nanti kubuatkan
khusus untuk abang-abang, tenang aja."
Mardo menghindari candaan tentang Donny. Tapi tak sengaja dia
menatap ke sebrang, tepat saat Donny juga tengah memandang
kearahnya. Deg!. Mardo merasaka jantungnya berdetak begitu keras.
Buru-buru ia berpaling dan beranjak untuk mengambil kue-kue yang
masih ada di dapur.
Kak Tania, sudah membawa piring kue dan menawari pacarnya yang
membuat gadis-gadis lain menyorakinya.
"Ich, kenapa pula hanya abangnya yang dikasih, hei kak, jangan begitu
lah, bagi juga abang-abang kita."
Dengan kenes, Tania menjawab, agar mengurus masing-masing pacarnya
disambut huahhhh!!!
Ternyata abang-abang pun mendengar sehingga ada yang menjawab.
"Biar Dek, nanti abang ambil sendiri, janganlah merepoti kalian."
"Tak merepotilah abang tercintah, suka kami melakukannya Da."
Huahhhhh! huahaaaa! huahhhhhh!
Mulai terdengar keributan yang riuh sambut menyambut.
Khairani juga terdengar menggodai kakak sepupu-sepupunya.
"Iya, semoga ya Bang, kalian jangan mendahului ya, sesama sepupuan dilarang
saling mendahului ya."
Disambut geer oleh semuanya.
"Antri! antri! antri kalian ya"
Bekerja sambil bercanda ternyata membuat pekerjaan terasa ringan. Apa lagi
gadis-gadis itu dan anak mudanya memiliki rasa satu sama lain. Jadi mereka
bekerja dengan cinta.
Ayah, Riza, Azhar dan Donny, sudah mandi keringat karena pekerjaan mereka
lumayan berat. Harus menggali tanah yang cukup dalam untuk meletakkan
tungku. Juga untuk tenda pelindung masakkan. Sudah kelihatan hasilnya. Donny
mengamati hasil pekerjaan mereka, ia terlihat kagum. Belum pernah ia
membuat seperti itu. Donny tersenyum dan mengangguk-angguk, ia mengacungkan
dua jempulnya untuk ayah, Azhar juga Riza.
Tak jauh dari gadis-gadis yang duduk di tikar dan sedang membuat adoanan
Laki-laki membukai kelapa. Melepaskan kulitnya. Memukul-mukul batok kelapanya hingga
pecah lantas mencungkil dagingnya dan menaro dalam baskom berisi air. Sebentar
lagi jika baskom telah penuh salah seorang dari mereka akan memasukkan potongan-
potongan daging kelapa ke mesin parut.
Daging kelapa yang sudah terparut kemudian dibawa ketempat para gadis untuk
diperas santannya. Sebuah kerjasama yang amat manis. Mardo membuat sebuah
vidio tentang suasana tersebut. Dan kakak-kakak sepupunya berebutan berpose
__ADS_1
konyol. Mardo menggeleng-gelengkan kepalanya dan tertawa kegelian.
"Kak! Mardo sini! kami dividioin juga!"
Azhar dan Riza melambai-lambai memanggil Mardo agar datang ke tempat mereka.
Ok Dek, sebentar!
Mardo beranjak ke sana dan menyorot bapak, Riza,Azhar dan Donny yang buru-buru
memasang aksi berpose.
Semangat semua!!!
Mardo melebarkan bibirnya sembari membuat tangannya mengepal dan mengayunkan
kencang. Semangat!!! kelompok itu mengikuti gerak Mardo.
Tak ketinggalan kelompok pengupas kelapa, Mardo menyorot anak-anak muda itu
yang tersenyum tersipu.
"Bagaimana Bang! abang? masih semangat mengupas dan mencungkil daging kelapa."
Salah seorang mengangkat wajahnya, dan menjawab.
"Sampai menjadi dodol, tetap semangat! semangat!"
Mardo tertawa terkekeh, kepalanya menggeleng-geleng.
"Cu,cucu Mardo!"
Semua menoleh pada nenek yang terbungkuk-bungkuk mencari Mardo.
Khairani menyongsong neneknya.
"Nek, ada apa? mencari kakak? lagi sibuk bikin vidio."
"Itulah, Mardo bikin vidio kalian. Nenek yang di dapur tak dibuatnya vidio hu hu hu."
O, begitu rupanya. Melompat-lompatlah Khairani memanggil Mardo yang sedang
ke lembah bersama Yulia. Ia ingin memvidiokan pemandian yang unik tersebut.
"Kak, sini! gawat kak!"
Khairani berteriak-berteriak seolah terjadi sesuatu. Mardo buru-buru naik
diikuti oleh Yulia.
"Ada apa Khairani? gawat kenapa?"
"Kakak kenapa begitu? tukang bikin adonan sudah di buat vidionya, tukang mengupas
kelapa juga udah, tukang tungku sudah, lah kenapa tukang masak di dapur tak kakak
buatkan vidionya?"
Semua tergelak melihat nenek yang menghapus matanya dengan kain. Mardo terbengong.
Serius? nenek mau dibuatkan vidio juga, i-iya segera nek. Maaf Nek, Mardo lupa
banget."
Akhirnya Mardo sibuk membuat vidio nenek, Inang datang ikutan narsir juga. Terakhir semua
berkumpul membuat vidio mengelilingi nenek. Donny ikutan membantu membuat semuanya
masuk ke dalam vidio, termasuk Mardo. Sejenak mereka melupakan pekerjaan membuat
dodol, seru-seruan membuat vidio dan foto selfie bareng-bareng. Untung Donny membawa
tongsis. Pria itu ternyata ahli dalam membuat foto. Dia terlihat senang melakukannya untuk
keluarga tersebut. Terutama Mardo. Gadis itu ternyata punya sisi lucu.
Ia membuat nenek, inang dan mereka semua tertawa.
Bersambung
__ADS_1