Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 66.Dodol Cinta


__ADS_3

Agenda membuat dodol untuk oleh-oleh ke Jakarta jatuh pada hari itu. Mereka semua


sudah menyiapkan  lahir dan bathin untuk suksesnya pembuatan makanan tradisional


tersebut. Sudah istirahat selama dua hari. Tenaga-tenaga muda dan trampil juga sudah


berdatangan. Diawali oleh Azhar dan Donny. Hemmm, Donny tampan sekali.


Memakai kaos casual  dengan celana Jeans yang menampakkan badannya yang liat dan segar.


Azhar juga terlihat manis dan tampan. Khairani menyambut mereka.


"Sudah sarapan? nenek memasak banyak sekali, yuk makan dulu."


Azhar menolak, katanya sudah sarapan nasi goreng tadi.


Tak lama Ayah dan Inang juga keluar. Menyalami dua anak muda itu. Kemudian ia


mengajak Azhar dan Donny membuat tungku di halaman. Riza juga sudah siap


dengan peralatan menggali tanah, tiga buah batu yang sama besarnya. Beberapa


kayu untuk membuat atap  yang melindungi  pembuatan dodol dari kotoran yang


mungkin jatuh dari atas. Selebihnya setumpukkan kayu bakar. Inang juga sudah


mengeluarkan belanga yang sangat besar. Memuat puluhan kilo adonan.


Yulia membawai beberapa tikar dan membentangkannya di bawah pohon.


Menyusul kakak-kakak sepupu yang membawai bahan-bahan ke atas tikar.


Suara-suara bercanda mulai terdengar. Mardo keluar menjenguk dari teras.


Ia keheranan, sebab begitu banyak kelapa yang dipetik dari belakang, sekitar


lima puluh kelapa lebih. Tepung ketan, gula merah dan beberapa bahan lagi


yang tidak terlalu dikenali oleh Mardo.


"Madia do tukang kupas kelapai?"


Kak Tania tersenyum-senyum menatap saudara-saudaranya.


Ia menanyakan mana pacar-pacar mereka yang akan mengupas kelapa?


"Sabontar lagi sampai mereka, sabar ma kakak, masih pagi ini."


Yang lain menjawab, bercampur bahasa daerah dan Indonesia.


Bunyi motor meraung-raung mendekat dan berhenti, lima orang anak muda


memarkir motornya tak jauh dari mobil milik Donny.


"Assalamualaikum."


Mereka mengucapkan salam, kontan gadis-gadis mendongak dan pipi mereka jengah.


"Mereka datang, Waalaikumsalam, masuk lah kalian abang-abang."


Kak Tania menyongsong anak-anak muda itu lantas mengenalkan pada  paman


Kholil dan Inang, juga Donny dan Azhar.


Yulia, Nenek, dan Mardo sedang sibuk membuat kue-kue untuk menemani


kakak-kakak sepupu dan abang-abang bekerja. Mardo mengeluarkan kue-kue


yang dikukus dan menyusun di beberapa piring yang besar. Wanginya enak


sekali, ada kue yang terbuat dari tepung ketan yang didalamya dimasukkan


adonan kacang hijau dan gula. Mardo mencobanya dan hemmm, enak


sekali, legit. Nenek juga membuat lemang dan kue onde-onde. Lumayan


banyak sajian untuk para pekerja yang membuat dodol.


Yulia sedang menunggu air mendidih. Ia memasukkan kopi dan gula ke dalam sebuah


teko besar. Dan satunya lagi ia membuat teh tawar.


Di depan sudah ramai oleh pembuatan tungku, juga mesin yang disewa untuk memarut


kelapa terden


gar brisik.

__ADS_1


Mardo keluar membawa kue, "Hello hello! kuenya sudah jadi nih, hangat-hangat."


Uhui! asyik!


Mardo meletakkan piring berisi kue-kue di hadapan gadis-gadis.


"Do, ambilkan dulu buat abang Donnymu itu."


"Ich kakak, biar aja nanti masih ada kok di dalam nanti kubuatkan


khusus untuk abang-abang, tenang aja."


Mardo menghindari candaan tentang Donny. Tapi tak sengaja dia


menatap ke sebrang, tepat saat Donny juga tengah memandang


kearahnya. Deg!. Mardo merasaka jantungnya berdetak begitu keras.


Buru-buru ia berpaling dan beranjak untuk mengambil kue-kue yang


masih ada di dapur.


Kak Tania, sudah membawa piring kue dan menawari pacarnya yang


membuat gadis-gadis lain menyorakinya.


"Ich, kenapa pula hanya abangnya yang dikasih, hei kak, jangan begitu


lah, bagi juga abang-abang kita."


Dengan kenes, Tania menjawab, agar mengurus masing-masing pacarnya


disambut huahhhh!!!


Ternyata abang-abang pun mendengar sehingga ada yang menjawab.


"Biar Dek, nanti abang ambil sendiri, janganlah merepoti kalian."


"Tak merepotilah abang tercintah, suka kami melakukannya Da."


Huahhhhh! huahaaaa! huahhhhhh!


Mulai terdengar keributan yang riuh sambut menyambut.


Khairani juga terdengar menggodai kakak sepupu-sepupunya.


"Iya, semoga ya Bang, kalian jangan mendahului ya, sesama sepupuan dilarang


saling mendahului ya."


Disambut geer oleh semuanya.


"Antri! antri! antri kalian ya"


Bekerja sambil bercanda ternyata  membuat pekerjaan terasa ringan. Apa lagi


gadis-gadis itu dan anak mudanya memiliki rasa satu sama lain. Jadi mereka


bekerja dengan cinta.


Ayah, Riza, Azhar dan Donny, sudah mandi keringat karena pekerjaan mereka


lumayan berat. Harus menggali tanah yang cukup dalam  untuk meletakkan


tungku. Juga untuk  tenda pelindung masakkan. Sudah kelihatan hasilnya. Donny


mengamati hasil pekerjaan mereka, ia terlihat kagum. Belum pernah ia


membuat seperti itu. Donny tersenyum dan mengangguk-angguk, ia mengacungkan


dua jempulnya untuk ayah, Azhar juga Riza.


Tak jauh dari gadis-gadis yang duduk di tikar dan sedang membuat adoanan


Laki-laki membukai kelapa. Melepaskan kulitnya. Memukul-mukul batok kelapanya hingga


pecah lantas  mencungkil dagingnya dan menaro dalam baskom berisi air. Sebentar


lagi jika baskom telah penuh salah seorang dari mereka akan memasukkan potongan-


potongan daging kelapa ke mesin parut.


Daging kelapa yang sudah terparut kemudian dibawa ketempat para gadis untuk


diperas santannya. Sebuah kerjasama yang amat manis. Mardo membuat sebuah


vidio tentang suasana tersebut. Dan kakak-kakak sepupunya berebutan berpose

__ADS_1


konyol. Mardo menggeleng-gelengkan kepalanya dan tertawa kegelian.


"Kak! Mardo sini! kami dividioin juga!"


Azhar dan Riza melambai-lambai memanggil Mardo agar datang ke tempat mereka.


Ok Dek, sebentar!


Mardo beranjak ke sana dan  menyorot bapak, Riza,Azhar dan Donny yang buru-buru


memasang aksi berpose.


Semangat semua!!!


Mardo melebarkan bibirnya sembari membuat tangannya mengepal dan mengayunkan


kencang. Semangat!!!  kelompok itu mengikuti gerak Mardo.


Tak ketinggalan kelompok pengupas kelapa, Mardo menyorot anak-anak muda itu


yang tersenyum tersipu.


"Bagaimana Bang! abang? masih semangat mengupas dan mencungkil daging kelapa."


Salah seorang mengangkat wajahnya,  dan menjawab.


"Sampai menjadi dodol, tetap semangat! semangat!"


Mardo tertawa terkekeh, kepalanya menggeleng-geleng.


"Cu,cucu Mardo!"


Semua menoleh pada nenek yang terbungkuk-bungkuk mencari Mardo.


Khairani menyongsong neneknya.


"Nek, ada apa? mencari kakak? lagi sibuk bikin vidio."


"Itulah, Mardo bikin vidio kalian. Nenek yang di dapur tak dibuatnya vidio hu hu hu."


O, begitu rupanya. Melompat-lompatlah Khairani memanggil Mardo yang sedang


ke lembah bersama Yulia. Ia ingin memvidiokan pemandian yang unik tersebut.


"Kak, sini! gawat kak!"


Khairani berteriak-berteriak seolah terjadi sesuatu. Mardo buru-buru naik


diikuti oleh Yulia.


"Ada apa Khairani? gawat kenapa?"


"Kakak kenapa begitu? tukang bikin adonan sudah di buat vidionya, tukang mengupas


kelapa juga udah, tukang tungku sudah, lah kenapa tukang masak di dapur tak kakak


buatkan vidionya?"


Semua tergelak melihat nenek yang menghapus matanya dengan kain. Mardo terbengong.


Serius? nenek mau dibuatkan vidio juga, i-iya segera nek. Maaf Nek, Mardo lupa


banget."


Akhirnya Mardo sibuk membuat vidio nenek, Inang datang ikutan narsir juga. Terakhir semua


berkumpul membuat vidio mengelilingi nenek. Donny ikutan membantu membuat semuanya


masuk ke dalam vidio, termasuk Mardo.  Sejenak mereka melupakan pekerjaan membuat


dodol, seru-seruan membuat vidio dan foto selfie bareng-bareng. Untung Donny membawa


tongsis. Pria itu ternyata ahli dalam membuat foto. Dia terlihat senang melakukannya untuk


keluarga tersebut. Terutama Mardo. Gadis itu ternyata punya sisi lucu.


Ia membuat nenek, inang dan mereka semua tertawa.


 


 


 


 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2