Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 247. Persiapan Lamaran


__ADS_3

Rakasiwi telah yakin bahwa Prita adalah satu-satunya wanita yang ia cintai.  Ia inginkan untuk menemani kehidupannya seumur hidup. Setelah Prita sehat dan cinta mereka menaut. Rakasiwi menemui ayahnya. Laki-laki muda itu mengutarakan bahwa ia ingin ayah dan bunda meminang Prita untuk menjadi istrinya.


Raka Bramantyo saling pandang dengan Mardo. Keduanya menarik  dan menghembuskan napas. Ini adalah sesuatu yang baru mereka alami. Menikahkan anak untuk pertama kalinya. Ada sesuatu yang meletup-letup dalam diri mereka. Tugas selaku orang tua bagi Rakasiwi selanjutnya adalah melamar dan menikahkan putra sulung mereka. Tugas mulya sekaligus berat.


"Ok, Ayah dan Bunda siap."


Raka menggenggam jemari Mardo. Seolah dengan begitu ia mendapatkan kekuatan untuk menjawab laki-laki muda di depannya.


"Bunda siap kan Bun?"


Karena Mardo belum juga menjawab, sekali lagi Raka bertanya. Wanita yang tak banyak berubah itu. Masih tetap cantik dan menawan. Perempuan itu menghampiri Rakasiwi dan duduk di sebelahnya. Meski pun setiap hari detik demi detik. menit serta jam ia tak pernah melepaskan putranya dari pandangan mata serta pikirannya. Toh ia terkejut sebab Rakasiwi serasa sangat cepat tumbuh dan sekarang ia bahkan akan menikah. Rasanya seperti mimpi. Mardo memeluk putranya dan menangis terisak.


"Rasanya baru kemarin Bunda mengantarmu ke taman kanak-kanak, lalu ke sekolah dasar, smp,smu dan kemudian perguruan tinggi.  Betapa cepatnya waktu berlalu. Sekarang Bunda dan Ayah akan melepaskanmu untuk memulai kehidupan yang baru, Bun...Bunda sangat terkejut sekali hiks hiks hiks!"


Mardo terisak-isak memeluk dan menciumi putra sulungnya. Teringat putranya yang ekslusif. Ia tak mudah bergaul dengan siapa pun. Matanya yang bulat hitam akan menatap lama orang yang ingin mendekat kepadanya. Baju-baju dan barangnya selalu bersih dan wangi. Ia tak mau menggunakan barang yang cacat sedikit saja. Ia segera memberikannya pada siapa saja yang mau.  Senyumnya tak mudah terlihat. Tetapi begitu ia tersenyum maka matahari seperti bersinar ceria. Bunga-bunga seketika bermekaran dan burung riuh berlompatan. Senyum putranya sangat manis dan indah dipandang.


Putranya dikenal baik hati dan penolong. Guru-guru di sekolah menceritakan padanya saat ia mengambil hasil belajar Rakasiwi.  Bahwa putranya itu sangat perduli dan perhatian pada temannya. Ia selalu di depan jika ada teman yang kesusahan. Tanpa sepengetahuannya, Rakasiwi pernah membayari  temannya yang tak mampu membayar uang sekolah hingga tiga tahun.  Rakasiwi menyisihkan uang sakunya. Hati putranya halus serta peka. Seperti kepribadiannya yang bersahaja. Sosok ayahnya ada di dalam diri Rakasiwi.


"Tetapi meski berat, masih ingin bersama dengan anak sulung Bunda, setiap hari bersama, selalu ada dalam pandangan mata bunda..."


Raka mengigit bibirnya. Ia pun merasa akan kehilangan putranya. Sangat berat baginya dan Mardo melepaskan anaknya itu. Memberikan Rakasiwi pada seorang gadis. Hanya saja fase itu telah berada di depan mata. sebuah hal yang mesti terjadi.


"Rakasiwi sekarang sudah menjadi laki-laki dewasa Mi, ia akan menjadi seorang suami dan kemudian memiliki anak-anak. Ini memang akan terjadi di dalam kehidupan setiap anak pria. Tugas kita sebagai orang tua yang mengantarkannya pada kehidupan yang baru."

__ADS_1


"Iya Pi, hanya saja rasanya sangat cepat hiks hiks."


"Hem, jadi kapan Ayah dan Bunda melamar Prita?"


Rakasiwi menghapus kelopak matanya. Ia terbawa suasana bunda dan ayah yang terkenang  masa-masa ia kecil.


"Minggu depan Yah, Prita bilang keluarganya sudah siap."


Kembali Raka menatap Mardo. Keduanya bertatatapan.


"Ok, kita juga siap ya Mi?"


"Terima  kasih Ayah dan juga Bunda, Rakasiwi dan Prita akan bersiap. Kami tak ingin merepotkan kalian. Yang terpenting ayah, bunda menjaga kesehatan hingga tiba hari itu."


Selanjutnya mereka melebarkan bibir sebab gembira dan bahagia. Mardo memanggil Cindy, Tria. Ia ingin kedua anak gadisnya membantu kakak lelaki mereka mempersiapkan lamaran. Mulai hari itu Mardo dan Raka berbagi tugas mempersiapkan keluarga besar mereka.


Mardo bersama Cindy akan membelikan keluarga besar mereka seragam  khusus lamaran. Ia juga memikirkan keluarga inti calon menantu dan menawarkan gadis itu belanja bersama. Sementara Raka menghubungi Papi-Mami, Richi serta Laura. Juga Papi Wijawa dan keluarga.


Mama Risa di temani oleh Elsa mengunjungi kakak tertuanya, paman Prita. Meski pun hubungan Mama Risa dan saudara-saudaranya tak baik. Sebab oleh rasa iri dan serakah yang membuat putus hubungan persaudaraan. Sebab itu ia mengajak Elsa menemaninya. Untuk mencairkan hati saudaranya ia membawa oleh-oleh yang banyak. Mulai dari baju hingga makanan.


Semula mama Risa menduga ia akan mendapat penolakkan. Tetapi dia terkejut saat kakak lelakinya menyongsongnya dan memeluk dan menangis terisak-isak. Agaknya usia telah membuat dirinya berpikir untuk  bersikap bijaksana. Istrinya juga ikut menerima kedatangannya.


"Subhanallah, Prita sangat beruntung mendapatkan pria yang baik dan terhormat. Akhirnya aku menyadari betapa baiknya kalian. Setiap  akhir bulan Prita berkunjung ke sini, membawakan makanan, susu dan memberiku uang...ya Allah aku malu pada kalian!"

__ADS_1


Laki-laki yang saat mudanya acap kali bersikap kasar pada mama Risa dan Prita itu menangis terisak-isak. Ia menyesali semua yang ia perbuat. Mama Risa tak tahu apa yang dilakukan Prita. Gadis itu sama sekali tak memiliki kemarahan serta dendam pada paman dan bibi-bibinya. Ia berbagi rejeki yang  ia dapat untuk mereka. Pantaslah kakaknya itu menyambutnya dengan air mata.


"Abang yang akan menjadi wali Prita, aku merasa sangat terhormat dan berterima kasih padamu."


"A-aku yang akan bicara nanti mewakili keluarga."


"Terima kasih Bang!"


Mama Risa lega sekali, acara lamaran dan nanti pernikahan Prita  telah membuat ia dan kakak-kakaknya berkumpul kembali. Tidak ada kebahagian yang ia lebih indah dari pada berkumpul dengan saudara sekandungnya. Perempuan itu kembali dengan wajah yang berseri. Sementara kakak lelakinya mengantarnya di teras. lelaki itu mengahapus air matanya yang terus saja mengalir.


"Aku malu mengingat betapa jahatnya aku pada mereka dulu."


"Tetapi ia dan Prita sama sekali tak pernah membalas kejahatanku kecuali dengan kebaikan dan kerendahan hati tetap menganggapku, menghormati sebagai abangnya."


Isrti dan anak-anaknya ikut menyesali masa lalu. Sebab sikap mereka itulah yang membuat kehidupan susah selalu menyertai mereka. Baru beberapa tahun terakhir ia menyadari serta insyap  oleh perilakunya. Ia mulai mendekatkan diri pada Allah Swt, membimbing keluarganya dan selalu menyuruh agar mencontoh Prita dan ibunya yang tabah serta sangat menderita. Berkat ketabahan, tekun dan kerja keras, mereka bisa mendapatkan kebahagian.


 


 


 


 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2