
Sejak sore Prita sangat sibuk, ia mencoba baju terusan yang ia beli tadi siang. Karena
belum terbiasa ia merasa ada saja yang aneh. "Baju ini bikin aku langsing dan cantik,
tetapi aku tak mau terlihat mencolok, bagaimana ini? bagus nggak ya kalau ditutupi
dengan rambut panjangku ini, kayak begini."
Prita mencoba berbagai gaya, mondar-mandri seperti setrikaan, bagaimana agar
baju itu menyesuaikan diri dengan sikapnya yang cool. Baju itu setiap kali ia menatap
ke cermin membuatnya mencolok sebagai wanita. Agaknya ia harus menambah dengan
scrap, phasmina atau sweater, untung ia punya banyak koleksi, tinggal mencari warna
yang satu nada dengan baju, sepatu dan tas.
Dengan sweater aku merasa tidak terlalu mencolok, ini kayaknya cocok! baiklah
tinggal mandi dan sedikit luluran biar wangi hemmm.
Prita menyambar handuknya yang tergantung di belakang pintu. Tak lama terdengar
byur byur di kamar mandi, serta suara senandung dengan gerakkan meluluri tubuhnya
hingga terasa lembut serta wangi.
Tak lama ia sudah muncul di depan pintu kamar mandinya dengan tubuh dililiti handuk.
Kamar itu meski tak terlalu besar tetapi memiliki kamar mandi di dalam. Sehingga
Prita tak perlu jauh-jauh ke belakang. Memang semula rumah yang memiliki empat
kamar itu di peruntukkan untuk anak kos yang menginginkan kenyamanan. Fasilitasnya
kamar mandi di dalam serta ac. Tetapi entah kenapa ibunya justru menjadikan rumah
itu sebagai rumah tinggalnya bersama Prita, sedangkan empat rumah lain ada
yang dengan kamar mandi di dalam ada yang di luar. Ada yang dengan ac tetapi
ada yang kipas angin saja. Tergantung keinginan pengontraknya.
Setelah mengolesi tubuhnya dengan handbody, ia mulai mengenakan ****** ********,
bra. Ia melihat indahnya tubuh remajanya. Prita menyisir rambutnya, mengikat sedikit
rambutnya di tengah dan membiarkannya tergerai separo. Ia terlihat berbeda. Prita
membuat bibirnya manyun uhhhh, terlihat cantik dan manis.
Ia berdandan sedikit, bibirnya sudah berwarna pink meski pun belum memakai
lipstick. Tak banyak macam kosmetik yang ia kenal. Belum sempat dan tidak ada
waktu melihat toturial berhias. Jadilah hanya foundation, sapuhan bedak tipis serta
sedikit lipstick. Seharusnya ia menonton toturial dandanan untuk malam hari.
"Ma, aku berangkat ya! malam ini aku pergi makan malam dengan Rakasiwi, doain
lancar ya Ma."
Prita mencium tangan ibunya yang terkesiap, ia tak menyangka putri semata wayangnya
cantik sekali malam itu. Bibirnya sampai terlongok dan matanya membesar.
"Kau itu Prita? seperti bidadari, ya Allah putriku cantik sekali."
"Ah Mama nih, memang mau minta dibeliin apa, pakai bilang anaknya
seperti bidadari, kayak pernah lihat aja."
He he he, keduanya tertawa. memang salah muji anak sendiri?
Prita tersenyum, lalu menyuruh ibunya mengunci pintu dan jangan lupa memeriksa
__ADS_1
jendela-jendela. Setelah kejadian dengan Abidin, seluruh jendela serta pintu-pintu'
diberi pengaman. Mama mendapat uang muka penjualan sebuah rumah kontrakkan.
Dan ia segera memberesi rumah yang masih ditinggali tersebut. Ia juga memasang
pagar serta kunci tembok. Orang jahat pasti berpikir melihat keadaan rumah itu
sekarang. Jendela-jendela telah dipasang teralis, pintu-pintu diganti dengan kayu
jati yang ketebalannya lumayan.
Ada hikmah dibalik kejadian, setelah melihat rumah ayah Jae yang megah dan bagus
mama Risa baru terpikir untuk mendandani rumahnya. Bagian-bagian yang rapuh
dan lapuk segera dibuang. Pintu-pintu serta jendela diganti serta dilapisi teralis besi.
Pagar yang bertahun-tahun hanya tembok setengahnya, sekarang dibangun dan
dipasang pagar serta kanopi hingga aman bagi Prita menyimpan mogenya.
Prita sampai di rumah keluarga Bramantyo, khusus hari ini ia tidak mengenderai
mogenya, melainkan dengan mobil online, takut bajunya menjadi kusut.
"Oh Prita ya? saya pikir bidadari turun dari langit."
Pak Satpam membesarkan matanya dan tersenyum, "Prita berbeda sekali malam ini
bang Didin sampai pangling."
Gadis itu hanya tersenyum tipis, "Pak tolong antarkan ke dalam, Rakasiwi ada kan?"
Lelaki itu mengangguk dan seperti biasa mendampingi Prita masuk.
Ternyata Rakasiwi sudah menunggunya. Suasana agak berubah, terasa sepi dan
mencekam. Beberapa saat Rakasiwi mengatakan pada bundanya bahwa hari ini
ke acara reuni. Bundanya sempat bertanya, Prita sebagai apanya Rakasiwi? apakah
teman, atau pacar? Rakasiwi tak bisa menjawab. Mendadak terdengar suara pak
Didin yang mengantar Prita.
"Ayah, bunda! nanti Rakasiwi akan menjawabnya, sekarang ijinkan saya dan Prita
pergi."
Raka dan Mardo saling pandang, dan menyadari kalau sosok Prita sudah muncul
dan sedang berdiri tak jauh dari meja makan, gadis itu mengucapkan salam dan
mengangguk kepala pertanda pemberian hormat.
"Hi Prita, aduh kenapa Rakasiwi tak menjemputmu? sekali lagi kalau diajak
seorang pria pergi, suruh dia menjemputmu ya!"
"Nggak apa-apa kok bunda, he he he, Prita naik mobil online."
Sesaat Mardo bangkit dan berjalan ke arah Prita. Dan Tiba-tiba Cindy muncul dari
atas dan mengenakan baju terusan yang cantik.
"Bunda, ayah! aku berangkat."
Rakasiwi membesarkan matanya, "Bunda! Cindy mau kemana? kok pergi juga?"
Tiba-tiba Edo muncul di belakang Prita dan tersenyum malu-malu. Rakasiwi
terkesiap, "Lue ngajak adek Gwe Do?"
"I-iya Ka, udah ijin sama bunda dan ayah."
"Oh gitu! trus Alan, apa mau ngajak adek Gwe yang satu lagi noh, masih kosong."
__ADS_1
"Jadi kalian ini mau pergi ke tempat yang sama ya?"
Mardo menatapi empat anak muda yang tiada asing baginya. Edo sejak smp sudah
sering bermain dengan anak-anaknya. Dan ternyata Alferdo menyukai Cindy sejak
dia masih kelas tiga smp. Mardo mengetahuinya dari buku diary Cindy yang waktu
itu tergeletak di atas meja belajarnya. Kebetulan bunda sedang memerika kamar
putrinnya itu dan tak sengaja membaca tulisan Cindy, banyak sekali nama
Alfredo di sana.
"Iya bunda, kami duluan."
Cindy sudah menarik lengan Edo, "Hei kenapa kita tak sama-sama saja!"
Rakasiwi berteriak, sambil menyambar kunci mobilnya lalu bergegas ke tempat
ayahnya duduk berdempetan dengan Dode. Pria muda itu mencium tangan ayahnya
dan juga sebuah tangan yang lain, tangan Dode. Saking gugupnya ia tak tahu
adiknya menganggunya. Ayah Rakasiwi menjewer kuping Dode yang tertawa.
Mardo hanya geleng-geleng kepalanya, "Kak, ini!"
Tria memberikan telapak tangannya. "Huh tak sudi!"
"Ich, Dode dipamiti!"
Tria menghentakkan kakinya dan bibirnya manyun.
Prita juga bergegas pamit mencium tangan ayah dan juga Mardo.
"Oh iya, pulangnya jangan terlalu malam ya."
"Siap bunda,"
Yuk. Rakasiwi meraih jemari Prita, seperti sebuah keakraban yang telah terjalin lama.
Prita membiarkan jemarinya terjalin oleh Rakasiwi, mereka bergegas keluar. Mardo
mengantar putra sulungnya tersebut, ia merasakan kebahagian oleh sosok Rakasiwi
dan Prita.
"Mereka serasi sekali, ya Allah semoga Prita adalah cinta pertama dan terakhir
putraku Rakasiwi, juga sebaliknya, aamiin yra."
Mardo mengusap wajahnya.
"Kami berangkat ya Bunda."
Sekali lagi Rakasiwi dan Prita pamit pada Bunda yang berdiri di tepi taman, mengawasi
Rakasiwi mengeluarkan mobilnya. Dua anaknya malam ini pamit pergi dinner. Mardo
teringat masa muda dulu.
Bersambung
Terima kasih buat yang mengikuti kisah ini, jangan lupa beri like, komen,vote
dan hadiahnya he he he
biar author semakin semangat
Cikidot
__ADS_1