Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 143. Pergi Dinner 2


__ADS_3

Sejak sore Prita sangat sibuk, ia mencoba baju terusan yang ia beli tadi siang. Karena


belum terbiasa ia merasa ada saja yang aneh. "Baju ini bikin aku langsing dan cantik,


tetapi aku tak mau terlihat mencolok, bagaimana ini? bagus nggak ya kalau ditutupi


dengan rambut panjangku ini, kayak begini."


Prita mencoba berbagai gaya, mondar-mandri  seperti setrikaan, bagaimana agar


baju itu menyesuaikan diri dengan sikapnya yang cool. Baju itu setiap kali ia menatap


ke cermin membuatnya mencolok sebagai wanita. Agaknya ia harus menambah dengan


scrap, phasmina atau sweater, untung ia punya banyak koleksi, tinggal mencari  warna


yang satu nada dengan baju, sepatu dan tas.


Dengan sweater aku merasa tidak terlalu mencolok, ini kayaknya cocok! baiklah


tinggal mandi dan sedikit luluran biar wangi hemmm.


Prita menyambar handuknya yang tergantung di belakang pintu. Tak lama terdengar


byur byur di kamar mandi, serta suara senandung dengan gerakkan meluluri tubuhnya


hingga terasa lembut serta wangi.


Tak lama ia sudah muncul di depan pintu kamar mandinya dengan tubuh dililiti handuk.


Kamar itu meski tak terlalu besar tetapi memiliki kamar mandi di dalam. Sehingga


Prita tak perlu jauh-jauh ke belakang. Memang semula rumah yang memiliki empat


kamar itu di peruntukkan untuk anak kos yang menginginkan kenyamanan. Fasilitasnya


kamar mandi di dalam serta ac. Tetapi entah kenapa ibunya justru menjadikan rumah


itu sebagai rumah tinggalnya bersama Prita, sedangkan empat rumah lain ada


yang dengan kamar mandi di dalam ada yang di luar. Ada yang dengan ac tetapi


ada yang kipas angin saja. Tergantung keinginan  pengontraknya.


Setelah mengolesi tubuhnya dengan handbody, ia mulai mengenakan ****** ********,


bra. Ia melihat indahnya tubuh remajanya. Prita menyisir rambutnya, mengikat sedikit


rambutnya di tengah dan membiarkannya tergerai separo. Ia terlihat berbeda. Prita


membuat bibirnya manyun uhhhh, terlihat cantik dan manis.


Ia berdandan sedikit, bibirnya sudah berwarna pink meski pun belum memakai


lipstick. Tak  banyak macam kosmetik yang ia kenal. Belum sempat dan tidak ada


waktu melihat toturial berhias. Jadilah hanya foundation, sapuhan bedak tipis serta


sedikit lipstick. Seharusnya ia menonton toturial dandanan untuk malam hari.


"Ma, aku berangkat ya! malam ini aku pergi makan malam dengan Rakasiwi, doain


lancar ya Ma."


Prita mencium tangan ibunya yang terkesiap, ia tak menyangka putri semata wayangnya


cantik sekali malam itu. Bibirnya sampai terlongok dan matanya membesar.


"Kau itu Prita? seperti bidadari, ya Allah putriku cantik sekali."


"Ah Mama nih, memang mau minta dibeliin apa, pakai bilang anaknya


seperti bidadari, kayak pernah lihat aja."


He he he, keduanya tertawa. memang salah muji anak sendiri?


Prita tersenyum, lalu menyuruh ibunya mengunci pintu dan jangan lupa memeriksa

__ADS_1


jendela-jendela. Setelah kejadian dengan Abidin, seluruh jendela serta pintu-pintu'


diberi pengaman. Mama mendapat uang muka penjualan sebuah rumah kontrakkan.


Dan ia segera memberesi rumah yang masih ditinggali tersebut. Ia juga memasang


pagar serta kunci tembok. Orang jahat pasti berpikir melihat keadaan rumah itu


sekarang. Jendela-jendela telah dipasang teralis, pintu-pintu diganti dengan kayu


jati yang ketebalannya lumayan.


Ada hikmah dibalik kejadian, setelah melihat rumah ayah Jae yang megah dan bagus


mama Risa baru terpikir untuk mendandani rumahnya. Bagian-bagian yang rapuh


dan lapuk segera dibuang. Pintu-pintu serta jendela diganti serta dilapisi teralis besi.


Pagar yang bertahun-tahun hanya tembok setengahnya, sekarang dibangun dan


dipasang pagar serta kanopi hingga aman bagi Prita menyimpan mogenya.


Prita sampai di rumah keluarga Bramantyo, khusus hari ini ia tidak mengenderai


mogenya, melainkan dengan mobil online, takut bajunya menjadi kusut.


"Oh Prita ya? saya pikir bidadari  turun dari langit."


Pak Satpam membesarkan matanya dan tersenyum, "Prita berbeda sekali malam ini


bang Didin sampai pangling."


Gadis itu hanya tersenyum tipis, "Pak tolong antarkan ke dalam, Rakasiwi ada kan?"


Lelaki itu mengangguk dan seperti biasa mendampingi Prita masuk.


Ternyata Rakasiwi sudah menunggunya. Suasana agak berubah, terasa sepi dan


mencekam. Beberapa saat Rakasiwi mengatakan pada bundanya bahwa hari ini


ke acara reuni.  Bundanya sempat bertanya, Prita sebagai apanya Rakasiwi? apakah


teman, atau pacar? Rakasiwi tak bisa menjawab. Mendadak terdengar suara pak


Didin yang mengantar Prita.


"Ayah, bunda! nanti Rakasiwi akan menjawabnya, sekarang ijinkan saya dan Prita


pergi."


Raka dan Mardo saling pandang, dan menyadari kalau sosok Prita sudah muncul


dan sedang berdiri tak jauh dari meja makan, gadis itu mengucapkan salam  dan


mengangguk kepala pertanda pemberian hormat.


"Hi Prita, aduh kenapa Rakasiwi tak menjemputmu? sekali lagi kalau diajak


seorang pria pergi, suruh dia menjemputmu ya!"


"Nggak apa-apa kok bunda, he he he, Prita naik mobil online."


Sesaat Mardo bangkit dan berjalan ke arah Prita. Dan Tiba-tiba Cindy muncul dari


atas dan mengenakan baju terusan yang cantik.


"Bunda, ayah! aku berangkat."


Rakasiwi membesarkan matanya, "Bunda! Cindy mau kemana? kok pergi juga?"


Tiba-tiba Edo muncul di belakang Prita dan tersenyum malu-malu. Rakasiwi


terkesiap, "Lue ngajak adek Gwe Do?"


"I-iya Ka, udah ijin sama bunda dan ayah."


"Oh gitu! trus Alan, apa mau ngajak adek Gwe yang satu lagi noh, masih kosong."

__ADS_1


"Jadi kalian ini mau pergi ke tempat yang sama ya?"


Mardo menatapi empat anak muda yang tiada asing baginya. Edo sejak smp sudah


sering bermain dengan anak-anaknya. Dan ternyata Alferdo menyukai Cindy sejak


dia masih kelas tiga smp. Mardo mengetahuinya dari buku diary Cindy  yang waktu


itu tergeletak di atas meja belajarnya. Kebetulan bunda sedang memerika kamar


putrinnya itu dan tak sengaja membaca tulisan Cindy, banyak sekali nama


Alfredo di sana.


"Iya bunda, kami duluan."


Cindy sudah menarik lengan Edo, "Hei kenapa kita tak sama-sama saja!"


Rakasiwi berteriak, sambil menyambar kunci mobilnya lalu bergegas ke tempat


ayahnya duduk berdempetan dengan Dode. Pria muda itu mencium tangan ayahnya


dan juga sebuah tangan yang lain, tangan Dode. Saking gugupnya ia tak tahu


adiknya menganggunya. Ayah Rakasiwi menjewer kuping Dode yang tertawa.


Mardo hanya geleng-geleng kepalanya, "Kak, ini!"


Tria memberikan telapak tangannya. "Huh tak sudi!"


"Ich, Dode dipamiti!"


Tria menghentakkan kakinya dan bibirnya manyun.


Prita juga bergegas pamit mencium tangan ayah dan juga Mardo.


"Oh iya, pulangnya jangan terlalu malam ya."


"Siap bunda,"


Yuk. Rakasiwi meraih jemari Prita, seperti sebuah keakraban yang telah terjalin lama.


Prita membiarkan jemarinya terjalin oleh Rakasiwi, mereka bergegas keluar. Mardo


mengantar putra sulungnya tersebut, ia merasakan kebahagian oleh sosok Rakasiwi


dan Prita.


"Mereka serasi sekali, ya Allah semoga Prita adalah cinta pertama dan terakhir


putraku Rakasiwi, juga sebaliknya, aamiin yra."


Mardo mengusap wajahnya.


"Kami berangkat ya Bunda."


Sekali lagi Rakasiwi dan Prita pamit pada Bunda yang berdiri di tepi taman, mengawasi


Rakasiwi mengeluarkan mobilnya. Dua anaknya malam ini pamit pergi dinner. Mardo


teringat masa muda dulu.


 


 


 


Bersambung


Terima kasih buat yang mengikuti kisah ini, jangan lupa beri like, komen,vote


dan hadiahnya he he he


biar author semakin semangat


Cikidot

__ADS_1


__ADS_2