
Hanya Mardo yang tak perduli pada Raka. Kejadian di suatu pagi di bandara zepman menyakitinya. Mata laki laki muda itu mendelik dan membesar kepadanya. Padahal saat itu ia sedang terhempas dan kesakitan akibat bertabrakkan dengan tubuh liat laki laki itu. Buah dadanya yang sedang bertumbuh terasa sangat sakit akibat tertumbuk tangan atau apalah dari tubuh lelaki itu. Bukannya menolongnya dirinya yang kesakitan malah terbengong. Jelas saja ia tak terima dan berteriak
hesteris.
"Auuu! Dasar Ceroboh!"
Mardo melampiaskan kemarahan dan rasa jengkelnya yang terpendam sejak sebulanan kepindahan itu. Mereka sempat saling tatap, Mardo tak terlalu jelas karena pria itu memakai kacamata berwarna marun. Kesan sombong dan angkuh terlihat dari garis bibirnya yang segaris. Mardo tak menyukai pria yang angkuh.
Sementara pria itu yang tak lain adalah putra seorang pengusaha perkapalan yang bernama Raka Bramantyo tercekat. Seorang anak perempuan tiba-tiba terdorong jatuh di hadapannya. Gadis belia itu langsung hesteris dan memandangnya penuh kemarahan. Biasanya seorang gadis begitu melihatnya akan langsung berubah. Tapi gadis itu sikapnya tetap kesal kepadanya. Bahkan sambil melangkah pergi pandangan dan bibirnya tetap mencibir. Membuat Raka tak bisa lupa.
Memang ia beberapa kali bertemu laki laki yang bernama Raka Bramantyo itu. Di pesta kota eksotik. Bahkan tak sengaja duduk berdekatan. Mardo tak yakin ia pernah bertemu. Sebab itu ia diam saja. Sesuatu dalam diri Raka sempat membuat Mardo terhenyak. Sangat mempesona. Petikkan gitar dan permainannya di panggung menyihir semua orang. Ketenangannya, senyum misteriusnya, angkuhnya semua sangat membuat gadis gadis penasaran. Mardo juga. Lama setelah pesta itu ia ketemu lagi di sebuah bar. Mata mereka sempat saling tatap. Serta merta ia mengajak abangnya pergi.Hampir saja laki laki itu mengikis sedikit kebenciannya ketika menolong abangnya yang bermasalah.
"Hei nona ekslusip, sedang melamun apakah?"
Vana berbaring di sisinya, mereka telah meninggalkan dermaga Merauke dan malam ini telah tidur dalam kamar watam pone. Mardo agak terkejut, sebab tengah tenggelam memikirkan seorang laki laki.
"Ah nggak kok. Ini mata belum mengantuk aja."
"Kita berjalan jalan yuk, hingga datang kantuknya."
Mardo diam, ia agak malas. Karena suasana kapal berbeda dengan saat keberangkatan. Sekarang banyak sekali gadis muda kakak kelas mereka. Dan sikap gadis gadis itu tak menyenangkan. Mereka tertawa keras keras, berbincang dan berpesta. Entah berapa banyak uang orang tua mereka yang habis untuk liburan ini.
"Beta mau berusaha tidur Van," putus Mardo.
Uhh, Vana bersungut sungut. Ini masih sore nona cantik, gumamnya.
"Pergilah dengan Betty, Zamzam, Rose."
Mardo menolak dan mengusir gadis itu.
"Apa gara gara ada kak Raka di kapal ini? menghindar ya?"
Vana menolehi gadis di sebelahnya yang tercekat dan tak bisa membalas. Karena itu benar. Mardo malas bertemu
kak Raka, Ia tak mau melihat sosok itu.
"Hati hati loh, Benci bisa berubah jadi cinta."
__ADS_1
"Tak mungkin!" Mardo setengah berteriak. Ia menatap Vana,kedua gadis itu saling tatap.
"Aku juga mendengar hal itu dari orang lain Do."
Mardo membuang muka, hatinya tadi sangat terguncang. Benci jadi cinta. Tidak!!!.Mardo berteriak.
Tiba-tiba Mardo memikirkan perkataan Vana. Gadis itu turun dari tempat tidurnya dan meregangkan tubuhnya.
Benci berubah jadi cinta, apa Mardo membenci kak Raka? ia berusaha menjenguk hatinya. Pertama ia hanya kesal saat pria itu dulu menabraknya. Selanjutnya sebenarnya ia sudah melupakan kejadian itu. Namun pertemuan demi pertemuan tak terhindarkan. Bahkan kak Raka seperti mengikutinya kemana pun ia pergi. Ia tidak pernah membenci kak Raka, jadi mana mungkin bisa berubah jadi cinta. Mardo mengigit bibirnya, teringat sosok kak Raka yang sangat mempesona.
Mentari mengintip melalui kisi kisi jendela kamar. Oh ternyata hari telah pagi, Vana entah di mana. Gadis belia itu turun dari tempat tidur. Mengencangkan ikatan kimono ketubuhnya yang langsing dan mulai berbentuk kelak menjadi tubuh gadis dewasa. Ia keluar dan berjalan ke dinding kapal. Bersandar dan membiarkan angin menghembus rambut sebahunya. Laut dan ombak begitu mendebarkan. Entah berapa dalam dan begitu gelap di bawah sana.
"Hemmm, selamat pagi nona Mardo. Sebuah suara yang renyah.Gadis itu menoleh dan tersenyum di bibir yang indahnya.
"Oh, pagi kak, kakak Irawan ya?"
Saat keberangkatan dulu beberapa awak kapal mulai akrab dengan teman temannya, salah satunya kak Irawan.
Pria muda itu tersenyum dan mengangguk.
Mardo tak segera menjawab, laki-laki muda ini kenapa mendadak ada di sebelahnya? apakah kebetulan lewat atau sedang tak bertugas.
"Kabar baik kak, alhamdulillah liburannya sangat menyenangkan. Merauke sungguh indah dan unik."
Mereka bercengkrama hingga bermunculan Betty, Zamzam, Rose, Vana serta Halima dan Sarah Lee.
Suasana menjadi riuh rendah.
Banyak hal yang bisa dilakukan penumpang di kapal yang besar itu. Bergantian memancing di buritan. Berjemur di Dek, fitnes, duduk duduk di kursi yang disediakan, menonton tivi, mengobrol di caffe dan sebagainya. Hari menjadi cepat berlalu. Setelah makan malam Richi mengajak teman temannya menghabiskan malam dengan bercengkrama sembari bermain gitar di sebuah sudut kapal. Betty yang pandai bermain gitar memetik snar dengan lincah. Teman temannya bernyanyi. Di tempat yang lain juga ramai gadis gadis tengah berjoget karaoke.
Raka dan teman temannya justru sedang membahas sesuatu.
Deni, Sammy dan Raka biasa bertiga berdiskusi. Mereka punya perusahaan kecil kecillan.
"Dengar Bro. "Kata Deni. "Ada yang ingin kubicarakan dengan kalian."
"Masalah kantor? kerjaan ya? haruskah aku mencatatnya?," Sammy mencebir.
__ADS_1
"Bukan, ini soal lain," Deni mesem dan berdehem.
"Heh! tolong yang jelas!" Raka penasaran.
"Kurasa sudah saatnya kita mulai memikirkan pacar," Akhirnya Deni berhasil mengungkapkan apa yang memberati pikirannya.
"Pacar!," Raka dan Sammy terlonjak.
Deni tersenyum, "Sepertinya menyenangkan punya pacar."
Sammy garuk garuk kepala, ia belum tertarik sama sekali, belum siap mengurus pacar.
Pacar ya? pacar. Perempuan dikehidupanmu.
Memiliki pacar, berarti kau harus mengerti tentang perempuan. Bahwa mereka menyukai yang namanya belanja. Kau akan belajar bahwa perempuan akan membeli apa pun jika barang itu diskon.
Perempuan juga pergi belanja hendak membeli misalnya sepatu, tetapi jangan heran kalau pulang ia membeli rok.
Deni menjelaskan panjang lebar tentang kebiasaan perempuan. Raka dan Sammy hanya terbengong. Sejak kapan Deni belajar mengenai kebiasan belanja perempuan?
"Apa maksud kelas belanja perempuan itu hah!? Supaya kita menyiapkan dana yang cukup untuk belanja?
Sammy mencibir dan mengejek.
"Supaya tau dan tidak melakukan kesalahan yang membuat sakit hati perempuan tahu kau?"
Raka pusing mendengar Deni dan Sammy bertengkar. Ia lebih baik keluar menikmati udara laut yang maha luas.
Siapa tau beruntung ketemu gadis cinta pertama.
Bersambung
__ADS_1