
''Ohh, apa yang terjadi?"
Mardo berusaha menolehi sekitarnya, keributan dan dorong mendorong yang membuat
kepanikkan diantara penonton. Gadis itu memejamkan matanya masih dalam pelukkan
Donny. Ia takut sekali dirinya tak mampu menghindari keributan itu, terjatuh dan terinjak-injak
"Oh, cepat kita pergi dari sini, kumohon."
Mardo hampir menangis.
"Tenanglah, aku akan membawamu ketempat yang aman."
Auuu!, terasa tubuh mereka berdua terdorong. Donny dengan sigap menyingkirkan tubuh-tubuh
yang bertumbangan ke arah mereka. Donny menahan dengan sekuat tenaga. Jerit dan hesteris
mewarnai tempat tersebut.
Menarik dan menyeret tubuhnya dan tubuh Mardo keluar dari area keributan itu tak mudah.
Serta merta Donny mengangkat bokong gadis itu ke pundaknya dan ia bisa lebih cepat
menjauh dari tempat itu.
Bersamaan petugas berdatangan untuk meredakan keadaan itu. Mereka menyebar dan dengan
tegas menindak perilaku penonton yang tak bertanggung jawab. Ada beberapa orang yang
diamankan petugas. Lelaki yang mabuk dan membuat keributan.
"Sudah aman."
Donny pelan-pelan menurunkan Mardo dari pundaknya.
"Kau tidak apa-apa?
Donny mengamati gadis itu yang seperti syok oleh peristiwa tersebut.
"Bagaimana denganmu? kau baik-baik saja?"
Mardo menatap pada Donny dan memeriksa dengan mengamati seluru diri laki-laki itu.
Matanya tertumbuk pada bidang dada Donny yang terbuka lebar, darahnya tersirap, ia
menjadi jengah.
Donny menyentuh kemejanya yang porak poranda. Seluruh kancingnya lepas, akibat
Mardo menariknya saat terjatuh tadi.
"Kancingnya copot semua."
Donny bergumam tak jelas, sembari merapikan kemejanya dan mengusap rambutnya.
Entah kenapa ia kok malu dipandangi oleh Mardo seperti itu. Padahal dia biasa
bertelanjang dada bersama pacar-pacarnya saat kencan.
"Maaf ya, a-aku tak bisa menahan dorongan itu, untung tanganku bisa meraih kemejamu,"
Mardo merasa sangat bersalah. Ia juga memperbaiki gaunnya dan baru menyadari ia
tidak memakai alas kaki. Sepatunya telah terjatuh saat peristiwa itu.
Donny melihat kaki putih milik Mardo. "Sepatumu ada di lapangan itu,lepas."
"Iya, biar saja. Sebaiknya kita ke mobil."
"Ta-tapi kakimu, mau kugendong ke mobil."
Donny melihat Mardo sungkan menginjakkan kakinya pada rumput, ada ketakutan
kemungkinan benda tajam.
"A-aku belum berterima kasih, kalau tidak ada kau, mungkin aku bisa terinjak-injak."
Mardo hampir menangis, sebenarnya dia sedang berusaha kuat.
"Sudahlah lupakan, lihat semuanya sudah normal lagi."
"Tapi aku mau pulang, di mana Khairani? Yulia? Riza? dan kakak sepupu? mereka seperti
tertelan bumi."
"Entahlah, tadi suasana begitu heboh, aku takut mereka di sana juga. Tapi agaknya mereka
semua pergi ke sebuah tempat."
__ADS_1
Mereka bercakap-cakap. Donny sekarang bisa mengenal Mardo lebih dekat. Dia gadis yang
terbuka, dan tidak seperti yang ia bayangkan. Mardo bukan seseorang yang sulit dan
tertutup. Ia gadis yang pengertian. Peristiwa tadi seharusnya membuat Mardo marah pada
Khairani dan sauda-saudaranya yang lain, karena membiarkannya sendirian di tengah
kerumunan massa. Juga marah pada Donny yang memeluk tubuhnya, bahkan mengendong
dirinya selama beberapa menit. Tetapi Mardo menguasai dirinya, ia memahami yang terjadi.
justru Donny lah yang merasakan betapa lembut dan harum gadis itu, betapa ia ingin
melindunginya dengan jiwanya. Perasaan yang belum ada sebelumnya. Rasa sayang itu.
"Kau mau ke mobil? di sana ada minuman."
Donny memecahkan kesunyian diantara mereka.
"Kau tau tempatnya?"
Donny tersenyum, "Sebelah sana pintu keluarnya."
Mardo setuju, Ia dengan hati-hati menjejakkan kakinya sedikit demi sedikit.
Donny mengawasi dan menunggu langkah-langkah gadis itu.
"Tempatnya lumayan jauh, aku takut kakimu terluka, biar kugendong ya."
Tiba-tiba Donny merunduk dan hup! ia membawa tubuh gadis itu ke dekapannya
dan menggendongnya.
"Auu! jangan! jangan gendong aku Don, turunkan."
Mardo meronta, tapi Donny mendekap erat-erat, akhirnya ia terkulai.
"Aku tak sabaran menunggumu melangkah seperti itu, he he bisa setahun baru kita sampai."
Mardo hanya diam saja.
"Itu mobilnya."
Donny menurunkan Mardo dari pelukkannya, gadis itu terhenyak.
Donny bekerja dengan cepat, ia membuka pintu mobil dan menyuruh Mardo masuk.
"Biar aku saja."
Mardo mengambil sendal jepit yang besar itu dan memakainya. Kakinya merasa nyaman.
Ia lalu masuk ke mobil dan mencari posisi yang enak, ia hembuskan napasnya.
"Minumlah."
Donny juga masuk ke mobil dan duduk di belakang setir. Ia membuka botol minum dan
meminumnya dengan cepat. Mardo menolehinya kemudian membuka botol minuman
dan meminumnya.
"Kemana mereka, ini sudah malam."
Donny melihat jamnya.
"Jadi kau bekerja di mana, apakah pns?"
Pria itu membuka percakapan, suara band terdengar lamat-lamat.
Mardo menghapus bibirnya dari tumpahan air minum.
"A-aku, bukan, wirausaha."
"Hebat dong, wanita karier."
Mardo tersenyum, "Aku dengar kau juga punya perusahaan sendiri."
"Bukan, aku hanya meneruskan perusahaan ayahku."
Hemmm, hebat.
Keduanya saling mengagumi.
"Ngomong-ngomong..."
Baru saja Donny ingin menanyakan sesuatu yang sangat penting baginya ketika ia mendengar
suara Azhar dan Khairani.
__ADS_1
"Oh, rupanya kak Mardo sudah di sini."
Kedua pasangan kekasih itu ceria sekali muncul di jendela.
Donny membuka pintu dan berjalan keluar, "Kalian keterlaluan, pergi begitu lama, katanya
mau membeli air minum, belinya di mana? di Gunung tua? apa kalian tau ada insiden?"
"Insiden? yang benar Bang? insiden apa?"
"Kalian pacaran di mana sampai nggak dengar ada keributan di tempat Band?"
Khairani dan Azhar saling pandang, mereka tadi memang mendengar ada ribut. Tapi
kemudian mengabaikannya. Khairani membuka pintu dan melihat pada Mardo.
"Apa yang terjadi kak?"
"Dorong mendorong antara sesama penonton!"
"Astaqfirullahulazim, kakak tidak apa-apa.?
"Nggak, untung ada Donny yang membawaku keluar dari tengah-tengah keributan itu."
"Ya Allah, maafin Khairani ya kak, maafin ya."
Penuh rasa bersalah Khairanai menarik jemari Mardo.
"Sudah, nggak apa-apa kok, udah lewat."
Terdengar Azhar mengomentari baju Donny yang terbuka.
"Kenapa bajumu Bang Don, kok terbuka begitu. Pamer nih."
Donny memukul bahu Azhar, "Pamer palamu, ini tadi perbuatan kakakmu."
"Wahhh!, kalian ini ternyata."
"Dasar pikiran kotor, ini karena tadi kakakmu tadi hampir jatuh."
Tak lama, gadis-gadis sepupu berdatangan. Wajah mereka sumringah.
Agaknya apa yang mereka harapkan sesuai.
Yulia juga muncul dengan wajah jengah. Thoni sudah pergi terlebih
dahulu.
Riza sudah menghidupkan mobil, mereka semua bersiap untuk pulang.
Mardo tetap berada di depan bersama Donny. Khairani dan Azhar
di belakang, Yulia ikutan ikut di mobil Donny, alasannya ia bersama Kakak
Mardonya.
Khairani sempat memarahi adiknya itu, tapi biasalah masuk kuping kiri dan keluar dari
kuping kanan.
"Kemana kau tadi Li? ketemuan kau sama Thoni ya? kukasih tau sama
inang dan ayah baru tau kau.
"Ah kau juga sama bang Azhar, tadi kemana?"
Diam kau?
Sementara Mardo hanya diam, ia mengingat kejadian yang baru saja
dia alami, barulah ia merasakan malu dalam hatinya. Tadi tubuhnya telah
disentuh oleh seorang pria. Kenapa tadi ia tak merasa sungkan, ia mencium
wangi yang maskulin. Hatinya bergetar.
__ADS_1
Bersambung