
Bismillah, beberapa anak muda mengangkat adonan dodol yang telah siap. Semua
tersenyum dan merasa lega. Tugas-tugas mereka telah selesai dengan elegan.
Gadis-gadis sepupu tinggal lagi memandangi para lelaki mengangkat ke atas tungku. Api
telah nyala membiru. Selanjutnya gadis-gadis tinggal bersantai menyerahkan tugas memasak
hingga matang pada laki-laki. Mereka ada delapan laki-laki yang akan bergantian
mengaduk adonan dodol tersebut.
"Bang-abang, jangan sampai kelupaan mengaduk ya, alamat tak jadi nanti dodol kita."
Kak Tania mewanti-wanti.
"Siap! tenang aja kalian dek, buatkan dulu kami kopi."
"Kami? Loe aja kali."
Kwa kwa kwa, semua ketawa, betapa meraka ternyata tak perduli perhatian seorang
teman.
"Serius? jadi cuman abang Baringin saja yang mau kami buatkan kopi?"
"Kami? loe aja kali!"
Kwa kwa kwa, giliran gadis-gadis yang tertawa geli. Tania mesem.
Awas kalian ya!
Dia mengangkat-angkat tangannya, membuat gadis-gadis berlarian masuk ke rumah.
"Hei! jangan kalian masuk ke rumah sebelum dodolnya masak,"
"Kalian juga belum mencuci perlengkapan! kembali hei kembali!"
Tania, gadis yang paling tua diantara mereka mencak-mencak.
"Iya kak!, pasti kami bereskan tenang saja. Kami mau menyiapkan makan siang
inih,"
Dan keluarlah makan siang yang menggugah selera. Ada gulai ikan belana, daun
ubi tumbuk, sambal terasi, ayam goreng dan beberapa tambahan lainnya.
Riza juga membawa nasi yang masih mengebul di tempatnya. Wah, Mardo
membesarkan matanya, jadi mereka akan makan di halaman bersama-sama?
Sebuah kebersamaan yang indah. Gadis itu kembali bersiap membuat vidio.
"Mari kita makan, bisa kok sambilan."
"Biar abang-abang saja dulu,"
Tania berjaga-jaga di dekat nasi. Yang pertama ia mengisikan nasi untuk ayah, inang, nenek baru
Donny, Azhar, dan bergiliran abang-abang, untuk lauknya Khairani dan Yulia membantu mengambilkan.
Halaman yang sekelilingnya penuh bunga serta daun-daun yang beraneka bergoyang seolah
mengucapkan selamat menikmati makanan.
Mardo menghenjakkan pantatnya pada tikar. Ia membawa piring makan berisi lauk dan pauk. Lantas
mulai menyuapkan makanan itu kemulutnya. Mardo bersemangat sekali. Ia meminta sesuatu dengan
menunjuk sesuatu. Khairani mengambilkan. Donny suka sekali memperhatikan gerak-gerik gadis
itu. Semua yang tampak cantik dan mempesona.
"Kak! kak Do!"
Yulia menyenggol pinggang kakaknya yang sedang asyik mengunjah.
"Apa?"
"Hemm."
Sembari menunjuk ke arah Donny dengan mulutnya. Mardo mengangkat wajahnya
__ADS_1
dan bentrok dengan tatapan laki-laki itu. Deg! jantung Mardo berdebar lagi.
Gadis itu sedikit berubah raut mukanya. Sedikit mengubah duduknya dan meminta minum, mendadak
seperti tercekik. Mardo kembali melihat ke arah Donny, laki-laki itu tersenyum padanya. Mardo
melengos.
Hemmm! hemmm! hemmm!
Apa sih! minum kalau keselek.
"Ada yang saling pandang memandang hu hu hu! bikin keselek inih hu hu hu."
Mardo tersenyum, ia melempar orang yang menggodanya dengan biji rimpang. Semacam
leunca di jawa barat.
Gadis yang dilempar membalas sembari menahan tawa, Mardo mengelak. Kena Yulia yang sedang
menganga mulutnya karena akan menyuap. Gadis itu kaget, terjadilah saling lempar biji rimpang
diantara gadis-gadis dan menjalar hingga ke abang-abang yang terkaget-kaget karena sedang
serius menikmati makanannya.
Baru berakhir saat Inang marah.
"Mardo yang mulai Inang!"
Gadis-gadis berteriak, Inang yang semula marah berubah menjadi tersenyum, lantas menyongsong
Mardo dan memeluk gadis itu.
"Pasti kalian yang mulai mengganggunya iya kan? Mardoku ini tak pernah nakal, yang
baik sekali hatinya."
Alah!
"Iya Nang, mereka mengganggu lebih dulu!"
Mardo merajuk.
Alah, kalau Mardo, mana pernah bandel dan nakal.
Gadis-gadis sengit di marahi oleh Inang.
Mardo senyum-senyum, sekaligus geli dan bahagia oleh keluarganya.
"Kakak, aku merasa sakit."
Tiba-tiba Mardo menarik perhatian saudara-saudaranya yang sedang memandangi
laki-laki pujaan mereka.
"Sa-sakit apa Do?"
Khairana dan yang lain menolehi gadis itu.
"Sakit habis makan?"
Gadis-gadis saling pandang, apa maksudnya? Dan mereka semua rasanya ingin mencubit
gadis yang lugu itu.
"Sana! pergi tidur ke kamarmu!"
"Tidak apa-apa ya kakak-kakak?"
"Sana! dari pada sakit di sini."
Mardo tersenyum dan pamit, ia mengambil handuk dan pergi ke perigi. Sekarang ia
sudah berani dan mahir naik serta turun ke lembah. Kakinya menjadi kokoh setelah
hampir seminggu mondar-mandir ke lembah. Gadis itu berpikir ia akan mandi dan menganti
bajunya lantas tidur. Nenek, Inang, juga ayah baru saja bergantian dari pemandian.
Mereka sholat Dhuhur dan kemudian tidur-tidur dan beristirahat di sofa.
Entah berapa lama Mardo tidur, ia merasa sangat sepi kemudian mengintip ke luar jendela.
__ADS_1
Oh, ternyata sudah malam. Mardo beranjak keluar. Wangi manis menyebar ke seluruh
penjuru halaman. Lamat-lamat ia mendengar gerumit percakapan, tawa tertahan. Ada yang
berada di balik kerimbunan, Khairani dan Azhar sedang bermain ayunan di pojok taman.
Kakak-kakak sepupunya juga saling berduaan dan bercengkrama.
Wah! mana paman, ini tak bisa dibiarkan! mereka bisa kerasukkkan. Mardo mundur
sembari mendekap bibirnya. Namun sesuatu menganjal kakinya hingga gadis itu hesteris
hilang keseimbangan.
"Auuuuu! to-lontong, lontong!"
Oh!, seseorang di belakang yang sedang duduk dan mengantuk, kaget saat sebuah benda
jatuh di pangkuannya. Dia langsung replek memeluk.
Sekejap saja tempat itu ramai oleh kakak-kakak dan abang-abang.
Semua terbengong melihat Mardo duduk di pangkuan Donny.
Mardo mendekap mulutnya, "Tak seperti yang kalian pikirkan! benaran deh!"
Gadis itu meronta dari pelukkan Donny.
Hemmm, kalau suka bilang suka, kalau cinta katakan cinta.
Donny hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya oleh kelakuan
keluarga itu yang sangat konyol.
Apa lagi ayah dan inang ikut keluar, dan membesarkan mata mereka.
"Dodolnya sudah jadi, dodol yang dibuat penuh cinta!"
Riza membagikan dodol di piring-piring kecil, ia membagikannya pada semua orang.
Mereka semua teralih perhatiannya pada dodol yang telah mengental. Mereka lantas
mencicipi dodol cinta tersebut. Wah! luar biasa legitnya.
"Alhamdulillah, oleh-oleh untuk saudara kita di Jakarta sudah jadi, dan sempurna.
Baru sekali ini aku merasakan dodol selegit ini, adonannya sangat pas, manisnya
tidak menyakitkan lidah, ini dodol yang paling enak yang pernah kucicipi."
"Iya ayah benar, ini dodol paling legit. Sembari mengangkat adonan dodol yang
lembek namun mengental lembut."
"Kita semua membuatnya dengan cinta, ini adalah dodol cintaaa!"
Huahhhhh! asyik.
"Hemmm, baiklah karena semuanya sudah selesai. Kalian boleh pulang.
Besok atau lusa silahkan kalian datang."
Ayah memperlihatkan kewibawaannya.
"Ta-tapi ayah, abang-abang ini pulangnya jauh, di sebrang."
Khairani merasa kasihan.
"Tidak ada tempat!"
"Biar abang-abang tidur di rumahku saja."
Azhar menengahi, oh Khairani dan kakak-kakak sepupu berdesah lega.
__ADS_1
Bersambung.