Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 67.Dodol Cinta 2


__ADS_3

Bismillah, beberapa anak muda mengangkat adonan dodol  yang telah siap. Semua


tersenyum dan merasa lega. Tugas-tugas mereka telah selesai dengan elegan.


Gadis-gadis sepupu tinggal lagi memandangi para lelaki mengangkat ke atas tungku. Api


telah nyala membiru. Selanjutnya gadis-gadis tinggal bersantai menyerahkan tugas memasak


hingga matang pada laki-laki. Mereka ada delapan laki-laki yang akan bergantian


mengaduk adonan dodol tersebut.


"Bang-abang, jangan sampai  kelupaan mengaduk ya, alamat tak jadi nanti dodol kita."


Kak Tania mewanti-wanti.


"Siap! tenang aja kalian dek, buatkan dulu kami kopi."


"Kami? Loe aja kali."


Kwa kwa kwa, semua ketawa, betapa meraka ternyata tak perduli perhatian seorang


teman.


"Serius? jadi cuman abang Baringin saja yang mau kami buatkan kopi?"


"Kami? loe aja kali!"


Kwa kwa kwa, giliran gadis-gadis yang tertawa geli. Tania mesem.


Awas kalian ya!


Dia mengangkat-angkat  tangannya, membuat gadis-gadis berlarian masuk ke rumah.


"Hei! jangan kalian masuk ke rumah sebelum dodolnya masak,"


"Kalian juga belum mencuci perlengkapan! kembali hei kembali!"


Tania, gadis yang paling tua diantara mereka mencak-mencak.


"Iya kak!, pasti kami bereskan tenang saja. Kami mau menyiapkan makan siang


inih,"


Dan keluarlah makan siang yang menggugah selera. Ada gulai ikan belana, daun


ubi tumbuk, sambal terasi, ayam goreng dan beberapa tambahan lainnya.


Riza juga membawa nasi yang masih mengebul di tempatnya. Wah, Mardo


membesarkan matanya, jadi mereka akan makan di halaman bersama-sama?


Sebuah kebersamaan yang indah. Gadis itu kembali bersiap membuat vidio.


"Mari kita makan, bisa kok sambilan."


"Biar abang-abang saja dulu,"


Tania berjaga-jaga di dekat nasi. Yang pertama ia mengisikan nasi untuk ayah, inang, nenek baru


Donny, Azhar, dan bergiliran abang-abang, untuk lauknya Khairani dan Yulia membantu mengambilkan.


Halaman yang sekelilingnya penuh bunga serta daun-daun yang beraneka bergoyang seolah


mengucapkan selamat menikmati makanan.


Mardo menghenjakkan pantatnya pada tikar. Ia membawa piring makan berisi lauk dan pauk. Lantas


mulai menyuapkan makanan itu kemulutnya. Mardo bersemangat sekali. Ia meminta sesuatu dengan


menunjuk sesuatu. Khairani mengambilkan. Donny suka sekali memperhatikan gerak-gerik gadis


itu. Semua yang tampak cantik dan mempesona.


"Kak! kak Do!"


Yulia menyenggol pinggang kakaknya yang sedang asyik mengunjah.


"Apa?"


"Hemm."


Sembari menunjuk ke arah Donny dengan mulutnya. Mardo mengangkat wajahnya

__ADS_1


dan bentrok dengan tatapan laki-laki itu. Deg! jantung Mardo berdebar lagi.


Gadis itu sedikit berubah raut mukanya. Sedikit mengubah duduknya dan meminta minum, mendadak


seperti tercekik. Mardo kembali melihat ke arah Donny, laki-laki itu tersenyum padanya. Mardo


melengos.


Hemmm! hemmm! hemmm!


Apa sih! minum kalau keselek.


"Ada yang saling pandang memandang hu hu hu! bikin keselek inih hu hu hu."


Mardo tersenyum, ia melempar orang yang menggodanya dengan biji rimpang. Semacam


leunca di jawa barat.


Gadis yang dilempar membalas sembari menahan tawa, Mardo mengelak. Kena Yulia yang sedang


menganga mulutnya karena akan menyuap. Gadis itu kaget, terjadilah saling lempar biji rimpang


diantara gadis-gadis dan menjalar hingga ke abang-abang yang terkaget-kaget karena sedang


serius menikmati makanannya.


Baru berakhir saat Inang marah.


"Mardo yang mulai Inang!"


Gadis-gadis berteriak, Inang yang semula marah berubah menjadi tersenyum, lantas menyongsong


Mardo dan memeluk gadis itu.


"Pasti kalian yang mulai mengganggunya iya kan? Mardoku ini tak pernah nakal, yang


baik sekali hatinya."


Alah!


"Iya Nang, mereka mengganggu lebih dulu!"


Mardo merajuk.


Alah, kalau Mardo, mana pernah bandel dan nakal.


Gadis-gadis sengit di marahi oleh Inang.


Mardo senyum-senyum, sekaligus geli dan bahagia oleh keluarganya.


"Kakak, aku merasa sakit."


Tiba-tiba Mardo menarik perhatian saudara-saudaranya yang sedang memandangi


laki-laki pujaan mereka.


"Sa-sakit apa Do?"


Khairana dan yang lain menolehi gadis itu.


"Sakit habis makan?"


Gadis-gadis saling pandang, apa maksudnya? Dan mereka semua rasanya ingin mencubit


gadis yang lugu itu.


"Sana! pergi tidur ke kamarmu!"


"Tidak apa-apa ya kakak-kakak?"


"Sana! dari pada sakit di sini."


Mardo tersenyum dan pamit, ia mengambil handuk dan pergi ke perigi. Sekarang ia


sudah berani dan mahir naik serta turun ke lembah. Kakinya menjadi kokoh setelah


hampir seminggu mondar-mandir ke lembah. Gadis itu berpikir  ia akan mandi dan menganti


bajunya lantas tidur.  Nenek, Inang, juga ayah baru saja bergantian dari pemandian.


Mereka sholat Dhuhur dan kemudian tidur-tidur dan beristirahat di sofa.


Entah berapa lama Mardo tidur, ia merasa sangat sepi kemudian mengintip ke luar jendela.

__ADS_1


Oh, ternyata sudah malam. Mardo beranjak keluar. Wangi manis menyebar ke seluruh


penjuru halaman. Lamat-lamat ia mendengar gerumit percakapan, tawa tertahan. Ada yang


berada di balik kerimbunan, Khairani dan Azhar sedang bermain ayunan di pojok taman.


Kakak-kakak sepupunya juga saling berduaan dan bercengkrama.


Wah! mana paman, ini tak bisa dibiarkan! mereka bisa kerasukkkan. Mardo mundur


sembari mendekap bibirnya. Namun sesuatu menganjal kakinya hingga gadis itu hesteris


hilang keseimbangan.


"Auuuuu! to-lontong, lontong!"


Oh!, seseorang di belakang yang sedang duduk dan mengantuk, kaget saat sebuah benda


jatuh di pangkuannya. Dia langsung replek memeluk.


Sekejap saja tempat itu ramai oleh kakak-kakak dan abang-abang.


Semua terbengong melihat Mardo duduk di pangkuan Donny.


Mardo mendekap mulutnya, "Tak seperti yang kalian pikirkan! benaran deh!"


Gadis itu meronta dari pelukkan Donny.


Hemmm, kalau suka bilang suka, kalau cinta katakan cinta.


Donny hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya oleh kelakuan


keluarga itu yang sangat konyol.


Apa lagi ayah dan inang ikut keluar, dan membesarkan mata mereka.


"Dodolnya sudah jadi, dodol yang dibuat penuh cinta!"


Riza membagikan dodol di piring-piring kecil, ia membagikannya pada semua orang.


Mereka semua teralih perhatiannya pada dodol yang telah mengental. Mereka lantas


mencicipi dodol cinta tersebut. Wah! luar biasa legitnya.


"Alhamdulillah, oleh-oleh untuk saudara kita di Jakarta sudah jadi, dan sempurna.


Baru sekali ini aku merasakan dodol selegit ini, adonannya sangat pas, manisnya


tidak menyakitkan lidah, ini dodol yang paling enak yang pernah kucicipi."


"Iya ayah benar, ini dodol paling legit. Sembari mengangkat adonan dodol yang


lembek namun mengental lembut."


"Kita semua membuatnya dengan cinta, ini adalah dodol cintaaa!"


Huahhhhh! asyik.


"Hemmm, baiklah karena semuanya sudah selesai. Kalian boleh pulang.


Besok atau lusa silahkan kalian datang."


Ayah memperlihatkan kewibawaannya.


"Ta-tapi ayah, abang-abang ini pulangnya jauh, di sebrang."


Khairani merasa kasihan.


"Tidak ada tempat!"


"Biar abang-abang tidur di rumahku saja."


Azhar menengahi, oh Khairani dan kakak-kakak sepupu berdesah lega.


 


 


 


 


 

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2